Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 7 TAMAN BUNGA


__ADS_3

"kamu menyebut apa sayang?"


Wajah Yul terlihat kaget dikala Gyuri menyebutkan nama "Kang" dari mulutnya. Gyuri masih melihat bunga itu tanpa membalikkan pandangannya sama sekali, Yul memanggil Gyuri berkali kali namun dia tetap memandangi bunga yang di lihatnya itu. Sampai akhirnya Yul membalikkan paksa tubuh Gyuri


"Gyuri.." Yul hampir mencoba memanggilnya lagi sambil membalikkan badan Gyuri,


"ne jagiya mianhajiman, banggeum nuguhante jeonhwahaesseo gangiran saramdo mos mannass-eo? (iya sayang maafkan aku, tapi siapa yang barusaja ku panggil, aku bahkan tidak pernah bertemu dengan seseorang yang namanya kang?)" tanya Gyuri dengan wajah bingungnya hingga alisnya seperti menjadi satu kerena dia menegerutkan keningnya


"kamu, tidak mengingat apapun?"


"enggak.."


"gwaenchanha, najunge gieoghal su issge dowajulge (tidak apa apa, nanti aku akan membantu mu mengingatnya ya)"


"naega aneun saramiya? (apa dia seseorang yang aku kenal?)" tanya Gyuri bingung karena jawaban Yul yang seakan aku sudah mengenal orang itu


"geurae jagiya, neodo naboda geureul deo jal ara (iya sayang, bahkan kamu lebih mengenalnya dari pada aku)" jelas Yul sambil tersenyum,


Gyuri semakin bingung, dia memilih untuk tidak bertanya lagi meskipun sangat penasaran tentang nama yang di sebutnya itu, karena meskipun di jelaskan dia juga tidak mengetahuimya.


"Yul, kmau sudah mau tidur?"


"belum sayang, kenapa, apa kamu lelah em?"


"eemm... Aku sangat lelah"


"istarahatlah, nanti aku susul aku mau cari angin dulu" kata Yul kepada Gyuri yang tengah duduk di sampingnya itu.


Yul beranjak dari duduknya, dia ingin menikmati angin malam sedikit lebih lama malam itu, namun Gyuri menahan baju Yul hingga dia kembali terduduk ditempatnya semula.


"gomawo, seopeuraijeu neomu joha, oneul nal haengboghage haejwoseo gomawo (terimakasih, aku sangat suka kejutannya, terimakasih membuatku bahagia hari ini)" Gyuri mengecup bibir Yul singkat, Yul menahan tengkuk Gyuri dan menatapnya lekat lekat


"kenapa tidak pernah menciumku dengan serius?"


"aku tidak tau caranya"


"mau... Aku ajari, akan ku beri contoh dulu"


Tanpa menunggu jawaban Gyuri, Yul langsung menyambut bibir wanita yang ada di depannya itu dengan gerakan yang sedikit pelan dari biasanya, Yul seperti memperjelas gerakan ciumannya dan setelah beberapa menit Yul melepas pagutannya.


"mmmph...aah"


"aah.. Bagaimana, sudah bisa?" tanya Yul sambil menahan wajah Gyuri agar tetap didepannya, Gyuri menggeleng tidak bisa


"tapi... Akan aku coba, seperti yang kamu lakukan" Gyuri mendekatkan wajahnya, dia berhenti sebelum bibirnya menyentuh bibir Yul


"naneun danghwang (aku malu)" Gyuti menjauhkan wajah Yul menjauh dari hadapannya, terlihat pipi pinknya yang terlihat panas menahan malu


"gwaenchanha, seodulleo, bukkeureowohal piryo eobseo, nan neoui geosinikka (tidak apa apa, cepat, kamu tidak perlu malu, karna aku milik mu)"


"sasiligido, hajiman (benar juga, tapi)"


Yul yang sudah tidak tahan lagi kembali membawa bibir wanitanya kembali kepada kulumannya, dia bermain tempo cepat hingga Gyuri tidak bisa mengimbangi permainan lidah Yul yang lebih cepat dari biasanya,


"Yulh... Mmph nafash mmph"


Yul tidak mendengarkan Gyuri, dia terus bermain dengan lidah Gyuri dan sesekali menggigit pelan bibir kekasihnya yang tengah terengah engah itu. Yul mulai memelankan permainannya, memperjelas gerakan lidahnya dan memagut bibit Gyuri perlahan. Gyuri yang sudah lelah itu tengah mendorong badan Yul pelan mengisyaratkan untuk menyudahi permainannya.


