
---LANJUTAN,
“TOLONG CUCUKU DIGONDOL LEAK TOLONG WARGAKU!!! “
Pletak, centang nasi dipukulkan Bu Muji dari belakang punggungnya.
“Berisik!” tegur Bu Muji.
Seorang bayi mungil sudah terbungkus kain jarik pusaka. Yang dahulu kala dipakai anak-anak Pak Muji. Kini sampai generasi cucunya yang baru saja lahir ke Dunia.
“Bu Bu kagetin saja, ini bayi dari mana?” tanya Pak Muji.
“Dapat dari kebun pisang, ini ya cucu kitalah Pak. Untung tadi Ibu balik cepat dari ladang. Lihat tali pusarnya masih terhubung rahim ibunya, terpaksa aku potong pake gunting rambutnya Sri Ajeng.” Tuturnya.
Sembari membersihkan ari-ari bayi dan menjahit jalan pintu surga. Dokter Berlian memberikan obat dan vitamin (uhuk nama Author disebut) agar kondisi ibu lekas pulih.
“Karena kondisi anak Bapak dan Ibu masih lemah, usahakan setiap nutrisinya tercukupi ya Pak-Buk.”
Kedua kakek dan nenek baru itu bingung dan saling adu mata. Seolah bingung tapi tak tahu cara ngomongnya lagi.
“Apa Bu trasi?” ucap Bu Muji mencoba mengulangi ucapan Nutrisi.
“Bukan Bu, NUTRISI sejenis kebaikan kandungan dalam makanan.” Jawab Dokter Berlian.
“Oh... Harganya berapa bu Dokter?”
“Bu, nutrisi itu zat-zat penting dalam makanan anak kita. Bukan barang yang dijual di warung. Duh Bu Bu dulu sekolahnya ngapain sih waktu SD?” keluh Pak Muji menekan kepala.
“Ya waktu SD Ibu nulisnya di subak (papan dari batu untuk menulis) jadi selesai hapus. Makanya ilmunya enggak nempel tapi lupa terus hehehe.”
Berlian hanya tertawa geli melihat kepolosan warga Sukamager tempatnya mengabdi sekarang ini. Setelah memastikan Sri Dewi dan bayinya tertidur pulas, sebagai adik Sri Ajeng diberi pengarahan agar membantu tata cara merawat dan memantau kondisi ibu-bayi.
“Nah cukup sekian ya penjelasan dari saya, Mbak Ajeng tolong dibaca resepnya ya. Dan tolong sehabis terkena air segera di basuh dengan obat merah supaya tidak infeksi.”
“Baik Bu Dokter, tapi saya tidak berani untuk bekas luka jahitan kakak saya. Ngeri sekali hii.”
“Heleh kayak kamu enggak bakal melahirkan saja, biar Ibu yang maju. Kamu cukup bantu nyiapin air dan baju popok untuk ponakanmu.” Perintah Bu Muji.
“Ibu kan sudah pengalaman 3x melahirkan, lah aku baru tadi. Itu saja pingsang lihat kepala dari rahim kak Dewi.” Ucap Sri Ajeng.
“Ya sudah, ini sudah malam. Bapak mau antar Bu Dok pulang ke rumah dinasnya ya. Bu, titip Dewi dan cucu kita ya. Jeng, jaga rumah dan bikin kopi kalau ada warga yang datang.” Pesan Pak Muji.
“Iya Pak, hati-hati dijalan ya. Terimakasih Bu Dokter atas bantuannya.”
“Iya sama-sama, sudah tugas saya kok. Mari semua, saya pamit dulu. Besok saya akan kemari usai tugas di Puskesmas untuk mengecek keadaan ibu dan bayi.”
Betapa senang sekaligus bercampur sedih hati Pak Muji. Sepanjang perjalanan mengantar kembali Berlian ke rumah dinasny. Dia membayangkan istrinya dulu melahirkan tak didampinginya 3x berturut-turut. Sekarang dia menyesal kadang suka seenaknya melirik wanita cantik dan bermalas-malasan. Dalam hati, Pak Muji mengagumi istrinya yang seperti Wonder Women.
