
Saat apel pagi, atasan mereka mengumumkan kandidat karyawan yang akam di oindah tugaskan. Pak Boi sebagai pemberi tugas memilih Agus untuk dipindah tugaskan. Sementara Sri Ayu masih dipertahankan di kantor pusat. Niat hati Pak Boi ingin lebih dekat dengam Sri Ayu lebih mulus. Karena selama ini Agus menjadi benalu yang mengganggu aksinya.
“Dasar atasan pilih kasih, mana bisa mutasi tugas tanpa surat rekomendasi dulu. Ini namanya persaingan kotor Pak Boi!” bentak Agus.
“Gus, ini sudah sesuai prosedur ya. Kamu itu perjaka boros, gaji pegawai negeri tidak sesuai dengan gaya hidupmu yang tinggi. Ingat ya Gus, kamu ini Golongan 3 B, sementara SK mu saja sudah mengajukan pendidikan di Bank 6 tahun.” Jawab santai Pak Boi.
“Yah... Itukan memberdayakan apa yang ada sebagai sarana pemenuhan fasilitas hidup Pak. Bapak sendiri sudah punya istri, kenapa masih naksir daun muda. Saya tahu loh Bapak aslinya naksir sama Sri Ayu bukan?” delik Agus.
Mulut Agus ditabok uang Ratusan ribu yang anget-anget dari dompet Pak Boi.
“Cukup kan?” mulut Agus sudah tertutup uang.
Mengacungkan jempol tanda setuju untuk tidak membahas hobi Pak Boi yang hobi main serong.
“Nah, gini dong Pak baru namanya saingan terbuka. Terbuka dompetnya, tertutupnya mulut saya hehehe.”
Tangan Agus menghitung ulang uang lembaran merah-merah yang baru saja ia peroleh.
“Bos yang royal, tanda kemakmuran pegawai terjamin.” Ujar Agus keluar ruangan Pak Boi.
“Sssstttttt,” mengatupkan jarinya dimulut agar Agus diam.
Khawatir karyawan lainnya tahu perihal rahasia Agus dan Pak Boi. Seketika juga, Pak Boi memerintahkan karyawannya untuk mengemasi barang untuk pulang cepat. Alasannya karena akhir pekan, siapa tahu ada yang mau liburan.
“Mbak Ayu pernah ke Puncak?” tanya Pak Boi yang bersandar dipapan pembatas.
“Sudah pernah Pak.” Jawab Sri Ayu.
“Heh, sama siapa Mbak? Setahu saya mbak Ayu sendirian terus.” Timbul rasa penasaran.
“Puncak pohon nangka Pak, sambil angon kerbau hehehe.” Sri Ayu melenggang pergi memakai tasnya.
Settt, Pak Boi manarik tali selempang tas Sri Ayu. Yang menghentikan langkah kakinya.
“Duh Pak, apalagi?” Sri Ayu menatap tajam.
__ADS_1
“Sejak kapan tasmu seharga gajimu sebulan?” geram Pak Boi.
Dari desain kulit dan bahan, tas yang dipakai Sri Ayu ini jelas mahal. Dengan merk yang ekslusif biasa dibeli kalangan sosialita.
“Oh ini ya Pak, dari___” ponsel Sri Ayu berdering.
Tampaknya ada panggilan masuk yang penting, sehingga tubuh Sri Ayu menghindari Pak Boi yang jaraknya dekat. Ternyata Derris melihat sambil menelepon Sri Ayu. Pantas saja Derris tahu dengan perbuatan Pak Boi. Secara Agus melapor ke Derris perihal keberadaan Sri Ayu, saat Derris bertanya di depan pintu gerbang.
“Hehehe perang dimulai nih.” Ucap Agus licik.
Derris yang menunggu Sri Ayu di depan pintu keluar masih terhubung telepon. Mereka saling berbicara, dan langkah Sri Ayu semakin cepat mendekat ke Derris.
“Mas,” sapa Sri Ayu.
Ketika hendak menyentuh pundak Sri Ayu, tangan Derris lebih cepat menggaet tangan Sri Ayu. Hingga membuat Pak Boi telat meraih pujaan hatinya.
“Sontoloyo, sudah kalah gerak gesit juga kalah tampanh nih.” Sambil mengelus kepalanya yang botak.
Dari kejauhan karyawan yang ikut mengintip bersama Agus tertawa menyoraki.
Suing...sepatu Pak Boi melayang ke tempat Agus dan kawan-kawan mengintip dari balik pagar.
