Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 7 FIRASAT


__ADS_3

"hahaha mianhe mianhe"


Bagas segera berlari ke kamar dan menutup pintu kamarnya. Dia terlihat begitu panik,Bagas mendekati kaca besar yang ada di lemarinya lalu tersenyum sambil memandang wajahnya, Bagas melihat dirinya dan mulai menciumi aroma badannya lalu dia memgerutkan keningnya


"ahh bau yang payah"


Bagas mengambil parfumnya, Bagas memilih yang aromanya sangat soft agar Nasya tidak mengetahui bahwa dirinya sedang tidak menggunakan parfume. Bagas membersihkan wajahnya dengan micelar yang dia punya dan menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi.


"yosh"


Bagas bergegas membuka lemarinya dan menuju pada tumpukan celana pendeknya dia langsung memilah milahnya. Setelah kurang lebih satu menit membongkar lemari dia mengambil satu celana pendek dan langsung mengganti celana panjangnya


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Bagas, dia segera memakai celananya dan memgambil handuk baju di rak kamar mandi.


"sebentar sayang pakai handuk" Bagas segera mengikat tali handuknya dan membuka pintu untuk Nasya


"maaf lama" kata Bagas yang membukakan pintu untuk Nasya sambil memperbaiki tatanan rambutnya


"enggak kok, ayo mandi lalu istirahat sudah senja tuh"


"ah ayo"


Nasya masuk lalu duduk di depan meja rias Bagas, dia mengubah ikatan rambutnya menjadi sanggul. Bagas heran dengan Nasya, kenapa dia sangat tenang saat dia hampir gila karena akan mandi bersama.


"eoseo, ppalli (ayo, cepat)" Nasya segera masuk kamar mandi dan di susul Bagas di belakangnya, Nasya menghentikan langkahnya tepat di depan shower dan menunggu Bagas mendekatinya


"ayo sayang"


Bagas mendekatinya perlahan dan akhirnya sampai di depan Nasya dengan wajah tertunduk. Jantungnya sudah di luar detak normal, dia tidak tau lagi wajahnya sudah semerah apa di hadapan Nasya.


"jagiya, wae bukkeureowo?, nawa hamkke? (kenapa sayang, kamu malu?, sama aku?)"

__ADS_1


"ani jagiya na jom tteollyeo, neodo tteolliji anhni? (tidak sayang, aku hanya sedikit gugup, apa kamu tidak gugup?)" Nasya tertawa mendengar pertanyaan Bagas


"jeongmal naega gwaenchanhdago saenggaghani? ppalli gogaereul sugiseyo (kamu sungguh berfikir aku tidak apa apa? coba turunkan kepalamu, cepat)" Nasya menuntun telinga Bagas mendekat pada tempat jantungnya berdetak, rasa gugup yang dia tahan sedari tadi tidak bisa di sembunyikan lagi, Nasya merasa jantungnya semakin berdetak cepat hingga dia sendiri bisa mendengarnya, terlihat pipi Nasya yang mulai memerah karena malu


"ajigdo naega ginjanghaji anhneundago saenggaghani? (apa kau masih mengira aku tidak gugup?)" kata Nasya dengan suara sedikit terbata


" ani, hwaginhaesseo, baro yeogiseo (tidak, aku sudah memastikannya, disini)" Bagas terlihat tersenyum bahagia, dia mengira Nasya sudah tidak ada rasa padanya lagi karena efek dari aura yang di pancarkan penghalang itu kepadanya, namun di salah kali ini.


"geurae sijaghaja, neoreul mogyogsikyeojuneun sarami neoui eommarago saenggaghamyeon dwae, geureomyeon naneun nega nae dongsaengirago saenggaghalge ok (oke ayo mulai, kamu bisa berfikir yang memandikan mu adalah ibu mu, lalu aku akan berfikir kamu adalah adik ku oke)" Nasya memberi saran agar kecanggungan dia situasi ini kembali normal


"wae geureon geobnikka? (kenapa begitu?)" tanya Bagas tanpa melepas pandangannya dari Nasya


"mwo, geunyang pyeonhage jinaeja hehe (yah, biar kita nyaman saja hehe)" jelas Nasya, Bagas mengelus pipinya pelan dengan tatapan sedih itu lagi, tatapan sedih yang bahkan belum Nasya lihat pada orang lain selama ini


"geuraedo, sojunghan chueogeulo ganjighago sipeunde neoman boyeodo gwaenchanheulkka? (tapi, aku ingin menyimpannya sebagai kenangan yang berharga, apa tidak apa apa kalau yang kulihat tetap kamu saja?)" ucap Bagas sabil tersenyum dengan tatapan yang menurut Nasya lebih sedih lagi, namun entah filing darimana, Nasya merasa bahwa dia tidak punya waktu yang lama dengan Bagas namun dia memilih untuk tidak membesar besarkannya lagi pula itu hanya filing.