__ADS_1
*
*
*
---JAKARTA,
Warga hunian Apartemen Mamsky Brenda berada di pengungsian. Mereka belum diijinkan kembali ke lokasi yang tergenang banjir. Gustavo dan Calistha mencoba kembali ke lokasi hunian mereka. Dan tampaknya sudah rusak parah, hanyut terbawa arus sungai.
“Dan yang tak pernah hanyut oleh air ialah segala kenangan kita bersama tinggal di sini ya Bosnya.” Calistha dari atas perahu karet berujar.
“Semuanya habis kembali ke titik 0, seperti beli minyak di SPBU dimulai dari 0 lagi.”
Kesedihan tampak jelas tersirat dari wajah Gustavo yang malang. Semak-semak, kali, rumah dan rongsokan yang dikumpulkan oleh mereka semua sudah tersapu banjir. Hujan mulai turun lagi, Calistha mulai mendayung perahunya kembali ke penampungan.
“Mamsky pasti sedih, semuanya habis.” Celoteh Gustavo sedih sambil memeluk gagang payung yang terkembang.
“Bosnya jangan gitu, masih baik badan kita selamat dan diungsikan di penampungan. Coba kalau warga kayak kita ini ditolak, sudah hidup di tempat liar. Juga jadi beban Pemerintah saat terjadi bencana. Aslinya kita ini yang salah kok Bos, tapi kita yang kalah sama kebutuhan makan.”
“Kalau ada tempat yang lebih baik, apa kau bersedia di relokasi?” tanya Gustavo pada Calistha yang masih mandayung.
“Lah bakat nyanyiku nanti gimana dong Bosnya. Aku dapat makan dan bayar kuota hape dari ngamen lo Bos.”
Mereka kembali ke Penampungan korban banjir yang sudah penuh sesak oleh warga. Tampak wanita cantik membawa plastik berisi makanan sedang kebingungan.
“Bosnya, aku bawa makan nih buat kita semua.”
“Aku tak lapar Mbaknya, aku senang Mbaknya datang menjengukku kemari.”
Itulah kalimat jujur dari seorang bocah korban banjir dari hunian liar. Seorang bocah yang merasakan kehilangan hunian tempat tinggalnya.
“Banjir pasti surut, tapi membangun Apartemen lagi sepertinya sulit Bosnya. Kalau Bosnya mau tidak pindah ke rumah susun. Tapi biaya sewanya tinggi, dan rumahnya juga sempit.”
“Tidak Mbaknya, daripada kita tinggal di rumah susun. Lebih baik kita tinggal di emperan toko. Kami pernah tinggal disana, kami hanya bisa bertahan selama 1 bulan. Setelah itu kami kembali hidup menggelandang dijalan. Hingga akhirnya kami memperoleh jembatan itu yang cocok dengan kondisi ekonomi kami.” Tegas Brenda.
Perdebatan tentang masa depan mereka setelah banjir kini menjadi wacana yang membingungkan. Sisi baiknya tinggal dirumah susun kehidupan mereka layak. Tapi butuh biaya super banyak, sedangkan pendapat mereka sangat minim. Inilah yang dinamakan ketimpangan kondisi sosial kota besar.
*
*
*
Beberapa waktu yang lalu, Lucas menjemput Sri Ayu. Dia berasumsi dengan mengajaknya kembali tinggal dirumahnya Derris akan betah dirumah. Ternyata Derris memilih pergi, dan Sri Ayu masih tinggal di rumah Lucas. Karena Lucas menyusul Derris ke Eropa. Yang sebenarnya sudah ke Jepang untuk saat ini. Dirumah Lucas ini, hanya ada Satpam saja. Karena Madam Deposit pergi ke Amerika sedot lemak.
“Pagi mbak Ayu, mau berangkat kerja ya. Mana Mas Agusnya?” sapa Satpam.
__ADS_1
“Pagi juga Pak Sat, si Agus sudah di mutasi kerja di pedalaman Pak.”
