
“skak mat pa”
“astaga Yul… ini sudah ketiga kalinya”
“hahaha”
Di ruangan bernuansa coklat itu, Yul dan papa Gyuri tengah asik bermain catur. Papa Gyuri tengah memegangi jidatnya karena itu sudah kekalahan ketiga untuknya. Rambutnya yang sudah mulai memutih itu tersibak dan kembali lurus menjuntai, setelah usapan tangan ayah Gyuri pada kepalanya.
“bisa bisanya aku kalah telak 3 kali berturu turut”
“hehe maaf ya pa”
“Yul.. kamu hebat sekali”
Mereka sudah bercerita banyak di tengah ruangan bermeja kaca itu, Yul dengan senang hati menjawab dan menemani ayah Gyuri bermain catur. Lelaki yang hampir memasuki paruh baya itu memperbaiki kaca matanya yang sudah miring, rambutnya sudah mulai berantakan karena kepalanya panas memikirkan kekalahannya.
“Yul, ayah mu kerja apa nak?”
“papa saya sudah tiada pa”
“astaga, maafkan papa, Yul”
“tidak apa apa pa”
“apa kamu hidup dengan baik selama ini, bagaimana dengan ibu mu, apa dia tidak apa ap ajika kamu tinggalkan sendiri?”
“kebetulan mama juga sudah tidak ada pa”
Papa Gyuri memukul kecil mulutnya karena merasa sudah tidak hati hati terhadap pemuda yang ada di hadapanna itu. Awalnya papa Gyuri ingin tegas seperti calon mertua pada umunya, namun setelah mendengan cerita dan pernyataan Yul da mnegurungkan niatnya itu.
“tenang saja pa, aku hidup dnegan baik kok pa, tidak perlu khawatir untuk masalah finansial pa, saya bisa mengelola perusahaan ayah saya dengan baik kok pa”
“hebat sekali kamu Yul, papa jadi tidak terlalu khawatir jika Gyuri akan Bersama dengan mu”
“makasih pa”
__ADS_1
“tapi mungkin tidak semudah itu, DEWA KEHANCURAN”
Mimic wajah Yul berubah, yang sebelumnya tersenyum sumringah menjadi wajah serius, kaget dan datar. Dia tidak tau sedari tadi dia berbicara dengan orang lain, bukan papa Gyuri. Orang yang menyerupai papa Gyuri itu tertawa terbahak bahak melihat Yul yang diam mematung.
“waaaa… pageosini nollaseo uneun jul mollanessyeo kkkkkkkk (waaah… aku tidak tau kalau dewa kehancuran bisa kaget dan menangis hahahah)”
“jeogodeo nan neo gateun wiseonjaneun aniya, I sseuregi (setidaknya aku tidak munafik seperti mu, dasar sampah)”
“neon sarinjaya neoi hagwineun naboda deo naja kkkkk (kau pembunuh, derajat mu bahkan lebih rendah dari pada aku hahaha)”
Tubuh Yul membeku, lidahnnya kelu tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dia memandang tangannya yang pernah dia gunakan menghunuskan pedang pada kekasihnya. Sosok yang menyamar mejadi papa Gyuri itu tersenyum, matanya berbinar binar melihat perkataanya telah mempengaruhi dewa kehancuran itu. Sosok itu mendekati telinga Yul mengucapkan kalimat yang begitu pelan tepat pada daun telinga Yul.
“neon sarinjaya, jugeo mattanghae, jugeo (kau adalah pembunuh, kau pantas mati, matilah)”
Tangan Yul bergerak dengan sendirinya mengambil cuter yang ada di tempat pensil yang berada di tengah meja. Dia mendorong isi cuter yang dia pegang hingga tidak ada yang tersisa lagi di bawahnya. Yul mengangkat tangan kanannya dan langsung menyayat urat nadi yang ada di pergelangan tangannya. Darah bekas sayatan yang yul buat muncrat hingga mengenai sosok yang ada di hadapannya itu. Yul menyeringai mengetahui bagaimana dia harus bertindak.
Sosok itu tampak kaget, kulit penyamarannya saat itu meleleh saat terkena cipratan darah dewa kehancuran. Yul memegang kepala penyamar itu, darahnya terus mengalir melewati wajah papa palsu itu. Sosok itu gelgapan ingin segera melepas genggaman tangan Yul yang ada di kepalanya. Namun itu percuma. Wajahnya sudah di lihat oleh sang dewa kehancuran. Kulit yang menutupi wajah aslinya sudah meleleh Bersama darah Yul yang mengalir melewati wajah seseorang yang berdiri dihadapan Yul.
