
--KEDIAMAN LUCAS,
Ruang tamu dipenuhi karangan bunga dan aneka ria makanan dari Timur Tengah. Ternyata dari Prapto untuk Luciana pujaan hatinya.
“Aduh, jadi bamper lemper ampe mplingker-lingker iiihhh.” Lucas menempelkan surat-surat Cinta dari Prapto berisi puisi dari sastrawan terkenal.
“Cih baru dirayu begituan saja kok bangga bukan main, contoh tuh si Derris.” Madam melemparkan sebuah kotak berita merah.
“Woaaahhh jam tangan berlian.” Kilauan butiran berlian mewah terpancar dari lis pinggiran jam tangan.
“Itu belum seberapanya dari yang baru datang.”
“Apaan Mah?” tanya Lucas penasaran.
Tin... Tin... Tin... Satpam sibuk mengatur arah parkir mobil kontainer.
“Apaan Mah?” Lucas semakin penasaran.
“Lihat saja nanti, hemmm.” Mereka melenggang keluar dengan saling bergandengan tanpa risih lagi.
Ternyata sebuah mobil super milik Derris dulu yang disita Bank Cihuy. Kini sudah ditebus lunas, satu-satunya barang yang bisa kembali untuk saat ini.
“Cie, yang mau jadi simpenannya Tante-tante. Katanya pria berkelas, cih ternyata doyan juga!” hina Lucas merendahkan Derris.
“Ckckckckck mulutmu ember pecah, ambyar meluber.” Celetuk Madam Deposit.
“Lah faktanya saja loh Mah, Derris bisa dibeli sama Umi!”
Tak hanya mobil kesayangan Derris yang datang. Melainkan hadiah-hadiah mahal lainnya, sepertinya Derris mendengar gosip buruk tentangnya.
“Aku menebusnya dengan uangku sendiri, jika kau berpikir diriku menjual harga diriku itu salah besar. Memang benar, Umi menghadiahi aku mobil. Tapi mobil yang tidak sesuai seleraku, jadi kamu bisa pakai.” Melempar kunci ke Lucas.
“Ih beneran Derr? Oke aku mau!”
“Eits eits eits, Mas Lucas tidak bisa seenaknya saja makai barang yang bukan jatahnya. Jika Umi tahu inu mobil dipakai dan ada bekas bokongnya mas Lucas. Bisa repot, sudah mas Lucas jauh-jauh sana.” Usir Satpamnya sendiri.
“Hiwwwww dasar Satpam penghianat!” ketus Lucas.
“Hahahaha ya betullah apak kata Satpam itu. Kalau mau mobilnya, ya kamu harus mau jadi pacarnya Umi. Masak kamu dandanan cewek gini, ya jelas Umi bakal ngerajam kamu yang ada.” Tawa geli Madam.
__ADS_1
“Hahaha biar saja tante, Lucas emang suka nyari sensasi rasa baru. Tapi tante harus siap-siap saja ya punya menantu seumuran hahaha.”
“Hih tak sudi lah ya, tante begini-begini tidak murahan dan ganjen ya.” Madam mengibaskan kipas ditangannya.
Sekian lama mobil kesayangan Derris itu disita Bank. Kini bisa kembali ke pelukannya lagi.
Kegiatan mengirim kado dari Umi dan Prapto terus dilakukan setiap hari. Tetapi kedua orang yang dimaksut tetap tak peduli. Dan dengan asiknya menikmati hadiah-hadiah tersebut.
*
*
*
---ADEGAN SRI AYU,
Beberapa karyawan mendapatkan promosi jabatan kilat. Namun harus mengikuti beberapa syarat tentunya. Kenaikan pangkat dan jabatan pasti naik juga gaji dan tunjangannya. Sama halnya Agus yang doyan uang, Sri Ayu pun tak mau melewatkan sayembara ini. Keduanya dipanggil di kantor ruangan kepala Dinas. Keduanya berdiri dengan gelisah, karena nasib mereka akan ditempatkan di daerah terpencil dalam waktu yang lama.