“Weleh, mau jadi Agus Sekampung ya hehehe.” Ledek Satpam.
“Masih Agus Sejagat kok Pak, Cuma tinggalnya di Kampung saya. Ini fotonya, di gapura masuk Desa saya.” Menunjukkan foto Agus di unggahan sosial media.
“Weleh, Ndesoso kamso gitu sekarang mas Agus. Belahan rambutnya sudah ditengah. Kemeja dikancing semua. Celananya tidaj disetrika hehehe bisa juga Mas Agusnya beradaptasi.”
“Namanya juga totalitas Pak, kebalikannya juga kan sama saya yang disini.”
Satu unit mobil truk berhenti di depan pintu gerbang rumah. Dimana Satpam dan Sri Ayu sedang asik bertukar cerita. Dan seperti kalian tahu, yang turun adalah duda baru.
“Dek Ayu, mas Prapto mau bicara pake mulut.”
“Eh,” terkejut.
“Dek, mas sudah cerai sama istri pertama. Sekarang mas Prapto mau balik ke Kampung, mau rujuk sama Mbakmu. Bisa enggak Dek, kamu bantu Mas?”
“Kok mendadak gininya Mas,”
“Kalau direncanakan kadang resiki batalnya besar. Oleh demikian maka dari itunya anu, Mas memutuskan mau minta tolong adek nanti sore mau temenin Mas mudik.”
“Ya sebenarnya Ayu sih mau-mau saja. Tapi Ayu tidak mau ah kalau mudiknya berduaan sama Mas Prapto. Takut terjadi apa-apa, ngeru ah.” Tolak halus Sri Ayu.
“Owalah Dek Dek, Mas inikan sudah jadi iparmu. Suami Mbakmu, kok masih sempet-sempetnya mikir gitu. Kalau Dek Ayu ragu sama Mas. Boleh ajak kawan-kawan Dek Ayu semua.”
“Serius Mas?”
“Dua rius Dek, Mas sekarang sudah tobat. Mau hiduo tenang di Kampung. Sepertinya Mas tidak cocok dengan kehidupan Kota yang serba glamour tapi tidak tentram. Mas sudah mau jadi orang lempeng. Jadi Dek Ayu mau kan ikut temani Mas Prapto madep ibu-bapakmu?”
“Ya asal syaratnya Ayu, mas Prapto penuhi sih tidak masalah. Bisa bawa teman Ayu sekampung ikut juga.” Timbang Sri Ayu.
“Yuk ah muat saja nih bak truknya Mas mu ini, Dek.”
Puiiiiwitt, siulan dari mulut Sri Ayu terdengar.
“Eh warga Bosnya, yuk naik truk. Kita bakal piknik ke Kampung saya!” teriak Sri Ayu.
Sontak warga Mamsky Brenda kegirangan ada piknik gratis ditengah suasana berkabung ini. Mereka lantas menyerbu dan naik bak truk Prapto.
“Loh Dek, ini seriusan ngajak warga ini?” tanya Prapto keheranan.
“Seriuslah Mas, semalam mereka pindah kemari karena tidak punya data penduduk di penampungan. Makanya aku tampung mereka di sini hehehe. Mas Prapto yang kuat ya traktir kita selama diperjalanan. Aku siap-siap dulu dan mau buat iji cuti sama Atasanku.”
Menyesal Prapto mengiyakan syarat dari Sri Ayu. Sekarang bak truknya sudah penuh dengan warga Mamsky Brenda. Mereka mudik tengah malam, saat para Polisi tidak patroli.
--- KOMEN KALIAN ADALAH TOLAK UKUR AUTHOR SEMANGAT BERKARYA. JADI TERUSLAH TULIS KOMENTAR KALIAN USAI MEMBACA. SELAIN ITU AUTHOR JUGA TENGAH MENGEJAR KELANJUTAN NOVEL "TANGKAP AKU, BOS " & " GERHANA DI MENARA KUDUS". TERIMAKASIH SUDAH MENCINTAI KARYAKU.
__ADS_1