Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 6 APA YANG TERJADI


__ADS_3

nit nit nit


Terdengar bunyi patient monitor memenuhi ruangan tempat Bagas dirawat malam itu, jarum infus terpasang rapi di tangan Bagas dengan alat bantu pernafasan menutupi hidungnya. Baju yang sebelumnya di kenakan Bagas sekarang telah berganti dengan baju rumah sakit. Terlihat bekas jaitan di kedua telapak tangannya, disamping Bagas yang tergeletak tengah tidak sadarkan diri itu Nasya duduk disamping Bagas masih menggunakan Bajunya yang penuh dengan darah itu. Mata Nasya terlihat bengkak dan menyipit, dia terus memegangi tangan Bagas dan mengelus rambutnya. Sampai akhirnya suara ketukan pintu memecahkan panaan Nasya dari Bagas.


"permisi selamat malam, dengan wali pasien" kata perawat itu, kemudian mempersilahkan dokter memasuki ruangan


"benar saya wali Bagas, bagaimana hasil pemeriksaannya dok" tanya Nasya, pasien itu membawa sebuah map rontgen dan menunjjukkan hasilnya kepada nasya.


"jadi begini begini, terlihat pada hasil rontgen pasien yang saya bawa, saya bingung mau menjelaskannya seperti apa, tapi saya mau bertanya kepada anda, apa saudari Bagas mengalami kecelakaan atau mencoba mengakhiri hidupnya dengan meminum seuatu yang berbahaya" tanya dokter itu sambil mengerutkan alisnya


"tidak dok, dia tidak pernah kecelakaan sebelum datang ke rumah sakit ini dan dia juga tidak pernah mencoba melakukan percobaan bunuh diri, makanan yang kita makan sama dari piring yang sama begitu juga minuman yang dia konsumsi saya juga mengkonsumsinya, apa hasilnya seburuk itu dok?" tanya Nasya dengan wajah cemas sambil mengigit bibir bawahnya


"terlihat di rontgen saudari Bagas, organ dalamnya terlihat amburadul dan maaf ada beberapa yang rusak selain itu tulang tulang saudari Bagas juga banyak yang terkikis dan patah, saya juga tidak tau hal ini bisa terjadi kepada manusia bahkan tanpa luka sedikitpun pada tubuhnya. Apa bila memang keadaan seseorang sudah seperti ini kemungkinan besar dia tidak akan selamat, tapi entah keajaiban darimana ananda Bagas menggunakan kesempatan kecil itu untuk mempertahankan hidupnya yang berharga untuk orang terdekatnya, saya akan berusaha semampu saya untuk saudari Bagas, hanya kesempatan tuhan yang kita perlukan disini. Baik saya pamit dulu segera laporkan jika terjadi sesuatu kepada saudari Bagas, saya akan tetap di ruangan saya, saya mohon untuk keluarga tetap tabah, ganti lah pakaian anda bergantilah dengan anggota keluarga lain untuk menjaganya saya permisi" jelas dokter itu sangat panjang


"terimakasih dok" (tapi dia hanya punya aku di dunia ini, Bagaimana aku bisa meninggalkannya sendiri) batin Nasya, hatinya seperti tertusuk, sakit sekali, Nasya melihat dokter itu pergi bersama perawat yang menemaninya dan menutup pintu ruangan bagas kembali.


Badan Nasya rasanya lemas setelah mendengarkan penjelasan panjang dokter itu, Nasya tidak tau bahwa keadaan Bagas separah itu bahkan sangat sedikit kesempatan untuknya kembali hidup. Dia hanya berani mengelus rambut kekasihnya yang sedang terbaring tidak berdaya itu, Nasya takut akan melukai Bagas jika menyentuhnya terlalu keras setelah melihat hasil rontgen yang di tunjukkan dokter itu kepada Nasya.


"ah benar, aku harus mengganti pakaian ku" kata Nasya dengan suara seraknya


Nasya meraih tasnya dan mengambil ponselnya, dia mencari nomor mita dan menolfon kawan kosnya itu


Tuut tuuuuut


๐Ÿ“ž"halo Sya, lo dimana udah maghrib loh kamu kok belum balik sih" tanya mita di sebrang telfon

__ADS_1


๐Ÿ“ž"mit, aku boleh minta tolong" tanya Nasya dengan suara sengaunya


๐Ÿ“ž"boleh dong, BTW kok suara kamu begitu" tanya mita heran kepada kawannya yang diajaknya bicara di sebrang telfon itu


๐Ÿ“ž"nggak apa apa kok, mit boleh minta tolong bawain beberapa stel pakaian ku luar dalam dan kalo boleh anterin ke RS Huda Parangtritis ya mit, tolong ya mit" jelas Nasya


๐Ÿ“ž" hah di rumah sakit Sya, Nasya... Kamu nggak apa apa, kamu sakit apa tunggu aku, aku akan cepat kesana sama juli" terdengar suara Mita yang ikut panik mengetahui kawannya di rumah sakit.