“Disana panas, tidak ada AC.” Agus dan Sri Ayu mengangguk.
“Disana tak ada Kafe atau Restoran!” mengangguk lagi.
“Kalau sama Agus masih sepermainan Pak!” celetuk Sri Ayu.
“Pffffftttttt,” Atasannya tertawa kecut.
“Tapi, Disana kalian akan menjadi manusia hemat. Uang gaji dan tunjangan kalian tidak boros hahaha.”
“Iyalah Pak, irit bin pecirit. Lah wong ditaruh di hutan belantara. Enggak sekalian tuh di taruh Planet Pluto. Biar kami pulangnya pas diskon tiket?” celetuk Agus kesal dengan atasannya.
“Hai Agus yang sopan ya kalau bicara sama atasan. Saya ini atasan kamu loh, tak pecat kamu!” Ancam atasan.
“Heleh, atasan sudah biasa ngancam bawahan dengan alasan pecat. Biar kami para bawahan takut dan menurut kan? Mohon-mohon maaf ya Pak, sekarang kalau atasan main seenaknya sendiri. Saya bisa lo laporin Bapak sama istrinya. Hehehehehe.” Agus ternyata menyimpan aib atasannya yang ternyata punya simpanan anak kuliahan.
“Eh... Kamu ini kalau bicara jangan asal sembarangan ya. Saya ini atasan yang alim dan tekun menabung. Jangan asal bicara kamu, apalagi didepan Dek Ayu.”
Atasan mereka ini tergolong buaya darat senior. Biar kata bantet dan botak, tapi karismanya sangat luar biasa. Apalagi kalau sudah main tangan, yah tangannya buat main gesekin mesin ATM. Otomatis cewek-cewek bakalan nempel kayak solasi. Ketika akhir bulan yang mengosongkan isi dompet. Traktiran atasan adalah hal yang paling dinantikan umat bawahan. Mereka tak segan-segan menjilat dengan pujian palsu. Seolah-olah mereka memuji artis tampan, iya tampan kalau keinginan mereka dikabulkan. Tapi memang dasarnya buaya kelas senior, tetap saja kalau ada bawahan yang menonjol dan kinclong. Pasti jadi target Asmara 3 pekannya. Kali ini Atasan mereka yang bernama Pak Boi menaruh simpati khusus pada Sri Ayu yang sekarang terawat kelestariannya.
“Heleh, Bapak kalau tidak niat ngasih naik jabatan bilang aja lah Pak. Saya kerja ya berdedikasi, bukan untuk dikerjain!!!” Agus membanting pintu dan keluar ruangan.
__ADS_1
Sikap temperamen Agus ini selain dipicu tanggal tua yang menyiksa. Juga kejaran kartu kredit yang digunakan untuk belanja macam-macam. Mendapat pekerjaan mapan dan gaji bulanan membuat hidup Agus terasa nyaman berbuat apapun. Karena dulunya Agus pemuda miskin dan dikucilkan oleh teman-temannya. Kini dia berubah menjadi orang yang sangat anti susah. Intinya dia balas dendam dengan keadaan sulit dan serba terjepit. Sekarang berkat bantuan kartu kredit yang ajaib. Dari kendaraan dan rumah bisa dia wujudkan. Hanya saja, Agus tidak berani berpacaran. Baginya Sri Ayulah gadis yang menarik. Dari awal bertemu yang jelek dan kumuh. Sekarang menjadi gadis feminim dan cantik. Kulitnya sudah menjadi mulus kuning langsat. Rambutnya lurus sepanggung, matanya yang sayu dengan bulu mata yang kentik. Serta tingginya yang jenjang. Membuat enak saja kalau dibayangin hujan-hujan sambil dipeluk dari belakangan hahahaha. Agus sebagai lelaki normal sangat menyadari betul perubahan wujud itik buruk rupa menjadi angsa danau yang menawan. Tetapi yang menjadi minusnya adalah, tas dari sarungnya yang dekil itu. Tidak sesuai dengan perawakan Sri Ayu yang cantiknya Indonesia banget.
