Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 8 RASA CURIGA HENDRA


__ADS_3

Gyuri tengah memandangi dirinya didepan kaca besar di kamar mandi Yul. melihat dirinya berbalut handuk dengan bibir yang sebelumnya pucat membiru kini kembali normal. Dia memandangi benang biru yang mengkilat indah terlingkar di tangannya. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil sambil meneliti benang itu dengan pandangan serius.


Dia hanya tidak menyangka bahwa dirirnya seorang Dewi yang bahkan sangat penting untuk dunia ini dan dirinyalah yang selama ini dia lihat di masa lalu Yul. gadis yang dibunuh Bersama sahabatnya. Dia sangat penasaran tentang sahabat yang melindunginya itu dan selain itu, dia sangat penasaran bagaimana bisa Yul dengan tega menusuk mereka berdua.


Tapi ada sesuatu yang mengganjal dari ingatan Yul itu, jika memang dia berencana memebunuh dia dan Kang, tapi kenapa, dia menangis seperti itu saat menarik pedangnya yang sebelumnya bersarang di dadanya dan Kang. Wajahnya terlihat begitu bersalah dan begitu menyesal. Didalam hati Gyuri dia sangat yakin bahwa Yul sama sekali tidak ingin membunuhnya, terlebih lagi dirinya adalah calon pengantin yang begitu dia cintai.


Gyuri masih mencoba mengingat wajah Wanita yang ada di belakang Yul, entah wajahnya menangis atau sedang tertawa saat Gyuri dan Kang tengan tertusuk. Wajah yang dia lihat masih kabur meskipun baru saja dia melihat ulang kejadian itu.


Gyuri mencoba untuk tidak memikirkan dengan serius karena kondisinya yang baru kehilangan banyak darah, ditengah kemelu pikirannya itu dia di kagetkan dengan ketuka pintu seseorang dari luar kamar mandi. Tok tok tok, Gyuri membukakannya pintu dan itu adalah Yul. dia melihat Gyuri yang masih memakai baju mandinya itu lamat lamat seperti sedang memriksa keadaannya.


“jagiya, gwencanha? (sayang, kamu tidak apa apa?)” tanya Yul sambil terus melihati keadaan Gyuri


“o nan gwenchana (iya aku tidak apa apa)”


“aaa dahaengida, I yagheul meogora, hyeolaeg chogjineya, banggeum pireul manhi heullyeossguna (aah syukrulah, minumlah obat ini, ini obat penambah darah, kamu barusaja kehilangan banyak darah)”


“gomawo jagiya (terimakasih sayang)” ucap Gyuri berterimakasih sambil tersenyum dan meminum obat yang di berikan oleh Yul.


“eoseo syawohae neo neomu deorowo (cepatlah mandi kamu sangat kotor)” ucap Gyuri sambil memberikan gelas yang dia pegang pada Yul


“naega ssiseulka (apa aku akan dimandikan)” ucap Yul senyum senyum


“gidaehajima nappeun nyeona! Bori beolsseo ppalgaejyeosseo ajig an haessdo (jangan berharap dasar nakal! Lihat pipi mu saja sudah merah, padahal belum melakukannya)” ucap Gyuri yang tertawa kecil sambil meninggalkannya


****


Hendra duduk di sofa berwarna abu abu muda di ruangan yang gelap gulita, hanya cahay Tv yang menjadi penerangannya malam itu. Dia hanya diam melihat layar Tv Yul yang besar bagaiakan layar bioskop di hadapannya yang sedang serius menonton film yang dia pilih. Sebenarya dia saat ini bukan hanya tenang tanpa memikirkan apa apa. Dia sangat curiga dengan keadaan yang sedang dihadapinya dari datang hingga dia terduduk di depan Tv Yul saat ini.


Hendra sangat curiga, dengan darah yang berceceran tadi, itu terlihat sangat nyata, bahkan baunya pun bau darah, anyir. Saat cairan itu mengenai tangan Hendra saat mencoba membangunkan Gyuri yang sedang tergeletak disamping Kasur Yul tadi. Dia berfikir tidak mungkin darah palsu terlihat senyata itu bahkan sampai baunya pun sama.


Dia bukan tidak mempercayai Yul, namun itu terlalu mencurigakan untuk tidak dicurigai. Ditengah ributnya otak yang digunakan untuk berfikir, dia dikagetkan dengan seseoran yang memberinya sebungkus snak besar yang di taruh di pangkuannya. Ternyata itu Gyuri temannya yang sebelumnya mengagetkannya karena berlumuraan darah.


