Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 4 RAGU


__ADS_3

Aku sampai di kos ku tepat pada pukul 19.30 malam, seperti ya g di arahkan oleh Bagas bapak sopir taksi ramah itu menjalankan mobilnya pelan dan berhati hati. Aku masuk ke dalam kos dengan tenang tenang saja karena pada jam ini teman teman kos pada sibuk dengan urusan mereka dikamar masing masing.


Aku menyimpan tas ku dan berbaring di kasur yang nyaman meskipun tidak sebagus kamar Bagas tapi kamar ku istana ku😊. Aku mendengar suara seseorang menuruni tangga dengan cepat dan gubrak, terlihat perempuan tomboy tapi cantik tengah membuka pintu ku kasar.


"NASYA, KAMU DARI MANA AJA BIKIN ORANG PANIK KAMU"


"waduh waduh pelan pelan mita nanti ibuk kos dengar loh kamu banting banting pintu"


"gimana gimana apa yang sakit katanya kamu kemarin masuk rumah sakit" kata mita sambil melihat lihat wajah dan tangan ku


"nggak apa apa kok, don't panik😁"


"Sya emm...kemarin temen kamu si putri dateng ke kos kan emm... Nggak nggak kamu tidur aja deh istirahat"

__ADS_1


"kenapa mit, kok ragu ragu gitu mau ngomong"


"nggak kok btw selamat ya udah lulus pertukaran pelajar, padahal aku yang pengen ke korea"


"makasih, kapan kapan deh aku ajak ke korea"


"ha beneran, jangan basa basi aja kamu"


"oke aku pegang nih kata katanya ya, oke cepet istirahat lampu kamu matiin aja nanti si juli kesini lagi ngajakin kamu gibah"


"iya iya makasih ya mit"


Aku merebahkan kembali tubuh ku yang kembali kurang tenaga, aku melihat pergelangan ku tempat garis biru itu di pergelangan tangan ku. Aku membulatkan mata ku karna aku melihat garis itu perlahan seperti muncul perlahan di pergelangan tangan ku.

__ADS_1


"ha...berarti sebelumnya hilang kok bisa" aku melihat perlahan garis berwana biru mengkilap itu


melingkar sempurna di tangan ku. Aku mencoba menggosoknya lagi dan nihil, hasilnya seperti sebelumnya.


"aa moleugessda (aaah aku tidak tau)"


Aah kepala ku penuh pikiran negatif tentang Bagas karena semua kejadian aneh yang ku lalui akhir akhir ini. Malam itu aku tidur dengan perasaan tidak tenang, aku mulai berfikir apakah semua yang ku lalui saat ini ada kaitannya dengan Bagas atau aku harus percaya Bagas seperti keputusan ku saat aku menerima hatinya. Otak ku ribut campur aduk karena aku juga harus fokus pada study ku dan ditengah keributan yang bersarang di kepala ku malam ini, akhirnya aku memejamkan mata ku dan beralih ke alam mimpi.


Ditengah gelapnya dunia saat aku memejamkan mata, alam mimpi mulai melakukan tugasnya malam itu. Aku bermimpi, aku tengah hidup di tempat yang sangat indah padang bunga dan pohon pohon rindang yang indah bukan hal asing di tempat itu menurut pandangan ku bahkan aku merasakan sangat dekat dengan langit saat di mimpi ku. Aku sedang bersama seseorang teman lelaki di mimpi ku itu, aku sedang membuat sebuah rangkain bunga dan orang yang tak ku kenal itu menemani ku di hutan itu. Semakin lama rangakian bunga yang kubuat dari akar pohon sulur dan bunga itu kian besar dan terlihat seperti sebuah pintu. Teman ku yang menemani ku sebelumnya pergi untuk mencari bunga lonceng untuk melengkapi rangkaian bunga yang ku buat.


Saat menunggu kawan ku tengah mengambil bunga lonceng Aku melihat ada seorang lelaki yang melewati rangkaian bunga ku yang berbentuk seperti pintu itu, aku merasakan perasaan sangat bahagia kala seseorang itu datang menghampiri ku, namun saat ku lihat lagi ada seorang wanita yang mengikutinya dari belakang, namun wajah bahagia ku seketika hilang saat wanita yang berjalan di belakangnya tersenyum licik menatap ku, kemudian lelaki itu mengeluarkan pedang yang disarungkan sebelumnya dengan tatapan kosong dia menghunuskan pedangnya itu kepada ku namun secara tiba tiba kawan yang menemaniku sebelumnya mencoba menghalangi pedang itu agar tidak menusukku, tapi itu hal itu tidak pernah terjadi, pedang panjang yang di hunuskan lelaki itu menembus kita berdua, wanita yang bediri di belakang lelaki yang menghunuskan pedang itu tersenyum puas, belum jelas aku melihat wajah perempuan itu namun aku terbangun dari tidur ku karena alaram pagi ku berbunyi.


Perasaan kecewa masih memenuhi hati ini karena mimipi yang ku alami. Aku berpikir itu hanyalah bunga tidur tapi entah kenapa perasaan kecewa gadis yang merangkai bunga itu masih melekat di hati ku hingga bangun dari tidur ku pagi ini, seperti aku sendiri yang mengalami kejadian naas itu.

__ADS_1


__ADS_2