
Nasya masih terus menatap ku padahal aku sudah menyuruhnya untuk melihat sekitar, apa mantranya berfungsi atau tidak. Dia terus melihat ku tanpa berkedip sedikit pun, sudah hampir 1 menit waktu berlalu. (huft tenang jantung tenang, nanti Nasya bisa dengar kalo berdetaknya terlalu kencang) batin ku. Nasya akhirnya bertanya apa sudah boleh melihat sekitarnya, dan ternyata dia tidak dengar ketika ku persilahkan sebelumnya.
Dia terlihat sangat senang, untungnya cara ini masih berhasil meskipun hanya sebentar. Nasya berlari di mendahului ku karna indra ke enamnya di tutup dan tidak melihat sosok apapun, dia hanya belum tau indranya melebihi apa yang dia pikirkan, dia bahkan tidak perlu bertanya jika ingin mengetahui sesuatu pada orang lain.
Nasya memanggil ku untuk mendekat padanya, senyumnya yang indah terus merekah di bibirnya.
"why"
"thankyou" Nasya memeluk ku, ya Nasya memeluk ku dengan senyum lebar di bibirnya dan berterimakasih karna telah membantunya.
Aku sangat senang, aku rindu, aku sangat merindukan pelukan ini. Aku makin erat memeluknya, Nasya meremas baju ku seolah sangat mendalami pelukan ku. Dia melepas pelukannya dan menatap wajah ku dengan ekspresi datar.
"kamu nggak lagi suka aku kan" tanyanya dengan wajah datar dan polos
(ah gawat, apa jantung ku berdetak sekencang itu saat memeluknya hingga dia mendengarnya) batin ku sedikit panik tapi tetap mempertahankan wajah cool ku. Aku mengalihkan pembicaraan dan menyuruhnya untuk segera menemui kak Arkan karena kita sudah cukup lama di lorong.
Aku hanya menyerahkan Fotokopi KTP ku pada pak Agung dan menunggu Nasya di kelas pojok, tempat pertama kali aku menemukannya. Aku memainkan Hp ku dan memantau keadaan perusahaan ku yang ada di korea dan jepang. Aku melihat pendapatan di kedua perusahaan tahun ini sangat meningkat.
"oke good" saat memeriksa pekerjaan, aku mendengar samar samar langkah kaki mendekat ke kelas itu dan siapa sangka, itu Putri sahabat Nasya. Dia berdiri di ambang pintu dan melihat ku dangan tatapan anehnya.
"ada apa kau kesini, kau mau menunggu Nasya"
"aniyo (tidak)" jawabnya sambil tersenyum smirk
Aku mengerutkan dahi ku, kenapa dia bisa berbahasa korea, dan aksennya sangat tepat
"hangug saramieyo(kau orang korea)" tanya ku padanya
Putri tidak menjawab pertanyaan ku, dia berjalan mendekati ku dengan senyum aneh yang di gambarkan di wajahanya. Dia berhenti di depan ku dan menurunkan wajahnya tepat di depan wajah ku. Aku berusaha tidak menggubrisnya dan melihat layar Hp ku kembali.
"oraenmaniya, Yul (lama tidak bertemu, Yul)"
Aku membulatkan mata ku kaget, aku yang semula melihat ponsel ku dan ingin mengabaikannya berbalik membalas tatapan matanya yang tampak licik itu.
"neo nuguya (kau siapa)" tanya ku sambil melihatnya dengan sinis, dari mana dia mengetahui nama itu.
"neodo nal ijeossni yul anira gyuriya (kau bahkan melupakan ku yul tapi tidak dengan gyuri)" dia memutar matanya seperti tidak suka dengan kenyataan bahwa aku tidak mengingatnya
"han beon deo mureobolge, neon nuguni? (aku akan bertanya sekali lagi, kamu siapa)"
__ADS_1
"naneun sarang, sarangui yeosin, beibi (aku adalah cinta, dewi cinta, sayang)" Putri berkata sambil mengelus pipi ku pelan. Aku menepisnya kasar karna aku tidak menyukainya.
"kenapa kau memanggil ku seperti itu, bahkan kita tidak pernah dekat sekalipun"
"emmm karna aku menyukai mu" jawab Putri sambil memegang tangan ku, aku menepisnya keras hingga tangannya terbentur di meja.
"sudah ku bilang jangan menyentuh ku"
"wah kau tetap kasar seperti dulu pada ku, tapi tidak apa karna kau sangat tampan"
(Wah ada apa dengan dewi satu ini, dimata ku dia hanya nafsu yang menyalah gunakan kekuatannya pada makhluk yang ingin dia miliki) batin ku.
"Yul... Saran ku jauhi Gyuri, apa kau ingin dia mati untuk kedua kalinya hahaha"
Aku tidak tahan lagi dengan ocehan makhluk yang ada di depan ku ini, aku reflek mencekik lehernya karena terlalu marah. Dia seperti meremehkan kelemahan orang lain dengan tawa hinanya itu.
"Tertawalah, maka aku akan menghancurkan mu dalam sekali tatap, aku masih dewa kehancuran dan kau adalah manusia biasa sekarang"
"hahhah aku juga masih dewi cinta meskipun aku manusia biasa apa kau tidak tau itu"
"apa aku tampak peduli"
"hahahah terserah, aku hanya memberi tau mu"
"pergilah, atau kau mau sahabat mu melihat sifat busuk mu itu"
"ahk... oke aku akan pergi, tapi ku ramal Gyuri akan meninggal untuk keduakalinya di tangan mu hahaha"
(NUN) batin ku, mata biru ku kembali menguasai mata ku, aku mendekati Putri dan menyuruhnya menatap mata ku denengan paksa. Dia membualatkan matanya saat melihat mata biru ku tengah menguasai tubuh ku.
