Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 6 SUKMA PEDANG DEWA KEHANCURAN


__ADS_3

Buk buk buk


Bagas memukul penghalang yang berada tepat di depan pintu ruang oprasi itu sekuat tenaganya hingga tangannya mengeluarkan darah, dokter dan perawat memancarkan mimik wajah bingung sebenarnya ada apa dengan pasiennya. Melihat tangan Bagas yang mengeluarkan darah karena memukul sesuatu yang tidak bisa mereka lihat perawat itu panik dan memberitau kepada dokter itu bahwa mereka sudah terjebak disini


"dok bagaimana ini sepertinya kita tidak bisa keluar" kata perawat itu panik sambil membuka maskernya


"gawat sebentar lagi saya ada jadwal oprasi cepat cari bantuan" kata dokter itu ikut panik


"berhenti memukul lagi tangan anda sudah terluka" perawat itu menahan tangan Bagas


"kau, telfon lah seseorang" kata Bagas menyuruh perawat itu untuk mencari bantuan, keringat Bagas bercucuran membanjiri pelipisnya, luka sayat dan luka bekas meninju dinding yang tidak terlihat itu sudah kembali seperti semula seperti tangan tanpa bekas luka apapun, hanya bekas darah yang terlihat disana.


Terlihat ada suster yang sedang melewati ruang oprasi itu, perawat yang berada di dalam ruang oprasi itu memanggil suster itu dengan sangat kencang karena takut tidak terdengar.


"SUS SUSTER DEWI" suter itu sangat kaget hingga mengelus dadanya


"nggak usah teriak teriak saya dengar kok, loh dokter kok disini bukannya ada jam oprasi 25 menit lagi ini oprasi besar lo" suster itu masuk ke ruangan oprasi itu dengan mudah, terlihat suster itu baik baik saja tidak terbentur atau apapun seperti tidak ada yang menghalanginya


"kok kamu bisa masuk" tanya dokter itu terheran heran, perawat itu hanya melongo melihat suster itu masuk begitu juga dan Bagas sangat heran kenapa suster itu bisa masuk sedangkan dia tidak bisa keluar, Bagas mencoba memukul penghalang di depannya lagi dan hasilnya tetap sama saja.


"bagaimana, bagaimana kau bisa masuk" tanya Bagas dengan wajah serius pada suster itu, suster itu hanya diam karna kaget sebab Bagas bertanya seperti orang yang sedang marah


"suster pasien itu tidak bisa keluar, dia memukul mukul area pintu itu dari tadi sampai tangannya berdarah"


"sungguh, oh dokter silahkan keluar jadwal oprasi anda sudah dekat" suster itu meminggirkan Badannya mempersilahkan dokter untuk keluar, suster itu melanjutkan perbincangannya pada perawat yang ada di hadapannya itu


"sungguh mas ini nggak bisa keluar, didepan juga ada mbak mbak nggak bisa masuk ke dalam, badannya sampai biru biru tau ngedobrakin kaya pengahalang gitu nggak ada yang bisa liat apa yang ngehalangin dia, tapi anehnya lagi, cuma dia yang nggak bisa lewat dari pintu manapun kaya mas ini, banyak orang yang ngebantuin buat narik mbak itu tapi nggak bisa aneh banget, mbaknya sampe luka luka gitu kayanya yang sakit orang tersayangnya deh sampe dia berusaha segitunya, tapi tetap nggak masuk di nalar ku sih" kata suster itu menjelaskan panjang lebar kepada rekan yang ada di depannya itu.

__ADS_1


"luka?" kata Bagas dengan ekspresi kaget


"iya mas luka lecet sama biru biru gitu, terus baju mbaknya juga penuh darah"


"darah?" jawab Bagas, terlihat wajah geramnya yang tengah naik pitam itu memgepalkan tangannya


"kalian bekerjalah, tidak mungkin kalian terus menunggui ku disini" kata Bagas mempersilahkan mereka berdua meninggalkan ruangan untuk kembali bekerja, mereka berdua pergi dan hanya ada Bagas saja diruangan itu


"apa ini, siapa yang berbuat seperti ini pada kami" gumam Bagas pelan.


