MAS DERRIS

MAS DERRIS
TERDEPAK


__ADS_3

“Pak, saya pamit pergi ya.” Mencium tangan Satpam sambil menggendong tas sarung made in Jupri.


“Mbak Ayu mau berkelana di mata?”


“Aku mau berangkat bekerja lah Pak, ada-ada saja sih si Bapak ini.”


“Tapi mbak Ayu kan belum mandi stroberi kan, masak kerja rembes gini. Kan Abdi Negara itu cerminan masyarakat.”


“Aku mewakili masyarakat Sukamager Pak, yang jarang mandi dan ogah ribet dengan urusan yang sepele.”


Nyerah sudah nasehat bijak ala-ala emak bawa pentungan, yang ngejar anaknya mandi.


“Nanti kalo si keong kemari, Bapak jawab apa?”


“Oh si Agus, nanti aku akan mengabarkannya lansung Pak. Dah, bapak...” Perpisahan yang biasa-biasa saja tanpa air mata. Seolah nanti Sri Ayu akan kembali lagi, menyemarakkan rumah Lucas.


Dari atas balkon kamarnya, sang Madam Deposit menyeringai.


“Dasar Alien!!!” menertawakan sarung yang menjadi tas slempang anak kampung.

__ADS_1


Ibunya Lucas merasa menang karena berhasil mengusir Sri Ayu dari kediaman rumahnya.


“Hah, dimana ikan-ikan hokiku???”


Awalnya Madam berpikir rumahnya hanya kehilangan si Alien dari Sukamager. Tapi dia kehilangan ikan di kolam. Dan kandang burung Love Bird-nya kosong. Berganti penghuni piaraan ayam dan bebek.


“APAAAA DIMANA KOLEKSI BURUNG-BURUNG KUUUUUUUUU!!!” Teriak kencang Madam, memecahkan gendang telinganya Pak Satpam yang mengisi air kolam renang.


Kolam yang dipikir danau buatan itu menjadi tempat Sri Ayu menyirami seluruh tanaman, mengepel, ngelap kaca dan kebutuhan kebersihan.


“Helehhh, baru aja burung yang kabur. Anaknya yang punya burung satu saja sudah keseringan berganti sarang.” Cibir Satpam yang memang gelisah belum gajian.


Trooongggg trontong tong tong... Kebulan asap keluar dari knalpot Vespa Agus mengebul. Seperti pengasapan nyamuk pancaroba.


“Uhukkk... Uhukkk...” Pak Satpam mengibas-ngibaskan tangannya.


“Hehehe maaf Pak Sat, belum ganti oli makanya suka brutal kalo ngegas. Ngomong-ngomong Ayu belum siap-siap kan, tadi mampir ke Pertamini.” Menyisir rambutnya yang lepek usai mengenakan helm bogo.


“Mbak Ayu udah berangkat pagi mas, besok mas Agus tidak perlu kemari lagi.”

__ADS_1


“Loh heh kok bisa? Apa Ayu pindak ke Apartemen ya?”


Agus beranggapan Sri Sultan Ayu Diningrat temannya bosen hunian. Padahal dari semalam Ayu tidur di dalam mobil sedan milik Prapto. Beruntungnya itu mobil masih berlangsak terparkir. Beruntunglah Ayu tipe orang yang mudah tidur, ditempat yang tak lazim. Secara di Kampung dan kandang ayam dia tidur beralaskan seadanya. Jog mobil milik Prapto masih katagori layak diencotin badan letih. Dibantu Satpam yang menyalakan membuka sedikit celah jendela. Karena Sri Ayu memang tidak tahan tidur pakai AC. Dirinya sangat cocok dengan udara alami. Dan gigitan nyamuk menjadi keasikan tersendiri. Saat berhasil meneplak nyamuk yang perutnya gendut menghisap darah. Nah adegan ini paling epik buat nempok nyamuk sampai mati koit.


Hidup orang yang berasal dari Kampung sangatlah sulit. Apalagi dihadapkan situasi yang mengharuskan untuk mandiri.


“Yuk, kamu pindahan ke Apartemen tidak beri tahu aku.” Ucapan Agus membuat mata rekan kerja yang mendengar mendelik.


“Ssstttt...”


Agus digiring di gudang, dan ditendang kakinya.


“Atawwwww...” Berjinjit salat satu kakinya.


“Aku sudah keluar dari rumah itu. Dan Apartemen apa yang kau maksut hah? “


“Kau kan kaya Raya, anak sultan mana mungkin tidur di mobil rongsokan depan pagar rumahmu kan hahahah.”


“Memang itu bukan rumahku, dan benar aku tidur di dalam mobil rongsokan itu, lihat bekas gigitan nyamuk ini! “ Sri Ayu melipat lengannya dan memamerkan bintik-bintik merah bekas sedotan nyamuk.

__ADS_1


__ADS_2