๐Ÿ“ž" hey aku nggak apa apa jangan ngeb.. Yah dimatiin" terdengar suara telfon yang di tutup dari sebrang sana


Nasya merasa bersalah kepada mita karena membuatnya khawatir tanpa menjelaskan keadannya terlebih dahulu. Nasya baru menyadari sesuatu, dia belum mengabari Hendra kalau Bagas masuk rumah sakit. Dia segera mengambil Hpnya namun dia teringat sesuatu lagi, dia tidak mempunyai nomer hp Hendra. Nasya mencoba mencari nomer Hendra di grub kelas tapi tidak menemunkannya karena dia tidak memasang namanya di info WAnya.


"igeon eottae, o bagaseuui haendeupon (bagaimana ini, oh Hp Bagas)"


Nasya mencari Hp Bagas dan ternyata tergeletak di atas meja tepat di sampingnya, Nasya menyalakan hp Bagas terlihat foto mereka berdua dan Bagas tengah memakai topi anak anjing yang dia belikan beberapa waktu lalu, Nasya tersenyum melihat hp yang sedang dipegangnya itu. Matanya melihat


"kamu kenapa sih Nasya, jangan sedih mulu dong nanti Bagas juga sedih" ucapnya menenangkan dirinya sendiri


Dirasanya sudah tenang Nasya kembali mencari Nomor Hendra di hp Bagas, dia segera menvari nomor Hendra dan segera menelfonnya


๐Ÿ“žhalo malam Hen, sory ganggu


๐Ÿ“žmalam, loh Nasya kok nelfon pake hp Bagas apel terus deh ah mentang mentang lagi anget angetnya


๐Ÿ“žhahaha enggak kok cuma mau kasi kabar Hen kalo Bagas masuk rumah sakit dan kondisinya kritis

__ADS_1


๐Ÿ“žhah Bagas, oke oke RS mana aku kesana sekarang


๐Ÿ“žRS Huda Parangtritis


๐Ÿ“žNasya yang sabar, aku bakal cepet kesana


๐Ÿ“žhati hat.. Tut tut


Hendra menutup telfonnya cepat dan tidak mendengar Nasya lagi. Sedari tadi Hp Bagas terus bergetar, banyak sekali pesan masuk, Nasya tidak sengaja melihat popup pesan yang baru masuk di Hp Bagas, tertulis disana 'putri teman Nasya'. Nasya mengerutkan keningnya bingung, kenapa Putri memgirim chat kepada Bagas. Nasya sanagat penasaran tapi dia tidak mau melanggar privasi pacarnya, namun akhirnya Nasya membukanya dan dia berencana akan jujur pada Bagas setelah ini. Nasya mencoba membuka pesan itu dan betapa terkejutnya Nasya dengan isi chat yang Putri kirimkan. Nasya tidak bisa menhan tangisnya, dia menutup hp Bagas dan menyimpannya kembali.


Rasa kecewa yang Nasya rasakan tidak bisa membiarkan air matanya terbendung lagi saat itu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia ingin berteriak namun dia sadar bahwa dia ada dimana.


Tidak selang berapa lama pintu ruangan itu kembali terbuka, Nasya menoleh ke sumber suara yang di dengarnya. Terlihat Mita dan Juli dengan nafas ngos ngosan membuka pintu kamar itu dengan wajah paniknya


"Nasya kamu nggak apa apa, kenapa darah semua mana yang sakit Sya" tanya Mita sambil melihat tubuh bagian mana dari temannya itu terluka, lalu pandangannya melihat kearah kasur dan ada seseorang yang tengah terbaring tidak sadarkan diri dikasur itu. Dia sedikit lega bahwa kawannya tidak terluka namun banyak memar terlihat di bagian tangannya


"kamu kenapa Sya, kenapa baju kamu penuh darah, tangan kamu biru biru kenapa, lalu dia siapa" kawannya itu tidak menjawabnya sama sekali dan hanya menangis dan semakin menangis mendengar semua pertanyaan yang dia berikan


Nasya tidak menjawab pertanyaan kawannya itu, tangisnya tumpah, semakin Mita bertanya semakin sakit tangisannya semakin tidak bisa dia tahan dan sembunyikan lagi setelah membaca pesan dari putri ditambah lagi keadaan Bagas yang kritis dan belum kunjung membaik. Mita memeluk kawannya yang tengah menangis sesenggukan itu. Juli mengusap punggung Nasya menenangkannya


"udah Sya semua bakal baik baik saja" kata Juli mencoba menenangkan nasya


Di tengah kesedihan di ruangan itu, pintu kamar itu kembali terbuka lagi dan terlihat Hendra tengah ngos ngosan membuka pintu dengan keringat membanjiri jidatnya.


"Sya lu nggak apapa" Hendra terlihat syok dengan baju Nasya yang penuh dengan darah dan temannya yang tergeletak tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Hendra memeriksa Nasya dan memastikannya tidak apa apa, lalu mencoba memeriksa temannya yan tengah terbaring di kasur itu, saat Hendra ingin memegang tangan temannya itu Nasya menghentikannya dengan cepat


"stop jangan di pegang"


__ADS_2