
di kamar bernuansa biru Gyuri duduk menghadap jendela besar yang ada di samping tempat tidur miliknya. Dia mencoba untuk tidak memikirkan percakapan apa yang dibicarakan Yul dan Putri sebelumnya. Gyuri menatap layar Hpnya, sudah hari sabtu, dua hari lagi Gyuri akan pergi untuk menjalankan study pertukaran bersama Yul. Dia tidak ingin mempunyai hal yang di sembunyikan sebelum mereka akan terhalang jarak nantinya.
Ding...
Hp Gyuri berdenting, terlihat pop up pesan yang baru saja masuk ke Hpnya, itu dari Yul.
[sayang, mau cari udara segar sama aku?]
"ha... Tiba tiba banget ngajak keluar?" Gumam Gyuri sambil membalas pesan Yul
[siang bolong begini?]
[ayolaaaahhh...]
[baiklah aku siap siap dulu]
Gyuri membuka lemari besarnya dan mengambil jaket lefis untuk menutupi kaos lengan pendeknya, dia menatap dirinya di depan kaca panjang tepat di sebelah lemari pakaian dengan wajah yang lesu, namun akhirnya dia menyadarkan diri dan memperbaiki bibir yang sebelumnya datar menjadi senyuman.
Dengan cepat Gyuri menuruni anak tangga dan menuju sofa ruang keluarga, terlihat Mama dan Papanya tengah menonton drama kesukaan mereka di sofa ruang keluarga.
"Ma Pa, aku keluar dulu ya sama Yul"
"Mau kemana sayang? Yul baru keluar RS loh?" Papa Gyuri menoleh, memandang putrinya yang sudah rapi siap untuk pergi
"Nggak tau sih Pa, Yul yang ngajak soalnya"
"Dasar anak muda, energinya nggak pernah habis" ucap Papa Gyuri lalu mengubah posisinya kembali menghadap layar besar di hadapannya
Tidak lama kemudian Yul keluar dari kamar tamu dan berjalan menghampiri Gyuri yang tengah duduk di sofa. Yul melempar senyum pada Gyuri dan segera pamit kepada Papa dan Mama Gyuri. Namun langkah mereka terhenti saat ingin melangkah keluar rumah.
"STOOP...." teriak Aksa yang tengah menuruni anak tangga dengan cepat dan menghampiri kakaknya yang tengah menuju pintu utama rumahnya.
__ADS_1
"Kenapa dek, mau nitip sesuatu?"
"Aku mau ikut, aku nggak mau ninggalin kakak sama dia" ucap Aksa ketus dengan nada bicara yang rendah dan tatapannya tajam ke arah Yul
"Adek... Yang sopan bicaranya, dia lebih tua dari kamu loh"
"Maaf kak... Maaf kak Yul" ucap Aksa dengan wajah menunduk lalu masuk kembali kedalam rumah dengan wajah tertekuk, Gyuri tau adiknya pasti sedih dan merasa tergantikan oleh Yul, tapi bukan itu maksud Gyuri.
"Maaf ya Yul, mungkin Aksa belum bisa terima kamu dengan baik" ucap Gyuri mengelus pelan tangan Yul yang tengah menggenggam tangannya
"Nggak masalah kok, hal ini mungkin butuh waktu untuk dua terima, itu juga karena dia sangat menyayangi mu, ayo pergi" Gyuri mengangguk, dia tau Aksa, (Pasti ada yang tengah dia khawatirkan sampai dia bersikap seperti itu) gumam Gyuri yang tengah berfikir itu
"Gaja (ayo)" suara Yul membubarkan lamunan dan fikiran Gyuri sehingga dia kembali tersadar
"oh... ayo"
...****...
"Kenapa sayang" Mama yang kaget sontak mengelus dadanya dna menanyai Aksa pelan
"Nggak apa apa Ma, maaf ngagetin nggak sengaja"
"Jangan marah marah mulu dong nak, besok kamu ada lomba melukis kan, yaudah gih di selesain kerjaannya"
Aksa ingin kembali kekamarnya karena moodnya tengah rusak, namun dia ingat sesuatu yang belum dia selesaikan.
"Oh iya mah, mama nanti sore pake ruang meeting kan?"
"Iya sayang kenapa?"
"nggak apa apa ma, Aksa mau pake ruang meeting bentar boleh ya, sekarang kok cuma bentar"
__ADS_1
"pakai saja nak, itu fasilitas kita semua kok"
"makasih Mama sayang"
Aksa segera menuju ruang meeting yang tepat berada di samping tangga itu. Namun saat sampai disana dia sama sekali tidak melihat sosok yang ada di bawah tangga itu sama sekali.
"bukankah dia biasanya disini siang dan malam?"gumam Aksa namun dia tidak memperdulikannya lagi dan langsung masuk ke ruang meeting
Terlihat meja kaca panjang dengan kursi yang tersusun rapi pada setial sisi meja, Aksa meluncurkan pengelihatannya lebih jeli agar menemukan petunjuk, namun orang suruhan Papanya terlalu teliti membersihkannya hingga tidak menyisakan petunjuk apapun.
"Aahh... Apa yang ku harapkan kalau orang suruhan Papa membersihkannya, mereka tidak akan meninggalkan jejak sedikitpun"
Aksa berbalik ingin kembali ke kamarnya menyelesaikan lukisan yang akan dia lombakan besok, namun sialnya jari kelingking kakinya tidak sengaja menendang meja bundar yang berada di pojok ruangan tempat dia berdiri.
"Aaaw sial sakit sekali, bukan kah aku sudah bilang pindahkan saja meja ini, aw"
Saat Aksa tengah mengaduh kesakitan, matanya tidak sengaja melihat sesuatu yang sedikit menjijikkan. Dia menurunkan kakinya dan mulai meneliti dengan mata memicing.
"Apa ini?"
Aksa yang merasa jijik ingin memegang hal yang dilihatnya itu segera menarik tisu dari atas meja. Aksa mengengkat sedikit kaki meja yang menjepit sesuatu yang terlihat seperti kulit itu dan akhirnya berhasil.
"kulit?, ini seperti kulit antara kening dan alis, jelas sekali tapi kulit siapa?"
Belum selesai Aksa meneliti, dia terkejut karena dari kulit beralaskan tisu yang tengah dia pegang itu mengeluarkan asap hitam halus, namun Aksa dapat melihatnya dengan jelas, itu hal yang janggal. Aksa bahkan melempar kulit itu ke lantai saking terkejutnya lalu spontan Aksa mengambil air minum dari atas meja lalu dia berikan do'a dan menyiramkannya pada kulit yang dia temukan itu.
"ilmu hitam?, tapi... Itu di luar jangkauan ku, ilmunya sekuat itu bahkan melukai tangan ku"
Aksa yang menyadari asap hitam di kulit itu sudah hilang, dia dengan segera mengambilnya dan memasukkan potongan kulit itu pada sisa air do'a pada botol yang dia pegang.
"aku harus menanyakan hal ini pada kak Yul, dia pasti tau sesuatu" ...
__ADS_1