
Ditengah isak tangis mereka berdua, terdengar bell rumah Yul berbunyi nyaring mengagetkan mereka berdua. Gyuri yang sudah setengah pingsan dengan pipi basah karena tangisannya itu kembali membuka matanya.terdengar dari monitor bel pintu Yul yang ada di ruang tamu bagian depan, suara yang tidak asing di telinga mereka berdua. Gyuri dan Yul saling bertukar pandang dengan ekspresi wajah panik. Yah suara yang tidak asing di telinga mereka berdua di tengah malam yang hujan ini adalah suara Hendra.
“aaah Hendra, bagaimana ini” tanya Yul dengan muka tegang dan panik
“bukalah, tidak apa apa”
“tapi baju ku penuh darah sayang”
“sudah bukakan, ini hujan deras kamu tidak kasihan pada Hendra?”
“baiklah”
Yul segera menuju keruang tamu membukakan pintu untuk Hendra, setiap langkah yang diambil oleh Yul menyisakan jejak darah. Tangan dan baju yang Yul kenakan Juga berlumuran darah seperti habis melakukan pembunuhan. Yul membuka pintu untuk Hendra namun yang dia tampakkan hanya wajahnya saja.
“lama banget bukain pintu dingin gue” protes Hendra yang tengah basah kuyup itu, dia ingin menerobos masuk namun Yul menahan pintu itu
“lu kenapa sih, buka ah, mau numpang gue”
"tapi..."
“tapi kenapa ha”
Yul membuka full pintu yang menutupi badannya, wajah tegangnya tidak bisa dia sembunyikan lagi. Hendra yang awalnya santai dan terlihat ceria itu tiba tiba pucat pasi melihat kawannya yang berlumuran darah, bau anyir menyambut hidung Hendra, dia tidak bisa berkata kata. Dia diam sejenak menenenangkan dirirnya yang masih syok berat akibat melihat sahabatnya yang seperti pembunuh itu didepan matanya.
“siapa?” tanya Hendra singkat dengan wajah datarnya
“apa?” jawab Yul bingung
“siapa yang lu bunuh ha? Nasya?, lu gila ya, minggir lo”
Hendra menepis tubuh Yul hingga dia hampir tersugkur, dia sangat panik syok dan kecewa pada sahabatnya, Hendra berjalan ke kamar Yul, terlihat jejak kaki Yul yang yang terlihat membekas dari arah kamar. Hendra yang begitu panik segera memasuki kamar Yul. Dia melihat banyak darah yang tergenang di sebrang Kasur dekat pintu balkon kamar Yul.
Hendra mendekati genangan darah itu perlahan. Semakin medekat ke sisi Kasur itu Hendra melihat sebilah pedang Panjang yang teletak berhamburan di dekat pintu balkon. Hingga akhirnya dia melihat dengan jelas Nasya yang dia kenal temannya, yang sekaligus pacar Yul itu tengah tergeletak lemas di lantai, dibawah genangan darah yang cukup banyak itu.
__ADS_1
Hendra mencoba menggoyangkan tubuh temannya, namun tidak ada respon, dia mencoba memanggilnya pelan sambil menggoyangkan tubuh temannya itu dan tiba tiba.
“baaa hahaha” Gyuri mengagetkan Hendra yang sudah tegang dengan semua yang dia lihat
“Astaghfirullah… Syaa… lu nggak apa apa, sumpah gue hampir ngelaporin Bagas ke polisi tau karna pembunuhan, kalian ni sebenarnya ngapain sih ha” omel Hendra yang mimik wajahnya mulai mencair dan kembali di aliri darah
“kita lagi niruin drama hahaha, kaget banget sih” ucap Gyuri membuat beralasan
“lagian siapa yang nggak panik, Bagas penuh darah gitu, lu nggak sadarin diri sambil banjir darah begini trus ini pedang…”
“JANGAN DI PEGANG” teriak Yul dari balik pintu, dia berlari memasukkan pedang itu kembali kesarungnya dan menyembunyikannya di balik punggungnya
“kaget gue temen nggak ada akhlak”
“ini pedang beneran tau, lu keiris nanti”
“anjir mainnya pake pedang beneran, lu gila sih” ucap Hendra dengan wajah kesalnya
Yul menyuruh Hendra untuk berhenti marah marah dan menyuruhnya cuci kaki di kamar mandi dan megganti bajunya memakai baju yang kering, selagi Hendra berada dikamar mandi Yul buru buru mengahmpiri Gyuri dan melihat keadaannya.
