Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 5 BAGAS


__ADS_3

"aahh akh haa"


Pergelangan tangan ku sangat sakit karna lilitan benang jiwa Nasya yang ku ikat erat di tangan ku, mereka seperti memeras nadi nadi ku sampai rasanya mau putus. Aku mengambil sebotol anggur dari lemari minuman dan membawanya ke balkon kamar ku. Aku meminumnya seperti orang yang tidak pernah minum. Aku menenggak anggur itu tanpa menggunakan gelas anggur, aku terus mendesis karna tenggorokan ku sangat panas.


Seorang sosok yang lama mengikuti ku muncul di hadapan ku dan bertanya apa yang terjadi pada ku hingga minum dengan cara seperti itu.


"na chajasseoyo (aku menemukannya)" kata ku pada sosok pribumi korea zaman joseon itu


"nuguya (siapa)" balas sosok itu bertanya pada ku dengan wajah pucatnya


"gyunhyeongui yeosin Gyuri (Gyuri, dewi keseimbangan)"


"hahahha seonsaengnim bulganeunghabnida (hahaha tuan itu tidak mungkin)" kata pria joseon itu tidak percaya pada ku


"naega pagoeui sinilaneun geol ijeossna? (apa kau lupa aku adalah dewa kehancuran)"


"a majda (ah benar juga)"


"issjanha, na oneul neomu haengboghaeseo jangnando chyeosseo (kau tau, bahkan aku bercanda hari ini saking senangnya)"


"a seolma neo museun jangnaniya? (ah tidak mungkin, memang kau bercanda seperti apa?)"


"aideureul nollage hago keuge useossda (mengagetkan anak anak dan tertawa terbahak bahak)"


"hahaha jeongmal (hahaha sungguh)" sial bahkan aku di tertawakan oleh setan


"geureom dangsineun geureohge (lalu kau melakukan itu)" pria joseon itu menunjuk pergelangan ku yang terlilit oleh tali jiwa Nasya, ya, dia tau kalau yang aku lakukan adalah hal yang salah dan dia sengaja menanyakannya


"tto irheobeolilkkabwa (aku hanya takut kehilangannya lagi)"


"hajiman igeoseun joheun ili anibnida seonsaengnim (tapi ini bukan hal baik tuan)"


"deo isang galeuchyeojujima (sudah, jangan mengajari ku)"


"geureom jagbyeolinsareul halgeyo je chunggoe daehae saenggaghae boseyo seonsaengnim (baik aku pamit pikirkanlah nasehat ku tuan)


Pria itu menghilang ketika selesai menuturkan nasehatnya pada ku, aku selalu tau ini salah aku sebenarnya sangat takut untuk medekatinya karna takut dia terluka lagi.


Aku menenggak anggur ku lagi sambil melihat keindahan kerjaan pantai selatan yang ada tepat didepan balkon apartemen ku. Aku tidak tau bahwa jin bisa membangun istana semegah itu, bahkan aku harus bekerja keras agar bisa memiliki semua ini.

__ADS_1


Aku membawa botol anggur ku dan masuk kedalam kamar, aku meringkuk kedinginan di atas kasur karna hawa dingin AC yang ku nyalakan 16°c menyelimuti kamar ku. Aku memandangi pergelangan ku yang terlilit benang jiwa itu dan bergumam didalam hati.


"apa aku bisa memperbakki hubungan kita, Gyuri" kata ku pelan kepada diriku sendiri, aku memeluk tangan kanan ku dan mencoba tidur malam itu.


Pagi itu aku terbangun karna cahaya matahari yang menusuk mata ku karna lupa menutup horden balkon. Aku berjalan menuju kamar mandi dan berdiri di depan cermin besar kamar mandi ku, aku mengusap cermin yang memantulkan bayang ku dengan senyum smirk.


"nappeun saram (lelaki jahat)" kata ku sambil melihat mata biru ku yang bersinar itu, lalu melanjutkan membasuh wajah ku dengan air dingin.


Hari itu jadwal kuliah ku masuk siang, jadi aku bisa bersantai sedikit dan tidak perlu terburu buru. Aku menyeruput sup hangat yang kubuat untuk meredakan pengar ku semalam.


