
*** UPACARA PELANTIKAN,
“Lencang kanan, graaaakkkk!!!”
Plak... Suara tamparan mendarat di pipi seorang pria.”Woiiii!!!” tak terima dirinya ditampar.
“Ada apa, kalian kok ribut-ribut!!!” senior mendatangi barisan pagawai.
“Anak tengil ini nampar saya Pak!” menunjuk hidung Sri Ayu.
Masih dengan sikap tegang bak Sutet, anak bungsu Ki Ageng Muji yak bergeming.
“Hai, SRI AYU maju kedepan. Dan kamu AGUS SEJAGAT maju juga!!!”
Kedua pegawai baru yang hendak diresmikan menjadi Aparatur Negara bikin ulah. Ratusan peserta berbisik-bisik seperti rumput kering yang tersibak angin.
“Kamu ngapain nampar Agus?”
__ADS_1
“Sesuai instruksi Lencang Kanan Pak, saya noleh ke kana. Eh tengan kirinya nonjok dada saya.”
“Huahahahahahaha kakakakakaka,” suara gaduh di Lapangan menertawakan penjelasan Sri Ayu.
“KAMU TAHU GAK, LENCANG KANAN ITU TANGAN KIRI YANG DIBENTANGKAN. SEDANGKAN BADAN KE KANAN NAKKKKK!!!” Pegawai senior itu menangis, pesertanya ada yang tidak bisa memahasi baris berbaris.
“Terus kenapa kamu tidak mengikuti gerakan teman-temanmu? Malah bikin asumsi lain?”
“Karena tampil beda itu penting!” jawab lempeng Sri Ayu tanpa berkedip.
“Pakkk, ini gimana urusannya kalau modelannta begini?” masih memegangi pipinya yang meradang.
Hari ini Sri Ayu sudah resmi jadi PNS, seragam berwarna khaki sudah dipakainya. Betapa bangga dirinya berhasil menjadi Aparatur Negara Sipil. Lewat hasil kerja kerasnya sendiri lebih tepatnya. Usai upacara pelantikan, Sri Ayu yang tidak tahan panas kehausan.
“Srutuuupp ahhhh,” es teh manis plastikan terasa menyegarkan.
“Hai,” menjitak kepala Sri Ayu dari belakang.
__ADS_1
Ternyata Agus mengikuti Sri Ayu, dirinya penasaran dari Planet manakah gadis ultrasonografer ini.
“Bajunya lecek banget, dicuci tapi gak disetrika ya?”
Selama tinggal dirumah Lucas, Sri Ayu hanya memakai air kolam renang sebagai keperluan mandi dan nyuci. Dia tidak berani menggunakan air keran selain untuk masak dan nyuci perabotan makan minum.
“Aku hanya mengurangi pemakaian listrik, kau tahu tidak. Semakin kita boros memakai listrik, maka batu bara yang dikeruk dalam perut bumi akan habis. Jika tenaga air di waduk-waduk mengering, maka daya listrik juga berpengaruh. Jadi aku simpulkan, sebagaimana Abdi Negara Indonesia yang baru diresmikan. Aku dengan bangga menyatakan bahwa“hemat sumber daya alam, demi kelanjutan anak cucu”. Dan kau, kenapa bisa kemari?” tanya Sru Ayu balik.
“Oh aku, heheheh.” Mengeringkan matanya.
“Ckckckckck anak muda, punya Seribu satu cara untuk menggoda kaum hawa.” Tutur Sri Ayu yang ‘bijak’ tapi gak ’sana’.
“Hawa, hawanya bawa nafsu kan wkwkwkkwwk. Haaapppp... Hemmm.” Menyumpal mulut Agus dengan bekas plastik es teh manis.
Dengan mengunyel-unyel plastik dari mulutnya. Agus mengejar Sri Ayu dengan motor Vespanya berwarna hijau lumut, tapi yang makai gak ada imut-imutnya. Helem bogo warna putih krem dengan aksen kacamata Pororo dikepala Agus.
Di dalam Angkot, Sri Ayu merasa lucu saja. Ini kali pertama dalam hidupnya ada lelaki yang tidak normal. Mengejarnya secara normal, padahl Sri Ayu sendiri ya tidak normal secara lahiriyah dan tingkah polahiyah hahaha.
__ADS_1
Angkot berhenti di depan gapura menuju komplek perumahan milik Lucas. Nah, dari sini Ayu harus jalan kaki. Dengan payung kertas dan berlukis bunga dikembangkan. Untuk menaunginya dibawah panas terik UV.
“Dek, mau buat kenangan sama Abang gak pakai Verspa hijau daun?” goda Agus yang masih mengendarai Vespanya. Mengiringi jalan Sri Ayu yang lagi mode kemayu.