Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 8 KISAH MITA


__ADS_3

Gyuri tengah membereskan baju baju yang akan dia bawa saat study pertukaran kek Korea nanti, di tengah tengah kesibukannya, dia mendegar pintu kamarnya di ketuk dari luar dan seseorang telah membukanya, yah itu Mita kawan kosnya. Dia datang dengan suara ributnya dan berbaring di Kasur Gyuri yang sedang tidak di pakai itu.


“Hello guys, aahh… empuuk mantap”


“haha apasih Mit..” ucap Gyuri menggeleng geleng


Mita tidak menjawab dia hanya diam memperhatikan Gyuri yang tengan mengemas bajunya yang terbilang cukup banyak itu. Gyuri yang merasa sedang di awasi itu mencoba membuka pembicaraan agar suasananya tidak terlalu menegangkan.


“kenapa kamu Mit, liatin gitu amat, aku cantik ya hahah"


“ya cantik lah, elu aja perempuan”


Gyuri tertawa dan tidak memebalas percakapannya dengan Mita, Mita mengubah posisi tidurnya dari tengkurap memperhatikan Gyuri dan akhirnya dia terlentang menghadap langit langit kamar yang terlihat kosong dan sederhana itu.


“Mit…"


“emm.. kenapa”


“kamu liburan besok mau pulang kerumah bude mu?” tanya Gyuri sambil membereskan barangnya


“males, aku di kos aja”


“Mit.. kalo misalnya kamu ada pilihan buat putus hubungan sama bude mu, kamu mau nggak?”


“mau, apa lagi yang tersisa disana tentang ku dan orang tua ku, semuanya sudah mereka habiskan, aku dari dulu sendirian, kamu taukan”


“aku tau, tapi aku tidak menyangka jika seburuk itu”


“maksudnya, memang kamu tau berapa banyak ahaha”


“nggak banyak, tapi aku tau itu cukup buruk untuk psikis mu”


Mita terdiam tidak mejawab Gyuri, dia hana memandang kosong langit langit kamar Guri, diam tanpa suara bukan seperti Mita yang biasa berisik. Gyuri merasa salah telah memebahas hal itu. Namun di balik semua pertanyaan yang Gyuri ucapkan, ada niat baik dibalik semuanya, untuk teman yang sudah seperti saudaranya itu.

__ADS_1


...****...


“Mita, cepat turun ayah sama bunda sudah mau bernagkat nih”


Mita menuruni tangga dengan Langkah cepat dan menyambut orang tuanya dengan senyum girangnya itu. Wanita muda berumur 19 tahun itu memeluk ayah dan bundanya karena malam ini mereka ada perjalanan bisnis yang tidak bisa ditunda lagi.


“sayang, hati hati dirumah saat ayah sama bunda sudah berangkat nanti, kamu beranikan sendiri di rumah?”


“berani dong yah, anak ayah sama bunda nih hahaha”


“hahaha dasar kalian berdua, oh iya sayang bunda sudah siapkan bahan makanan untuk tiga hari ya tinggal di hangatin aja sayang dan jangan lupa bersih bersih rumah ya”


“siap bun, tenang aja, pas bunda pulang pasti rumahnya bakal kinclong deh”


Malam itu keluarga kecil Mita tengah bercada tawa, Mita yang sudah terbiasa ditinggal oleh kedua orang tuanya terlihat biasa saja dan ikut hanyut dalam suasana canda tawa malam yang dihiasi hujan rintik rintik itu. Mita sudah menawari kedua orang tuanya untuk mengundur perjalanan bisnis mereka namun ayahnya menolak, karena kali ini adalah hal yang sangat penting untuk ayahnya. Mita tidak bisa mengelak Ketika ayahnya sudah mengatakan tidak. Mita mengantarkan ayah bundanya didepan rumah hingga mobil yang mereka tumpangi tidak terlihat lagi.


Mita menghela nafas Panjang lagi, dia sendiri lagi di rumah yang terbilang cukup besar ini. Entah dari mana, ada perasaan yang terasa janggal di hatinya, tidak seperti biasa saat kedua orang tuanya meninggalkannya sendirian, ada perasaan tidak enak yang tiba tiba membuat hatnya sesak, namun Mita segera meghapus pikiran jelek itu. Dia tidak ingin memikirkan sesuatu yang macam macam, yang dia harapkan adalah tiga hari mendatang dia tidak akan sendirian lagi dirumah ini. Mita membuka Hpnya dan mencari resep kue brownis kesukaan bundanya itu. Dia membaca resep itu hingga matanya terlelap.


