
Nasya yang tengah sibuk mengerjakan tugasnya melihat beberapa wanita yang melewati Bagas tengah senyum senyum dan berbisik bisik. Nasya melihat wanita wanita itu dengan mata memicing.
"cih" cengir Nasya sambil melihat para wanita wanita itu dan memilih tidak memdulikannya
Bagas dan Hendra terlihat tertawa bercanda satu sama lain dan dengan tidak sengaja Henda meninju dada Bagas disela bercandanya. Bagas terjingkat dan meringis kesakitan, Hendra yang tengah tertawa bingung dengan tingakah lebay temannya itu, karena menurutnya tinjunya tidak sekuat itu.
"lebay lu ah nggak kenceng juga" kata Hendra membela diri
"iya sih tapi lagi sakit badan gue"
"kenapa lu habis bersihin rumah lu, biasanya juga manggil mbak kebersihan"
"bukan ini karna..."
Nasya membulatkan matanya agar Bagas berhenti meneruskan ceritanya dan akhirnya Bagas mengarang cerita untuk membuat alasan pada Hendra.
"itu gue di cakar kucing, galak banget kucingnya soalnya"
"lah kok bisa sampe disitu dah, lu gendong kucingnya tapi perasaan lu nggak punya kucing deh"
"eeh itu emm, kucing liar iya kucing liar"
"aneh banget sih lu ah"
Hendra akhirnya melanjutkan membaca komiknya dan membiarkan Bagas, Bagas mengacungkan jempol menunjukkan misi berhasil dengan senyum bangganya, Nasya hanya mengernyitkan dahinya dan melanjutkan pekerjaannya. Nasya melihat beberapa beberapa wanita yang sebelumnya melewati Bagas tengah curi curi pandang pada Bagas dan membicarakannya dibelakang.
"aigoo si paling ganteng deh pokoknya mah" gerutu Nasya dengan mata memicing dan memainkan rahangnya, tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang dan diantar ke meja yang tengah Nasya duduki, Nasya yang menerima pesanan dari pelayan cafe itu tersenyum smirk yang sepertinya dia mempunya ide jail pada beberapa wanita yang lagi tebar pesona sambil membicarakan Bagas itu.
"sayang makanannya datang nih makan dulu, Hen makanan lu dateng juga nih" kata Nasya dengan senyum kecil mencurigakan itu.
Bagas dan Hendra segera mendekati meja yang Nasya duduki dan mulai memakan makanan mereka, para gadis yang berada dibelakang Bagas semakin heboh bergosip dan mengira ngira siapa yang dipanggil sayang oleh Nasya. Bagas memakan makanannya sambil membaca komik hingga dia tidak memperhatikan mulutnya yang belepotan karena terkena saus makanannya, (nice, sesuai rencana)batin Nasya dengan senyum jailnya, Nasya mengambil tisu dan melap ujung bibir Bagas yang terkena bumbu makanan yang Bagas makan.
"aigooo pelan pelan sayang belepotan nih" kata Nasya sambil membersihkan mulut Bagas, sontak cewek cewek yang berkumpul dibelakang Bagas bubar seketika dan mengakhiri rumpi rumpi mereka, aku tertawa kecil karna menurutku itu lucu
"hehe makasih sayang" kata Bagas terseyum dan melanjutkan makannya
Hendra yang melihat Nasya dan bagas tengah bermesraan hanya bengong dengan mulutnya yang sedikit ternganga, Hendra hanya bingung bagaimana bisa temannya yang super cuek dan dingin seperti kulkas dua belas pintu itu tengah bermesraan bersama wanita yang belum lama ini disukainya.
"anjir obat nyamuk gue disini" kata Hendra sambil melanjutkan makan dan membaca komik yang tengah berada ditangannya
Nasya hanya tertawa sebentar dan memgambil komik yang tengah Bagas dan Hendra baca ditengah makannya itu.