"aaah"


Aku melihat pedang hitam yang tergantung di dinding ruang tengah ku, aku mencoba mendekatinya dan mengambil pedang itu. Masih terlihat bekas darah Gyuri dan Kang pada pedang yang tenagh ku pegang itu.


"Kang a neo eodiya, Gyuri chajassneunde ajig mos chajasseo (Kang kamu dimana, aku sudah menemukan Gyuri, tapi belum menemukan mu)"


Aku meyarungkan pedang itu dengan hati yang masih sangat terluka. Hari dimana hal besar yang kulakukan itu terjadi, bukan hanya aku yang diturunkan dari langit, melainkan 2 pilar lainnyapun diturunkan dengan cara reinkarnasi setidaknya lebih baik dari ku, 3 cahaya langit, kami tidak akan bekerja apa bila tidak ada Gyuri yang mengontrolnya, akan berbahaya bagi dunia jika kesimbangan tidak ada, jadi dewa memilih untuk mengosongkan tempat itu dan membiarkan keadaan bumi seperti sekarang ini. Keadaan tidak menentu.


Aku mengambil ransel ku dan bersiap untuk berangkat. Entah sudah berapa kali aku menjadi mahasiswa di kehidupan ku ini dan selain itu aku sudah banyak membuka perusahaaan besar yang sangat sukses di beberapa negara karna terlalu jenuh untuk diam saja di kehidupan panjang ini.


Aku menuruni lift dan beberapa pegawai menyambut ku dangan ramah layaknya karyawan pada umumnya, namun aku tidak terlalu suka di perlakukan seperti itu, terlalu berlebihan.


"bukannya saya sudah bilang untuk menghilangkan hal seperti ini, saya tidak suka menjadi bahan perbincangan dan pusat perhatian"


"maaf pak kami hanya melakukan prosedur dari atasan"


"saya lebih berhak mengubah ptosedur tempat ini, kan saya yang punya"


"baik pak sesuai perintah bapak"


Aku menaiki mobilku dan melajukannya dengan kecepatan standart, hari ini sangat panas namun dari arah barat terlihat sedikit awan mendung yang entah akan jadi hujan atau tidak. Malam ini adalah malam dimana bulan merah muncul, kedatangannya hanya 1 abad sekali tapi sangat merepotkan.


Setelah beberapa menit perjalanan aku sampai di kampus dan mematkirkan mobil ku di tempat biasa aku memarkirkannya, yah di samping kantin depan kampus. Aku menghubungi Hendra karna biasanya dia masih molor jam segini.


📱Hen dimana kamu


📱OTW bentar lagi nyampe


📱oke tungguin aku, kita masuk bareng

__ADS_1


📱iya iya, berasa punya anak gue


📱sudah jangan protes


Aku mendengar bunyi motor datang mendekati mobil ku dan ya itu Hendra. Dia mengetok kaca mobil ku mengisyaratkan menyuruh ku untuk keluar.


"ayo lets goo bro" kata hendra sambil melepas helmnya yang banyak lecet itu.


"ayo"


Kami menyebrang jalan menuju kelas kami hari ini, ditengah perjalanan ku aku melihat Nasya yang muncul dari arah lorong belakang kelas yang biasa di sebut jalan tikus oleh anak anak lain, aku hanya memandanginya dengan senyum bersyukur karena dia baik baik saja setelah mimisan parah kemarin.


"Gas, lu kenapa senyum senyum ngeliatin Nasya, suka ya lu sama Nasya"


"kayanya begitu"


"Terimakasih tuhan akhirnya temen ku normal juga"


"heh emang aku nggak normal selama ini"


"enggak, primadone pas SMA aja lu abaikan coy"


"karna dia nggak menarik"


"ya ampun Bagas, cantik gitu loh orangnya tapi cantik Nasya sih"


"primadona itu cantik sih, tapi dia busuk hati i dont like"


"lu nggak ada niat aneh aneh kan sama Nasya"


"ya enggak lah gila, niat aneh apa juga"


"yah kan siapa tau"


"enggak Hen, kalo jadian bakal gue jaga ko tenag aja"


"amin, jangan sampe nyakitin anak orang lu"


"nggak akan Hendra"

__ADS_1


__ADS_2