Mita juga salah satu gadis yang sudah mandiri sedari kecil, karena tonjokan ekonomi yang menerpa keluarga mereka cukup sulit dahulu. Keadaanya dahulu membuatnya pernah merasakan betapa sulitnya tinggal di sebuah gubuk kecil yang haya berterangkan lilin di ruangannya. Namun mereka tidak pernah mengeluh atas kedaan yang diberikan oleh sang maha kuasa. Mereka tetap ceria dan menerima dengan hati yang lapang.


Hingga ayah mita mencoba bangkit dan menggunakan skillnya dalam bidang elektronik hinggga mereka bisa sampai seperti saat ini. Malam ini adalah malam yang sangat penting bagi ayah Mita, mala mini adalah malam yang sangat dia tunggu dalam 7 tahun karirnya, bliau mendapat tawaran Kerjasama dari perusahaan elektronik di Korea selatan yang ingin menyokong perusahaannya, namun apa yang tuhan rencanakan sangatberbeda dengan perjuangan ayah Mita hingga saat ini.


Pagi hari setelah mita membuka matanya, dia melihat jam dinding yang menempel di didinding kamarnya tengah menunjjukkan pukul 07.30 pagi. Dia bangun dan memebersihkan wajahnya, entah sejak kapan Hpnya terus bergetar tanpa henti, seperti ribuan SMS dan telfon masuk menyergap Hpnya di pagi yang dingin itu. Mita mencoba membukanya sambil menonton televisi, terlihat berita yang pertama meyapa matanya saat pertama kali menyalakan televisi, berita kecelakaan pesawat sudah meyapa matanya pagi itu. Mita masih belum sadar dengan berita yang dibawa oleh pembawa berita itu, namun pada saat sang pembawa berita menyebutkan nama pesawat yang mengalami kecelakaan itu tangannya berhenti, dia mencoba melihat dan mendengar apa yang dibawa oleh sang pembawa berita pagi itu.


“terjadi kecelakaan pesawat antar negara yang terjadi pada pukul 02.30 dini hari, pesawat MOON AIR yang membawa kurang lebih delapan puluh penumpang yang duapuluh lainnya adalah penumpang yang berkewarganegaraan Indonesia, diketahui bahwa pesawat ini megalami kecelakaan lantaran melewati gumulan awan hitam saat melewati pulau jeju. Tim pencarian antar negara ini yakni Indonesia, Korea selatan dan beberapa tim dari beberapa negara lain mengerahakan pasukan untuk segera megevakuasi korban korban dari kecelakaan pesawat yang terjadi di laut jeju berikut adalah daftar penumpang Indonesia yang tengah menaiki pesawat tersebut”


Mita buru buru mendekati Tv dan melihat daftar nama itu, wajahnya pucat seketika, nafasnya tecekat, darahnya rasanya tengah berhenti megalir keseluruh bagian tubuhnya, Hpnya mulai bergetar lagi, Mita mengangkat telfon itu dengan sisa tenaga dan kekuatan yang dia miliki. Terdengar seseorang tengah menelfonnya dan menginfokan bahwa kedua orang tuanya telah menjadi korban kecelakaan pesawat itu, Mita tidak menjawab seseorang dibalik telfon itu.


Dia hanaya berdiri didepan televisi yang tengah menampilkan nama orang tuanya yang tengah menjadi salah satu daftar korban dari kecelakaan pesawat itu. Air matanya megalir tanpa henti dengan ekspresi beku yang dia gambarkan diwajahnya, benar, pagi itu, hari itu, detik itu, Mita Triayu Gunawan menajdi anak yatim piatu. Dia berdiri sendiri didunia yang kejam ini, saat itu, hari itu juga.


Jasad kedua oarang tua Mita saat kecelakaan itu tidak di temukan, mereka hilang, hilang Bersama dinginnya laut jeju yang menelan pesawat dan puluhan orang lainnya saat itu.


