Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 5 BAGAS


__ADS_3

Aku terbangun pagi itu karena alarm di Hp Nasya mengagetkan ku. Aku segera mematikannya karna lagunya terlalu berisik alarmnya berbunyi dari pukul 07.00 yang lalu, Nasya masih memeluk ku dalam tidurnya aku melihat jam dan jarumnya sudah menunjukkan pukul 09.20 kita berdua bangun sangat siang hari itu dan tidak lama kemudian Nasya menyusul ku bangun, aku mencium keningnya dan menyapanya hangat pagi itu.


"selamat pagi" sapa ku sambil mengecup kening Nasya lembut


"bukan kah ku bilang jangan melewati guling"


"kau yang melewatinya sayang"


Dia menoleh ke belakang tempatnya semula tidur, dia menyuruhnya berhenti memanggilnya seperti itu dan kembali mengeloni ku dan menyuruh ku diam karena jakun ku terkena jidatnya, aku hanya tersenyum dan meneliti wajahnya yang tengah mengimpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya kembali. Aku teringat kejadian semalam dimana bibir kita bertemu dan dia memanggil lelaki lain selain aku dengan senyum indahnya itu. Wajah ku memanas hati ku rasanya ngilu mengingat hal itu, aku mengusap pelan bibir Nasya dia hanya melihat ku dan buru buru berdiri meninggalkan ku ke kamar mandi.


Aku menyusulnya berdiri dan menahan gagang pintu kamar mandi yang akan dia masuki, dia menyuruhku minggir karena ingin cuci muka, aku tidak tahan dengan rasa sakit yang muncul didada ku saat ini sakit, aku menarik tengkuk Nasya dan mulai mengusasai bibirnya, dia mendorong dorong tubuh ku dan menyuruh ku berhenti, namun kian lama dorongannya kian melemah dia meremas baju ku dan topangan kakinya melemah karna permainan lidah ku yang terlalu cepat, aku menahan tubuhnya yang mulai jatuh perlahan dan mengangkatnya ke atas kasur.


Aku memberinya jeda untuk mengambil nafas, terlihat dia sangat ngos ngosan, aku membersihkan saliva ku yang menempel di bibirnya, terlihat bibirnya pink kemerahan karna ulah ku. (Dia bahkan tidak membalas saat aku menciumnya tadi, apa ini pertama kali untuknya atau dia masih mencintai lelaki yang ada di mimpinya itu) batin ku, aku kembali kesal saat itu.


"apa kau belum pernah melakukannya"


"hay ku bilang jangan melewati bat emmh"


Aku kembali bermain dengan bibirnya dan berpindah ke leher indah Nasya, entah kenapa aku melepas baju yang kupakai Bagas mendorong ku keras dan meneriaki ku


"aah jebal geumanhe, Bagas sadar mau seberapa banyak kamu cupangin" aku tersadar kala Nasya berteriak pada ku dan berhenti, aku menjatuhkan kaos yang sedang ku pegang.


"aah maaf aku lepas kendali"


Aku hanya menunduk di hadapannya karna merasa bersalah, dia melewati ku dan mencubit perut ku keras. Aku mengaduh kesakitan dan memegangi bekas cubitan Nasya lalu dia masuk kedalam kamar mandi. Terlihat pria joseon yang mengikuti ku berdiri di balkon kamar ku melihat ku dari jendela dan menertawai ku.


"mabsosa, ajig ireuda (wah tuan, ini bahkan masih pagi)" kata pria itu dengan tawa meledek ku


"ya bikyeo (hey menyingkirlah)" kata ku kesal pada pria itu, dia tertawa meledek ku lalu menghilang.


(dia pasti akan marah pada ku dan tidak mau bicara lagi) batin ku. Perut ku berbunyi kencang karna belum di berimakan, aku segera menuju dapur dan memasak spageti, yah itu adalah hidangan paling cepat untuk saat ini. Setelah selesai membuat saus untuk spageti buatan ku, aku pergi ke kamar untuk memgajak Nasya sarapan. Aku menarik nafas panjang ku dan berharap Nasya tidak marah pada ku.


Saat menghampirinya dia tengah selesai menyisir rambutnya, aku mendengar perutnya berbunyi nyaring menandakan kalau dia juga lapar.

__ADS_1


"kamu sudah selesai mandi, ayo sarapan"


"kamu memasak"


Aku lega wajahnya terlihat senang, aku mengajaknya ke ruang makan dan menyiapkan sarapan untuk kita. Perutnya terus berbunyi sampai dia terlihat malu.


"kamu selapar itu"


dia mengiyakan dan menawarkan diri untuk membantu tapi aku menolak. Aku membawa 2 pirin spageti yang ku buat sebelumnya. Dia makan sangat lahap hingga aku sangat senang melihatnya


"maaf ya" kata ku sambil membersihkan keju yang menempel di bibirnya


Nasya melihat ku sinis (aah mampus gue) batin ku, tapi dia tersenyum setelahnya dan melanjutkan makannya dengan tenang.


"apa kau tau, itu pertama kali bagi ku, jadi bagaimana aku membalas mu" kata Nasya sambil melihat ku dengan tatapan tajamnya, namun aku sedikit lega (berarti dia tidak pernha melakukannya bersama Taehyung)batin ku dengan wajah senyum senyum


"hahaha ayo habiskan makanan mu sayang" aku menelan ludah ku, aku akan pasrah dengan apa saja yang terjadi setelah ini.


