Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 7 MEMAAFKAN


__ADS_3

Pelajaran pada hari itu sudah selesai, semua mahasiswa berhamburan meninggalkan kelas mereka, ada yang ingin istirahat dan ada yang sibuk dengan kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).


Gyuri juga mulai berdiri untuk meninggalkan kelas tersebut, namun seseorang memegang tangannya dari belakang dan Gyuripun menghentikan langkahnya dan menolehkan pandangannya kebelakang. Terlihat Putri yang berdiri menunduk memegang tangannnya


"apa, kita bisa bicara sebentar?"


"kamu punya rencana apa lagi ha?" saut Yul yang berdiri disamping Gyuri dan mencoba menarik tangan Gyuri yang di pegang oleh Putri


"Yuul.. Bukankah kamu sudah memaafkannya?" Yul melepaskan tangan Gyuri


"maaf, aku akan menunggumu di luar"


Yul, Hendra, dan Rey memberi waktu untuk Gyuri dan Putri berbincang berdua. Saat ini hanya ada mereka di ruang kelas yang luas itu, Putri mengajaknya duduk disalah satu kursi panjang yang ada dikelas itu dan memulai pembicaraannya.


"Gyuri, aku selalu ingin memanggil mu seperti itu dan akhirnya hari ini aku bisa memanggil mu dengan nama itu, ah maaf sudah basa basi, bukan waktunya bercanda" Putri tertawa sambil menutup wajahnya lalu membukanya lagi, Gyuri juga ikut tertawa kecil. Dua sahabat itu akhirnya tertawa bersama, menertawakan hal kecil yang sebenarnya tidak lucu tapi lucu bagi mereka


"aah serius serius, oke Gyuri, maaf, atas apa yang aku lakukan pada mu beberapa hari ini hingga membahahayakan Yul dan diri mu ak..."


"tunggu tunggu" perkataan Putri terhenti, Gyuri memotong pembicaraannya, Putri berganti melihat Gyuri dan mendengarkan temannya itu


"kok kamu tau kalo Bagas namanya Yul?" tanya Gyuri


"oooh kamu mau tanya itu, kita semua tau bukan, kamu, aku, Rey dan Kang"


Gyuri mengerutkan keningnya dikala satu nama yang terdengar asing tapi juga familiar di telinganya, entah kenapa, saat Putri menyebut nama itu dia langsung mengingat bunga blue bell yang sama persis seperti bunga yang berada dimeja kamar balkon Yul. Rasa rindu dan sesak menyeruak didalam hati Gyuri, dia mencoba mengingat siapa sebenarnya seseorang yang bernama Kang itu tapi otaknya tidak jalan seperti sedang jalan ditempat, tidak maju dan tidak mundur. Gyuri yang masih berkelu dengan otaknya itu terlihat seperti sedang melamun. Putri mencoba memanggilnya dan menepuk kecil lengan Gyuri.


"yuriya, gwaenchanha? museun saenggageul hago issni? (Gyuri, kamu baik baik saja? kamu memikirkan apa?)" Putri bertanya bingung melihat Gyuri yang tengah diam mematung seperti memikirkan sesuatu yang serius


"aa gwaenchanha (ah tidak apa apa)"


"ayo, lanjutkan pembicaraan mu, maaf sudah memotong" ucap Gyuri meminta maaf pada sahabatnya


"baiklah, aku ingin meminta maaf mu, aku sangat bersalah pada mu dan Yul, mungkin bagimu tidak mudah memberi maaf, tapi aku sungguh menyesal melakukannya" kata Putri, siring perkataannya keluar dari mulutnya semakin menunduk pandangannya, dia terlihat memainkan kukunya seperti orang yang khawatir karena melakukan kesalahan besar

__ADS_1


Gyuri yang melihat kekhawatiran Putri mencoba menghentikan gerakan kuku Putri, dia menggenggam tangan sahabatnya itu lalu menatapnya lekat


"Put, aku sudah memaafkan mu, begitupun Yul, aku ingin kamu berjanji satu hal pada ku"


"apa itu?"


"jangan menggunakan ilmu berbahaya seperti itu lagi, aku tidak mau tau, itu bisa membahayakan dirimu sendiri oke"


Putri tidak menjawab, matanya berkaca kaca saat mendengar sahabatnya masih begitu menghawatirkannya setelah semua yang dia perbuat kepada sahabatnya dan kekasih sahabatnya.


