
aku dan Nasya melanjutkan kegiatan kami sebelumnya, kita memutar film komedi dan menontonnya bersama dengan Nasya, terdengar tawa kecilnya karna adegan lucu di film yang kami putar tapi aku tetap memasang wajah datat dengan seribu pikiran dan pertimbangan tentang keputusan yang sudah aku ambil. Nasya tiba tiba mematikan film yang mita nonton bersama dan panik mencari Hpnya, dia bergegas menuju ruang tamu tapi tidka menemukan Hpnya disana
"di kamar sayang"
"oh iya"
Dia menjelaskan bahwa Putri siang ini akan ke kosnya namun dia masih di rumah ku. Aku memberi taunya agar menjelaskan apa yang terjadi, dan dia membala pesan pesan Putri dengan cepat (haah harusnya dia tidak usah sebaik itu pada si muka dua) batin ku kesal.
Nasya membuang nafas lega dan melempar tubuh ya di kasur, dia berkata pada ku bahwa dirinya juga harus segera pulang karena sudah tidak punya baju lagi. Aku menahannya karna ini masih hari sabtu masih ada waktu untuk menikmati waktu bersama sampai esok, aku mengajaknya berbelanja di lantai dasar agar mengundur waktunya pulang. Dia memasuki toko yang paling sepi oleh pengunjung agar cepat kembali ke Apartemen dan toko itu adalah Dior,
"pilihan bagus sayang"
Dia hanya memilih sepasang piama dan berjalan menuju kasir, aku menyuruhnya mengambil beberapa pakaian lagi untuk berjaga jaga tapi dia menolak, aku tetap mengambilnya dan membayarnya di kasir karna aku tau dia akan menolak.
Aku dan Nasya hendak pulang karena sudah selesai berbelanja, tapj saat hendak pulang dia menyuruh ku menunggunya karena lupa membeli sesuatu. Aku menawarkan diri ku untuk ikut, tapi dia melarang keras dan menyuruh ku menunggunya di salah satu kursi yang berada disana. Tidak lama kemudian dia berjalan mendekati ku.
"beli apa"
"ssst rahasia"
Nasya tersenyum sambil berjalan mendahuluiku, ketika berada tepat di depan lift dia mengehentikan langkahnya menunggu ku mendekatinya. Dia bahkan tidak memencet tombol lift agar pintunya terbuka. Aku menekan tombol lift agar pintu terbuka, amu faham Nasya masih takut dengan kejadian itu, tapi aku memastikan bahwa tidak akan ada apa apa di dalam. Nasya memegang tangan ku, sangat erat hingga aku hingga aku bisa merasakan tangannya bergetar.
Kita memasuki lift dan tangan Nasya semakin erat menggenggam ku. Aku merangkul dan menenangkannya, derajatnya bahkan lebih tinggi jadi apa yang harus dia takutkan. Pintu lift terbuka dan menunjjukkan lorong pintu rumah ku, terlihat para makhluk makhluk halus itu berbaris menunggu di luar bahkan enggan mendekat ke pintu rumah ku.
Aku membuka pengaturan pintu ku dan mengatur sidik jari agar Nasya bisa masuk dengan nyaman. Aku menyuruhnya mencoba membuka pintu rumah ku dan itu berhasil. Aku mempersilahkannya masuk kedalam. Kita duduk di sofa, perut ku sudah mulai lapar lagi karena berkeliling untuk belanja.
__ADS_1
Aku memasak beef teriyaki, Nasya menolak untuk makan karena masih kenyang, tapi aku tidak yakin Nasya akan menolak beef teriyaki buatan ku yanh aromanya ljar biasa ini, aku cukup lama tinggal di jepang dan aku belajar beberapa masakan jepang dan benar saja dia tidak tahan dan ikut makan bersama ku.
Aku menyuruhnya untuk menghentikan dietnya karna badannya sudah terlalu kurus, bahkan tulang tulang tulang tangannya terlihat sangat jelas. Aku mengambil tangannya yang kecil itu dan memperlihatkan kepadanya. Nasya menarik tangannya sambil tersenyum dan menyudahi makannya. Makanannya bahkan masih setengah mangkuk (apa aku menyinggung perasaannya lagi) batin ku. Aku menyusulnya ke ruang TV dan duduk di sampingnya.
Aku bertanya pada Nasya dengan ragu, apa aku salah bicara saat di meja makan dan aku sangat kaget mendengar ceritanya, tentang kisah dimana dia harus menjaga badannya secara berlebihan. Dia pernah di buli saat dia sekolah di Korea, aku sangat menyesal membahas tentang itu saat makan tadi, aku mencoba menanyakan nama pembuli yang pernah mengganggunya tapi dia menolak karna kejadiannya sudah lama.