"aaah sudahlah, kamu bisa melihat ku sepuas mu, kamu bisa menjadikan semua yang kamu lihat tentang kita menjadi kenangan sepuas mu, juga melangkahlah dengan ku sebisa mu oke, kenapa jadi melo seperti ini kita hanya mau mandi dan istirahat ayolah, jangan menatap ku sesedih itu rasanya sakit sekali" Nasya memeluk Bagas dan mengelus punggungnya yang masih di balut handuk itu


"beolsseo syawohaja (sudahlah ayo kita mandi)"


Nasya melepas handuk baju yang di pakai Bagas dan terlihat 2 buah plaster yang menempel di tubuh Bagas masih ada disana. Namun Nasya tidak melihat luka samasekali disana


"oh lukanya sudah sembuh, tanpa bekas"


Nasya mencoba melihat baik baik luka luka yang sebelumnya ada disana mungkin ada meninggalkana bekas luka, namun dia tidak menemukan satu pun, begitu pula saat dia membuka plaster yang tertempel di kedua titik Bagas itu, Nasya makin heran dan lebih mengerutkan keningnya lagi. Mereka sembuh tanpa meninggalkan tanda sedikitpun. Bagas tertawa melihat ekspresi Nasya dan mencoba meluruskan dahi Nasya yang berkerut itu


"apa kamu liat sayang, mereka tidak meminggalkan bekas"


"bukan kah kamu yang bilang mereka akan sembuh tanpa bekas sedikit pun"


"wah terkabul, hebat sekali lidah aku" candanya, namun tentu saja dia tidak percaya


Nasya membuang dua plaster itu ke tempat sampah lalu menekan tombol shower yang ada di belakang Bagas membuatnya ikut basah juga.

__ADS_1


"sayang kamu jadi basah"


"tidak apa apa, setelah ini aku akan mandi juga"


Nasya melihat Bagas terguyur air dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Rambut Bagas yang sebelumnya rapi saat ini lurus basah mengikuti jatuhnya air yang mengguyur tubuhnya. Nasya menyibakkan rambut yang hampir menutupi mata Bagas itu, terlihat wajah tampan Bagas yang sedang melihat dirinya dibalik titikan air shower yang deras itu. Nasya mematikan air shower dan mulai menggosok badan Bagas, wajahnya merah sekali. Setelah Nasya mematikan shower, dia bahkan tidak meliriknya sama sekali


"wajah mu merah sekali hahaha, dokter menyuruh ku membantu mu untuk mandi kerena mungkin tulang mu memang sudah membaik, tapi engsel di tulang tulang mu masih belum baik baik saja, jadi untuk berjaga jaga aku membantu mu mandi, karena jika kamu mandi sendiri pasti membutuhkan banyak gerakan engsel karena menggunakan gerakan berulang seperti menggosok, jadi jangan malu lagi"


"baiklah, aku mengerti" Bagas berbalik dan sedikit memendekkan badannya agar Nasya bisa menggosok punggungnya


"berbaliklah, angkat kedua tangan mu sedikit aku akan menggosoknya"


Bagas membalik badannya lagi menghadap pada Nasya, karena Nasya sudah menyelesaikan menggosok punggungnya. Dia mengangkat sedikit tangannya sesuai perintah Nasya lalu menurunkannya lagi karena sudah selesai. Di tengah tengah menghosok tubuh depan Bagas, Nasya membuka pembicaraan di tengah tangannya sibuk membersihkan badan Bagas


"Bagas, tidak, Yul, apa aku boleh memanggil mu dengan nama itu?"


"apa?" pandangan Bagas langsung tertuju pada Nasya


"apa aku boleh memanggil pacar ku dengan nama aslinya? Yul, Kim Yul" Bagas menarik tubuh Nasya dan mencium bibirnya setelah menyelesaikan ucapannya itu


Bagas menekan tombol shower yang ada di belakangnya dan membiarkan mereka terguyur air. Busa sabun di sekujur tubuh Bagas mengalir bersama air yang melewati tubuhnya. Dia masih menikmati bibir wanitanya dibawah guyuran air shower yang membasahi mereka berdua. Namun dia melepaskan pagutannya dan bertanya kepada Nasya


"mmh ahh.. Apa aku, bisa memanggil mu Gyuri sekarang?"


"emm"


Bagas tersenyum lalu mengigit bibir Nasya pelan dan melanjutkan lumatannya, dia memeluk wanitanya dengan erat dan masih bermain dengan lidahnya. Di satu titik ada air yang terasa asin terasa di lidah Gyuri, dia membuka mata dan melihat mata Yul yang tertutup terlihat meneteskan air mata, Gyuri mengangkat alisnya lalu mengusap air mata yang jatuh tertutup air yang terus mengguyur mereka. Gyuri berusaha melepaskan pagutan Yul dan melihatnya sejenak


"uljimayo, uri haengboghan chueogmandeulgoisseoyo naesarang (jangan menangis, kita sedang membuat kenangan bahagia sayang ku)" Gyuri mengecup bibir Yul singkat dan melepasnya lagi


"ayo sudahi ini, kamu sudah terlalu lama membungkuk dan terguyur air, nanti kamu sakit lagi"


"baiklah, aku akan keluar, kamu mandilah" Bagas meninggalkan Gyuri dan memakai handuknya kembali

__ADS_1


__ADS_2