Setelah makan dia mengajak ku menonton netflix bersama, aku menuntunnya ke ruang Tv untuk menonton dan aku menyetel netflix sesuai apa yang dia mau. Namun Nasya menutupnya dan beralih ke yutub dia membuka acara musik grub Kpop bernama BTS dan menontonnya. Dia berteriak teriak seperti menonton konser di tempatnya langsung dan saat V yang dia lihat membuka perutnya yang kotak kotak itu Nasya berteriak "HYA KIM TAEHYUNG"


"emm Kim Taehyung, kau mengetahuinya"


"tidak, tapi kamu semalam menggigau tentang dia, apa dia mantan mu"


"haaa ahahahahahah mantan ku, sunggu aku menggigau tentang dia"


"iya sampai kau, mencium ku sangat lama"


"HAH, MENCIUM MUU sungguh" Nasya sangat kaget dan dia menutup matanya dengan tangan karna malu


"iya sungguh"


"maaf... Karna aku kau melakukan hal itu tadi pagi" kata Nasya meminta maaf sambil mengelus lengan ku

__ADS_1


"tidak apa apa"


Aku melanjutkan menonton grub kpop kesukaan Nasya yang sampai terbawa bawa mimpi itu dan si taehyung taehyung itu terus membuka perutnya dan ternyata aku harus memgambil hatinya dari taehyung, oh ayolah jangan bercanda.


"ah ternyata ini yang mau di lihat, punya ku lebih bagus" kata ku membanggakan diri ku


"kenapa siih"


"aku bilang punya ku lebih bagus"


Aku menarik tangannya dan memasukkannya di dalam baju ku agar dia mwrasakan ABS ku. Nasya malah menertawai ku yang tengah pamer padanya bahwa punya ku lebih bagus dari idolanya karena aku sering berolahraga. Nasya menyuruh ku menyudahinya dan berkata itu hanya bercanda. Dia berkata bahwa juga menyayangi ku. Rasanya aku seperti berada di awang awang yerbang saking senangnya mendengar jawaban Nasya.


"I LOVE YOU"


"sungguh"


Dia menarik ku ke dadanya dan aku mendengarkan detak jantungnya sangat cepat. Seperti aku saat dekat dengannya.


"yes sayang"


Dia menutupi wajahnya malu karena memanggil ku seperti itu. Aku berusaha melepaskan tangan yang menutupi wajahnya, itu terlalu imut untuk di lewatkan. Dia berkata pada ku bahwa dia sudah menyukai ku lebih dulu selama ini. Aku seakan tidak percaya pada apa yang dia katakan, bagaimana akau melewatkan kesempatan ku bersamanya disaat dia ada di depan mata ku. Saat itu dia memprotes marna tanda yang ku buat sangat terlihat pada lehernya.


"ah maaf"


"sst jangan bicara, jakun mu bergerak"


Nasya naik ke pangkuan ku, dia memgang jakun ku yang tengah naik turun menelan liur. Dia mulai menghisap jakun ku dan membuat tanda yang sama seperti yang aku buat di lehernya. Dia melepas hidapan dan gigitannya untuk melihat hasilnya dan dia tersenyum puas. Aku tidak tau bahwa Nasya seberani ini. Dia berhenti didepan wajah ku dan menyuruh ku meneruskan kegiatan yang dia mulai. Nasya menempelkan bibir pinknya pada ku dan aku mulai menikmatinya. Sudah sangat lama sejak aku menciumnya, ku rasakan dalam dalam bibir manis itu, aku takut keadaan kita memburuk hinggak aku melupakan rasa manis bibirnya saat ini.


Aku terus ke lehernya dan membuka bajunya yang masih di baluti tangtop, dia mengehntikan ku sebelum semuanya menjadi berlebihan. Aku berhenti di depan dadanya dan melihat bekas luka lama yang lebatmrnya seperti pedang yang ku miliki.


Aku bertanya padanya sejak kapan luka itu tergambar di dadanya dan betapa terkejutnya aku saat dia bilang setelah mengetahui sedikit gambaran yang di lihatnya di lorong itu. Aku sangat marah pada diri ku sendiri, apa ini kutukan yang dimaksud dewa, lukanya akan menjadi luka baru lagi dan membuat ku semakin merasa bersalah. Aku hanya bisa memaki diri ku sendiri saat itu. (Aku adalah dewa kehancuran bagaimana bisa sihir seperti itu mengusai ku hingga aku membunuh sahabat dan kekasih ku) batin ku begitu matah pada diri ku sendiri.


Aku memeluk Nasya erat, mungkin aku akan sering menagis saat hidup di dunia fana ini, meratapi betapa bodohnya aku dan betapa menyedihkannya akhir cinta kita nanti, aku sudah berfikir terlalu jauh untuk hubungan yang akan kita jalani ini, tapi aki bersi keras, aku tidak ingin di ingat Nasya sebagai orang yang buruk di matanya.

__ADS_1


"mulai sekarang jangan lihat apa yang seharusnya tidak kamu lihat, jangan lihat mata ku telalu dalam lagi aku takut melukai dirimu" kata ku dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.


Meskipun Nasya saat ini sedang menatap ku juga dan tidak terjadi apa apa, tapi aku takut, takut untuk kehilangannya lagi, takut melukainya lagi. Aku takut menjadi orang jahat dimatanya.


__ADS_2