Satu satunya jalan disaat seperti ini adalah menggunakan kekuatannya, mata Bagas berubah menjadi biru menyala lalu Bagas mengulurkan tangannya pada penghalang itu, lalu mengucapkankannya pelan


"pageodem" Bgas mengepalkan tangannya kala selesai mengucaokan kalimatnya, terdengar alat yang ada di ruang oprasi itu berbunyi seperti konslet akibat perkataannya, arwah arwah itu masih berbaris membelakanginya, dia sudah sangat yakin bahwa penghalang itu sudah hancur berkeping keping namun saat dia akan melewatinya hasilnya nihil pengahalang itu masih kokoh tidak terlihat dan masih menghalanginya, dia mencoba sekali lagi, terdengar suara alat di ruang oprasi itu berbunyi seperti konslet kembali namun Bagas belum bisa melewatinya.


Dia tidak bisa melihat orang yang lewat satupun karena jalanan tertutup rapat oleh arwah karena bentuknya terlalu jelas. Bagas mencoba memukul penghalang itu lagi dan lebih kuat lagi tidak peduli seberapa banyak dia terluka sebanyak apa dan sehancur apa tangannya saat itu dia hanya ingin menghancurkan penghalang didepannya dan bertemu dengan Gyuri sesegera mungkin.


"apa aku harus memakai pedang ku lagi, tapi efeknya mungkin akan lebih parah dari sebelumnya" gumam Bagas pelan


Bagas sedikit mengurungkan niatnya, dia tidak pernah menyangka rasa sakit saat memanggil pedangnya itu adalah rasa sakit yang teramat sangat, rasanya organ bagian dalamnya juga ikut hancur. Tentu saja Bagas tidak akan mati semudah itu mengingat kutukan yang dewa berikan kepadanya. Meskipun organ dalamnya hancur itu akan kembali seperti sedia kala. Meskipun begitu Bagas tetap bisa merasakan rasa sakit jika tubuhnya tengah terluka.


Mata birunya kembali menguasai tubuh Bagas dia mulai mengulurkan tangannya kembali 'pageodem' lalu menekan remasan tangannya dengan kuat. Terdengar bunyi konslet dari alat alat di ruangan itu lagi akibat kekuatannya, namun saat Bagas mencoba melewati penghalang itu hasilnya tetap sama. Tetap tidak ada celah untuk dia lewati pada penghalang itu.


Tenaga yang Bagas miliki hampir terkuras habis mengingat dia menggunakan tenaga dan kekuatannya cukup lama. Tubuh manusianya tidak sekuat saat dia menjadi dewa di atas sana.


"aah eotteon daegareul chireudeorado nae geomeul sseugesseo (aah terserah aku akan menggunakan pedang ku, apapun resikonya)" kata Bagas yang berteriak pada dirinya sendiri


Bagas mengigit ujung ibu jarinya hingga mengeluarkan darah, mungkin sebelumnya dia hanya memanggil pedangnya dengan lisan, namun dalam kodisi ini mungkin itu tidak akan efektif dan kekuatan pedangnya tidak akan sekuat saat memanggilnya dengan darah.

__ADS_1


Bagas mulai menggambar bulan sabit di dekat pergelangan tangannya lalu menggambar garis panjang hingga melewati jari jarinya, sukma pedang dewa kehancuran itu mulai terlihat, siluet biru yang berangsur angsur membentuk pedang panjang itu terlihat keluar dari tangan yang sebelumnya dia gambar menggunakan darahnya. Sebelum Bagas menariknya dengan sempurna dia berkata kepada pedang yang sudah menemaninya sejak dulu itu.