“karena kamu sudah melepasnya, semua semua tanpa terkecuali, tapi benang ku masih memberikan kamu seutas tali indahnya”
Gyuri mengangkat pergelangan Yul ke genggamannnya, pergelangan tangan Dewanya itu di lingkari dengan benang jiwa milik Gyuri. Benang itu melingkar indah di pergelangan tangan Yul seperti gelang dengan tiga warna yang mencolok mendominasi pengelihatan sang dewi keseimbangan itu. Wajah Yul berubah menjadi begitu sumringah.
Dia mengelus benang jiwa milik Dewi keseimbangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya itu dengan perlahan. Yul memeluk Gyuri dengan perasaan yang begitu gembira dengan mengukir senyum di wajah tampannya. Lalu Gyuri berbisik pelan di telinga Yul
“benang mu juga sangat indah, Terimakasih” ucap Gyuri pelan di telinga Yul mencium pipi lelakinya, lalu menunjukkan pergelangan tangannya yang terhias oleh benang biru mengkilat milik Yul. Yul terkejut melihat benang jiwanya terpasang indah di pergelangan milik kekasihnya, seperti dulu saat dia mejalin hubungan yang hampir berjalan di ranah yang serius saat di atas sana.
“bagaimana kamu tau kalau itu milik ku?”
“mereka bahkan berhamburan menghiasi mu, bagaimana aku tidak tau” ucap Gyuri sambil mengusap benang benang indah yang berhamburan keluar dari tubuh Yul, mereka berkumpul mendekati tangan Gyuri saat dia mencoba mengelus benag benang itu
“setauku benang jodoh itu warna merah Yul”
__ADS_1
“kita berbeda sayang” ucap Yul sambil mengelus rambut kekasihnya dengan penuh perasaan Bahagia
Hendra yang baru keluar dari kamar mandi itu melihat dua muda mudi uang sedang bermesraan itu degan wajah pasrah dan menghembuskan nafas pelan mencoba memahami kebucinan yang melanda sahabatnya yang kaku itu.
“apa kalian sedang main drama lagi?” ucap Hendra yang mengagetkan Gyuri dan Yul yang sedang bertatap mesra itu
“ah kamu sudah selesai Hen, aku mau bersih bersih nih”
“emm sudah kok” jawab Hendra mengiyakan
“sayang kamu bisa sendiri, perlu ku bantu?” tanya Yul yang mencoba melangkah mendekati Gyuri
“hya, jugulle ?(hey kamu mau mati?)” ucap Gyuri dengan tatapan sisnis
“yang ngotak kalo bucin lu ah… ngadi ngadi, kena semprotkan lu hahaha” ucap Hendra menertawakan kawannya yang diberi tatapan sisnis oleh pacarnya
“cih, udah ah, lo nonton dulu sana, gue mau bersihin ini”
“oke, tapi ini darah bohongan Gas?”
“i-iya bohongan”
“oke”
Yul membersihkan lantai kamarnya yang masih di penuhi darah itu, terlihat dari luar jendela balkon Yul, segerombolan makhluk halus yang menatap 2 meter dari batas yang sudah Yul buat. Mereka terlihat tergiur oleh darah yang berserakan di lantai kamar Yul. mereka tengah mengeluarkan lidah dan air liur mereka sambil menatap darah yang tercecer itu dengan mata berbinar binar seperti ingin melahap habis semuanya.
Namun tidak bisa, Yul sudah memperkuat pagar yang di buatnya hingga mustahil bagi mereka masuk keculi pria joseoon yang selalu menemaninya. Pria itu muncul melihat Yul yang tengah membersihkan darah di lantai kamarnya.
“dangshineun geurul dashi sangceo (kau melukainya lagi tuan)” tangan pria Joseon itu dengan tangan yang terlipat dibelakang
“aniya (tidak)” ucap Yul singkat
“lopereul jegeohaessseubnikka? Dangsnui eneoji maseun jigeum dareubnida (kamu sudah melepas tali itu tuan? Energi mu rasanya berbeda sekarang)”
__ADS_1
“emm”
Pria Joseon itu tersenyum lalu menghilang tanpa jejak seperti asap. Yul yang merasa lega tersenyum tipis setelah mendengar pertanyaan dari pria Joseon tadi. Dia merasa bukan orang jahat yang sedang mengukung jiwa wanitanya lagi.