
Aku menyuruh Hendra untuk memasuki kelas terlebih dahulu karna aku membuat alasan untuk pergi ke kamar mandi. Aku mencuci muka ku di westafel kamar mandi, mata biru ku terus saja bersinar tanpa bisa ku kendalikan hari itu. Bisa berbahaya jika ada yang melihatnya, mungkin mereka yang melihat akan mendapat kesialan atau musibah.
"ah bagaimana ini, akan sulit jika aku berbicara pada orang lain dengan mata seperti ini" kata ku pelan sambil memandangi diriku di depan kaca besar itu.
Aku menarik nafas ku dalam dalam dan menenangkan diri ku setenang tenangnya, akhirnya setelah beberapa saat mata ku kembali seperti orang biasa. (efek apa ini, tidak biasanya seperti ini) batin ku. Terlihat jelas di kaca besar itu para demit di kamar mandi tengah mengintip ku di setiap bilik kamar mandi. Aku melirik kebelakang dengan tatapan tajam ku lalu berkata.
"enyah lah, atau akan ku musnahkan kalian semua demit jelek" ancam ku pada makhluk yang tengah intip intip itu.
Aku menyudahi urusan ku lalu segera pergi ke kelas, aku memasuki kelas dan melihat Hendra tengah mengobrol asik dengan Nasya, aku datang menghampiri Hendra, saat melewati Nasya aku tidak sengaja melihat garis biru seperti gelang di pergelangan tangannya menandakan jiwanya tengah terikat. Aku datang dan menaruh tas ku di samping Hendra
"gobrolin apa sih seru banget" tanya ku penasaran
"KEPO" sahut mereka bersamaan
"dih kompak bener"
Aku duduk di samping Hendra, tidak berselang lama dosen kami masuk dan memulai pelajaran, aku melihat teman Nasya tengah menanyakan apa yang ada di pergelangan tangannya, Nasya memggeleng tidak tau dan setelah itu Putri teman Nasya itu melirik ke arah ku dengan tatapan sinis. Aku mengernyitkan dahi ku bingung, (kenapa dia melihat ku seperti itu dan kenapa dia bisa melihat garis itu, apa dia juga istimewa seingat ku dia tidak bisa melihat hal hal seperti itu) batin ku.
Aku tengah fokus pada pelajaran dosen untuk memajukan perusahaaan perusahaan yang tengah ku bangun😏, tak jarang aku membicarakan tentang strategi bisnis pada tetua tetua itu, yah meskipun aku lebih tua. Aku melihat Nasya tengah sibuk dengan Hpnya dan setelah ku intip, Arkan😒, dia selalu menagih pekerjaan pada Nasya dan bahkan pada jam pelajaran berlangsung. Aku menepuk pundak Nasya dan mau berbisik padanya untuk belajar dulu. Namun Nasya tiba tiba berbalik, wajah kami bertemu sangat dekat, bahkan aku bisa melihat mata indahnya sedekat ini setelah sekian lama. Aku membuyarkan tatapan ku dan mendekati telingan Nasya
__ADS_1
"Belajar"
"ck apa sih"
Aku menarik panjang nafas ku untuk menenangkan jantung ku yang berdebar kencang tidak karuan. Hendra yang menyadari pergerakan ku itu menertawai ku pelan.
"salting lu" kata Hendra menertawakan ku pelan
"ck diem nggak lu"
Aku melanjutkan pelajaran yang di terangkan dosen, tidak terasa pembelajaran hari itu selesai, aku membereskan buku ku dan memasukkan ke dalam ransel, hari itu Hendra akan ke apartemen ku untuk menginap disana karena besok hari libur. Tapi saat sedang membereskan peralatan ku, aku mendengar bahwa Nasya akan menemui kak Arkan, aku langsung berfikir tidak mungkin ada di akademik bagian depan. Aku melihat Nasya pergi dengan terburu buru (dasar Arkan sialan) aku pamit pada Hendra untuk pergi menemui pak agung untuk mengumpulkan Berkas dan aku mengundur janji kita untuk bermalam di apartemen ku malam ini.
"aaah jebal (aahh kumohon)"
(Malam ini adalah blood moon pasti sangat padar di lorong itu) batin ku. Akhirnya aku dapat menyebrang, aku berlari menyusul Nasya dan benar saja dia tengah berdiri di bibir lorong sambil menutup wajahnya. Tangan ku ingin memeluknya, tapi terhenti, ku belum sanggup melakukannya. Aku menurunkan tangan ku dan memilih untuk memanggilnya.