“Besok saya akan hukum kalian!” ujar Pak Boi.
“Mohon maaf Pak, besok sudah libur. Hukuman dirumah sudah menanti ya Pak. Si Agus sudah merekam drama percintaan buaya buntung hahahah.”
Geram sekali Pak Boi punya karyawan macam Agus. Sudah licik, dan main tikung dari belakang. Menyesal sudah dia sudah memberikan uang tutup mulut. Ternyata tangannya juga beraksi nakal merekam adegannya mengejar Sri Ayu.
*
*
*
--- SEMAK-SEMAK,
__ADS_1
Derris yang dari kantor kerja Sri Ayu terus menyeret Sri Ayu sampai ke semak-semak. Markas warga hunian Apartemen. Calistha yang sedang meditasi terpaksa diusir dari kegiatannya. Sedangkan Gustavo mendapat jatah jaga mobil Derris yang di parkir di tepi jalan.
“Ada Apaan sih Bos, kok Masnya mendadak datangnya.” Calistha ikut nimbrung Gustavo.
“Biasa ah, balada semak-semak menjadi saksi bisu romantika anak manusia.” Jawab Gustavo.
“Gak elit banget deh, seorang mas Derris ngajak mbak Ayu di semak-semak. Biar apa coba?” protes Calistha.
“Ya biar biawaknya ngerti, kalau fungsi semak-semak sebagai sarang bertelur. Juga bisa jadi taman dadakan, tahu kan kalai semak-semak itu udah kayak taman disini.”
“Eh iya juga ya Bosnya, kita saja sering mangkal disana.” Calistha membenarkan omongan Gustavo.
Situasi yang tegang ini, Derris beberapa kali mengambil nafas dalam-dalam.
“Yu, aku tahu sekarang kamu sudah berubah jadi cantik. Tapi menggoda atasan dengan kemolekan tubuh itu memalukan. Dia itu tua Yu, sudah beristri dan beranak. Kamu mau mengikuti jejak mbak Dewi! Aku masih ingat Prapto menikahi mbak Dewi, dalam keadaan hamil. Sedangkan istri sahnya datang melabrak. Apa kamu mau bercita-cita jadi wanita demikian!”
Plakkk, pipi Sri Ayu ditampar sendiri yang diwakilkan oleh tangan Derris. Saat Derris mengoceh, Sri Ayu yang panas hatinya menarik tangan Derris dan menamparkan kewajahnya
“Tampar aku Mas! Tampar!” desak Sri Ayu.
“Yu, kamu kok memakai tanganku untuk menamparmu. Sampai merah gini lo.”
Mata Derris melihat pipi kanan Sri Ayu yang memerah akibat tamparan yang diwakilkan. Ditiupnya pipi Sri Ayu perlahan-lahan agar dingin.
“Cukup Mas, jangan ditiup lagi.” Pinta Sri Ayu lirih.
“Enggak apa-apa Yu, pipimu memerah. Aku tiupin lagi ya.”
“Mas lebih baik tampar aku daripada mengatai aku hal yang buruk-buruk. Hatiku lebih sakit Mas, daripada tamparan dipipiku hiks hiks.”
Merasa tindakannya kasae secara verbal, Derris memeluk dan mendekap Sri Ayu. Dari atas jembatan Agus melihat adegan romantis di semak-semak itu. Sepertinya cintanya Sri Ayu berlabuh ke pria tampan yang memeluknya sekarang. Segera dia meraih ponsel dari dalam saku celananya. Dan mengatakan kepada Pak Boi, kalau dia bersedia dipindahkan sejauh mungkin. Lalu Agus pulang dan mengemasi barang-barangnya. Saat mengingat kembali adegan Sri Ayu dan Derris berpelukan, seketika air matanya menetes. Cinta pertamanya yang terluka, Cinta pertamanya juga yang tak berbalas. Pedih kenyataan yang harus aagus terima, ketika dirinya yang mencintai Sri Ayu harus kalah dan pergi.
“Padahal rencananya aku mau nembak kamu Yu. Sudah aku belikan tikar dan jajanan pasar, buat pernyataan cintaku di semak-semak. Eh tahunya kamu udah bersama Derris. Hancur hatiku Yu hancur huhuhuhu.”
Cucuran air mata dan omelan yang keluar dari mulut Agus terus terlontar. Beginilah aturan baru dalam memerankan perasaan. Jika telat menyatakan Cinta, mungkin ditikung sama yanh lebih profesional. Tapi tikungan profesional bakal kalah sama yang menarik hati.
__ADS_1