"makan makan membaca membaca" omel Nasya sambil menutup komik yang mereka baca dan menandai bacaan mereka
"lah kena sapu omelan juga gue" kata Hendra uanh sekarang hanya gokus ke makanan yang dia makan
"itu korupsi waktu namanya brodi" kata Nasya sambik teeseyum
"tuh hen denger" kata Bagas menimpali ucapan Nasya dan tersenyum ke arah Nasya.
Cafe ini sangat nyaman bukan hanya wifi yang cepat tapi hantu hantunya tidak semenyeramkan mereka yang di jalan, hantu hantu di cafe ini seperti layaknya manusia yang lagi asik dengan bukunya masing masing membaca dengan wajah pucat mereka. Nasya menundukkan pandangannya kembali dan mengerjakan proyek dari kak Arkan tempo hari.
Disaat Nasya tengah asyik mengerjahkan tuga, Bagas menyodorkan kertas dan menaruhnya tepat di samping laptop Nasya, Nasya mengernyitkan dahinya dan membuka kertas yang di berikan Bagas yang bertulisakan [sayang, mulut aku pait nih] tulis Bagas di dalam kertas itu. Nasya yang paham maksud Bagas dengan cepat mencari tasnya dan mengeluarkan satu permen tusuk untuk di berikan kepada Bagas.
"emmm apa ini" kata Bagas sambil memutar mutar permen yang berada ditangannya dan melihat Nasya dengan tatapan bingung, Nasya mengangkat satu alisnya dan mengeluarkan satu permen lagi agar Bagas tidak ribut mengganggunya, tapi tetap saja Bagas menoel noel tangan Nasya yang tengah sibuk itu, Nasya yang gemes dengan tingkah Bagas kembali meraih tasnya kembali dan mengeluarkan satu pak permen tusuk khusus untuk Bagas. Bagas menertawakan tingkah Nasya yang tidak peka itu dan mulai menghisap permen yang Nasya berikan kepadanya.
"nomu kiyowo" kata Bagas mencubit pipi Nasya pelan lalu Bagas menyusul Hendra yang lebih dulu menyelesaikan makannya dan kembali membaca komik di tempat sebelumnya mereka baca.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.30, pekerjaan perencanaan 2 bulan ke depan syukurnya sudah selesai dan sudah Nasya serakahkan pada kak Arkan melalu email, sebenarnya kak Arkan kurang setuju untuk mengumpulkan pekerjaan via email seperti ini namun cara ini adalah cara paling efektif untuk mengumpulkan pekerjaan Nasya ketimbang harus berjalan melewati jalan terkutuk keruangan kak Arkan itu. Nasya mematikan laptopnya dan memasukkannya kedalam tas, Nasya melihat Bagas dan Hendra yang masih asik dengan buku komik yang mereka baca. Nasya pun mendekati mereka dan mengajak mereka pulang karna hari sudah semakin siang hampir menuju sore.
"pulang yuk, udah hampir sore nih" ajak Nasya kepada Bagas dan Hendra yang lagi duduk membaca buku
"memang sudah jam berapa Sya" tanya Hendra sambil mencari cari jam yang menempel di dinding cafe untuk memastikan saat ini sudah jam berapa
"mampus gue, guys gue duluan ya aku ada kerja part time soalnya, oh iya gas makanan aku kamu bayarin dulu ya nanti aku ganti uangnya oke" kata Hendra tergopoh gopoh sambil membereskan barang dan memakai sepatunya meninggalkan kami
"iya iya, udah sana keburu telat beneran" jawab Bagas dengan mata masih tertuju ke komik bacaannya
"bye Sya bye Gas aku duluan ya" pamit Hendra pada Nasya dan Bagas
"emmm.." jawab Bagas datar dan membalik halaman komiknya
__ADS_1
"bye Hen" jawab Nasya sambil melambaikan tangan memberi say bye buat Hendra.
Bagas yang terlalu fokus kepada bukunya bahkan tidak melihat Nasya yang berada di hadapannya, Nasya duduk bersandar di sampingnya dengan mata tertuju di komik yang bagas baca, Nasya mengajak Bagas pulang karena hari sudah semakin sore.
