Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 3


__ADS_3

Aku membuka HP ku dan melihat ada beberapa pesan, salah satunya dari putri "lah Putri tau aku diRumah Sakit" batin ku. Aku pun membuka pesan dari Putri yang lumayan panjang itu.


πŸ“±"Bestiiiii sory banget, aku tadinya mau jengukin kamu, aku udah bawa makan favorit kamu tapi aku balik lagi. Soalnya aku nggak mau ngeganggu Bagas, kayanya dia sedih banget deh, dia sampe nangis sesenggukan gitu, jadi aku pulang aja deh takut ngeganggu Bagas. Atau apa Bagas yang buat kamu masuk Rumah Sakit. Pokoknya kalo bener Bagas yang bikin kamu masuk rumah sakit awas aja dia"


πŸ“±"hahhahah enggak kok kata dokter kecapean aja, emang bener Bagas nangis sampe sesenggukan?"


πŸ“±"lu udah sadar Sya, syukurlah lu nggak apa apa kan"


πŸ“±"nggak apa apa bestiiii, gimana tadi Bagas, emang bener dia nangis sampe segitunya


πŸ“±"iya bestiiii sumpah deh, aku mau masuk tadi tapi Rey ngelarang, katanya biar mereka aja yang nyelesain masalah mereka"


πŸ“±"oooh bisa nangis juga dia🀭"


πŸ“±"aku kesana ya Sya, aku khawatir


πŸ“±"no no no, sudah malam besok saja ke kos oke"


πŸ“±"kamu beneran nggak apa apa kan, nanti aku chat Bagas deh, awas aja dia kalo nggak jagain kamu"


πŸ“±"udah nggak usah, dia sampe sekarang aja belum pulang kok, tiduran ni dia di samping aku"


πŸ“±"tapi gila sih Bagas pesen kamar naratama gila duit dari mana dia"


πŸ“±"iya gila, pusing banget gue balikin duitnyaπŸ˜‘"


πŸ“±"lu rich ege sok pusing lu"


πŸ“±"mak bapak gue yang rich, gue mah miskin"


πŸ“±"dih, yaudah istirahat sono"


πŸ“±"iya iya"


πŸ“±"dokumen dokumen kamu, ada sama aku ya besok aku bawain"


πŸ“±"oke besti thanks"


πŸ“±"iya besti"

__ADS_1


Aku menaruh HP ku di samping bantal tempat aku berbaring, aku melihat wajah Bagas yang masih duduk disamping ku dengan mata sembab sambil memijat mijat tangan ku. Aku bangun dan mencoba duduk karena punggung ku mulai lelah berbaring.


"Hati hati sya" kata bagas sambil membantu ku untuk duduk.


"Hahaha apa sih, kaya aku saki parah aja"


"Ya kan masih lemes"


"Enggak kok, orang sudah fit gini"


"Dih sok kuat"


Aku memegang tangan Bagas yang bertumpu di atas kasur yang sedang aku tempati.


"Gas, thankyou"


"Maaf" kata ku sambil mengusap usap rambut Bagas yabg sedang melihat ku dengan mata sembabnya. Dia hanya diam saja masih memandangi ku dengan matanya yang sembab, namun perlahan lahan aku melihat ait mata Bagas mengalir dari kedua matanya masih dengan ekspresi datar masih dengan tatapan sedih itu.


"Hya weee uljima (hey kenapa jangan menangis)" aku mengusap air mata Bagas yang masih mengalir membuat jalan di pipinya.


Bagas berdiri dan memeluk ku, masih dengan isak tangis yang terdengar lirih di telingaku.


"Maaf sya, maafin aku"


"Maaf" Bagas semakin erat memeluk ku hingga aku susah bernafas.


Plok plok "ugh nggak bisa nafas" kata ku sambil menepuk nepuk punggung Bagas karena sulit bernafas


"Udah kamu duduk ya"


Bagas pun duduk sambil menundukkan kepalanya. (Kenapansih ni anak sampe segitunya, apa aku pingsan tadi ada hubungannya sama gambaran yang kuliat saat mendekati Bagas ya) batin ku sambil berfikir sebentar. Namun aku kembali melupakannya karena takit sakit kepla lagi.


Aku melihat infus ku dan ternyata sudah habis, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Sebenarnya aku berfikir lagi mau pulang jam segini karena sudah terlali malam, namun mengingat kamar yang Bagas pesan adalah kamar naratama, aku pengen cepat cepat keluar sajaπŸ˜‘.


"Bagas, infus ku habis nih, kita pulang yuk"


"Tidur disini saja, aku temenin"


"Enggak deh di kos aja"

__ADS_1


"Emm ya udah deh, aku panggil suster dulu ya buat lepasin infus kamu"


"Oke"


Tidak lama kemudian Bagas kembali dengan seorang suster, suster itu membantu ku membuka infus dan alat bantu pernafasan ku dengan senyjm ramahnya.


"Permisi" kata susternya sambil tersenyum


"Iya sus silahkan"


"Aw, sakit ya sus" kata ku sambil meringis kesakitan


"Pasti dong kak kan di tusuk jarum hehe"


Suster itu membantu melepas alat bantu pernafasan ku lalu pamit untuk pergi karena sudah selesai melakukan tugasnya.


"Yuk gas"


Bagas mengambil tas ku dan membantu ku berdiri, kami berdua berjalan melewati lorong rumah sakit dangan santai, ini adalah pertama kalinya aku sesantai ini berjalan di rumah sakit. Aku asik dengan kesenangan ku sendiri sampai tak memikirkan Bagas yang masih bisa melihat mereka.


"Ya ampun Gas, lu masih bisa liat mereka kan"


"Iya kenapa"


"Aah maaf ya padahal malam ini menyeramkan, tapi kamu malah nemenin aku dirumah sakit"


"Santai aja, aku sudah biasa kok"


"Bagas makasih ya, akhirnya aku bisa merasakan kalau di rumah sakit itu tidak menakutkan, thankyou"


"Itu bukan apa apa Sya" jawab Bagas sambil tersenyum dan mempererat tangannya yang sedang memegang ku.


Kita berdua sudah keluar dari tumah sakit dan berjalan di trotoar sambil mencari taksi, namun aku baru ingat kalau kos ku jam malamnya hanya sampai jam 10.00 dan tidak boleh masuk tanpa alasan apapun. Aku menghentikan langkah ku karena ketololan ku itu.


"Bagass"


"Apa aku kaget lo, apa sih"


"Aku lupaaa, kos ku udah tutup dari jam 10 tadi dan nggak boleh masuk tanapa alasan apapun kalau sudah melewati jam duh oon banget sih gue"

__ADS_1


"Astaga Nasyaaaa.. masa orang sakit nggak boleh kuga sih"


"Nggak boleh gila, haaa gimana niiihh"


__ADS_2