Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 10 ANCAMAN


__ADS_3

Hari itu akhirnya Yul bisa pulang ke rumah Gyuri, mereka menyiapkan barang barang yang akan di bawa pulang sementara orang tua Gyuri menunggu di bawah.


Gyuri sibuk merapikan tempat tidur yang sebelumnya mereka gunakan dan merapikna barang mereka untuk dibawa pulang. Yul hanya memperhatikan wanitanya dengan saksama karena dia ingin menanyakan sesuatu. Namun ada yang berbeda saat Yul memperhatikan Gyuri. Dia mendekat dan memegang anting yang terpasang cantik di telinganya.


"kamu pakai anting baru sayang?"


"oh.. Ini, kemarin saat aku mengurus administrasi ada bapak bapak yang ngasih ke aku, katanya aku mirip putrinya yang sudah tiada, karena tidak enak hati jadi aku menerimanya, lagipula antingnya juga bagus" Yul mengerutkan keningnya, bagaimana bisa seoranh ayah dengan mudah memberikan benda berharga seperti ini


"tapi Yul, ada yang aneh dari bapak bapak itu"


"apa yang aneh sayang?"


"aku sangat jarang melihat bapak bapak yang memakai kontak lens dengan warna yang cerah, tapi bapak bapak yang aku temua itu memakai kontak lens warna hijau, bahkan itu hampir memenuhi kornea matanya"


Yul kaget dan kembali memperhatikan anting yang di pakai oleh Gyuri (warna hijau) gumam Yul dalam hati dan tidak sengaja dia melihat bagian sisi anting yang lain dan menemukan benda tajam yang bentuknya seperti jarum.


"sayang coba buka antingnya"


"kenapa?"


"sudah buka saja, aku melihat sesuatu yang aneh"


Gyuri segera membuka anting yang di kenakannya dengan segera dan memberikannya pada Yul. lelaki itu memperhatikan anting yang ada di tangannya, (ini jelas jarum, tapi bagaimana cara kerja senjata ini) batin Yul, dia mencoba meniup niup anting itu, namun jarum yang ada di sela berlian hijau itu tidak melesat. Yul melihat sekitarnya dan melihat gelas berisi air yang ada di atas meja, Yul memasukkan sepasang anting yang cantik dengan permata emerald itu kedalam gelas berisi air itu.


Betapa terkejutnya mereka melihat permata hijau itu mengubah air di gelas, yang awalnya bening menjadi hijau lumut dan selang beberapa detik terdengar retakan dari gelas kaca itu lalu akhirnya pecah


"aaa" teriak Gyuri lalau bersembunyi di belakang Yul

__ADS_1


"igeo mwo ya? (apa itu)"


"gwaenchanha?, dachin saram eobseo? (apa kamu tidak apa apa, tidak ada yang terluka?)" Yul memeriksa daerah sekitar telinga Gyuri dan untungnya tifak terjadi apa apa


"eo nan gwenchana (ya aku tidak apa apa)"


"lain kali jangan menerima sesuatu dari orang lain lagi, mengerti, aku akanmencari dan megurus orang itu"


"Yul... J-jangan ceritakan ini dengan mama ataupun papa"


"mereka berhak tau sayang"


"aku takut mereka khawatir dan bertindak berlebihan"


"tapi.."


"jebal eo? (kumohon ya)"


"tqpi dia sudah tua"


"apa kamu akan membiarkan seorang kriminal berkeliaran?" Gyuri menunduk dan menggeleng, disisi lain dia kasihan dengan bapak bapak itu, namun di sisi lain Yul ada benarnya.


"ayo... Orang tua mu sudah menunggu di bawah"


"emmm"


...****...

__ADS_1


Diruangan yang persegi dengan tembok putih merah Rey dan Putri duduk di kasur bersama. Putri terua mengetikkan sesuatu paada layar datar ponselnya dengan wajah panik dan khawatir.


"Bagaimana, apa Gyuri sudah menjawab telfon dan pesan mu?"


"belum... Bagaimana ini, apa dia sudah kembali kelangit?"


"kalau dia sudah kembali, pasti kita juga sudah kembali"


"bukan itu masalahnya, aku hanya takut hal buruk terjadi"


"hal buruk apa?"


"ayah ku"


Putri duduk disamping Rey, saat ini dia jadi lebih terbuka pada Rey dan memilih meceritakan semua bebannya agar tidak dia tanggung sendiri. Lelaki yang duduk di hadapannya itu mendengar dengan saksama, hingga ceritanya mencapai finish.


"Apa? Aku kira selama ini kamu yang ingin melukai keduanya"


"aniyeo (tidak)"


"aku tau kamu gadis baik" ucap Rey lelu memeluk Putri yang ada di hadapannya, pipi Putri memerah dan dia mendorong tubuh Rey menjauh darinya


"apa sih, jangan lebay"


"pipi merah gitu, hahaha"


"e-enggak ih"

__ADS_1


"hahhaha"



__ADS_2