"gas pulang yuk, kita udah lama banget disini" kata Nasya yang juga ikut membaca komik yang Bagas baca
"bentar yank lagi seru banget nih" kata Bagas sambil menuntun kepala Nasya untuk bersandar di pundaknya untuk bersandar
Nasya mengambil tangan Bagas dan membanding bandingkan ukuran tangan siapa yang lebih besar, padahal sudah jelas jawabnnya. Saat Nasya tengah membandingkan tangannya dia menyadari sesuatu telah hilang dari tangan kanannya. ya garis biru, gatis biru yang melingkar di tangan Nasya telah menghilang. Nasya yang tengah kebingungan mengerutkan keningnya dan mencoba memperhatikan tangan kanannya sekali lagi dan betul, Nasya sama sekali tidak menemukan garis itu di pergelangan tangan manapun. Nasya melepaskan tangan Bagas dan menggosok lengannya pelan dengan kemungkinan yang tidak mungkin. (mungkin tertutup foundation) batin Nasya dalam hati. Meski Nasya tak pernah memakainya namun Nasya memikirkan kemungkinan itu di kepalanya. Nasya melirik Bagas yang masih sibuk membaca buku disampingnya. (sebenarnya apa yang terjadi antara kita) batin Nasya bertanya dalam hatinya.
Bagas yang tersadar bahwa Nasya tengah melihatinya dan Bagas berganti melihat Nasya kembali sambil tersenyum dan menutup buku yang sedang dia pegang.
"ayo pulang, kau jenuh kan" tanya Bagas sambil tersenyum kepada wanitanya
"enggak kok, baca aja lagi hanya tinggal beberapa lembar lagi selesai tuh kayanya" kata Nasya mengijinkan Bagas melanjutkan bacaannya
"sungguh oke baik lah sayang terimakasih" jawab Bagas riang dan melanjutkan komik bacaannya
Nasya melihat cewek cewek sedari tadi melewati Bagas dengan senyum senyum dan berbisik bisik, Nasya yang bingung dengan kelakuan orang sekitar memperhatikan apa yang salah pada Bagas dan ya tuhan. Dia ternyata membuka jaket levisnya dari tadi dan kaos putihnya menunjukkan ada perban tebal yang membungkus kedua putingnya. Nasya membulatkan matanya dan segera menarik jaket yang di geletakkan di samping Bagas lalu menutupi badan Bagas dan menutupi kaos putih laknat yang tidak bisa melindungi Badan pacarnya itu dengan jaket levis yang dia ambil di sampingnya.
"kenapa sayang" tanya Bagas yang tengah bingung kenapa dia di bungkus pakai jaket padahal lagi gerah
"kelihatan Bagas" kata Nasya berbisik dengan mata yang sedikit melotot kepada Bagas
"apanya" tanya Bagas bingung kepada Nasya
"ini" Nasya mencolek perban di dadanya itu hingga Bagas meringis kesakitan dan dengan reflek tangan Bagas memegang bagian yang sakit itu
"aw aw aw, sayang sakit" kata Bagas mengaduh
"udah tau pake baju putih jaketnya malah di buka, ketat lagi kaosnya, mau pamer roti sobek kamu" omel Nasya dengan mulut cemberut yang membuatnya makin lucu
"astaga maaf yank aku lupa kalo pakai kaos putih" kata Bagas sedikit membela dirinya
"allah alasan bilang aja mau pamer sama cewe cewe di cafe kan" kata Nasya menjaili Bagas sambil senyum senyum
"ya ampun Nasya ini punya kamu bukan punya siapa siapa kok" kata Bagas sambil memegang tangan Nasya erat, terasa di kulit Nasya tangan Bagas mulai terasa dingin karena deg degan akibat kesalahnnya yang tidak di sengaja itu
"iiiih kamu ya" kata Bagas gemes sambil mencubiti pipi Nasya yang sangat senang menjailinya
"aaaaaw" Nasya mengaduh karna pipinya tengah di cubit oleh Bagas
"udah gih cepet bacanya baru pulang"
"iya 3 lembar lagi"
Nasya membuka Hpnya lagi melihat apa Putri sudah membalas pesannya atau belum, namun nihil tidak ada balasan apapun dari sahabatnya itu. Nasya sangat bingung sebenarnya apa penyebab Putri bisa semarah itu kepada Nasya. Dari awal Nasya mulai mengungkapkan semua tentang dia dan tentang hubungannya dengan Bagas saat ini wajahnya mulai berubah. Padahal pada awal Bagas mendekati Nasya dia terlihat baik baik saja dan cenderung mendukungnya. Nasya sedikit berpikir tentang Rey, bagaimana perasaanya saat ini, bagaimana bisa Putri bersikap seperti itu didepan Rey kekasihnya seolah olah Putri sedang menyukai Bagas.