“Ini adalah tas perjuangan Gus, aku tidak akan menggantinya sebelum rusak.” Sri Ayu membanggakan tas warisan dari sarungnya Jupri.
Tak bisa menyela atau memaksa, karena Agus pernah menyembunyikan sarung itu, dan ketemu lagi oleh Sri Ayu. Pernah suati ketika ada piknik bersama, Agus sengaja membuang tas burikan itu, eh kembali lagi karena diantar orang yang melihat tas itu dibuang Agus. Hingga akhirnya Agus menyerah juga, mungkin tas dari sarung sudah menyatu dalam jiwa dan raganya Sri Ayu.
“Mbak Ayu, pulang kerja mau saya antar pakai mobil?”
“Oh tidak usah Pak, saya sudah biasa pulang naik Bajai yang AC alami hehehe.” Ajakan Atasannya ditolak.
“Nanti Mbak Ayu bisa buka kaca jendelanya.” Sambil menyisiri kepalanya yang botak dan tumbuh berapa jumput rambut saja.
“Bapak sudah punya istri, sebaiknya pulang kerja langsung pulang saja. Membantu pekerjaan rumah tangga, agar istri bapak tidak mengomel suaminya suka mampir-mampir heheh.” Raut muka Atasannya berubah masam dan ketus.
“Sok banget sih nolak aku, emang kamu enggak tahu apa. Kalau banyak wanita yang mau sama aku ini hah!” tetiba bicara nyindir.
“Woi Pak! Kalau mau ganjen jangan sama bawahan sendirilah. Ngaca dong ngaca, situ Atasan bukan sales produk. Kalau sudah berkeluarga ya jangan merasa lajang. Godain gadis, sisain lah buat saya juga. Jangan semua cewek mau diembatin dong. Mentang-mentang situ punya jabatan saja. Sudah berasa Tuhan ya? Enggak usah sok diatas langit ya, kalau tuh kaki masih berpijak di Bumi!” Potong Agus yang panas dan cemburu.
Seolah dipermalukan didepan umum, Pak Boi membuat perhitungan dengan mereka berdua.
“Kita lihat, siapa yang bakal kalah!” menujuk hidung Agus yang sedang bisulan.
“Kagak usah pegang bisul saya juga, Pak!” Agus menepisnya.
Kedua lelaki yang tengah mengadu kejantanannya kini salin menatap tajam. Keduanya seolah mau duel diatas ring tinju, kelas bulu ketek. Karena mereka saling ejek dan hina, akhirnya penjaga kantor hadir dan menjadi wasit.
“Dan kita tampilnya dari kelas buaya darat Pak Boi. Ditantang oleh pemain baru dunia percintaan Agus Sejagat.”
Pergulatan antara gengsi dan harga diri kini dimulai. Jari mereka saling beradu dan cekatan mengalah jari-jari lawannya. Permainan gulat jari ini menjadi ajang taruhan. Para karyawan yang memang hobi adanya kerusuhan ikut pasang taruhan uang. Kalau menang kan lumanya bisa makan enak.
“Pak Boi!”
“Mas Agus!”
“Pak Boi! “
“Mas Agus! “
“Dari lapangan pelataran kantor, saya melaporkan pertandingan Pak Boi melawan mas Agus. Cukup sekian laporan peristiwa ini. Saya Sri Ayu yang dulunya gak ayu karena ekonomi sulit. Melaporkan, salam gelut jari. Tarikkk sist... Semongkooo (semangat)” Sri Ayu tak lupa memanggil orkes keliling untuk memeriahkan pertandingan.
__ADS_1