Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 9 KEMARAHAN GYURI


__ADS_3

Malam itu Gyuri berada di kamar rumah sakit yang berlantai putih bersih, dinginnya AC menususk kullit putihnya yang hanya mengenekan kaos lengan pendek itu. Ia tengah sibuk membereskan selimut dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi sedikitpun.


Yul yang duduk di atas ranjang hanya melihat kegiatan wanitanya yang tengah kesana kemari menyibukkan diri, dia melan ludahnya pelan, tau bahwa situasi ini bukan situasi yang bagus untuk mengajaknya berbicara. Namun Yul juga bingung, jika dia tidak membuka percakapan, situasi di kamar ini tidak akan ada perubahannya.


Yul berdiri dan menghampiri Gyuri yang tengah membilas baju penuh darah itu di wetafel kamar. Hanya ada suara kecipak air dari keran yang tengah di gunakan oleh Gyuri.


“Gyuri…”


“Anja (duduk)”


Yul bahkan belum selesai untuk mengeluarkan perkataannya namun Gyuri sudah memotong bicaranya, badannya sudah panas dingin. (aaah aku sudah mengacau suasana yang bagus di kelaurganya saat ini, sekarang semuanya berantakan, apa yang harus aku lakukan?) gumam Yul di dalam hati. Gyuri membalikkan pandangannya dan melihat Yul yang masih berdiri di belakannya.


“wae? (kenapa?)”


“jagia…(sayang)”


“emm… jinjeonghe (emm istirahatlah)”


“emm… arasso (emm… baik)”


Yul tidak bisa mengelak, dia kembali duduk di Kasur yang bahkan terasa tidak nyaman itu. Gyuri yang sudah selesai dengan semua kesibukannya berjalan duduk di samping Yul. mereka hanya diam beberapa saat, membuat keadaan begitu canggung dia ruangan dingin itu. Di tengah suasana hening di ruangan itu, Gyuri mengucapkan sepatah kata, yang membuat Yul biingung harus menjawab apa.


“siapa yang melakukan itu?” ucap Gyuri tanpa melihat wajah lawan bicara yang tengah dia tanyai itu


“ n-naega haenesseo (aku yang melakukannya)”


“geojismaleulhaji anheunda (jangan bohong)”

__ADS_1


“Jagiya geojismal anhae (aku tidak berbohong sayang)”


Gyuri diam dan menunduk, dia memegang baju di lengan kiri Yul yang tidak terluka itu, suaranya keluar lirih hingga Yul tidak dapat mendengarnya dengan baik. Gyuri yang masih tertunduk itu meremas baju Yul. lalu sepatah kata akhirnya keluar dari mulut Gyuri.


“Yul…kenapa tidak pernah mau jujur pada ku?”


“aku sudah jujur sayang aku…”


“padahal…aku sudah melawan semua ketakutan ku untuk mu, darah , rumah sakit, semuanya tapi apa… apa hampir mati sebelumnya belum cukup untuk mu? Aku bahkan rasanya ingin mati karena cemas, Apa menyiksa ku perlahan semenyenangkan itu? Aku apa bagimu Yul, hati ku rasanya seperti di tusuk ribuan jarum melihat mu seperti ini, padahal kita baru menjalin hubungan belum lama ini, tapi rasanya aku sudah mencintai mu ribuan tahun lamanya hingga rasanya sesak, aku harus bagaimana…emmm hiks”


Yul diam, air matanya jatuh bahkan tidak melewati pipi, air asin itu jatuh tepat membasahi tangan Gyuri yang tengah memegangi lengan bajunya. (dia merasakannya, rasa cinta yang rasanya sesak itu, dia merasakannya, aku masih menyakitinya selama ini, kenapa aku begitu bodoh, jahat sekali aku) ucap Yul dalam hati, dia tengah mengumpati dirinya sendiri, berfikir dirinya adalah orang paling bodoh di dunia fana ini.


"uljimaaa (jangan menangis), itu membuat ku makin bersalah telah mengeluarkan kata kata itu"


Melihat Gyuri mengusap air matanya yang akan keluar, tangis Yul makin pecah, dia menunduk tidak berani memandang wanitanya. Yul terus terisak, suaranya menggema memenuhi ruangan yang hanya ada mereka berdua didalam sana, Yul terus meminta maaf dalam tangisnya.


