Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 5 BAGAS


__ADS_3

Malam dimana Nasya larut dan tidak sadar karna alkohol yang diminumnya membuat aku menyadari sesuatu. Dia sangat mabuk dan berhalusinasi hingga Nasya menganggap ku sebagai makanan.


Nasya menggigiti perut sispack ku yang di kiranya roti sobek dan menggigiti tubuh bagian atas ku hingga luka dan mengeluarkan darah. Aku sangat tidak masalah dengan luka yang di buatnya di seluruh badan ku karna pasti langsung kembali seperti semula.


Namun malam itu setelah Nasya membuat banyak luka di badan ku, aku mengetahui satu kebenaran yang baru ku ketahui setelah sekian lama. Aku berkaca di kaca kamar mandi ku menghindari Nasya yang semakin brutal menjajah tubuh ku. Aku memegang ****** ku yang mengeluarkan darah itu pelan


"aw.. Kenapa lukanya tidak segera menutup, biasanya akan langsung menutup seperti tidak terjadi apa apa" gumam ku pelan


Aku melepas sisa pakaian di tubuh ku lalu aku mengguyur badan ku dengan air shower yang hangat, air yang melewati setiap inci tubuh depan ku meninggalkan rasa perih yang luar biasa. Aku memegang jidat ku sambil tersenyum kecil yang makin lama makin melebar


"ha haha hahah AAAAHHHHH SIAL"


Melihat luka ku yang tak kunjung membaik membuat ku menyadari sesuatu yang pahit


(APA HANYA NASYA YANG BISA MEMBUNUH KU)


Batin ku marah, apa dewa harus mengubah Nasya menjadi pembunuh juga seperti ku.


Hampir satu jam aku berdiri di bawah guyuran air shower agar pikiran ku kembali normal, aku mengganti air panas yang ku pakai menjadi air yang paling dingin. Rasa perih masih menghujami tubuh ku namun aku tidak peduli lagi.


Aku menyudahi mandi ku dan kembali ke kamar untuk tidur lalu memakai baju ku kembali, di atas tempat tidur terlihat Nasya yang sudah sudah tertidur pulas seperti tidak terjadi apa apa. Aku melukis senyum di bibir ku dan ikut berbaring di sampingnya, aku mengelus rambutnya pelan dan mengecup pipi merahnya.


"aaah kesayangan ku, jaga batasannya sayang aku juga tetap lelaki pada umumnya" kata ku kepada Nasya yang tengah tertidur lelap.


Aku tidak bisa tidur malam itu karna luka di tubuh ku yang terus menerus tersenggol oleh Nasya dan tergesek oleh baju ku dan aku memilih untuk tidur di sofa malam itu.


"aah sakit, sudah lama aku tidak merasakan sakit di tubuh ku" kata ku sambil mengeluh kesakitan


Akhirnya aku tertidur lelap malam itu di sofa depan. Tubuh ku rasanya panas dingin karna efek luka yang di berikan Nasya malam itu.


Pagi itu aku terbangun karena Nasya menyentuh salah satu luka ku yang paling sakit yaitu di ******. Aku sontak terbangun dan mengaduh kesakitan pagi itu, Nasya yang terlihat kebingungan karena dia merasa tidak memukul terlalu keras, di reflek mengelus bagian yang sakit dan membuatnya tambah sakit.


"aw aw sayang jangan di pegang"


Nasya membuka baju ku dan wajahnya sangat terkejut melihat badan ku yang penuh luka dan memar terlebih lagi bagian dada ku. Dia berlari mengambil kotak P3k dan mengahmpiri ku lagi lalu mengoleskan salep. Dia bertanya tanya kenapa aku seperti ini padahal sebelumnya baik baik saja.


"Bagas kamu habis ngapain kok sampai kaya gini, siapa yang bikin kamu kaya gini hah" tanyanya sambil mengerutkan dahi yang membiatnya tambah cantik


"sayang kamu beneran lupa kejadian semalam" jawab ku sambil senyum senyum


Nasya memberi tau ku bahwa dia tidak melakukan apa apa semalam, aku hanya tersenyum dan menyuruhnya mengobati ku sambil mengingat ngingat kejadian semalam sambil melihat luka ku. Nasya mengobati luka demi luka di tubuh ku dan saat dia mengobati dada ku dia mengerutkan dahinya lagi dan menunduk menutup wajahnya.