"Nasya, Sya" panggil ku pelan, tapi dia tidak merespon ku aku menepuk lengannya agar dia mengangkat kepalanya. Akhirnya dia merespon ku setelah ku panggil beberapa kali. Aku lega dia tidak memaksakan diri untuk melewati lorong sendirian.
Akhirnya kami melewati lorong bersama dan benar saja, lorong itu penuh tanpa celah, Nasya berjalan di samping ku sambil memegang baju ku, dia tidak melihat kedepan karna terlihat jelas mimik wajah takut matanya hanya melihat kebawah. (apa aku harus mengusir mereka) batin ku.
__ADS_1
(Baiklah aku akan mencoba mengusir mereka) batin ku, aku menghentikan langkah ku dan memanggilnya, aku menutup mata ku dan mengucap dalam hati (NUN). Lalu membuka mata ku perlahan, warna biru di mata ku kembali mengisi kornea hitam mata ku. Aku melihat mereka semua dengan mata dewa kehancuran, lalu memperingatkan mereka untuk pergi. Mereka yang lemah berguling guling pergi sambil berteriak, namun masih banyak yang belum mendengarkan ku.
Aku mengangkat ujung bibir ku dan memandang mereka dengan mata biru ku ini. (sungguh kalian tetap akan disana, baiklah) batin ku pada makhluk yang masih memenuhi setengah lorong. Pelan aku menggerakkan mulut ku mengucap kata
"pagoedoem (hancur)" aku menghembuskan angin pelan dari mulut ku, angin itu kian melebar dan menhancurkan semua makhluk yang tidak mau pergi itu kecuali beberapa makhluk yang energinya lebih besar dari angin yang ku tiupkan.
Makhluk yang terkena angin itu berteriak ketakutan dan ingin menghindar, (kehancurankehancurankehancurankehancurankehancurankehancurankehancuran) mereka berteriak ribut lalu hancur seketika terkena angin yang ku hembuskan. Tersisa beberapa tapi kita sudah bisa lewat. Aku menutup mata ku perlahan agar mata ku kembali normal. Aku tersenyum pada Nasya yang sedari tadi memanggil ku panik, mungkin dia mengira aku kesurupan.
Nasya sedari tadi mencoba memanggil manggil ku dan aku tidak meresponnya, dia marah marah dan ingin pergi terlebih dahulu meninggalkan ku. Aku mengingat bahwa malam ini blood moon muncul, aku ingin membuatnya melewati malam ini dengan tenang dan baik baik saja. Aku menahannya untuk pergi dan ingin membantunya menutup indra keenamnya untuk malam ini, dan akhirnya dia menyetujuinya.
Aku mendorongnya pelan merapat ke dinding yang ada di belakangnya, aku membelai rambutnya yang halus yang sudah lama tidak pernah ku sentuh lalu aku berbisik pelan di telinganya.
"are you ready" bisik ku lalu menatap wajahnya yang tampak bingung dengan kelakuan ku. Aku tersenyum karna sikapnya yang begitu polos, (oh dewa bagaimana aku tidak menjaganya, dia begitu polos) batin ku dalam hati.
Aku mengarahkannya bersamaan dengan aku menutup mulut ku dan dia melakukannya dengan baik. Aku mulai mengatakan mantra yang di ajarkan okeh ayah ku dulu untuk menutup hal hal buruk yang tidak seharusnya kita lihat dengan mata ini.
"i du nuneuro boji maraya hal geoseul galisibsio 3x. ireonada. (pergilah terang terbitlah gelap tutupi apa yang seharusnya tidak kita lihat dengan kedua mata ini. terjadilah)"
Aku menempelkan telapak tangan ku pada matanya lalu mengusapnya dengan ibu jari ku lalu mencium matanya satu persatu, aku mendekati bibirnya namun gerakan ku terhenti, ku rasa aku tidak boleh melakukan ini. Aku ragu mantra ini akan berhasil karna sudah sangat lama aku pelajari.
__ADS_1
Aku meminta Nasya untuk membuka matanya perlahan, untuk berjaga jaga aku tidak mengizinkannya untuk melihat sekita terlebih dahulu. Wajah kami sangat dekat saat itu, jantung ku rasanya mau meledak, mereka berdetak sangat cepat dan semakin kencang sampai aku takut Nasya mendengar suaranya. Aku juga khawatir wajah ku memerah di depannya, itu terlalu memalukan.