"mmmphh ah... Sebentar sayang"


Gyuri yang sudah kehabisan nafas itu akhirnya menggigit bibir Yul dan akhirnya dia mengehentikan kulumannya


"aaaw ampun sayang sakit nanti berdarah aah"

__ADS_1


"i nappeun noma, sumeul swil suga eobseo (dasar jahat, aku tidak bisa bernafas)"


Gyuri ambruk di pundak Yul, terlihat nafasnya yang terengah engah karena tidak di beri kesempatan menghirup udara segar. Gyuri yang tengah bersandar di bahu Yul itu melihat jakun kekasihnya masih naik turun.


"ige wae ajigdo umjigineungeoya, neomu olae jeone naege kiseu, nae ibsuli apa (kenapa ini masih terus bergerak, kau sudah mencium ku sangat lama tadi, bibir ku sampai sakit)" ucap Gyuri pelan sambil menyentuh jakun Yul yang terus naik turun itu.


"jeongmal? Agireul boja (sungguh? coba aku lihat sayang) " Yul mengusap pelan bibir pink Gyuri yang memerah karena ulahnya


"tapi ku rasa bibir ku lebih parah"


"sungguh, coba aku lihat" Gyuri mengangkat kepalanya dan melihat bibir Yul yang ternyata terlihat luka kecil yang masih mengeluarkan darah di ujung bibirnya


"aaah mianhee" Gyuri menyeka darah yang keluar dari ujung bibir Yul itu


"Tidak apa apa sayang, aku mau ke kamar mandi dulu"


"ah Yul, bawakan Hp ku ya"


"oke"


...****...


Di kamar mandi


"aaaahh.... Ah, aku bisa gila"


Yul mencuci tangannya dan segera keluar dari kamar mandi dan mengambil Hp Gyuri yang tengah tergeletak di lantai depan meja makan. Dia melihat Hp Gyuri retak di ujung


"oh retak" Yul tidak sengaja menyentuh layar Hp Gyuri dan screennya menyala. Disana terlihat fotonya yang tengah memasak di dapur


"hahaha.. Kapan dia mengambilnya" tawa Yul lalu kembali ke rooftop,


Dikasur terlihat Gyuri yang sedang berbaring terlentang diatas kasur, Yul dengan santai merebahkan tubuhnya di atas Gyuri yang sedang asik dengan istirahatnya itu


"berat Yul..."


Gyuri mengusap usap rambut Yul yang sedang berbaring di atasnya itu, entah kenapa dia sangat manja malam ini kepada Gyuri.


"Yul.."


"emm.."


"bisa perlihatkan pada ku?"


"apa?"


"mata biru mu, itu cantik sekali aku ingin melihatnya lagi"


"tidak boleh"


"kenapa?"


"nanti kamu terluka lagi, aku tidak mau itu terjadi lagi"


"terluka?"


"sudah ayo tidur, oh aku akan menutup atapnya"


Yul mengambil remot kecil tepat disamping bunga blue bell itu dan memencet close. Terlihat atap kaca yang perlahan menutup di atas mereka, Gyuri yang melihatnya hanya memberikan ekspresi yang seakan mengatakan "WAW"


"gila, kau punya segalanya"


"it's okay, I'm rich"

__ADS_1


"oooh, okay"


"yap, ayo kita tiduuur"


Yul turun dari atas tubuh Gyuri dan berguling disampingnya, dia mengeloni dewi di depannya itu dengan senyum lebar di bibirnya.


"ooh iya Yul, aku besok akan kuliah, kamu besok harus bangun pagi karena ada jadwal bertemu dokter oke"


"oke setelah dari dokter aku juga akan kuliah"


" tidak usah, istarahat saja dulu"


"aaah ayolah hari selasa depan kita sudah harus study pertukaran"


"ooh iya ya, oke baiklah, kalau hasil pemeriksaan dokter bagus, kamu boleh kuliah besok, untungnya jadwal kuliahnya siang ya"


"yeeey akhirnya aku akan melihat dunia luar, oh ya mau aku matikan lampunya?"