"inganeul jugiji malgo, i gyeolgyereul busugo, geu bireomeogeul jeongryeongdeureul modu bagmyeolhago, nae gyurireul dachige haji marara arasso (jangan membunuh manusia, hancurkan penghalang ini, musnahkan semua arwah sialan itu, dan jangan sampai melukai Gyuri ku paham)" tutur Bagas kepada pedangnya itu.


Bagas menarik pedang itu sepenuhnya, tangan kiri tempat dia memanggil pedangnya itu mengucurkan darah yang tidak berhenti.


"junbidwaesseo chinguya jebal dowajwo (kau siap, sahabat ku, tolong bantu aku)" kata Bagas kepada pedang yang ada di tangannya itu, dia mengambil kuda kuda dan menarik nafas panjang, mata birunya kembali mengusai pupil hitam mata Bagas.


Bagas mengayunkan pedangnya kuat pada penghalang yang ada di depannya itu, tanah yang dinjaknya sedikit bergetar, terdengar suara keca pecah yang begitu nyaring dibtelinganya, Bagas mulai melangkah keluar meninggalkan ruangan itu, arah arwah yang tengah berdiri rapi itu mulai menyadari keberadaaan Bagas, mereka mencoba mendekati Bagas namun dalam sakali ayunan pedang Bagas mereka terbakar musnah.


Bagas segera mencari jalan utama untuk menuju keluar, dia terus mengayunkan pedangnya memusnahkan semua arwah yang menghalanginya. Badan Bagas saat ini rasanya sangat sakit, rasanya ingin mati saja dibanding merasakan rasa sakit ini, namun Bagas menahannya, jalan yang sebelumnya Bagas lewati sudah bersih tanpa arwah satupun dan tibalah Bagas di satu lorong panjang, tubuhnya rasanya ingin hancur berkeping keping hidung dan mulutnya mulai mengeluarkan darah, Bagas mengumpulkan segenap energinya dan mulai mengangkat pedangnya kembali, dia mengayunkannya sekuat tenaga hingga barisan arwah di lorong panjang itu musnah dalam sekejap, terdengar suara nyaring kaca pecah di telinganya, hempasan api biru yang menghancurkan pembatas dan arwah arwah itu berubah menjadi angin kencang yang menerbangkan semua kertas dan benda ringan di sepanjang lorong dan ruang tunggu itu.


Terlihat di ujung lorong itu, seseorang yang sangat dia khawatirkan tengah berdiri di ujung lorong panjang itu, pedang yang sudah membentunya itu perlahan menghilang, Nasya yang berada di ujung lorong itu berlari menghampiri Bagas dan memeluknya erat, rasa sakit yang Bagas rasakan di badannya sudah tidak bisa dia tahan lagi, Bagas memeluk kekasihnya dengan tangan yang berdarah darah akibat menggunakan pedang miliknya. Bagas berbisik di telinga Nasya pelan


"panggil nama ku" kata Bagas pelan di telinga Nasya


"Bagas" jawab Nasya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Bagas, dengan isak tangis yang membuat hati Bagas semakin sakit


"panggil nama ku sayang" kata Bagas meminta lagi pada Nasya, Nasya langsung paham memanggilnya lagi


"Yul, Yul ku, Yul milik ku" dengan suara serak dan airmata yang terus mengalir seperti tidak ada habisnya


"jar haesseo (kerja bagus)"


Tangan Bagas sudah tidak lagi memeluk Nasya dan akhirnya Bagas kehilangan kesadarannya kembali, lantai yang mereka pijaki penuh dengan darah Bagas yang tidak kunjung berhenti. Para staf medis rumah sakit segera menindak lanjuti Bagas dan Nasya mengikuti kemanapun Bagas di bawa oleh staf medis di rumah sakit itu karna takut kejadian sebelumnya terulang kembali.


Harusnya hari itu menjadi hari yang cukup indah untuk mengusir gundah dan melupakan sejenak semua maslah yang terjadi hari itu dengan rencana yang Bagas siapkan, namun keadaan makin memburuk dan membuat Nasya semakin terpuruk.

__ADS_1


__ADS_2