"maaf maaf hiks hiks"


"hey jangan menagis, aku juga ikut sedih"


Mereka berdua berpelukan dan menangis bersama, haru padu menjadi satu dalam sepinya ruang kelas nanluas itu, hanya terdengar isak tangis dua sahabat yang mencoba menyelesaikan masalah mereka. Putri dan Gyuri mengangkat kepala mereka dan saling pandang satu sama lain, mereka saling melihat wajah mereka setelah menangis bersama.


"hahahahha, wajah mu" ucap Putri tertawa sambil menunjuk wajah Gyuri


Masalah yang mengganjal dihati Gyuri tentang masalahnya dengan Putri kini sirna seperti sebuah batu besar yang sudah hilang didadanya.


"Put"


"emm kenapa"


"aku ingin bertanya sesuatu"


"apa itu"


"apa benar kamu tidak sungguh berpacaran dengan Rey?" tanya Gyuri sungkan, dia tidak ingin melukai perasaan Putri dengan pertanyaan yang satu ini, tapi, rasa penasarannya lebih besar dan akhirnya pertanyaan yang di tahannya keluar juga. Dia sudah sangat deg degan dengan reaksi dan jawaban Putri.


"aah itu, emm aku tidak pernah pacaran dengannya, bahkan tidak punya rasa"


Gyuri menutup matanya dan memijit alisnya pelan, kaget, bingung bercampur menjadi satu. Pemandangan romance selama ini yang dilihat dari mereka berdua hanya bohong, selama itu. Gyuri terdiam seribu bahasa tidak bisa menjawab atau berkomentar dengan apa yang dia dengar dari mulut Putri. Namun Gyuri mulai angkat bicara setelah beberapa detik ngefreez akibat perkataan Putri.

__ADS_1


"Put, kenapa, kenapa harus bohong, apa karena rencana mu, rencana menolong adik mu, dari ayah mu?, dan siapa yang akan kamu bunuh, apapun itu Put, membunuh itu salah, nyawa adalah hak masing masing orang, jangan lakukan itu, kematian adalah tugas tuhan"


"aku tau itu salah dan kabar baiknya aku tidak membunuh siapapun, aku nggak akan sanggup"


"good girl, jangan lakukan hal itu, kamu gadis baik, kamu juga ditemani lelaki baik, jadi perlakukan Rey dengan baik, aku tau, Rey membantu mu karna dia tau, kamu tidak akan sanggup berbuat hal buruk"


"tapi aku sudah begitu jahat padanya, tidak ada hal baik yang aku perlihatkan untuk Rey selama ini, dia hanya mencoba membantu ku dan aku mengajaknya masuk dalam masalah yang aku hadapi" jelas Putri dengan air mata yang terus berjatuhan dari pelupuk matanya


Gyuri mengusap air mata Putri, dia menepuk punggung Putri yang menangis hampir terisak itu, yang Gyuri tau dari rencananya adalah membunuh Yul untuk menyelamatkan adiknya, tapi dia tidak tau, kenapa ayah Putri sangat ingin membunuh Yul.


Keinginan Gyuri untuk berangkat study pertukaran dengan tenang terwujud, masalahnya dengan Putri selesai meski masih banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Putri, tapi dia memilih diam. Mengetahui Putri masih seperti wanita baik yang dulu dia kenal sudah cukup bagi Gyuri.


Mereka berdua keluar dari kelas setelah berbincang panjang lebar, terlihat Yul, Rey dan Hendra sedang duduk didepan kelas menunggu mereka keluar. Wajah para lelaki itu terlihat bingung melihat Gyuri dan Putri yang keluar dari ruang kelas dengan mata sembab dan hidung merah


"kalian habis nangis?" tanya Yul dengan mimik bingung


"enggak" jawab Gyuri dan Putri kompak lalu mereka tertawa bersama


"nggak tau deh sama perempuan gue" ucap Hendra menggeleng geleng


"lah lu yang jomblo aja bingung apa lagi gue"timpal Yul


Rey hanya tersenyum meliat mereka berdua, dia berdiri dan mendekati Gyuri dan menpuk pundak kawannya itu.


"maaf ya Sya" kata Rey dengan mimik wajah menyesal


"nggak apa apa, good boy, jagain Putri ya pas aku berangkat nanti, 2 bulan loh, awas aja nggak dijagain" ucap Gyuri


"iya iya" jawab Rey tersenyum


"huft, drama apa lagi ini" kata Hendra pelan


"sst, ribut lu ah" saut Yul pada gumaman Hendra

__ADS_1


__ADS_2