Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 4 LUPA


__ADS_3

Alaram ku berbunyi kencang mengganggu tidur ku pagi itu aku berusaha membuka mata ku di tengah cahaya matahari yang terpancar cerah melewati jendela yang tidak terhalang horden, aku memicingkan mata ku dan berusaha untuk segera duduk kepala ku sangat sakit entah kenapa. Aku mencari Bagas yang harusnya tidur di samping ku tapi tidak ada. Aku turun dari tempat tisur dan segera membersihkan diri ku di kamar mandi agar sakit kepala ku lekas membaik.


Setelah menyelesaikan mandi ku, aku menuju ke dapur untuk mencari air karena tenggorokan ku begitu kering dan disaat aku berbalik aku mendapati Bagas yang sedang tidur di sofa depan dengan kaos berbeda dari yang dipakainya semalam. Aku menepuk dadanya untuk membangunkan Bagas yang masih tidur di sofa.


"Bagun udah siang"


"Aduh Nasya sayang sakit loh" Bagas mengaduh kesakitan saat aku menepuk dadanya pelan


"Aduh maaf, perasaan aku nggak keras deh mukulnya" kata ku sambil mengusap pelan bagian yang ku pukul tadi


"Aduuuh jangan di pegang" Bagas mengaduh lagi padahal tidak aku pukul


"Kamu kenapa siiih sakit"


Aku mebuka baju Bagas dan aku kaget banyak bekas gigitan dan luka lecet di badannya, bahkan putingnya lecet parah seperti habis mengeluarkan darah. Aku membulatkan mata ku dan segera mencari kotak p3k yang kemarin di gunakan Bagas di ruang Tv dan kembali ke sofa depan, aku menyuruh Bagas melepas Bajunya agar tidak mengganggu saat aku mengoles salep.


"Bagas kamu habis ngapain kok sampe kaya gini, siapa yang bikin kamu kaya gini"


"Sayang kamu beneran lupa kejadian semalam"


"Lupa, aku melupakan apa memangnya semalam"


Aku mengingat ngingat apa yang terjadi semalam karena aku betul betul melupakannya dan perlahan lahan aku mengingatnya mulai dari kejadian di balkon dan seterusnya, bagaimana aku dengan brutal mengigiti badan Bagas yang ku kira roti dan seterusnya. Aku menutup mata ku dengan tangan karena malu, aku membuat kesalahan hingga Bagas terluka seperti ini.


"Sudah ingat sayang?"


"Maaf Bagas pasti sakit banget"


"Salah aku sayang taro Amer sembarangan it's oke"


"Pasti kamu kesusahan banget tadi malam"


"Iya sayaaaang susah banget 1000/10 susahnya, hampir saja semalam kalo aku nggak kuat iman" goda Bagas sambil tertawa kecil, wajah ku kian memerah saat bagas terus menjaili ku, aku menekan luka lecet yang ada di perutnya dan Bagas pun mengaduh memohon ampun.


Aku melanjutkan mengobati badan Bagas yang penuh luka dengan salep. Setelah mengobatinya aku membuatkan sarapan untuk Bagas yang sedang tidak berdaya itu.


"Bagas ayo makan, kamu pengar ya tapi aku cuma masak roti telur"


"Nggak apa apa sayang ayo makan"

__ADS_1


"Oh ramyeon bogolle?, tapi aku ragu kau punya mi instan di rumah"


"Tenang banyak kok, coba kamu buka laci paling pojok kanan"


Aku berjalan dan mencari laci yang di maksud oleh Bagas dan walaaa banyak banget farian rasanya.


"Uuuu lengkap banget"


"Iya dong, aku kan rajin ya😌"


"Kamu sering minum amer ya sampe nyetok indomi sebanyak ini"


"Enggak Sya itu karena aku suka saja sumpah deh"


Aku mengambil 2 indomi yang sama rasa dan memasaknya lalu kita makan bersama di meja makan.


"Emmmm seger banget sakit kepala ku rasanya langsung hilang" kata ku sambil menutup mata merasakan segarnya kuah mi instan masuk kedalam perutku.


Aku menyelesaikan makan ku dan membereskan barang barang yang ada di rumah Bagas karena aku akan kembali ke kos sore ini.


"Yaaang tinggal sama aku aja yuuuk"


"Enggak sih aku takut dosa mau ngelawan orang tua, sering sering kesini ya besok"


"Iyaaa" jawab ku dengan senyuman


Bagas mengajak ku menikmati teh di balkon kamarnya sambil menunggu jam menunjjukkan pukul 15.00. Kami banyak bercerita dan bercanda sambil menghabiskan waktu tersisa.


"Nasya, orang korea kan? Nama korea kamu apa sayang" tanya Bagas di tengah percakapan kami


"Nama korea aku Gyuri... Kim Gyuri, cantikkan"


"Waah ternyata aku menemukan permata ya, beruntung banget aku" kata Bagas sambil senyum senyun


"Hahaha kok kamu tau arti nama ku permata"


"Tau doong, tapi kamu tau apa yang lebih mengagetkan"


"Enggak... apa tuh"

__ADS_1


"Aku juga orang korea loh, aku bahlan punya rumah disana"


"Sungguh, kamu orang korea ada campurannya nggak yank"


"Semen kali yank pake campuran" kata Bagas bercanda dengan ku


"Bukan itu maksudnya sayaaaangg"


"Nasyaa memang kamu nggak sadar selama ini, kalo kamu pake bahasa korea aku nggak pernah permasalahin loh"


"Lah iya juga ya hehe"


Aku memperhatikan Bagas yang sedari tadi memaju majukan bajunya marena tidak nyaman dengan luka di badannya.


"Bagas masih sakit ya, besok nggak usah masuk sayang kalo kesenggol pasti bakal sakit banget"


"Harus masuk dong, bentar lagi kita mau pertukaran pelajar loh"


"Iya sih, oh iya Gas kan pertukaran mu di hongkong selesai duluankan ke korea lah, kita liburan bareng kan di kasih waktu libur tuh seminggu"


"Wah ide Bagus, aku sangat rindu korea"


"Nanti ikut kerunah nenek aku ya, nenek aku punya kebun jeruk luas banget nanti kita panen bareng bareng"


"Oke yuri sayang" Bagas mencium pipiku mengoyakan ide ku, aku sudah tidak sabar menunggu hari liburan kita datang.


Jam sudah menunjjukkan pukul 15.15, Bagas mengantar ku sampai ke lobi bawah apartemen dan memesankan ku taksi, setelah menunggu beberapa saat taksi yang Bagas pesan datang, Bagas mengantar ku sampai masuk kedalam mobil taksi. Bagas mengetuk kaca depan tempat pengemudi berada.


Tok tok tok "Bapak tolong antar pacar saya dengan selamat, kalau sampai terjadi apa apa bapak tidak akan membawa mobil ini lagi"


"Baik pak akan saya antar dengan selamat Bapak tidak perlu khawatir" jawab sopir taksi itu ramah dengan senyumnya


"Bagas nggak sopan, minta maaf"omel ku karna pada Bagas karena sudah tidak sopan pada yang lebih tua.


"Maaf Bapak" kata Bagas sambil menundukkan kepalanya


"Mboten nopo nopo mas (nggak apa apa mas)" jawab bapak itu ramah masih dengan senyumnya itu.


Taksi yang kunaiki mulai meninggalkan Bagas yang berdiri di luar yang semakin lama semakin jauh.

__ADS_1


__ADS_2