
Trongggg...trontongg... tonggg... tongggg, Suara Indah mesin Bajaj yang membelah kedamaian jalan Ibu kota.
“Gugup ya Nduk?” Sri Ayu hanya mengangguk mengiyakan.
“Anaknya memang pendiam ya pak?” suara sopir yang asik memainkan kopling di tangan.
“Iya Pak, anak saya memang pendiam sejak lulus SD. Dulunya dia anak yang ceria serta cerewet. Padahal anak saya ini pernah Juara baca Puisi Tujuh Belasan loh.” Prestasi Sri Ayu yang pernah ditorehkan.
“Apa anak Bapak ini suka nyanyi juga?”
“Kurang tau ya, dulu dia sering jadi Inspektur Uparanya waktu SD. Suaranya juga menggelegar.” Jelas Pak Muji yang bangga terhadap putrinya yang macho.
__ADS_1
“Maaf ya Pak, Cuma bisa nganter sampai sini. Karena larangan pihak Panitia penyelenggara Tes. Saya doakan semoga nilainya 400 point ya. Dan lulus menjadi Aparatur Negara yang Bijaksana.” Sopir Bajaj itu mematikan mesin.
“Kami sebenarnya datang dari Kampung terpencil dan masih primitif. Niat tulus anak saya menjadi PNS agar bisa mengabdi di tanah kelahirannya.”
“Yah, Bagus itu. Kebanyakan memang para CPNS memiliki harapan yang muluk-muluk. Seperti gaji yang stabil tunjangan, dana pensiun dan bisa gadaikan SK mereka untuk kebutuhan hidupnya. Sehingga mereka terlalu sibuk menggunakan kewenangannya, dan melupakan bahwa Aparatur Negara itu pelayan Masyarakat. Ya bukan?” mengelap peluhnya dengan handuk.
“Nasehat Bapak sangat baik sekali, semoga anak saya kelak tetap mengabdikan dirinya untuk membangun Negerinya. Dengan mendedikasikan penuh amanat dan tugas yang dia emban kelak. Baik terpilih atau tidak anak saya jadi PNS, dia harus bisa membangun Kampungnya. Karena amat di sayangkan kalau masih muda keburi di nikahkan. Belum sempat memberikan kontribusi untuk lingkungan sekitar, udah pusing mikiran kebutuhan rumah tangga hehehe.”
“Ya ampun, dia itu Wiro Sableng apa Kabayan sih. Masak jaman milenial masih pake sarung di jadiin tas aja. Mana sarung yang dipake itu nge-per, bulukan lagi huekkkk.” Sambil menjepit hidung peseknya.
“Eh eh eh liat tuh ada Sarimin pergi ke Pasar.” Mereka mencerca Sri Ayu dengan menyamakan Monyet badut.
__ADS_1
“Ya ampun, sepatunya buatan sendiri oi. Ban karet mobil siapa tuh yang di congkel, hahahaha.” Sri Ayu saking kreatifnya, dia membuat sepatu yang dari bahan bekas ban dalam.
“Eh itu rambut klemis amat si culun itu, keknya abis kramas pake minyak jelantah bekas goreng trasi hahahaha.”
“Kemejanya apalagi, ckckck gak ada merekanya. Cuma dijahit tangan aja, duh miskin amat sih ni anak. Jangan-jangan ini kain seprei dari hotelnya nginep terus digasak hahahaha.”
Sepanjang kaki Sri Ayu berjalan telinganya hanya mendengar cemoohan calon peserta lain. Hatinya saking kecil dan semakin mengkerut. Dadanya sesak, bukan karena makai bra berkawat. Selama ini Sri Ayu makai kutang atau miniset. Karena berdada rata, hampir trepesnya dengan pandangan matanya yang datar. Kupingnya merah bukan karena makan sambel kepedasan. Tapi terus-terusan mendengar hinaan dan hujatan dari mulut orang lain. Perlahan Sri Ayu menghentikan langkahnya ketika hendak melewati pemeriksaan. Malah dia berputar balik arah, meninggalkan urutan barisan. Dia berlari ke tempat Pak Muji dan Sopir Bajaj yang lagi ngitung uang kembalian.
Krincingggg... Uang recehan yang menjadi kembalian Pak Muji jatuh berserakan. Rem kaki Sri ayu sudah tidak pakem lagi, karena hatinya sedang terluka.
“Hiks... Hiksss.... Hikssss... Hiksss” gadis berkulit hitam yang memiliki bola mata putih bening itu menitikan air matanya. Seolah ingin mengadu kepada Bapaknya.
__ADS_1