“nih, daripada ngelamun aja” ucap Gyuri sambil ikut duduk disamping sofa abu abu itu

__ADS_1


“oh thanks Sya” ucap Hendra sambil membuka bungkus snak yang masih tertutup rapat itu


“Sya…”


“hemm, kenapa”


“lo, nggak apa apa kan?” ucap Hendra dengan nada terpatah patah, Gyuri yang mengerti maksud Hendra itu tersenyum tipis lalu menepuk Pundak kawan sekelasnya itu


“tenang aja, temen kamu baik kok sama aku, nggak ada yang perlu kamu khawatirin kok” ucap Gyuri mencoba menenangkan Hendra


Tanpa sadar Yul yang sudah selesai memebersihkan badannya masuk kedalam ruang Tv dan mendengar semua percakapan Hendra dan kekasihnya. Dia tersenyum karena perhatian dan dukungan yang diberikan oleh pacarnya untuuk tetap menyembunyikan rahasianya. Yul mendekati Hendra yang lagi makan cemilan kedukaannya itu.


“ngomongin apa lo, lo curiga sama gue ha?” ucap Yul sambil mencekik pelan leher Hendra dengan nada bicara yang sedang bercanda


“aaakh… lepas, mati gue nanti hahaha” ucap Hendra sambil tertawa menahan handuk Yul


“ikut dong makan ciki”


“kalian mau mi instan nggak, mendukung nih cuacanya” tanya Gyuri menawari dua lelaki yang matanya tidak pindah dari Tv yang mereka lihat


“mauu” ucap Hendra dan Yul kompak, Gyuri akhirnya pergi kedapur untuk membuat mie instan untuk mereka nikmati malam itu.


Mereka berdua akhirnya menonton berdua dalam keheningan, tangan Yul masih mengambil snak dari bungkusan yang di pegang oleh Hendra dan menonton Tv dengan tenang sebelum akhirnya Hendra membuka suara.


“Gas lu kok ambil libur duluan sih sebelum pertukaran pelajar?” tanya Hendra sambil dengan mata yang tidak teralihkan dari Tv


“gue mau kerumah orang tua Gyuri”


“gilaa, gercep banget lu Gas waaah”


“haahha iya dong, papa mamanya ngundang aku kesana”


“waaah dulu aja cuek bebek sama cewek sekali gerak, beehh, langsung ke mama papa dong mantap”

__ADS_1


“iya dong Yul nih bos, senggol dong hahahah”


Gyuri memanggil mereka dari dapur karena mie instan yang dibuatnya sudah selesai. Mereka segera berlari menuju dapur dan menarik kursi masing masing, mengambil mangkok yang sudah Gyuri siapkan untuk mereka masing masing dan segera menyerbu mie instan yang masih panas didalam panci ramyeon


“Hen, lo mau tidur sini?” tanya Yul sambil menyeruput mi yang dia makan


“enggak ah, udah berhenti hujannya, nanti gue dicariin my mom lagi, gue tadi singgah karna denger lo ambil libur duluan jadi gue kesini deh sebelum lu pergi” jelas Hendra yang tengan sibuk dengan mangkoknya


“oooh oke, salam buat your mom ya”


“oke”


Akhirnya makan malam mereka sudah selesai, jam sudah mneunjukkan pukul 11.30. Yul menawari Hendra untuk menginap saja di rumahnya karena terlalu malam, tapi Hendra menolak dan tetap bersikeras untuk pulang kerumah meskipun sudah tengah malam. Hendra mencuci mangkuk yang dia gunakan di westafel Bersama Gyuri.


“Sya…emmm temen lu si Julia itu, udah punya pacar belum?” tanya Hendra bisik bisik


“eeemmm belum ada sih kayanya”


“oooh…boleh minta nomernya nggak Sya?”


“heemmm mau gue bantuin nggak Hen” kata Gyuri senyum senyum melihat telinga Hendra memerah karena sedang malu


“beneran?, boleh dong Sya, thanks ya” Saat mereka tengah asik bercakap cakap, tiba tiba Yul menggeser jarak mereka berdua agar sedikit berjarak


“tolong jaga jarak ya mas, mbak lagi social distancing soalnya” ucap Yul sambil nyengir nyengir


Mereka tertawa Bersama, suasana rumah Yul malam itu kembali hangat setelah sebelumnya menegangkan.


Mereka berdua mengantar Hendra sampai ke pintu depan dan akhirnya Hendra benar benar pulang. Mereka masih berdiri di depan pintu melihat pintu yang sudah tertutup itu. Yul melihat Gyuri sambil tersenyum dan mengangkat tubuh kekasihnya seperti ingin menculiknya.


“aayo istirahaaaaattt hahaha” ucap Yul sambil menggendong Gyuri


“Yuuuuullll… turunin” teriak Gyuri sambil menepuk nepuk punggung Yul

__ADS_1


__ADS_2