
Lakukan lah dan aku akan membenci mu"
Bagas berhenti mendekatkan wajahnya, nafasnya hang berat terasa di kulit wajah ku. Aku mengeluarkan tangan ku yang terbungkus di dalam selimut lalu aku memegang kedua pipi Bagas dan mengamati lelaki di hadapan ku dengan saksama.
"Baiklah, ayo pacaran tapi kau masih punya PR"
"Apa itu?"
"Dapatkan hati ku terlebih dahulu"
"Lantas kau mengajak ku pacaran karena apa?"
"I don't know, karena rasanya berada di dekat mu sepserti energi ku terisi kembali"
Bagas terlihat sedikit kaget dengan jawaban ku. Dia mengangkat kepalanya sedikit menjauh namun aku menahannya dengan tangan ku.
"Kau tau aku punya keahlian baru dengan hanya menatap mata"
Bagas mengalihkan pandangannya dari ku dan beranjak pergi meninggalkan aku yang masih terbaring di atas kasur, aku melepas belitan selimut yang menghalangi tubuh ku dan menarik Bagas kembali berbaring di kasur lalu aku menindihi tubuhnya seperti yang dia lakukan pada ku sebelumnya
"Sya. Kamu tau apa yang kamu lakukan"
"Ya aku tau, tapi aku belum selesai berbicara pada mu" Bagas hanya diam menatap ku dengan ekspresi datar
"Bagas aku mungkin melihat masa lalu mu saat di lorong kampus pagi tadi, siapa yang kau hunus dengan pedang mu itu sampai aku merasakan sakit yang mereka rasakan"
Bagas membulatkan matanya dan hanya diam seribu bahasa dengan eksperesi kaget, dia tidak menjawab pertanyaan yang barusan ku tanyakan padanya.
"Kau tidak perlu menjawabnya aku tau itu pertanyaan yang cukup sulit untuk kau jawab" aku mengangkat badan ku dan hendak berbaring di kasur untuk tidur namun Bagas memelukku dan berkata
"Maaf aku tidak bisa menjawabnya sekarang, namun itu bukan kehendak ku kau hanya perlu tau itu, percaya lah pada ku"
"Sungguh, Baiklah aku akan percaya pada mu karena kau banyak menolong ku"
"Apa saat ini kita resmi pacaran"
"Iyaaaa mungkin.." Bagas semakin erat memeluk ku hingga aku kesulitan bernafas. Aku menepuk nepuk lengannya
"Akh sudah lepas aku susah bernafas"
Namun Bagas tidak mendengarkan ku dia membalik posisi ku di bawah kembali lalu mendekati leher ku dan membuat tanda disana cukup lama
"Ahh Bagas.. sudah sakit ah" aku mendorong dorong badannya untuk menjauh dari ku dengan sekuat tenaga. Bagas pun melepas gigitan dan hisapannya di leher ku.
"Aaaah kau milik ku sekarang oke"
"Hya jugulle (hey kau mau mati)" kata ku dengan ekspresi marah
__ADS_1
"Haha maaf aku terlalu senang, ayo tidur sayang"
Bagas menggendong ku seperti koala dan meletakkan ku disisi kasur yang benar untuk tidur lalu dia berbaring di samping ku
"Hey awas saja kau macam macam aku sudah menyiapkan nomor polisi jika kau bertingakah aneh aneh"
"Hahhah iyaaa, tidurlah sayang hari ini begitu melelahkan"
"Geli aku kamu panggil gitu udah sana di pojok, pokoknya jangan lewati guling paham"
"Wah aku boleh tidur disini, Oke baiklah selamat tidur pacar ku"
"Bacot"
Aku tidur sangat nyenyak malam itu seakan kamar itu milik ku sendiri, mungkin karena aku sangat lelah saat itu.
Sesaat aku mendengar alaram pagi ku aku sedikit terbangun namun ada yang mematikannya, dan akhirnya aku tidur kembali karena masih sangat mengantuk. Tubuh ku merasa hangat seperti sedang di peluk oleh mama dalam tidur ku, Aku kembali memeluk mama ku karena sangat nyaman. Perlahan aku membuka mata ku karena silau cahaya matahari mengenai wajah ku.
Aku menyudahi tidur ku dan ternyata yang memeluk ku saat tidur bukan mama ku tapi Bagas.
