
“halo Juli, aku boleh minta tolong nggak?”
“iya apa Sya, bilang aja, asal nggak disuruh negebangun seribu candi aku sangup kok hahaha”
“hahaha ada ada aja, bukan itu, akum mau minta tolong, nanti ada temen ku Hendra mau kesitu ambil buku kamu kenal kan?”
“iya tau, temen pacar kamu kan”
“yap bener, tolong kamu kasih ya Jul, ada di atas meja rias aku, kunci kamar aku ada sama mita, nanti dia chat kamu kok kalo mau ambil bukunya, aku udah kasih nomor kamu sama dia, tolong ya Jul”
“oke oke… beres kok”
“thanks Jul”
“oke… kamu udah berangkat kan, hati hati di jalan ya”
“oke Julia cantik”
Tut
Telfon terputus, mulut Gyuri tersungging puas, berharap rencananya berjalan dengan lancar. Yul yang berada disampingnya tersenyum sambil melihat arah jalan karena tengah menyetir. Gyuri membuka hasil pemeriksaan yang Yul dapatkan dari dokter, seperti yang Yul bilang, dia tidak apa apa. Bahkan Gyuri memebawanya ke psikolog untuk memastikan Yul tidak apa apa. Dia menikmati perjalanannya dengan mobil yang berlalu Lalang menyalip mobil yang Yul kendarai. Lalu lintas pagi itu cukup ramai membuat jalanan yang cuku luas itu penuh dengan kendaraan, namun tidak sepadat kota Jakarta.
Gyuri membuka Hpnya dan memastikan Hendra sudah membaca pesannya. Centang dua dia hp Gyuri sudah berubah biru menandakan pesan yang dia kirim sudah terbaca. Hendra membalas mengiyakan dan mengikuti rencana Gyuri untuk PDKT. Gyuri tertawa kecil memandang layer Hpnya. Yul yang menyadari itu juga ikut tersenyum sambil focus ke jalan raya.
“otokke… mission complete (bagaimana… misi berhasil?)” tanya Yul
“sejauh ini sesuai rencana, jadi ayo tunggu hasilnya”
“kamu ganti profesi jadi cupid nih ceritanya hahaha” ucap Yul sambil tertawa dengan tangan yang memutar mutar stir mobil
“hahahaha… kayanya iya deh, siapa tau mereka jodohkan”
__ADS_1
...****...
Didepan kaca sederhananya Hendra menata rambut dan pakaian yang akan dia gunakan siang ini, sang ibu yang tengah memandangi anak semata wayangnya dari ambang pintu, Wanita paruh baya itu melempar senyum hingga matanya menyipit membentuk eyesmile. Ibu Hendra masuk dan duduk di atas Kasur yang tertata rapi dilapisi sprei warna hitam kotak kotak.
“mau kemana nak, rapi banget kamu” tanya ibu Hendra dengan suara lemah lembutnya
“hehe mau ini buk, ambil buku di kos temen” ucap Hendra dengan mimic wajah salah tingkah dengan pipi merona malu karena tengah ditanyai oleh ibunya
“oooohhh ambil buku too…” ucap ibunya dengan nada bercanda mencoba menggoda anaknya
“nggak bohong loh buk” protes Hendra yang tidak diterima, sambilm mencoba duduk di samping ibunya
“oh iya le, temen mu Bagas kok sekarang jarang mampir rumah to, dulu aja hampir tiap hari main ke rumah, berasa punya anak dua ibuk hehehe”
“Bagas lagi ada study pertukaran buk insyaallah berangkat hari ini buat kerumah orang tua pacarnya dulu, Bagas ada titip salam sama ibuk, katanya maaf kalo nggak bisa sampein langsung, terus dia juga bilang rindu masakan ibuk” jelas Hendra kepada ibunya
“alhamdulillah kalo si Bagas sudah berani kerumah orang tua pacarnya, berarti dia ada niat baik, tapi sayang sekali lo Bagas nggak mampir kesini dulu jadi nggak bisa coba masakan ibuk deh” kata ibu Hendra dengan nada yang sedikit kecewa
“ya udah buk, Hendra pergi ya, mau ambil buku, sama ada cewek yang mau Hendra deketin buk, mohon do’anya ya buk” ucap Hendra memberanikan diri sambil mencium kedua tangan ibunya yang sedang dududk di ranjangnya itu. Ibu Hendra mengelus rambut Hendra dan berkata
“hehe sudah ibu duga, semoga baik ya le, ingat, yang paling penting seiman ingat pesan ayah mu ya”
“iya buk, insyaallah seiman, dia baik juga, nanti kalau sudah berhasil Hendra bawa kerumah deh buat kenalan sama ibuk” ibu Hendra hanya mengangguk tersenyum melihat Putranya tengah meminta do’a dan restu darinya.