"selamat menikmati kesialan yang ku berikan selama seminggu, hawa nafsu menjijikkan"
"aw..." Putri berdiri dan keluar banyak darah dari hidungnya dan dia akhirnya meninggalkan ku sendirian
"waaah.. Aku terlalu lama memperlihatkan NUN pada nya, mungkin pembuluh darahnya pecah"
Aku kembali duduk dengan perasaan kesal, aku memainkan Hp ku lagi sambil menunggu Nasya menyelesaikan urusannya, dan tak lama kemudian Nasya menghampiri ku ke kelas. Aku tersenyum saat melihat Nasya menghampiri ku (Entah sejak kapan aku tersenyum terakhir kali, tapi akhir akhir ini aku sepertinya sering melakukannya) batin ku.
"apa sudah selesai" tanya ku pada Nasya sambil tersenyum
__ADS_1
"iya sudah"
"Bagas kamu lapar nggak, makan di kantin luar yuk aku yang traktir"
Tapi entah kenapa langkah Nasya terhenti, dia memegang dadanya seperti kesakitan dokumen yang di pegangnya jatuh berhamburan. Aku kaget dan langsung berdiri menopang tubuhnya yang jatuh lemas karena sakit yang tidak ku ketahui.
"Sya... Nasya lo kenapa kenapa Sya" panggil ku panik sambil menepuk nepuk pipinya pelan, Namun di tengah kesakitannya itu Nasya memegang pipi ku dan aku sangat terkejut dengan perkataan yang di ucapkan Nasya. Kata kata yang di ucapkan adalah kata terakhir yang kudengar dari mulutnya kala itu.
"Yul... Gwencana" tangannya jatuh dan Nasya kehilangan kesadarannya
Aku membulatkan mata ku, (dia mengingat ku, sungguh) batin ku kaget.
"andwe... Gyuri ironwa, yuri jebaaal (tidak.. Gyuri bangun, Yuri kumohon)"
"mianhe Yuri a (maaf Yuri)"
Aku mengambil tasnya dan Hpnya yang jatuh dan ingin membopongnya, saat tengah mengambil tasnya, Putri kembali lagi kedalam kelas itu dengan wajah tidak pedulinya.
"waaah... Apa dia sudah mati" ucap Putri dengan senyum senangnya seolah dunia berpihak padanya
"diam dan bereskan dokumennya kalau kau masih mau di anggap teman yang baik"
"enak saja... HYA"
Aku tidak memperdulikan Putri dan segera membopong Nasya ke mobil ku dan sesegera mungkin ke rumah sakit terdekat. Beberapa orang yang melihat ku membopong Nasya bertanya ada apa tapi tidak ku perdulikan. Aku segera berlari dan melajukan mobil ku secepat mungkin. Setelah sampai aku dengan segera memanggil perawat untuk melakukan penanganan.
"beri dia kamar naratama aku akan mengurus semuanya" kata ku pada perawat yang menanganinya.
"baik pak, akan saya sampaikan" mereka membawa Nasya untuk di tindak lanjuti dan aku pergi ke bagian administrasi untuk mengurus sisanya.
Aku menuju ke kamar tempat Nasya di rawat, masih ada dokter disana dan dua perawat lainnya. Mereka tengah memerikasa nadi Nasya tapi mereka terus membahas sesuatu, aku yang penasaran memcoba masuk ke dalam ruangan itu
"bagaimana keadannya dok"
"dia baik baik saja, tidak ada penyakit lain selain magh, tapi anehnya nadi dan jantungnya lemah tapi tidak ada masalah pada jaringan jantungnya jadi saudara Bagas tidak perlu khawatir, biasanya ini terjadi saat tubuh kita sangat lelah. Nanti akan saya resepkan obat ya nak Bagas, nanti kalau saudari Nasya sudah siuman boleh konfirmasi ke saya lagi"
"trimakasih dok"
Dokter dan kedua suster itu beranjak meninggalkan kami. Aku duduk di samping Nasya sambil memegang tangannya, tidak terasa airmata ku keluar tidak berhenti, aku menangis sejadi jadinya dengan suara tertahan. Bagaimana jika yuri pergi untuk kedua kalainya seperti yang di katakan Putri sebelumnya. Aku yang menangis perlahan tertidur disamping nasya sambil memegang tangannya
__ADS_1
FROM AUTHOR
["lakik kok cengeng, cemen banget lu" mungkin sering kalian mendengar kata kata itu, cowok tu identik harus kuat dan tidak mudah goyah. Tapi percayalah, ketika mereka menangis untuk kita, tulus yang mereka berikan pada kita itu bukan dusta, cinta mereka pada kita itu bukan tak ternilai. Jadi jangan memandang rendah tangisan mereka, karna kalian para cewe cewe tau sesayang apa mereka sama kamu hingga harus mengeluarkan air mata mereka yang bahkan keluarganya sendiri mungkin belum pernah melihat mereka menitikkan airmata] populasi seperti ini sangat minim di muka bumi😅