
Brang... Klontang... Wing wing wing klunting.... Bemper depan mobil rinsek dan spion copot. Ringsek sudah sedan kebanggan itu menjadi barang rongsokan setelah mengambil barang bawaan berupa hasil bumi dan ternak. Mereka bertiga turun dari mobil di depan rumah yang berpagar warna putih setinggi 2 meter.
“Udah, tinggalin aja mobil ini disini.” Ajak Derris yang mau memencet bel.
“Ckckckckck rusak benerrrrr.” Pak Muji menggeleng-gelengkan kepalanya.
Seorang satpam muncul dengan sigapnya.
“Woh hooo mas Derris ya?”
“Eh bapak Bajuri, masih inget saya.”
Begitulah satpam di rumah Lucas mempersilahkan masuk sobat karib majikannya. Sembari menyalami Derris yang baru datang dari Kampung. Pak Bajuri juga ikut membawa barang bawaan dari Kampung.
“oh my jet Derrisssssssssss...” Lucas meloncat kegirangan dan ngamplok bak bayi.
__ADS_1
“Hai, turun!!!” perintah Derris yang geli dengan sikap manja Lucas.
“Yuhuuu... Gak kangen juga mas sama saya?” pak Muji dada-dada ala miss yunipers.
“Ih my grill om mujaerrrrrrrrr,” Lucas yang gemas dengan kumis rebonding pak Muji. Terus-terusan menarik- arik bak mainan boneka.
“Hataaaaaaaahhh haataaaaaahhh...” Lucas yang gemas dengan kumis pak Muji.
“Why so long... Apakah di Sukamager kalian betah? Jakarta welcome banget kalian balik. Yuk kita party!” Lucas dengan kemayunya menarik kedua tangan kesayangannya.
Derris dan pak Muji berdecak saja, kenapa Lucas jadi manja kayak anak ABC eh ABG ding. Memakai kaos singlet dan celana boxer merah cabe. Apa tidak salah nich Lucas gaya pakaiannya.
“Kok kayak jadi kebo gini ya paka, makannya hijau-hijauan?” Derris lemes melihat menu makanan Lucas.
“Kalau begini ya apa samanya dengan kebo-kebonya Ayu di Kampung kalo begitu.” Hasrat ingin makan-makanan lezat pupus sudah.
__ADS_1
“Kok Cuma dilihatin doang, ayo dong kita makan bareng-bareng. Aku sengaja lo nyiapin ini semua buat nyambut kalian selama bertapa.”
Lucas entah kesambet apa pula selama gak gaul sama Derris. Masak beberapa bulan aja udah berubah jadi melambai dan kediet-dietan gini sih. Yang tak habis pikir lagi, di dalam rumah dia makai sendah lantai kelinci warna pink. Ah sudah gak beres ini anak kayaknya.
“Aku mau pinjam pisau!” Derris melotot.
“Ah... Derris pake alat yang tumpul aja enak. Kenapa mau nusuk pake yang tajam sih. Aku kan masih pemula.” Dengan kemayu Lucas merengek, mengenyot sendok.
“Kayaknya mas Lucas emang kena karma deh. Abis mainin cewek, kok berubah jadi kemayu gini. Kok aku merasa Tuhan itu adil ya.” Bisik pak Muji.
“Aku minjem pisau buat nyembelih ayam dan bebek, Cas. Aku g bisa makan-makanan beginian. Apaan ini sayuran dan mayonaise.” Derris kesal dan membanting sendok.
“Oh aku pikir mau dibuat ituan xixixixixi.”
Nyengar-nyengir celamitan, lidahnya sembari membasahi bibirnya yang pake lipgloss.
__ADS_1
“Nih Derr, pisaunya. Tapi inget ya, aku gak mau lihat aadegan berdarah ini. Byeee...” Lucas masuk ke dalam rumahnya lagi.
Di taman ini, pak Muji dan Derris mengeksekusi 4 ekor unggas yang dibawa dari kampung. Dengan bakat pak Muji yang terampil memasak. Maka satu wajan besar berisi rica-rica siap disantap. Dan nasi liwet anget-anget untuk menambah lahapnya makan. Tak lupa Derris mengerok kulit buah kelapa muda. Dan mencampurnya dengan beberapa buah dan sirup. Terakhir es batu kristal yang menyegarkan ketika disajikan dingin-dingin.