“GEONG HAN” ucap Yul menatap lelaki yang ada di hadapannya dengan mata nanar yang sudah membiru akibat energi NUN
“shiBAAAAAL”
“dangsineun mueseul wonhasibnikka? (apa yang kau inginkan?)” ucap Yul sambil terus meremat kepala yang dia pegang
“hahahah naega wonhaneun ge mwoya? Gyuri illgeob beonjjae nungwa geu bopyeojogin him kkkk (hahahaha yang aku mau? Mata ke tuju milik Gyuri dan kekuatan semestanya kkk)” ucap dewa itu diringi tawa seakan dia sangat puas dengan apa yang dia katakan
Emosi Yul tidak terkontrol lagi setelah dewa itu menyelesaikan kalimatnya, dia semakin mencengkram kepala dewa itu, matanya kian membiru menunjukkan NUN sudah menguasai hampir seluruh dari dirinya.
“anyeong nae sseulmoeobsnen inhyeong hahahaha (sampai jumpa boneka ku yang tidak berguna hahha)”
Dewa itu menghilang dan hanya meningalkan jejak awan yang tidak lama ikut menghilang Bersama tuannya. Yul tertegun mendengar perkataan Dewa yang ada di hadapannya sebelum menghilang
“inhyeong? (boneka?)”
Yul terlihat bingung, dia berdiri di ruangan coklat itu seorang diri dengan tangan yang masih seperti mencengkram namun sudah tidak ada apa apa di bawahnya. Tangannya masih terus mengeluarkan darah. Lukanya masih menganga lebar, efek regenerasi pada tubuhnya berjalan lambat karena Yul sebelumnya mneggunakan energi yang cukup banyak.
__ADS_1
...****...
"Selamat pagi kelarga papa yang papa cintai"
papa Gyuri memasuki rumah dengan keringat bercucuran, dia mengelapnya dengan handuk kuning yang sudah bliau sediakan untuk melap keringatnya saat berolah raga
"Gyuri, mobil pacar keluaran terbaru ya, papa bahkan belum lihat loh, dan setelah di perikasa lagi memang belum di pasarkan, tapi kenapa Yul sudah mendapatkannya ya?"
Tidak ada satupun dari anak ataupun istrinya yang menanggapinya, mereka semua melihat papanya dengan wajah bingung dan dengan kening yang berkerut.
"PAPA" teriak ketiganya kompak
"ada apa sih sama kalian, teriak teriak gitu, kompak lagi hahaha"
"papa bukannya main catur sama kakak Yul?" tanya Aksa yang bingung melihat papanya tengah berdiri di hadapannya
"apasih, papa baru pulang joging kok, kalian tadi ninggalin papa, tega sekali kalian"
"Aksa"
"iya kak"
"ppalli yureul chaja jigeum (cepat cari Yul, sekarang)"
"baik"
Aksa segera naik ke lanatai dua memeriksa semua ruangan yang ada di atas namun hasilnya nihil. Begitu pula dengan Gyuri, mama dan papanya mereka berpencar di lantai bawah, setiap sudut namun belum juga menemukan Yul.
"Aksa apa Yul ada di atas?"
"tidak ada kak, semuanya sudah ku periksa"
Gyuri tidak menyerah, dia mencari sekali lagi tempat tempat yang dia cari sebelumnya bahkan mama dan papa Gyuri sampai mencari ke halaman rumah. Gyuri melewati ruang di bawah tangga dan melihat sosok pria berbaju lusuh penuh tanah dan darah, pria itu menunjuk ke arah ruang meeting yang sebelumnya sudah dia periksa, sosok itu berkata dengan pelan sambil menunjuk ruang meeting itu dengan wajah yang miris dan menakutkan dia berkata.
"Kehancuran kehancuran kehancuran kehancuran kehancuran"
__ADS_1
Gyuri mendekati ruangan itu, berharap Yul ada disana dan baik baik saja, Gyuri membuka ruangan itu perlahan dan disambut oleh cairan merah yang menggenang di dekat pintu ruangan itu.
Wajah Gyuri pucat, dia tidak ingin apa yang dia lihat seperti yang dia fikirkan, perlahan Gyuri mengangkat wajahnya dan melihat Yul yang sedang memandang tangannya yang terus mengeluarkan darah dan lambat laun tersenyum ke arah Gyuri.