Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 6 KAPAN


__ADS_3

Kelas hari itu sudah usai, Nasya membereskan barang barangnya dan berencana mengerjakan tugas yang sudah di bicarakan untuk 2 bulan kedepan saat dirinya tengah pertukaran pelajar.


"Sya makan yuk" ajak Bagas kepada Nasya yang tengah sibuk memberskan barang barangnya


"iya Sya makan yuk" Hendra menimpali ajakan Bagas dengan wajah bersemangat karna sudah lapar


"nggak ah, aku baru makan sama Putri aku mau ngerjain tugas dari kak Arkan aja" tolak Nasya sambil tersenyum kepada Bagas dan Hendra


"ya udah ke cafe buku aja Gas, kan enak tu disana bisa baca buku ada makanan berat juga, wifinya lancar jaya lagi" kata Hendra memberi ide agar Nasya turut ikut bersama mereka


"gimana yank, oke nggak" tanya Bagas menunggu keputusan Nasya


"emmm gas lah, lumayan wifi gratis" kata Nasya mengiyakan setelah memikirkan keputusannya


"heeh bau bau jadi obat nyamuk ni gue" keluh Hendra dengan menghela nafas panjang bercanda.


Sebelumnya Nasya ingin mencegah Putri untuk pulang terlebih dahulu untuk membicarakan semua ini, namun lagi lagi Nasya tidak di hiraukan lagi, tanpa melihat Nasya Putri berjalan keluar kelas di susul Rey dibelakangnya.


"maaf Sya, kali ini aku harus menyusulnya" ucap Rey sebelum keluar meninggalkan Nasya


"emm susullah jangan biarkan dia sendiri, aku mengerti keadaan ini, kamu sabar ya" ucap Nasya pada Rey sambil menpuk bahunya


"thankyou Sya" jawab Rey sambil berlari kecil menyusul Putri keluar kelas.


"sudah sayang, berikan putri waktu untuk memikirkan semua ini" kata Bagas pada Nasya yang tengah melihat kedua temanyya yang tengah berjalan membelkanginya semakin menjauh


...****...


Rey mengejar Putri yang jalan meninggalkannya terlebih dahulu, Rey mencoba memanggil manggil Putri yang tengah berjalan cepat tidak menghiraukannya.


"Put, Putri sayang kamu kenapa sih, kamu serius mau seperti ini sama Nasya ha" Rey yang akhirnya mencapai tangan Putri yang berjalan di depannya itu. Putri berhenti dengan ekspresi wajah marah seperti orang yang sedang cemburu.


"gidaryeo yuleul deryeogalge (tunggu saja, aku akan merebut Yul darinya)" kata Putri tanpa memikirkan perasaan pasangannga yang ada di sampingnya itu.


Rey mengepalkan tangannya kesal, dia menarik Putri ke salah satu kelas karena melihat Nasya, Bagas dan Hendra mulai terlihat meninggalkan kelas yang mereka pakai sebelumnya.

__ADS_1


"sakit Rey ih lepas" teriak Putri sambil menarik narik tangannya yang ada di genggaman tanga Rey namun Putri tidak bisa, karena cengkraman tangan Rey yang begitu kuat.


Bagas menutup pintu kelas kosong yang mereka masuki dan melepas cengkraman tangan Putri yang sudah mulai memerah dan meninggalkan bekas di tangannya.


"kau gila, kenapa kau begini pada ku" teriak Putri pada Rey dengan wajah merah padam karena sangat marah


Rey terdiam sebentar sambil menundukkan wajahnya, tangannya masih mengepal hingga terlihat kemerahan.


"bukan kah kau bilang akan merelakan Yul" rey berkata dengan suara lirih sedih masih dengan wajah tertunduk.


"kau bilang apa ha, kau punya suara kan katakan dengan suara yang keras" kata Putri dengan nada menohok dan terdengar tidak sopan


"BUKAN KAH KAU BILANG AKAN MERELAKAN YUL, kapan kau akan melihat ku kapan"


Rey meninju tembok yang ada dibelakang Putri sangat keras dan tanpa sadar jari jarinya mengeluarkan darah, dia berteriak didepan Putri dengan mata berkaca kaca, telinganya dan wajahnya merah padam. Suaranya yang sebelumnya lantang bertanya makin lama makin pelan hingga wajahnya tertunduk kembali.


"aku tidak bisa Rey, Yul adalah tujuan ku sejak awal, kamu juga tau itukan, aku akan melakukan segalanya untuk mendapatkan Yul" Putri berbicara dengan wajah datar dan seriusnya sambil menatap Rey yang masih tertunduk berkaca kaca


"tapi kapan kamu akan melihat ku sebagai orang yang mencintai mu" kata Rey pelan masih dengan kepala menunduk di hadapan Putri


Putri memeluk Rey, airmata yang sebelumnya terbendung karna amarah dan rasa putus asa akhirnya tumpah perlahan dalam pelukan Putri. Rey membalas pelukan dewi cinta itu dan menenggelamkan wajahnya dalam pelukannya.


