Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 4 WARNA


__ADS_3

"Batas apa"


"Nanti akan ku beritau, mandilah kau pasti lelah aku akan berpakaian dulu"


Aku mengistirahatkan tubuh ku di kasur, masih terbayang bayang di kepala ku darah yang mengalir dari luka itu maaih tidak bisa di cerna oleh akal sehat ku itu. Aku melihat HP ku karena teringat kak Arkan waktu itu akan mengirimkan gaji ku dan ternyata sudah cair.


"Wah berasa orang kaya gue habis gajian"kata ku senyum senyum sendiri sambil melihat Hp ku, sesaat kemudian Bagas keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian siap untuk istirahat.


"Kamu bahkan pakai baju di kamar mandi, maaf membuat tidaknyaman bahkan saat di rumah mu sendiri"


Bagas berjalan mendekati kasur dan merebahkan badannya di samping ku sambil menutup mata bahkan saat memperbaiki posisi tidurnya.


"Kamu sudah mengantuk, bahkan langit baru saja gelap"


"Sudah jangan pedulikan aku"Bagas menarikku dalam kelonannya masih dengan mata tertutup


Aku yang baru saja bangun dari pingsan ku sebelumnya tidak merasa kantuk sama sekali, aku hanya membenamkan wajah ku di pelukan Bagas hingga bisa mencium aroma sabun yang di gunaknnya untuk mandi. Bagas meraba raba kasur bawah dengan kakinya, aku tidak tau Bagas sedang apa masih dengan mata tertutupnya itu.


"Selimutnya mana sayang" tanya Bagas masih meraba raba bawah kasur dengan kakinya


"Buka matanya dulu baru cari, kenapa kamu tutup mata dari tadi?"


Bagas tidak menjawab pertanyaan ku dan duduk melanjutka mencari selimut yanh sedari tadi dia raba raba. Aku memegang tangannya untuk menghentikan kegiatannya yang tidak jelas itu


"Sayang stop, buka mata mu"


Bagas masih bersikukuh untuk tetap menutup matanya. Aku yang kesal dengan kelakuan Bagas pun mencubit pipinya agar matanya matanya bisa terbuka


"Aaw aw Nasya sakit" Bagas akhirnya membuka matanya karena kesakitan


"Kamu sudah liat selimitnya dimana"


"Kita dudukin"kata Bagas dengan wajah tertunduk dan menjawab dengan pelan


"Kau menutup mata mu, karna hal yang ada di dadaku ini kau takut" Bagas hanya mengangguk mengiyakan tuturan ku.


"Bagas sudah jangan di pikirkan, bahkan jika dewa memutuskan kita bertemu dengan cara seperti ini, percayalah padaku, memang jalannya seperti ini yang sudah di takdirkan semesta jadi jangan menyalahkan siapapu bahkan dirimu sendiri"


Bagas hanya diam menunduk dan perlahan memelukku tanpa membalas semua ocehan ku sebelumnya. Aku mengelus punggung Bagas yang hanya diam memangkukan kepalanya di pundak ku manja.

__ADS_1


"Bagas kamu ada crayon yang di kirimkan tuhan di hidup ku, jadi aku minta tolong padamu warnai hidup ku dengan indah, bahkan jika satu saat kamu sangat ingin menggunakan warna warna yang gelap, gunakanlah karna itu adalah bagian dari karya mu mengerti, aku akan tetap menghargainya dan akan tetap memakluminya karna itulah seni hidup"


Bagas mengangkat kepalanya dengan ekspresi sedih seperti sebelumnya. Dia berkali kali membuang nafas panjang seperti ingin semuanya berakhir. Aku mengajaknya istirahat saja agar sejenak melupakan semua yang terjadi hari ini meskipun jam masih menunjukkan pukul 19.30 dan kami pun tertidur.


Aku membalikkan tubuh ku lurus ke atas menghadap langit langit karena sudah lelah miring, saat aku meraba samping ku tempat Bagas tidur tapi aku tidak menemukan siap siapa. Aku membuka mata ku dan aku melihat Bagas yang sedang duduk di balkon kamarnya sambil memghisap rokok. Aku menghampirinya yang tengah duduk santai dan mengambil rokok yang sedang asik dia nikmati lalu mematikannya.


