Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 9 PENIRU YANG SEMPURNA


__ADS_3

Di ruangan putih dengan tirai biru itu, Yul terbaring setelah tangannya mendapat tujuh jahitan pada nadi dan daging pergelangannya yang sudah dia sayat. Gyuri memperbaiki selimut yang Yul gunakan di kamarnya dengan wajah datar seribu makna, terlihat mama, papa,dan Aksa duduk di samping Yul, mereka menatap lelaki yang ada di hadapan mereka dengan tatapan cemas dan khawatir.


“eomma, appa, namdongsaeng, jibewa Yulineun yeogiseo naega dolbwa julge (mama, papa, dan adik pulang lah aku akan menjaga Yul disini)”


“hajiman neon byongwoni nunareul musowohe, nega dolbwajulge(tapi kamu takut rumah sakit kak, biar aku saja yang menjaganya)” tawar Aksa kepada kakaknya


“jibe dorawa geuwa danduri sigani piryohae emm (pulanglah, aku perlu waktu berdua dengannya emm)”


“Arasseo nuna, osneun kkog garaibo, deorowo (baiklah kak, pastikan kaka mengganti baju, ini kotor)” ucap Aksa sambil menggulung lengan baju kakaknya yang berlumuran olehdarah Yul


“eumm.. arasseo (emm baiklah)”


Semua kelurga Gyuri pamit untuk kembali kerumah, Aksa sangat berat meninggalkan kakaknya hanya berdua di rumah sakit, Aksa tau betul bagaimana kisah kakaknya dan rumah sakit, bahkan dahulu dia tidak mau sedikitpun menginjakkan telapak kakinya di Gedung rumah saki. Namun pemandangan yang Aksa lihat sudah berbeda saat ini.


Kakaknya bahkan berlari menutup luka orang yang baru dia kenal, yang bahkan luka itu bahkan masih bercucuran darah dan kakaknya menutupnya dengan kedua tangannya sendiri tanpa ada rasa takut seperti dahulu. Kakaknya bahkan berlari memasuki rumah sakit tanpa rasa cemas dan panik sedikitpun. Aksa membuang nafas berat dengan pikiran pikiran miring yang ada di otaknya.


...****...


Aksa berjalan melewati Lorong rumah sakit dengan pandangan kosong, mengambil Langkah demi Langkah, Aksa sudah tidak perduli dengan sosok sosok yang membuatnya muak di samping kiri kanannya. Namun dengan satu lirikan mata Aksa sosok itu sampai lari menjauh dan ketakutan.


Ya… Aksa tidak jauh berbeda dari kakaknya, dia bisa melihat semua apa yang orang lain tidak bisa lihat, semuanya termasuk sihir dan kutukan. Aksa sedikit berbeda, dia tidak pernah panik dengan kelebihannya ini, dia bahkan cenderung mempelajari dan memahami indra yang dia punya agar bisa dia manfaatkan, untuk dirinya maupun untuk keluarganya.


Aksa bahkan salah satu garda terdepan perusahaan papanya dalam urusan menangkal sihir dan guna guna, tidak jarang perusahaan papanya kedatangan tamu goib dari rival rival yang iri pada kejayaan papanya, Aksa bahkan sudah berulang kali memberi tau ayahnya agar tidak memebangun perusahaan di Indonesia karena dia bukan hanya berbisnis melawan orang orang yang jujur dan kompeten, tapi juga dengan dukun dukun konyol yag membantu para pengusaha itu berbisnis secara kotor, namun bliau menolak dan tetap mendirikan perusahaannya di Indonesia.


Duk..

__ADS_1


“aduh”


Aksa mengaduh mengelus jidatnya yang terhantuk pintu kaca Rumah sakit. Mama dan papanya spontan berbalik arah mendengar suara dentuman, mereka melihat Aksa yang tiba tiba mengaduh cukup keras dan sedang mengelus elus jidatnya.


“Aksa kenapa nak?” papanya segera menghampiri Aksa yang masih berada di balik pintu kaca rumah sakit itu


“hahaha ya ampun nak, kamu ya, hati hati dong kalau jalan hahaha” mamanya segera menghampiri anaknya yang kesakitan itu di iringi tawa karena kejadian yang bliau lihat cukup lucu untuk membuatnya tertawa.


