MAS DERRIS

MAS DERRIS
23. SEDAN PERDANA MASUK DESA


__ADS_3

Namanya aja sudah Desa Mager ya, tontonan kelar ya pada mager warganya.


Tuk.. Turutukk tuk tuk.... “Ayo-ayo warga Sukamager saatnya bubar barisan. Dikarenakan sudah jam 10 malam, besok bangunnya tidak males-malesan. Yang bawa tiker digulung kembali. Datang bawa sendal jepit, jangan sengaja dituker paker sendal kulit. Anaknya jangan sampai ketinggalan dan bawa pasangannya masing-masing kerumah. Jangan dituker sama cem-ceman punya orang.” Jupri mengetok kentongan pos ronda yang ia pinjam. Untuk membubarkan kerumunan warga yang nonton TV bersama.


Crekkk creekkkkk, kotak swadaya iuran bayar listrik yang diberikan warga. Sebagai balas Budi karena diperkenankan menonton TV. Bagi bu Muji, bisnis adalah bisnis. Dan bagi pak Muji, istrinya adalah pengelola keuangan yang handal. Ketika dia kembali pensiun di kampung, saatnya mager setiap hari. Istrinya sudah pinter cari duit sendiri. Dan anak-anaknya sudah lulus SMA, kecuali si bungsu Sri Ayu. Dia memilih sekolah di STM jurusan telekomunikasi dan informasi.


“Nah, kumisnya bapak sudah kembali lurus lagi kan setelah dicatok heheheh.”


Pak Muji kembali tersenyum puas, kumis keramatnya lurus tak bengkong lagi.


“Hehehehe ini yang aku mau,” bercermin dan memilin ekor kumis rebondingnya.


Dari dapur terdengar suara berisik yang tengah mengais-ngais sesuatu. Ternyata Sri Dewi, anak sulung pak Muji.


“Ckckckckck mbak kayak kalong saja tengah malam makan buah dan bumbu rujak, hiiii apa gak asem gituloh. Kok ngilu akunya.”


“Gak tau nich dek, mulut mbak pahit banget.” Mengecap mulutnya yang memakan buah mangga muda.

__ADS_1


“Emang selama mbak pacaran sama mas Prapto gak pernah neko-neko?”


“Uhukkk... Uhukkk... Maksud kamu dek?”


“Mas Derris pindah kesini kan baru beberapa minggu mbak. Sedangkan mbak terakhir kali minta pembalutku yang rasa mint sejuk-sejuk di kulit itu sudah lama. Kalau tidak salah ngitung tiga bulan lalu lo mbak hemmmmbbb.”


****** aku, kalau sampai Sri Ajeng ngitung tanggal bulananku. Bisa gagal nich rencanaku buat mempersuami mas Derris.


“Eh mbak sekarang gak pake pembalut yang tidak ramah lingkungan. Mbak sekarang mengikuti program cintai bumi, jadi mbak pake kain gitu dek. Hemmmbbb.”


“Eh dek, besok bantu mbak ke pasar cari baju buat ruwatannya mas Derris. Kan acara ruwatan itu sekaligus membuat hal sial-sial jelang pernikahan.”


“Tapi mas Derris kayaknya gak setuju dech mbak. Buktinya bapak kalah debat walaupun mas derris itu matang, tapi dalamnya masih bocah. Setiap hari kalau gak tidur ya baca komik di Mangatoon.”


Derris memang tipe tak mau ambil pusing perihal ruwatan dirinya. Selama ini dia hanya dikamar dan keluar untuk makan. Bagi Derris tinggal di kota atau di Desa sama aja. Dirinya tetap introvert dan memuja game on line.


“Hufffhhhttt pengen balik Jakarta, tapi...” Derris menelungkupkan kepalanya dibawah bantal.

__ADS_1


*


*


*


Matahari sudah menyinari kawasan Desa Sukamager, seperti jadwal harian. Orang-orang sini lebih malas melakukan aktifitasnya dengan cepat. Mereka asik bercengkrama sambil membahas sinetron semalam ‘Ternungging’. Dari kejauhan terdengar suara riuh bocah-bocah kampung.


“Hirup asap knalpotnya haeeemmmmm ahhh,”


“Eh elap debunya terus tepokin di pipi, gimana rasanya debu mobil Bagus.”


“ayo kita kejar sampai mana mobilnya!”


“Wajahku tampak ganteng ya, ternyata mobilnya bisa buat bercermin hore.”


Celotehan anak-anak kecil mengiringi mobil masuk perkampungan pak Muji. Sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti di pekarangan rumah pak muji. Anak-anak kampung yang kegirangan mengikuti dimana mobil itu parkir. Sibuk mengagumi mobil sedan keluaran terbaru. Masuk kampung mereka yang terpencil dan minus fasilitas. Seorang supir turun dan membukakan pintu penumpang yang masih misterius.

__ADS_1


__ADS_2