Hendra pergi mneinggalkan rumah dengan menaiki motor metic yang selalu menemaninya kemanapun. Suara deru mesin kendaraan rida du aitu tenggelam ditengah huru haranya lalu lintas siang itu. Cuaca terik dan panas menyengat tidak melunturkan senyum Hendra dialik helm hitamnya bibir tersungging tanpa turun, karena suasana hatinya yang senang dan sedikit deg degan.
Tdak lama kemudian Hendra sampai didepan kos Gyuri, dia mencoba menelfon Julia, sebelumnya dia sudah membuat janji temu dengan Julia lewat Gyuri. Telfon tengah berdering namun belum diangkat juga, tapi setelah beberapa saat, telfon yang terus berdering itu akhirnya diangkat.
“halo Assalamualaikum, udah di depan ya Hen? Bentar ya aku ambilin bukunya”
“iya santai aja, aku tumggu di kursi depan”
__ADS_1
Selang beberapa saat, Hendra mendengar suara Langkah kaki uang keluar dari gerbang ke tiga kos Endang itu. Terlihat dari balik pagar besi berwarna hijau, seseorang yang sudah dia tunggu, Julia, ya itu Julia teman Gyuri yang dia kenal saat dirinya tengah menjenguk Yul di Rumah Sakit.
"sorry ya Hend, nunggu lama pasti, aku baru mandi soalnya" ucap Julia memberikan buku pada Hendra
"nggak lama kok, thanks ya"
Pembicaraan mereka terhenti dan hanya curi curi pandang satu sama lain. Tangan Hendra dingin sejak tadi, dia ingin membuka percakapan antara dia dan Julia namun tidak tau harus membahas apa. Tapi tiba tiba Julia berdiri dan pamit kepada Hendra untuk masuk kedalam kos.
Hati Hendra ingin menghentikan langkahnya dan sepatah kata akhirnya terucap dinulut Hendra.
"Julia..."
Julia menghentikan langkahnya dan membalikkan badan menghadap Hendra yang tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"iya..." jawab Julia
"kalo ada waktu senggang, aku boleh chat kamu nggak"
Hendra berucap sambil memainkan kukunya menandakan dia sedang gugup saat menghadapi wanita yang ingin didekatinyanya. Julia yang ada di hadapannya menorehkan senyum dibibirnya dan menjawab pertanyaan Hendra dengan senyuman.
"boleh kok..." ucap Julia sambil melempar senyum pada Hendra
Senyuman Hendra tidak dapat dibendung lagi, dia seperti ingin melompat karena mendapat respon baik dari perempuan yang ingin di dekatinya.
"makasih ya Julia, see you next time"
"iya hatai hati ya Hend"
Julia mengurungkan niatnya untuk masuk kepagar dan memilih mengantar Hendra sampai dipagar yang paling luar dan menunggu Hendra benar benar menghilang dari pandangannya. Julia melihat Hendra yang kian menghilang dengan senyum yang tidak ku jung turun dari ujung bibirnya, sambil bergumam.
"Nasya Nasya, ada ada aja" ucap Julia melangkah masuk kembali ke kamarnya
__ADS_1