"Nasya, ayo pulang" kata Bagas membuyarkan lamunan Nasya yang tidak tidak itu
"ayo, sebentar aku ambil barang ku di meja dulu" Nasya sibuk memasukkan documennya ke dalam map dan menyusul Bagas di kasir
"bentar gas aku bayar dulu" Nasya mengeluarkan dompetnya namun Bagas segera mengajaknya pulang
"sudah, yuk pulang"
"sudah dibayar pacarnya mbak"jelas kasir ramah itu dengan senyum kepada Nasya
"ah iya makasih" jawab Nasya dengan sedikit menundukkan kepalanya
Bagas mengambil barang barang yang ada dibtangan Nasya dan memasukkan ke mobilnya. Bagas segera membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Nasya duduk di kursi sebelah Bagas, Bagas menjalankan mobilnya perlahan melintasi ramainya lalu lintas, Nasya pun tidak tau dia hendak mengajak Naaya berputar kemana yang Naaya tau mereka semakin jauh dari kos Nasya.
"mau kemana sih kamu" tanya Nasya yang terlihat kebingungan kepada Bagas karna jalan yang dia pilih makin jauh dari kos kosan Nasya
"jalan jalan, kos kamu deket banget cepet sampenya jadi aku jalan jalan dulu deh" tutur Bagas kepada Nasya
"ya udah kita mampir apotek yuk" ajak Nasya kepada Bagas yang sedang fokus menyetir
"kamu sakit" tanya Bagas sambil memegang jidat Nasaya
"enggak, aku mau beli obat aja" Nasya menurunkan tangan Bagas dan menaruhnya kembali ke stir mobil
__ADS_1
"beneran yank" kata Bagas memastikan lagi
"iyaaah" jawab Nasya
Bagas berhenti di salah satu apotik dan memarkirkan mobilnya rapi, Naaya segera masuk ke dalam dan membeli beberapa obat, salep dan perban. Setelah selesai Nasya dengan cepat berlari kecil kembali ke mobil Bagas dan duduk di kursi belakang.
"lah Sya kok duduk di belakang" tanya Bagas dengan mimik wajah bingung
"kamu duduk sini" ucap Nasya sambil menpuk kursi di sampingnya
"aku" kata Bagas sambil menempelkan tangannya di dadanya seperti meyakinkan 'apa benar aku'
"ya kamu lah, masa aku panggil mbak kunti yang lagi nangkiring di pager itu"
Bagas akhirnya menurut dan akhirnya pindah ke kursi belakang.