Mita hanya berdiam di ruang informasi di bandara menunggu kabar dari jasad orang tuanya di temukan namun nihil, laut sudah membawa serta mereka dari pelukan Mita, dan dia hanya seorang diri sekarang. Sebulan setelah itu semua berubah, hak asuh Mita sudah jatuh ke tangan orang tua kedunya, yaitu budenya. Semua harta orang tua Mita itu habis di raub oleh budenya termasuk rumah yang sudah ayah Mita bangun untuk keluarganya yang tidak lain dan tidak bukan adalah rumah yang dia tinggali saat ini. Beruntung Budenya bukan lah orang yang terlalu pintar, sebelum itu terjadi Mita sudah mengamankan semua data dan surat surat perusahaan ayanya dan menyembunyikan atm yang isinya paling banyak untuk biaya kuliahnya dan kehidupan barunya nanti

__ADS_1


“heh anak nggak tau di untung, mana sertifikat perusahaan ayah mu dan sertifikat tanahnya ha, mau kamu nikmatin sendiri ya?” ucap bude Mita dengan suara membentak


“Mita nggak tau Bude, mungkin ayah bawa, kalo Bude mau ya cari aja di laut sana kok tanya Mita” ucapnya sambil membawa koper besar


Hari disaat Bude Mita menunjuk nunjuk Mita untuk meminta surat tanah dan kantor milik ayahnya adalah hari dimana Mita harus pergi untuk berkuliah. Mita meninggalkan budenya yang masih marah marah itu dan memebawa koper besarnya bersamanya. Sejak saat itu Mita tidak pernah Kembali kerumahnya, dia memilih tinggal di kos dengan dunianya sendiri. Sertifikat dan semua data tentang perusahaannya dia ikut sertakan dan dia bawa Bersama dia pergi merantau ke kota Jogja dan akhirnya dia bertemu oleh Nasya dan kawan lainnya di kosan bu endah.


...****...


Gyuri mendengar cerita Mita dengan saksama dan ditemani dengan linangan air mata yang jatuh memebasahi pipi Gyuri, dia memeluk teman kosnya itu dan mengusap pelan punggungnya. Mita tertawa, dia yang mengalami kisah tragis namun Gyuri yang menangis memeluknya saat ini.


“iiih pengen aku lempar di kawah Merapi aja deh Bude kamu itu, nggak punya muka banget gila iiiiiiihhh” ucap Gyuri kesal dengan mata sembabnya


“haahaha, dosa kamu dia tetap lebih tua dari kamu lo”


“biarin, oh iya berarti sertifikat perusahaan ayah kamu ada sama kamu dong, terus tabungan yang kamu ambil sebanyak apa dan yang di ambil Bude kamu sebanyak apa?”


“emm… yang di ambil Bude aku rumah sama tabungan ayah yang isisnya 1 milyar sih itu aja”


“terus yang kamu pegang?” tanya Gyuri smabil menggosok punggunng tangan Mita


“yang aku dapat, sertifikat tanah ayah aku 3 hektar, sertifikat dan semua data perusahaan serta hakmilik tanahnya, dan tabungan ayah aku yang paling banyak emm berapa ya saat aku memeriksanya pertama kali eemmmm… 1 triliun yah kurang lebih sebanyak itu” Gyuri menganga mendengar Mita menjelaskan dengan santainya harta apa apa yang sempat dia aman kan.


“wah berarti Bude mu Cuma dapat upilnya doang dong”


“iya hahaha, aku juga sudah tidak menginginkan rumah itu terlalu banyak kenangannya jadi aku biarin aja, perusahaan juga tetep aku rawat meski nggak ada yang kerja disana, aku masih menjaga semunya”


“huft… syukurlah, Mit kalo aku tawarin kamu buat jadi keluarga ku gimana?, Aksa juga sangat menyukai mu aku akan membicarakannya dengan papa ku”


“emmm…boleh, tapi meskipun papa kamu mengangkat ku jadi anaknya, aku akan tetap menganggap orang tua ku sebagai oarang tua ku, apa tidak masalah? Yaah lagi pula aku tidak punya siapa siapa lagi, jadi idemu adalah ide bagus hahaah”


“hahahaha iyakan, tentang orang tua mu kamu harus tetap seperti itu, itu harus bukan, papa dan mama ku hanya orang tua pengganti saja biar kamu nggak sendirian lagi oke”


Mita mengangguk, percakapan mereka berkahir hangat saat itu, Gyuri akan segera mendapat saudara baru tinggal menunggu persetujuan papanya saja setelah dia sampai di rumah jumat nanti.

__ADS_1


__ADS_2