Dia terlihat sangat sedih saat menceritakan kejadian itu, dia menangis di pelukan ku aku merasa sangat marah hingga tidak sadar NUN muncul dimata ku, Nasya mengangkat wajahnya lalu menatap ku sejenak yang tanpa ku sadari bahwa NUN tengah muncul, aku menutup matanya dengan tangan ku agar mata ku tidak terlihat lagi di pandangannya. Aku menenggelamkan wajahnya di pelukan ku dan memeluknya erat.
Entah kenapa saat memeluknya dia sangat berkeringat, namun aku makin bingung keringat itu makin banyak tidak seperti keringat yang keluar perlahan, padahal AC di ruangan itu 16°c, aku melihat tangan ku dan betapa kagetnya aku bahwa yang ku pegang dan ku rasakan bukan lah keringat melainkan darah, darah yang mengalir tidak berhenti. Aku membuka baju bagian belakangnya dan melihat luka apa yang berdarah begitu banyak.
Aku sangat terkejut, badan ku rasanya membeku, luka bekas tusukan pedang ku yang membekas di tubuhnya tiba tiba terbuka menjadi luka seperti saat aku menusuknya kala itu, aku menutupnya dengan tangan ku agar darahnya tidak terus mengalir, pipiku sudah basah berlinang ait mata dan tidak tau harus melakukan apa.
"Nasya.. Nasya"
Aku menelfon dokter untuk datang memeriksa keadaan Nasya, saat dokter yang ku panggil datang, dia sngat kaget dengan apa hang dia lihat.
"apa dia korban pembunuhan" tanya dokter itu kaget melihat darah yang begitu banyak di baju Nasya.
"bukan dia masih hidup, cepat periksa saja dan jangan banyak tanya" kata ku pada dokter itu, dokter itu hanya mengiya dan segera memgeluarkan alat alatnya
"bagaimana keadaanya" tanya ku cemas
"tanda vitalnya baik baik saja tidak ada yang salah, hanya saja dia kekurangan banyak darah jadi dia perlu tranfusi, bapak kalu boleh tau kenapa pasien bisa berdarah sehebat ini, apa dia terluka"
"tidak ada apa apa, ambilkan saja kantung darahnya dan segera rawat dia, disini"
__ADS_1
"baik bapak"
Dokter itu kembali ke rumah sakit untuk mengambil stok kantung darah untuk tranfusi Nasya. Aku hanya duduk disamping Nasya yang sedang terbaring, penuh darah di bajunya namun aku memilih untuk tidak menggantinya, aku sudah faham dia seperti apa.
(kenapa lukanya bisa seperti ini, apa karna dia sedih atau karna menatap NUN yang tiba tiba muncul tadi) batin ku, aku berfikir segala kemungkinan dan kemungkinan besar penyebabnya adalah aku.
Aku mengambil posel ku yang berada di atas meja dan menelfon seseorang dan menelfon detektif kepercayaan ku.
"anna naneun doumeul yocheonghago sipeo (anna aku ingin meminta bantuan)" kata ku berbicara pada orang di balik telfon
"pihaeja gimgyuliwa hamkke seouljunghaggyo jeoncheui wangttaleul josahago singohae juseyo (selidiki tentang pembulian di seluruh SMP soul dengan korban kim gyuri, dan laporkan pada ku)"
Aku menutup telfonnya dan menaruhnya di atas meja, aku hanya berdiam menunggu Nasya sadar. Tidak lama kemudian dokter yang ku panggil sebelumnya datang bersama seorang suster dan segera memasang kantung tranfusi darah.
"dokter anda boleh pergi tapi biarkan suster anda disini untuk mengamati keadaan Nasya, saya tau anda sangat sibuk, terimakasih atas pertolongannya" kata ku sambul membungkuk trimakasih pada dokter yang mengurus Nasya.
"sama sama saudara Bagas, saya sangat mengerti kekhawatiran anda terlebih keadaan pasien seperti ini, suster tolong pantau kondisinya dan catat semuanya, jika tranfusinya sudah selesai suster bisa kembali ke RS, baik permisi saudara Bagas" pamit dokter itu lalu dia buru buru pergi meninggalkan kami.
"pak Bagas apa perlu saya ganti Baju pasien" tanya suster itu pada ku
"tidak usah, dia akan marah jika tau aku memanggil dokter"
"baik pak"
Jam sudah menunjjukkan pukul 17.00, kantong tranfusi darah yang Nasya pakai sudah habis dan suster itu pamit pulang, dia menyuruh ku untuk melaporkan jika terjadi sesuatu pada Nasya. Aku berbaring di samping Nasya menunggunya sadar, tapi tidak terasa aku ikut tertidur disampingnya.
__ADS_1