MAS DERRIS

MAS DERRIS
ASTAGA PAK MUJI


__ADS_3

“Loh anaknya perempuan ya Pak? Tadi saya mikir anaknya laki-laki.” Sopor bajaj itu menggaruk rambutnya merasa salah terka.


“Anak saya emang tomboy Pak, gak ada feminim-feminimnya.” Sambil menenangkan isakan tangis putrinya.


“Oh maaf ya Dek kalau gitu, tadi bapak sempat mikir kalau kamu lelaki. Yawdah sini duduk, cerita sama kami.”


Selesai menangis, Sri Ayu menatap semut-semut berbaris di depannya. Mereka mengangkat beban 1.000 kali dari berat tubuh mereka. Itulah yang membuat Sri Ayu kemudian berpikir lagi. Semut yang terinjak kapan saja, bisa berjuang untuk hidupnya. Masak dia disakiti oleh omongan saja kalah. Air matanya berhenti seketika, dan meminum air dalam bambu khas dari kampunya. Termos yang ramah lingkungan bukan?


“Nduk, kalau kamu gak mau melanjutkan Tes-nya besok kita ke Monas ya. Yuk balik aja.”


Tangan Sri Ayu menahan Bapaknya,agar tidak mengajaknya pergi dari lokasi Ujian. Walaupun hatinya berat jika kembali melanjutkan ujian. Hujatan dan cacian mengenai keadaan dirinya yang berbeda dari yang lain. Sri Ayu ya begitulah dia, seorang gadis yang pendiam. Baru saja pak Muji melihat tangisan anaknya yang tampak deprsi ini. Mungkin ini penyebab anaknya kehilangan suaranya.


“Loh Pah, kok ada disini?” Suara lembut terlontar dari mulut gadis cantik.


“Babrbie?”


“Pah, aku udah nyuruh balik sopir buay jemput Papah dirumah. Kok Papah ada disini gitu?”

__ADS_1


Ternyata gadis cantik nan elegan itu adalah Putri dari Pak Sopir yang sedang bekerja. Bekerja mengendarai Bajaj yang nyaring bunyinya. Tong trontong trontong trontong suara bunyi Bajaj...


Cantik sekali, bahkan mata pak Muji mendelik saking terkaparnya oleh pancaran aura gadis menawan itu.


“Pah, aku hubungi Sopir ya. Supaya muter balik lagi disini jemput Papah.”


Gadis itu mengambil jarak agak minggir dan menelepon Sopirnya dengan sopan. Sangat santun dan tutur katanya lembut.


“Barbie, kenalin ini teman Papah dan putrinya.”


“Hallo, apakabar? Perkenalkan namaku Berlian. Tapi Papahku suka manggil Aku Barbie. Itu nama panggilanku waktu kecil.”


“Loh kok ditepis hehehe.”


Berlian hanya terkekeh melihat Sri Ayu yang melototi ayahnya yang manatap ganjen.


“Anak saya, emang gitu mbak Barb kalau bapaknya mulai goyah iman matanya.” Sambil cengar-cengir.

__ADS_1


“Oh begitu ya, udah lama ya ngobrol sama Papah saya?”


“Udah Mbak, kami gak tahu kalau Sopir Bajaj punya anak secantik boneka gini hehehe.”


“Papah saya itu bukan sopir Bajaj Pak. Tadi pagi saya emang minjem sopir sekaligus mobil Papah buat nganter saya kesini. Soalnya saya gak bisa nyetir mobil.”


“Aiyayayayayaya” pekik pak Muji yang kakinya diinjak Sri Ayu agar tidak celamitan.


“Eh jangan diinjak, nanti sakit.” Berlian mengangkat kaki Sri Ayu yang masih menindih Bapaknya.


“Hawuuhhh huft hufttt...” Meniup kakinya yang bengkak.


Pak Sopir Bajaj itu mengambil berang bawaanya. Dan memakai jas untuk melengkapi penampilannya. Seketika imej seorang Sopir berubah menjadi orang gedongan.


“Aslinya Bapak ini siapa?” Pak Muji menaruh jari telunjuknya di dagu untuk berpikir.


“Perkanalkan nama saya Arnoldo Prabu, kalau sekarang saya masih aktif mengemban tugas amanah dari Rakyat. Lebih tepatnya Menteri Dalam Negeri.” Menyalami pak Muji yang sudah kejang-kejang berbusa.

__ADS_1


Bagaimana tidak kaget, orang sekelas Menteri aja nyupirin seorang Sri Ayu yang mau ikut tes CPNS. Pak Muji syok berat hingga tak sadarkan diri beberapa menit. Sampai akhirnya dia sungkem-sungkem minta maaf. Ternyata usut punya usut, Pak Arnold daripada telat hadir mengawasi pelaksanaan Ujian CPNS. Di stop-lah Bajaj yang melintas depan rumah dinasnya. Karena kebetulan kolektor Vespa jadul, jadi gampang-gampanglah cara ngendarainya.


__ADS_2