
Sambil melihat dari atas dan kebawah baju yang dikenakan Sri Ayu. Berlian paham jika yabg berdiri di depannya juga akan mengikuti Tes CPNS juga.
“Mulai hati ini kita berteman.”
Sri Ayu bak plastik kresek yang asal main tarik aja, itu hanya bisa manut. Berlian dengan langkah larinya menggandeng tangan kanan Sri Ayu yang ikut berlari di belakang. Matahari yang masih pagi itu memantulkan bening cahaya wajah Belian. Hingga para peserta lain terpukau akan kehadiran gadis idaman kaum Adam dan Hawa. Tiba-tiba khayalan tingkat tinggi mereka pupus seketika melihat siapa yang digandengnya. Yah, anak yang kabur di cerca habis-habisan. Dari segi penampilan dan sikap yang sudah tidak bisa masuk kategori anak muda.
“Ayo cepat sedikit larinya...” Berlian terus dan terus membawa Sri Ayu berlari pada pintu pemeriksaan.
“Hemmmmbb...” Senyum merekah dari Sri Ayu itu mulai tertarik hingga kesudut bibir.
Antrian sudah mulai sedikit, tak bejubel lagi.
__ADS_1
“Maaf mbak, pelayan tidak boleh masuk!” Petugas itu menarik baju Sri Ayu.
“Dia temanku, kita sama-sama peserta Pak. Ini kartunya.”
Petugas memeriksa secara seksama dan mencocokan kemiripan data.
“Oh aku pikir dia pembantu anda Nona hehehe.” Senyum sinis dibuang ke wajah Sri Ayu.
Beruntunglah Sri Ayu menundukkan kepalanya, hanya Berlian yang bisa mengerti betapa jahatnya mimik wajah menghina petugas Panitia.
“Teman anda seperti bukan dari habitat yang sama dengan anda Nona?” sambung lelaki yang datang dari arah depan.
__ADS_1
“Berteman dengan siapapun adalah bentuk kesopanan. Dan menahan ucapa buruk, merupaka tata krama. Walaupun dia tidak cocok untukku, perjuangannya untuk kemari sudah seperti perang. Kami adalah teman, perlakukan dia sebagai tamu di acara yang kalian selenggarakan.” Berlian nampak memerah ujung hidungnya.
Wajah melankolis cantik itu membuat para lelaki iba. Beberapa dari mereka yang bermulut tajam turut mengomentari perlakuan buruk teman gadis cantik. Sri Ayu yang mendengar dukungan itu, awalnya berpikir untuk dirinya. Melainkan karena ada niatan agar bisa dekat dan akan dengan Berlian.
“Pak, ini Negara Pancasila lo. Jangan membeda-bedakan manusia lah. Toh pada dasarnya kami pemuda Indonesia.”
“Hilih, Pakkk Pakkk kayak calon binimu aja yang top. Manusia itu yang penting hatinya Pak, bukan fisiknya.”
“Udah abaikan saja, yang berjuang meraih masa depan pasti bisa ngalahin yang kerja modal nyogok!”
“Jaman dulu asal ada koneksi kan jadi, sekarang mana bisa hahaha.”
__ADS_1
Panas telinga Panitia itu mendengar omelan para Peserta. Beda nasib saat Sri Ayu maju sendiri, kini ada Berlian di depannya. Banyak lelaki yang cari muka agar bisa menarik hati. Dan perempuan yang ingin mengajaknya satu grup.
Satu per satu perserta mulai menempati posisinya, banyak yang melakukan ritual menurut kebiasaan masing-masing. Komat-kamit baca mantra, nyebar tanah kuburan yang sengaja dibawa di buntalan plastik kecil. Dan yang lebih epik lagi kembang setaman, ditaruh dalam sepatunya. Dipojokan paling belakang sarang penyamun lagi. Ada yang bawa minyak nyong-nyong diolesi di pelipis matanya. Mungkin biar nemu jawaban yang tepat kali ya. Bisnis Paranormal di musim pengaduan nasib emang sangat subur di Bumi Pertiwi. Sebagai warisan cagar budaya, juga sebagai ajang pencarian rasa percaya diri.