"Bukan kah ku bilang jangan melewati guling"
"Kau yang melewatinya sayang"
"Berhenti memanggil ku seperti itu"
"Sebentar lagi aku seperti tercarger jika dekat dekat dengan mu" kata ku dengan nada sengau bangun tidur
"Aaah kau ternyata sangat menyukai ku"
"Jangan banyak ngomong jakun mu kena jidat ku"
Bagas mengusap bibir ku pelan, aku yang tau maksudnya buru buru bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Aku tidak sadar Bagas mengikut di belakang ku dan dia memegang gagang pintu kamar mandi hingga aku tidak bisa membukanya.
"Pindah ih aku mau cuci muka"
Tanpa bersuara Bagas menarik tengkuk leher ku dan mulai menikmati bibir ku yang belum di sentuh oleh siapa pun. Aku mencoba menjauhkan Bagas karena aku mulai susah mengambil nafas, namun Bagas semakin bermain dengan lidahnya. Kaki ku lemas hingga ingin jatuh ke lantai, namun Bagas menahan badan ku dan mengangkat ku kekasur.
"Mmmh.. Bagas sud ah mmmmh aah"
Bagas melepaskan pagutannya dan memberi ku jeda bernafas, dia membersihkan salivanya yang menempel di bibir ku yang sudah pink kemerahan akibat ulahnya.
"Apa kau belum pernah melakukannya"
"Hey ku bilang jangan melewati bat emmmh"
Aku belum menyelesaikan kalimat ku dan Bagas tiba tiba melanjutkan lumtannya dan lanjut menjelajahi leher jenjang ku. Aku kaget karena tiba tiba Bagas melepas kaosnya
__ADS_1
"Aaah jebal geumanheee, Bagaas sadar mau sebanyak apa kamu cupangin"
"Ahh maaf aku lepas kendali"
Bagas berdiri menunduk di hadapan ku tengah duduk di kasur, aku berdiri dan melewati Bagas, aku masih sangat kesal aku mencubit perutnya keras saat tengah melewatinya
"Aaaaaw aw aw maaf Syaa"
Aku tidak menjawab dan langsung menutup pintu kamar mandi agak keras dan segera menguncinya.
"Iiihhh bacin semua deh badan ku, dasar Bagas jahat"
Aku melepas semua pakaian ku dan mulai membersihkan badan ku, lalu aku berendam di bathtub milik Bagas. Wajah ku panas jika melihat kejadian tadi, aku menyentuh bibir ku yang masih terasa panas dan kebas akibat kejadian tadi, aku malu sendiri.
"Iiiihh mana belum mandi lagi belum cuci muka udah di ciun aja aku" kata ku lirih sambil menendang nendang air bathtub
Terdengar dari luar Bagas mengetok pintu kamar mandi dan menanyakan aku sedang apa. Tapi aku tidak menjawab, aku segera menyudahi mandi ku dan keluar dari kamar mandi aku melihat hp ku dan jam sudah menunjukkan pukul 10.30 pagi. Cacing di perut ku sudah teriak kelaparan karena semalam belum di berimakan.
"Dih keras banget lagi bunyinya" kata ku sambil mengusap perut ku yang tengah berbunyi
"Kamu sudah selesai mandi, ayo sarapan"
"Kamu memasak"
Bagas mengajak ku ke ruang makan yang dipenuhi aroma masakan yang membuat perut ku makin menjadi jadi.
"Kamu selapar itu"
"Iyaa, kamu masak apa sudah selesai kah, sini aku bantu"
"Sudah kamu duduk saja, aku akan menyajikannya"
"Apa kau selalu memasak sendiri, aromanya enak banget"
"Yaah aku selalu masak sendiri, karena memasak itu seru"
"Seru apanya deh"
Bagas membawa 2 piring yang berisi sarapan kita berdua, dan akhirnya kami pun makan bersama pagi itu, aku santai santai saja karena hari ini hari sabtu dan kami berdua tidak ada kuliah.
"Bagas kok rumah kamj nggak ada hantunya sih aku lihat lihat dari kemarin dan sepertinya aku tidak menemukan penampakan apa apa"
"Oooh aku usir dong, rumah itu tempat istirahat bukan tempat melihat hal hal seperti itu jadi aku membuang mereka semua"
"Uuuuh Bagas nih senggol dong ahhaha"
Aku menghabiskan sarapan ku pagi itu sambil berbincang bincang dengan Bagas, masih banyak yang ingin ku ketahui tentang Bagas termasuk tentang masa lalu yang kulihat kemarin, namun aku memilih tidak membahasnya karena takut menyinggungnya.
__ADS_1