"matikan saja"


...****...


Keesokan harinya mereka berdua pergi menemui dokter dan Yul dinyatakan sembuh total hari itu. Tidak ada masalah pada tulangnya sama sekali hingga ekspresi dokter itu terlhiat bingung dengan keadaan Yul yang sembuh super cepat dengan jaminan keselamatan di bawah 5% sebelumnya.


Yul menyetir dengan senyum yang tak kunjung turun dari bibirnya, dia terlihat sangat senang hingga Gyuri bingung dibuatnya.


"sesenang itu kamu keluar rumah?"


"iya seger banget udara luar, oh iya kamu sudah bawakan teman mu bingkisan kan, kamu bawain Hendra nggak?"


"aku bawa kok tenang aja, pemberian cewe cewe di kelas aku habisin semua tenang saja"


"jar haesseo (kerja bagus)"


Mereka sampai di kampus sangat awal bahkan mahasiswa yang lalu lalang dikampus terlihat masih sangat sedikit. Mereka berdua segera menuju ke kelas yang sudah di jadwalkan hari ini yang kebetulan dekat dengan taman belakang kampus.


Saat memasuki kelas mereka tidak menyangka bahwa Putri sudah duduk disalah satu kursi diruang kelas yang luas itu, melihat ruang kelas yang kosong Gyuri langsung menghampiri Putri tanpa menunggu nanti, dia memberikan tasnya kepada Yul yang berada di belakangnya, Gyuri membawa Hpnya mendekati Putri yang duduk dengan semyum smirk yang membuat hati Gyuri semakin jengkel dan ingin menjambaknya, namun dia memilih untuk tetap tenang dan bermain aman.


"Put" Putri tidak menjawab dan memilih mengabaikan Gyuri yang berdiri disampingnya itu


"ya, mos deureun cheog hajima (hey, jangan pura pura tidak dengar)" Putri melirik Gyuriyang tengah berbicara padanya dengan senyum smirk dan tatapan malas


"kamu ngomong apa, aku nggak tau sorry" ucap Putri dengan senyum smirknya


"moreun cheog hajima, nan niga hanguginin geol ara (jangan pura pura tidak tau, aku tau kau orang korea)" Putri tidak menjawab dan memilih sibuk dengan Hpnya


"wae geureon jiseul hangeoya (kenapa kau melakukan itu)"


"Yuli jugeulppeonhangeo ara? (apa kau tau kalau Yul hampir mati?)"


"jeongmal gwimeoggo beongeoliin cheog hanya (sungguh, apa kau sedang pura pura tuli dan pura pura bisu)"


Putri yang mengabaikan pertanyaan pertanyaan dari Gyuri itu tiba tiba tertawa dengan keras, dia tertawa terbahak bahak hingga ujung matanya mengeluarkan air mata.


"eotteohge ara? jojage daehan gibonjeogin jeunggeoga eobsseubnidaAAA! (bagaimana kau tau? kau tidak punya bukti dasar mengarang!)"


Gyuri tersenyum ketika Putri mulai menjawabnya dengan bahasa korea dengan aksen yang sangat sempurna itu


"wa, hangugmal moreundago haessdeon saramchigoneun eogyangi jeongmal joheunde, wae munjereul aneunji seolmyeongdo anhaessne (waah aksen mu bagus sekali untuk orang yang sebelumnya bilang tidak tau bahasa korea, lalu kenapa kau bisa tau masalahnya, bahkan aku belum menjelaskannya sedikitpun)" Putri terlihat kelabakan mendengar jawaban Gyuri


Di tengah perbincangan mereka, terlihat Rey yang baru saja datang membawa dua porsi bubur untuk dia dan pacarnya. Rey yang terlihat bingung dengan suasana disana mencoba mendekati mereka yang berekspresi serius itu kecuali Yul, dia menyapa Rey dengan lambaian tangan lalu berkata


"annyeong chingu, nega suhaenghan jageobi silpaehaessneunde, eotteohge juinege honnaji anhassni? (halo sobat, tugas yang kamu laksanakan gagal loh, bagaimana dimarahi tidak sama tuan mu?)" kata Yul dengan senyum palsu di wajahnya

__ADS_1


"Nasya.."


"Rey, aku mau bicara sama kamu, tapi nanti oke"


__ADS_2