"mianhae mianhae naega neomu meongcheonghaeseo niga geureohge apeun jul mollasseo geu sarang ttaemune sogi meseuggeorigo sangcheobadassneunji molla mianhae (maaf, maaf kan aku, aku sangat bodoh hingga tidak mengetahui kamu sesakit itu, aku tidak tau jika kamu merasa sesak dan sakit karena cinta itu, maafkan aku)"


"mian ajigeun malhal su eobseo seuchineun balam gata, mianhae (maaf, aku belum bisa memberitau mu, itu bahkan seperti angin lalu, maaf)"


"wae andwae, geunyang malhae (kenapa tidak bisa, kamu tinggal mengucapkannya)"


"nan nega bogil wonhae neoui du nuneuro (aku, ingin kamu melihatnya, dengan kedua mata mu)" dengan suara terisak, Yul masih menjelaskan kepada Gyuri keinginannya


"ijeobeoryeo, ije mureobolge? nuga igeoseul haessseubnikka? soljighi malhae (lupakan, sekarang aku bertanya pada mu? siapa yang melakukan ini? katakan dengan jujur)" ucap Gyuri dengan mimik wajah serius, matanya penuh amarah hingga Yul berfikir semua yang akan di ucapkannya akan menjadi kenyataan, seperti dewa yang memberi hukuman kepada umatnya. (kekasih ku ini, bahkan masih punya kekuatan penuh kuasanya dalam tubuh manusia ini, aku belum pernah setakut ini sejak dahulu aku dekat dengan Gyuri, rasanya ingin mati dari pada di laknat oleh ucapannya, tubuh ku bahkan gemetar, tapi kenapa dia tidak bisa menggunakannya?) gumam Yul dalam hati, dia bahkan tidak berani memandang Gyuri yang tengah berada dalam api amarah itu.


"Yul... Kenapa tidak menjawab, siapa yang melukai tangan mu?"

__ADS_1


"a-aku"


"kenapa, jelaskan pada ku"


Yul seperti tidak bisa membantah, dia menjelaskan semua kejadian yang terjadi di ruang meeting tanpa ada kekurangan apapun di cerita itu, dia bahkan tidak peduli apa yang dia katakan akan di lupakan oleh Gyuri keesokan harinya, mulutnya seperti tidak bisa berhenti. Akhirnya Yul terdiam, kejadian yang sudah terjadi padanya sudah dia ceritakan tanpa ada cacat.


Yul mengangkat pandangannya, dia melihat siluet yang mengelilingi Gyuri, bukan siluet hampir sempurna, baju yang di kenakan Gyuri mulai berubah menjadi baju sutra yang dulu dia gunakan dunia para dewa namun yang di lihat Yul saat ini bukanlah Gyuri yang dulu, baju sutranya yang putih kian memerah, matanya yang hitam perlahan juga berubah menjadi merah, tubuhnya di kuasai amarah yang begitu dalam. (Wujud dewinya bangkit melalui kemarahan, itu hal yang buruk, dia bisa menjadi 7 dosa besar jika terus seperti ini)


Di tengah kemarahannya Gyuri hendak mengucapkan sesuatu, Yul segera menutup mulut Gyuri. Dia tidak mau dewinya berubah menjadi dosa dan tinggal di neraka.


"Gyuri hentikan"


"emmm emmm" Gyuri menarik narik narik tangan Yul yang menghalangi mulutnya


"Kim Gyuri sadarlah GYURII"


Mata Gyuri membulat mendengar gertakan Yul, matanya yang sebelumnya merah berganti menjadi 6 warna dewa dewi terpenting yang ada di langit. Baju sutra merah yang sebelumnya dia kenakan berganti menjadi putih kembali, wanita cantik itu menatap tersenyum kepada Yul.


"Yul... Aku disini, bersama mu"


Yul menganga tidak percaya, yang dia pandang di hadapannya adalah dewi alam semesta, kekasihnya, Kim Gyuri. Air matanya berjatuhan memeluk kekasih yang telah di bunuhnya, kini ada depan matanya.


"Gyuri, maaf"


"ini bukan salah mu, orang baik sudah menyimpan jiwa ku yang berharga namun aku tidak tau itu siapa, mungkin Kang mengetahuinya, Yul, waktu ku tidak banyak, jangan pernah meninggalkan aku lagi, paham, wanita ini adalah diri ku, jadi lindungi dia dengan baik, terimakasih sudah membukakan sedikit jalan untuk ku sehingga aku bertemu dengan mu, cup"


Gyuri mengecup singkat bibir Yul dan kembali ke dalam tubuh manusianya, matanya kembaki hitam, baju sutranya hilang meninggalkan kaos lengan pendek yang sebelumnya Gyuri gunakan. Gyuri kehilangan kesadaran dan jatuh pada pelukan Yul. Lelaki iti mengusap rambut wanitanya lembut dan menidurkannya di kasur yang dia gunakan.

__ADS_1


Yul memandangi wanitanya yang tengah menutup mata Di atas kasur itu dengan seribu pertanyaan di dalam kepalanya. (membuka jalan, jalan apa yang Gyuti maksut, aku tidak pernah ingat pernah membuka apapun) gumam Yul dalam hati. Malam itu otaknya makin berisik dengan fikiran fikiran dan pertanyaan yang bahkan dia sendiri tidak tau jawabannya apa hingga tidak terasa matanya begitu berat dan akhirnya ikut terpejam di samping Gyuri.



__ADS_2