“iih mama… bukannya di bantuin, malah ketawa” kata Aksa mengomel dengan mulut cemberut


“iya nih mama gimana sih” ucap papa membela namun dengan tawa yang tertahan


“hahaha ya ampun liat papa kamu, kkkk hahaha pipinya”


“ah nggak mood ah…udah pulang yuk”


Mobil yang mereka kendarai berhenti di lampu merah menunggu lampu kembali hijau, Aksa yang sedari tadi bersandar di kaca mobil akhirnya membuka kata malam itu ditengah kemaceten lampu merah dan suara klakson mobil dan motor di kanan kiri mobil mereka.


“ma, pa… kalian ngerasa kejadian dirumah pagi tadi tu aneh nggak?”


“ya anehlah sayang, tapi kok tumben kamu nggak bereaksi apa apa, biasanya kalo ada hal kaya gitu yang paling pertama tau kamu loh?” kata mamanya juga bingung dengan kejadian pagi tadi


“kayanya kak Yul bukan tipe orang yang akan bunuh diri dengan semua yang dia miliki, terlebih lagi… perasaannya saat ini pasti sedang senang senangnya” jelas Aksa dengan ekspresi yang terlihat seperti sedang memecahkan teka teki


“betul juga nak, tapi… kamu bukan mikirin itukan sampe kejedot pintu rumah sakit?” ucap papa yang tengah mencairkan suasan tegang di dalam mobil dengan menggoda anak lelakinya

__ADS_1


“apa lagi sih paaa” dengus Aksa kesal karena terus dikerjai


“jujur saja sama papa, kamu heran kan kakak mu berubah dan jadi lebih berani, hahaha” tawa papanya pecah setelah menghabiskan kalimat yang dia ucapkan


“ih enggak kok… bagus dong kakak lebih berani sekarang” sela Aksa dengan wajah sedikit tertekuk yang tidak bisa dia sembunyikan


“tapi kalo aku yang sakit… apa kakak akan seberani itu juga?”


suara Aksa kian memelan menghabiskan kalimat yang dia ucapkan. Dia wajahnya tergambar warna kecewa yang tidak lagi bisa dia elakkan. Mamanya tersenyum dan meletakkan tab yang sedari tadi bliau pegang dan beralih pandangannya kepada anak lelakinya Aksa yang sedang duduk sendirian di belakang.


“nae adeula neohui dul da Gyurige sojunghageoniwa mueoseul geogjeonghaneunya? (anak ku, mama yakin kalau kalian berdua itu penting bagi Gyuri, jadi apa yang kamu khwatirkan?)” ucap mamanya dengan senyum menenangkan, yang membuat Aksa cukup tenang malam itu


Sesampainya di rumah, Aksa mencoba menuju tempat kejadian dimana Yul tengah berdarah darah karena sayatan cuter. Aksa berhenti di depan pintu ruang meeting itu, terlihat tepat didepannya ada paman berbaju lusuh yang sudah lama berdiam diri di depan ruang meeting itu.


Aksa mendekatinya dan berbicara dalam hati,


"paman, bisa jelaskan pada ku kejadian apa yang terjadi pagi tadi diruangan itu?" ucap Aksa di dalam hati dengan santai dan tatapan mendominasi kepada makhluk astral yang tengah tertakan dihadapannya itu


"kehancuran kehancuran kehancuran" sosok itu hanya berkata satu kalimat yang terus dia ulang ulang membuat Aksa mengerutkan keningnya bingun


"bicara yang jelas atau aku usir dari sini"


"dia kehancuran, aku takut dan hanya menunduk hormat" ucap sosok itu dengan suara bergetar takut, darah yerus keluar dari mulutnya, makin deras dan membasahi baju lusuh dan lantai yang ada di bawahnya


Aksa makin bingung, yang sosok itu jelaskan hanya tentang kehancuran, Aksa membuka pintu ruang meeting itu. Lantai yang tadinya tergenang oleh darah sidah kembali putih bersih karena sudah di bereskan oleh orang suruhan papanya.

__ADS_1


Aksa melihat sekeliling ruangan itu dan memastikan sosok yang meniru papanya itu sudah tidak ada di dalam rumah lagi. Aksa mencoba berfikir lagi, (apa yang meniru papanya itu namanya kehancuran?) batin Aksa. Tapi otaknya terlalu buntu untuk memikirkan hal rumit itu malam ini. Tubuhnya lelah dan ingin istirahat, akhirnya dia memilih tidur dan melanjutkan teka teki ini besok.


__ADS_2