"whegure jagi em (kenapa sayang em)"


Nasya menggeleng sambil menutup wajahnya, awalnya dia meminta maaf pelan dengan wajahnya yang masih dia tutupi. Terlihat telinganya yang merah, aku berusaha membuka tangan yang menutupi wajahnya tapi dia menggeleng pelan, aku memeluk kepalanya sambil senyum senyum.


"sudah ingat sayang" kata ku sambil mengusap usap kepalanya


"maaf Bagas pasti sakit banget" dia memindahkan tangan ku dan melanjutkan mengobati luka ku dengan wajah senyum bersalahnya.

__ADS_1


"salah aku sayang taro amer sembarangan it's oke"


"pasti kamu kesusahan banget tadi malam"


Aku curhat padanya kalau semalam aku sangat kesusasahan sambil tertawa menjailinya, dia hanya tertunduk salah tingkah sambil terus mengobati luka ku dengan keras hingga aku mengaduh kesakitan.


Hari itu Naaya akan pulang ke kosnya dan meninggalkan ku di apartemen besar ini sendirian lagi, aku menawarinya untuk tinggal bersama ku namun dia menolak keras karna ayahnya akan marah besar jika tau anak kesayangannya tinggal bersama lelaki.


Dia menyiapkan semua pakaiannya dan meninggalkan satu piama diornya di lemari ku.


"sayang ini nggak di bawa" tanya ku sambil menunjjukkan piamanya yang rapi tergantung di antara pakaian ku


"itu buat persiapan bermalam disini sayang, boleh kan"


"ya boleh dong sayang, kamu mau taro semua baju kamu disini juga nggak apa apa"


Nasya berdecak sambil tersenyum dan lanjut membereskan barang barangnya, aku membantunya melipati bajunya dan Nasya yang menyusunnya di dalam tasnya. Setelah beberapa saat beberes yang Nasya lakukan sudah selesai, dia tidur dipangkuan ku dan memandangi ku, entah tatapan apa yang dia berikan namun aku lihat matanya sedikit berkaca kaca.


"jangan melihat mata ku lama lama sayang, aku takut kamu terluka lagi" kata ku sambil melihat wajahnya yang sedikit tersenyum memandangi ku


"aniyeo, gwenchana (tidak, tidak apa apa)"


"kenapa kamu selalu bilang tidak apa apa sayang"


"aku tidak tau, aku merasa harus mempercayai mu sampai akhir, entah apa yang ingin ku ketahui dan entah kenapa aku yakin sangat yakin hubungan kita lebih dari ini, makanya aku ingin mempercayai mu, entah itu akhir yang buruk atau akhir yang baik jangan khawatir, aku percaya sama kamu"


"gidaryeo jagiya, dangsineul dachigehaji anhgo dangsinege modeun geoseul malhal bangbeobeul chajeul geosibnida, gidaryeo oke (tunggulah sayang, aku akan mencari cara untuk memberitahu mu semuanya tanpa menyakiti mu, tunggu ya)"


"nado neo manhi saranghae (aku juga sangat mencintai mu)" jawab ku sambil mencium telapak tangannya yang sedang memegang pipi ku


Aku sangat ingin menceritakan semuanya, apa yang terjadi pada kita dengan mukut ku sendiri. Tapi jika aku menceritakan dengan mulut ku, ingatan masalalunya tidak akan kembali, dia hanya akan mengingat cerita ku pada hari itu dan melupakannya keesokan harinya seakan aku tidak pernah memberitahunya apapun, dewa mengatakan untuk mencari jawabannya sendiri tanpa memberi tau ku sedikit pun petunjuk. (Dia harus melihatnya sendiri, dengan kedua matanya sendiri).


Aku melupakan pikiran tentang masalalu itu dan tidak ingin hari ini terlewat dengan suasana melo seperti ini.


"jagi, cha masillae? (sayang, mau minum teh?)"