"kamu kenapa" tanya Bagas bingung karena aku menyuruhnya untuk pindah ke belakang padahal dia yang menyetir mobil
"kaca mobil kamu gelap kan" tanya Nasya dengan mimik serius
"iya gelap, kenapa memangnya" jawab Bagas sambil mengangguk
"gelap banget kan" tanya Nasya lagi masih dengan wajah serius
"iya Nasya sayang kenapa sih" kata Bagas sambil memegang kedua pundak Nasya dan menatap wajahnya dekat
"yaudah gih buka baju" Nasya mendorong pelan Bagas, dan menyuruhnya membuka bajunya dengan santai
"haaa kamu mau ngapain" Bagas kaget dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya menolak
"udah buka aja bawel banget deh" Nasya membuka jaket levis yang di kenakan Bagas dan mengangkat kaos putih yabg di kenakannya
"iya iya sabar dong" kata Bagas sambil membantu ku membuka kaos yang dia kenakan
Bagas membuka baju kaosnya dan terlihat perban di putingnya yang amburadul dan sangat tebal itu, Naaya tertawa kecil melihat perban yang dikenakan Bagas pada lukanya, tawa ku makin keras saat mulai menutupi perbannya dengan tangannya.
"seneng kamu" kata Bagas sambil cemberut
"hahahah ya ampun Bagas, kok berantakan banget sih masangnya sayang mana tebel banget lagi hahaha" tawa Nasya lepas sambil membuka perban Bagas yang tebal dan berantakan itu.
"ya kan aku nggak tau yank" jawab Bagas dengan wajah merahnya, Nasya sangat mengerti bahwa Bagas sangat malu saat itu
Nasya membukakan pemen untuknya dan memasukkan ke mulut Bagas. Nasya perlahan membuka perban yang menutupi dada Bagas, terlihat putingnya merah dan dipenuha luka lecet, muncul rasa bersalah di hati Nasya melihat badan Bagas penuh dengan luka. Setelah selesai membuka semua perban itu Nasya membersihkan luka dibalik perban Bagas. Bahas terlihay hanya pasrah dan nyengir nyengir kesakitan karna luka lecetnya masih perih saat Nasya mengoleskan obat. Banyak bekas biru biru di perut Bagas yang hanya melihatnya saja Nasya merasa bersalah. Nasya telah selesai memperbaiki perban di badan Bagas dan Bagas telah berpakaian kembali.
"tenang sayang, besok pasti lukanya sembuh kok tanpa bekas" kata Nasya mencoba basa basi pada Bagas meskipun itu hal mustahil bahwa besok luka lecetnya sembuh. Nasya yang sudah selesai mengobati Bagas merogoh kantongnya dan membuka bungkus permen kopi kembalian dari apotek tadi karena nggak ada uang seribu jadi Nasya dapat 4 permen.
"yang kamu makan peremen apa yank" tanya Bagas penasaran
"permen kopi, kamu mau" tawar Nasya kepada Bagas
"mau" kata Bagas mengangguk
"bentar" Nasya memcoba merogoh kantong celananya kembali mencari permen yang belum Nasya buka di saku celananya itu, namun tiba tiba Bagas mendongak kan kepala ku dengan tangannya, Bagas menempelkan bibirnya pada Nasya lalu merebut permen yang ada di mulut Nasya dengan lidahnya. Aku terdiam dan Bagas hanya tersenyum jail melihat Nasya dengan mulut ku yang masih sedikit terbuka.
"Bagaaas, aaaah permen aku"
"hahaha emmmm enak, tukeran sayang hahah"
Bagas memberikan Nasya permen cola yang di emutnya sedari tadi yang hanya tinggal bulatan kecil saja. Bagas tertawa karna dia mencurangi Nasya.
"hahah mianhe (hahaha maaf)" kata Bagas sambil menciumi pipi kanan kiri ku
"curang ah"
"mianhe chagi (maaf sayang)" Bagas mencium bibir Nasya sambil tertawa puas, Nasya memukul luka Bagas pelan hingga dia memohon ampun. (Dasar orang licik itu) batin Nasya kesal.
Bagas melajukan mobilnya meningal kan apotek tempat Nasya membeli obat, namun rute yang bagas ambil semakin jauh dari kos Nasya yang membuat Nasya mengerutkan keningnya
"Bagas mau kemanasih" tanya Nasya bingung sambil mengerutkan keningnya
"menjalankan apa yang aku bilang tadi pas selesai kelas" kata Bagas tersenyum kepada Nasya
__ADS_1
"HAH"