"kenapa tidak kamu cegah dari awal Put, kenapa kamu harus berpura pura mendukung mereka sayang" tanya Rey kepada Putri yang masih memeluknya itu


"aku tidak pernah menyangka hubungan mereka akan berlanjut lagi di dunia ini, dan aku tidak pernah menyangka Nasya memiliki perasaan seperti itu pada Yul" kata Putri menjelaskan pelan pada Rey dan mencengkram perlahan bajunya.


"apa bisa kamu tidak menyakiti Nasya, dia sangat baik pada kita" kata Rey pada Putri dengan nada seidikit memohon


"bikan kah aku sudah memberitau mu, tujuan ku adalah Yul, bukan Gyuri"


Putri melepas pelukannya pada Rey yang ada di hadapannya itu, Putri memegang tangan Rey yang berdarah akibat memukul tembok yang ada di belakangnya, dia meniupnya pelan agar perih di lukanya bisa segera membaik.


"tunggu lah Rey, setelah semua ini berakhir, aku hanya akan berada di samping mu" kata Putri sambil menatap dalam mata Rey


"bagaimana kau bisa di samping ku, kalau hati mu masih memyimpan rasa pada Yul"

__ADS_1


"Rey.... Apa kau percaya pada ku" tanya Putri sambil memegan kedua tangan Rey, Rey yang mendengar pertanyaan Putri hanya mengangguk pelan tanpa mengelurkan sepatah kata pun.


"tunggu aku dan teruslah percaya pada ku, oke" Putri mengecup bibir Rey singkat dan keluar dari kelas yang sedari tadi mereka gunakan untuk berbicara sebelumya meninggalkan Rey sendirian dikelas itu.


...****...


Bagas, Nasya dan Hendra berjalan menuju parkiran di samping kantin luar untuk pergi ke tempat yang dimaksud Hendra sebelumnya. Bagas berlari terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Nasya.


"silahkan sayang" kata Bagas sambil memegang pintu mobil yang tengah di buka untuk Nasya masuk


"makasih" ucap Nasya sambil mencubit kedua pipi Bagas pelan


"hadeh, kang bucin dan mbak bucin, gue duluan naik motor ya, sakit mata gue liat kalian mulu bye guys gue tunggu di cafe ya" pamit Hendra lalu menaiki motornya dan meninggalkan mereka berdua


"Gas, kamu harus sering sering loh main sama Hendra, jangan karna ada aku kalian jadi jarang hangaout bareng" kata Nasya yang sedang menasihati Bagas


"iya sayang tenang aja" jawab Bagas sambil memperhatikan jalan karna sedang menyetir mobil.


Tidak lama kemudian Nasya dan Bagas sampai di cafe buku yang Hendra maksud. Mereka berdua sudah mendapati Hendra tengah duduk membaca buku saat mereka memasuki cafe tersebut.


"guys sini sini" panggil Hendra yang tengah membaca di ruang kecil berbentuk kotak yang sudah disiapkan cafe untuk membaca


"udah PW aja Hen" kata Bagas menghampiri Hendra dan mencari buku komik yang ingin dia baca di tumpukan yang sudah di ambil oleh Hendra


"chapter berapa lu Gas?" tanya Hendra pada Bagas yang tengah


"50 ada nggak disitu" tanya Bagas pada Hendra, Hendra mencoba mencari di sampingnya dan memberikan bukunya pada Bagas


"nih nih" sodor Hendra pada Bagas dan mereka berdua pun sibuk membaca


Nasya hanya tersenyum melihat mereka berdua yang sibuk hingga lupa rasa lapar yang mereka rasa sebelumnya dan lupa untuk memesan makanan.


"kalian berdua mau makan apa aku pesenin" tanya Nasya pada Bagas dan Hendra yang sibuk melihat bukunya


"aku bak mie yank, aku nasgor Sya minta tolong ya" kata Bagas dan Hendra sambil membaca bukunya

__ADS_1


Nasya berjalan menuju meja depan untuk memesan makanan mereka lalu kembali kemejanya untuk menegrjakan tugas kak Arkan yang sudah 80% hampir selesai. Nasya melihat ponselnya yang masih belum tampak notifikasi pesan masuk, Nasya meletakkan Hpnya sambil menarik nafas panjang, dia hanya bisa menunggu untuk saat ini sampai Putri bisa di ajak bicara dengan kepala dingin.


__ADS_2