"eum eoseo (emmm ayo)"


"balkonieseo gidaryeo, naega daesinhaejulge (tunggu lah di balkon, aku akan memebuatkannya untuk mu)


"naega dowa julge (biarkan aku membantu mu)


"No no namanui teugbyeolhan charaeul mandeureo julge (tidak tidak, aku akan membuat teh spesial buatan ku)"


"cih... Ye ury jagi (cih, baiklah sayang)"


"na gidaryeo oke (tunggu aku oke)"


Aku membuat teh yang ku beli dari pembuat teh terkenal di jepang, aku menuangkan air panas ke cangkir yang berisi daun teh dan mengaduknya

__ADS_1


(dewa apa kau tidak akan memberiku petunjuk sama sekali tentang memulihkan ingatan Gyuri, kenapa dewa tega sekali memberi kutukan yang bahkan sakitnyapun Gyuri harus ikut menanggungnya) batin ku dengan wajah yang sedikit melamun, teh yang sedang ku aduk di gelas sedikit berbusa karna terlalu lama ku aduk karna pikiran ku terus ribut tentang masalah hidup ku.


Aku membawa teh hang ku buat ke balkon, Nasya sudah menunggu disana dan menyambut ku dengan senyumannya kali aku muncul di pintu balkon membawa teh.


"kkeutnasseo (sudah)"


"jeulgida (selamat menikmati)


"cha hyangi neomu johda (tehnya wangi sekali)


"johahani? (apa kau suka)" Nasya tengah meminum teh yang ku buat dengan hati hati karna masih panas


"eum masisseo joha (emm enak aku suka)


"gamsahabnida (syukurlah)


Kami mengobrol banyak sebelum Nasya kembali sore itu tentang banyak hal, hal tentang dia, tentang dunianya, dan tentang aku. Siang itu aku menanyakan nama korea Nasya dan aku sangat senang siang itu, nama yang diberikan oleh orang tua Nasya adalah Gyuri, Kim Gyuri wanita ku.


Siang itu disaat kita asik bertukar cerita, dia menanyakan nama korea ku setelah dia pura pura kaget bahwa aku juga orang Korea


"ayo ayo, beritau aku siapa nama korea kamu" Nasya bertanya dengan exaited dan dengan mata yang berbinar binar melihat ke arah ku


"Yul, Kim Yul"


"waah kiyowo (imut), mungkin aku akan ketagihan memanggil nama korea mu, yul yul yul yul hahah"


"mungkin aku juga akan sering memanggil mu yuri yuri yuri"


"hey bagaimana kamu mengetahui bahwa panggilan ku Yuri"


"aku hanya menebak, apa itu benar"


"benar banget sayang, woah hebat banget kamu"


Kami bahkan merencanakan tentang liburan setelah study pertukaran yang akan segera kami lakukan kurang lebih 1 bulan lagi, Nasya mengajak ku jalan jalan ke kebun jeruk milik neneknya di korea dan banyak lagi. Kami banyak bercanda dan bercerita hingga tidak terasa jam sudah menunjjukkan waktu 15.30, sudah waktunya Nasya pulang. Nasya mengambil tasnya karna taksi yang ku pesankan sudah sampaj di depan gedung apartemen ku.


"yaaah aku sendiri lagi sayang" kata ku sedih karna rumah ku rasanga sepi lagi


"sabar sayang, biasanya juga sendiri kok" kata Nasya sambil menepuk pelan punggung ku


"tapi seru ada kamu"


"iya iya bakal sering main kesini deh"


"harus, wajib pokoknya"


"ya udah aku pulang ya"


"hati hati sayang, ingat yang rajin makannya, jangan begadang begadang mulu" kata ku pada Nasya seperti emak emak emak yang anaknya mau pergi merantau

__ADS_1


"iya sayang dan kamu, jangan sedih sedih terus, aku juga ikut sedih lo oke"


Aku hanya mengangguk mengiyakan kata kata Nasya, aku memeluknya lama sebelum dia menaiki taksi. Aku menyuruh sopir taksi yang mengantar Nasya untuk pelan dan hati hati. Aku melihat taksi yang di naiki Nasya makin lama semakin jauh dan tidak terlihat lagi dan aku pun kembali ke kamar apartemen ku yang luas dan dingin itu seorang diri.


__ADS_2