"Nggak baik buat jantung, ngapain diluar malam malam"


"Sayang kok bangun, masih jam 10 malam loh ini aku lagi cari angin aja tadi sebentar"


"Kebangun aja karna kamu ngilang, widih minum apa tuh nggak bagi bagi" aku mengambil minuman Bagas yang sisa setengah gelas itu dan meminumnya habis rasanya manis tapi panas


"Weeekk minuman apa sih panas"


"Yaammpun sayaaaang itu anggur, kamu tu nggak nanya nanya dulu" Bagas mengambilkan sebotol air dan menyuruh ku untuk meminumnya


"Kamu nggak apa apa Sya, nggak pusing"


"Enggak kok cuma wajah ku rasanya panas aja"


"Kamu sih lagian ah" omel Bagas sambil menempelkan tangannya yang dingin di pipi ku


"Aigoo ury gangaji neomu gwiyeobda uwuw (astaga anak anjing ku sangat imut)" aku memasangkan kupluk anak anjing yang sangat imut di kepala Bagas.


"Ya ampun Nasya sayang, hahaha kamu ada ada aja deh"


"Aaah kita harus foto foto, mana Hp aku mana"


"Pake Hp aku aja"


"NO. Nanti kamu hapus, pake Hp aku aja"


"Udah kamu duduk aku ambilin ya"


Bagas membawa Hp ku yang sedang aku carger di meja samping kasur, kami berdua mengambil beberapa foto lucu Bagas yang sedang menggunakan topi anjing lalu kami juga berfoto berdua.


"Ury gangaji woof woof" kata ku dengan wajah merah karena mabuk


"Woof woof" tiru Bagas lalu menjilat pipi ku seperti seekor anak anjing

__ADS_1


"Iiih geli NOMU KIYOWOOO" sambil menguyel uyel pipi Bagas yang sangat imut karna tpi anjingnya


"Sayang kan aku nggak boleh ngerokok, terus gantinya apa dong kalo mulut ku lagi pait"


"Permen tusuk tu kan sama tuh bentuknya"


"Kalo ini boleh tidak" Bagas mengusap bibir ku pelan, menunjukkan keinginannya


"Hem ini, nih muach hehehe"


"Tidak secepat itu"


Bagas memajukan lehernya dan mendekati wajah ku lalu kembali menikmati bibir ranum ku ini. Bagas memuaskan bibirnya karna aku menghentikan rokonya mulai saat ini, aku mendorong Bagas menjauh karena badan ku yang terasa panas karena minuman yang ku minum tadi


"Emmmph ah panas Bagas ah jauh jauh"


Namun Bagas tidak menghiraukan racauwan ku dan tetap melanjutkan aktifitasnya, Bagas menggendong ku seperti koala sambil terus ******* lembut bibir ku lalu dia melempar ku di atas kasur. Bagas menyalakan AC dengan suhu paling rendah dan kembali ******* bibir ku yang terbaring di atas kasur, aku tenggelam dalam permainan Bagas dan sangat cepat Bagas sudah menjelajahi leher ku entah apa di membuat tanda disana atau tidak aku tidak tau lagi.


"Mmph ah Gashh ah mmpph ah"


Bagas membuka baju yang dia pakai dan kembali meluma bibir ku dan bermain dengan lidah ku, aku juga amat sangat gerah dan ingin membuka baju ku tapi Bagas menahannya


"Akan lain ceritanya sayang kalau kau membukanya" kata Bagas membersihkan salivanya di bibir ku.


Aku melihat ke bawah dan melihat roti sobek Bagas dan aku mengiranya itu roti sungguhan karena kepala ku yang masih keliyengan akibat minuman tadi, aku mendorong badan Bagas agar berbaring dan aku bisa menikmati roti Bagas yang kusangka itu adalah roti sungguhan. Aku memulai gigitan pertama ku tapi sangat susah karena alot


"Aaahh rotinya keras banget"


"Ah sayang cukup"


Aku tak mendengar Bagas dan kembali mengigit roti Bagas yang terlihat jelas bentuknya itu, bagas mencoba menjauhkan kepala ku tapi aku bersikeras ingin memakan roti itu, namun Bagas berhasil menjauhkan kepala ku dari sana


"Aaah pelit banget aah kalu begituvaku mau minta roti krim yang dia atas itu" kepala ku lolos lagi dan mulai menjelajahi dada atas Bagas.


Bagas hanya ribut memanggil nama ku dan menyuruh ku untuk berhenti, aku masih menikmati dada atas Bagas yang ku kira roti itu tanpa tau apa itu sebenarnya. Aku tidak mampu menggigitnya jadi aku hanya menbisap dan menjilatnya saja.


"Ah sayang ah itu sangat berbahaya aaaaaah" Bagas berteriak karena aku mengigit sesuatu diatas sana Bagas duduk dan menghentikan ku


"Sayang tidurlah aku aku akan ke kamar mandi" Bagas buru buru turun dari kasurnya dan menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Aaaaah Bagas peliiiit roti ku mana kok di bawa lari semua huhuhu" namun tanpa sadar aku tertidur dengan pola sembarangan dan aku tidak mendengar dan merasakan apa apa lagi disekitar ku.


__ADS_2