
Krieekkk... Gedebruuukk, orang-orang yang menguping pembicaraan dari luar gudang. Saling bertindihan dan pura-pura sedang mencari kecoa.
“Kalian sedang apa?” Agus terperanjat melihat adegan domino rekan kerjanya.
“Oh kami sedang berlatih mencari kecoa, biasanya mereka adalah robot mata-mata negara lain.” Ucap salah satu rekannya.
“Disini tidak ada kecoa, yang ada hanya sarang laba-laba!!!” Sri Ayu meloncati teman-teman mereka yang masih bertindihan.
Entah apa yang mereka ingin ketahui dari kehidupan pribadi Sri Ayu dan Agus. Setiap ada acara selepas kerja kedua orang sejoli ini tidak pernah diajak. Kenapa mendadak keinginan tahu mereka sangat tinggi?
“Duh, uang tinggal selembar. Gajian masih seminggu lagi.” Menempelkan uang Seratus Ribu di keningnya.
Kebangunan dan kelaparan adalah situasi yang mendukung anak perantauan. Hendak kasbon gaji? Hooo tentu saja tidak elit bukan, mau meminjam uang. Pasti tidak dipercaya, kalau ada jaminan pasti tidak sesuai ekspektasi.
Cik kicrik kicrik kicrik... “Ahhaaaiii... Misi mbak-nya numpang ngamen ya...” suara banci datang membawa kecrikan dari tutup botol.
“Ah tidak Mas-Mbak saya lagi butuh duit, bukan butuh lagu. Cari yang lain saja!!!” Usir Sri Ayu yang gusar di Halte.
“Idiihhh Mbak-nya sombong, dengerin lagu Diana dulu lah. Berbagi rejeki itu Indah lo mbakkkk hehehehe.”
“Kau pikir uangku ini ada kembalian Rp. 99.000 hah?!” tantang Ayu geram.
“Waw Serebu mbak? Ihh sulit jodoh loh kalau pelit, naikin lagi lah.” Si banci memang mulutnya lincah.
__ADS_1
“Aku tidak butuh lagu, bacakan mantra penghilang kere!” ucap Sri Ayu makin frustasi.
“Ih kalau saya bisa udah setiap hari aku nyanyiin lah mbak. Saya juga kere, tapi kalau ada mantra anti kere ya hayuk aku nyanyiin xixixixi.” Sambil mengecrekkan alat musiknya.
“Ya Tuhan, sebaiknya aku pergi saja!” dengan mengayunkan tas sarung miliknya, tak sengaja menggampar wajah dempulan banci ngamen.
Bug, kepalanya terpelanting menghantam pot tanaman. Pyaaarrrr, pot itu pecah dan isi tanahnya berhamburan.
“WOI, TANGGUNG JAWAB!!!” suara banci itu menjadi bariton.
Reketeg...reketeg, dengkul dan pundak Sri Ayu merinding mau coplok.
“Ibu... Bapaakkk... Kirimkan aku penyelamat... Aku mohon Tuhan, selamatkan diriku...” Sri Ayu mulai ngeri dengan suara langkah banci yang menjadi garang.
Tap... Tap... Tap... Menarik bahu Ari Ayu, hingga tubuhnya memutar.
“Berani-beraninya ya kau, melecehkanku di kawasan ku!” bogem mentah itu bersiap menghantam wajah Sri Ayu.
Priiiiiittttt... Prit... Priiittt... Prrrriiiitttt... Suara peluit memekakkan telinga.
“Hai, Calista Noda Irama!!!” teriak seseorang yang membuat lemah tangan banci pengamen.
“Boss!!!” dia melongoh ketakutan.
__ADS_1
“Ckckckckck, tidak pantas.” Menggoyangkan jari telunjuknya.
“Bosss, maaf.” Mendadak jadi lembah gemulai.
“Hemmmb,” mengangguk-angguk.
Seorang Boss kecil penguasa kawasan itu datang dengan tas asongan di bagian depan badannya. Topinya dibalik kebelakang dan senyumnya bersinar.
“Taraaaaa...” Seorang bocah asongan bernama Gustavo Alejandro.
“Eh apa ini, kok jadi kebalik ya. Kok bos-nya kecil dan anak buahnya lebih besar dan tua?” kebingungan bergelayut didalam isi kepala Sri Ayu keheranan.
“Santai kayak di Hawai mbak, calista ini pengamen dibawah naungan Agensi Mami aku.” Gustavo duduk nangkring di gerobak sampah.
“Iya, ini Bos penguasa kawasan sini. Biarpun dia kecil macam biji ketumbar, tapi kalau kentut. Byuuuhhhhh sungai Ciliwung sungkem!” Calista membanggakan prestasi Bos-nya.
“Mbak-nya tadi buat masalah apa sama anak buah saya?”
“Dia tadi maksa ngamen sama saya Dek Boss,” ucap lirih Sri Ayu yang masih ketakutan.
“Bener?” toleh ke arah Calista.
“Penglaris Bos-nya,” mendowerkan bibir bawahnya.
__ADS_1
“Fyuhh...mohon maaf mbak-nya, kehidupan kami dijalanan sangatlah keras. Jika anak buah saya tidak memiliki sopan santun. Itu karena kami tidak pernah memakan bangku sekolah.”
“Haiiiiii hahahaha rayap kali Bos ah, makan bangku sekolah.” Celetuk Calista Noda Irama.