
"sayang pentingkan diri mu sebelum mementingkan orang lain faham, kamu bisa minta maaf nanti jangan dipikirkan"
"huft, baiklah"
Bagas mengambil tangan kanan ku dan memasukkan ke sakunya seperti saat itu.
"apa ini"
"ayo, tutuplah mata mu jika takut sayang"
"sory aku nggak takut"
Kita mulai berjalan dan nyatanya aku tetap menutup mata ku karna takut. Aku mendengar Bagas menertawai ku pelan karena karna sok berani tapi aslinya ciut juga.
Aku memasuki ruang kelas dan melihat Rey dan putri duduk di baris kedua tanpa menyisakan tempat untuk ku. Rey yang melihat ku memasuki kelas, langsung meminta maaf dengan gerakan mulut yang ku pahami. Aku mendekati tempat duduk Rey dan putri, aku sangat ingin bertanya jelas kenapa dia sangat tidak terima dengan ini semua.
"Put aku.. " Putri tidak melihat ku dan hanya melempar map dokumen hingga jatuh kelantai.
"hey, apa begitu kau memperlakukan teman mu!" kata Bagas dengan wajah dingin dan datarnya
"sudahlah Bagas, maaf ya Put"
Aku mengambil map ku yang terjatuh di lantai, Bagas mengajak ku untuk duduk dengannya dan Hendra di kursi yang bersebrangan dari kursi Putri.
"sudahlah Sya duduk sama aku saja"
Bagas menarik tangan ku dan menyuruh ku duduk di samping Hendra. Aku menyiapkan buku catatan ku untuk kelas hari ini dan menaruhnya diatas meja. Ponsel ku berdering dan kulihat ada pesan dari Rey.
📱Sya maafin Putri ya, aku merasa tidak enak pada mu
📱nggak apa apa Rey yang seharusnya mengatakan ini tuh Putri bukan kamu dan diposisi saat ini kamulah yang paling terluka atas sikap Putri jadi jangan meminta maaf pada ku
📱makasih Sya..
Aku menyimpan Hp ku dan mulai memperhatikan pelajaran karena dosen sudah masuk, aku duduk ditengah, diantara Hendra dan Bagas, aku merasa seperti penghalang antara Hendra dan Bagas yang saling komunikasi dengan bisik bisik, aku menyuruh Bagas untuk bergeser ke tengah agar mereka bisa bicara sesuka hati mereka.
"lah kenapa disuruh geser aku yank"
__ADS_1
"biar nggak bisik bisik lagi, kalo bisik bisik yang ketiga setan kan ya, masa ku jadi setannya" kata ku sambil tertawa bercanda
"ya enggak lah sayang"
Aku menyenggol Bagas dan tidak sengaja terkena dadanya, Bagas sontak meringis kesakitan aku lupa kalau badannya masih sakit karena ulah ku. Hendra mencolek lengan ku menggunakan penanya dan berbisik
"selamat ya, yang sabar sabar aja sama Bagas"
"makasih, tenang aku sabar kok orangnya"
Aku kembali dangn buku catatan ku, sebenarnya aku sangat malas hari ini karena matkul matematika dan ditambah lagi hubungan ku dengan Putri yang tidak baik hari ini, aku terus memikirkan cara untuk meminta maaf padanya karena dia salah satu teman ku yang sangat berharga.
Pembelajaran hari inipun diakhiri dengan aku yang akhirnya tidak mencatat apa apa, anak anak terdengar riuh memebereskan barangnya dan aku berusaha untuk mencegat Putri untuk tidak keluar dulu karena ingin bicara, namun dia betul betul mengabaikan ku. Bagas memberi tau ku untuk memberikan Putri jeda untuk memikirkan semua ini dan aku akhirnya mengikuti saran Bagas.
"Sya makan yuk" ajak Bagas
"iya Sya makan yuk" timpal Hendra
"nggak ah kenyang, aku baru makan tadi sama Putri aku mau ngerjain tugas dari kak Arkan aja"
"ya udah ke kafe buku aja Gas, kan enak tu disana aku bisa baca buku ada makanan berat juga, wifinya juga lancar jaya disana"
"emmm gas lah, lumayan wifi gratis hehe"
"heeh berasa obat nyamuk gue"
kita bertiga pergi ke kafe yang dimaksud oleh Hendra dan ternyata jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus kami, aku masuk dan memesan minuman lalu mencari kursi Bagas dan Hendra memilih ruangan sekat sekat yang sudah di dekor cantik oleh pemilik cafenya, mereka gelosoran sambil membaca komik yang jaraknya hanya di samping meja ku saja.
Bagas dan Hendra terlihat tertawa bercanda satu sama lain dan dengan tidak sengaja Henda meninju dada Bagas disela bercandanya. Bagas terjingkat dan meringis kesakitan, Hendra yang bingung dengan tingakah lebay temannya itu, karena menurutnya tinjunya tidak sekuat itu.
"lebay lu ah nggak kenceng juga" kata Hendra membela diri
"iya sih tapi lagi sakit ***** badan gue"
"kenapa lu habis bersihin rumah lu, biasanya juga manggil mbak kebersihan"
"bukan ini karna..."
__ADS_1
Aku membulatkan mata ku agar Bagas berhenti meneruskan ceritanya dan akhirnya Bagas mengarang cerita untuk membuat alasan pada Hendra.
"itu gue di cakar kucing, galak banget kucingnya soalnya"
"lah kok bisa sampe disitu dah, lu gendong kucingnya tapi perasaan lu nggak punya kucing deh"
"eeh itu emm, kucing liar iya kucing liar"
"aneh banget sih lu ah"
Hendra akhirnya melanjutkan membaca komiknya dan membiarkan Bagas, Bagas mengacungkan jempol menunjukkan misi berhasil dengan senyum banggany, aku hanya mengernyitkan dahi ku dan melanjutkan pekerjaan ku. Aku melihat beberapa beberapa wanita yang ada disana curi curi pandang pada Bagas dan membicarakannya dibelakang.
"aigoo si paling ganteng deh pokoknya mah" gerutu ku, tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang dan diantar ke meja ku, aku mempunya ide jail pada beberapa wanita yang lagi tebar pesona sambil membicarakan Bagas itu.
"sayang makanannya datang nih makan dulu, Hen makanan lu dateng juga nih"
Bagas dan Hendra segera mendekati mejaku dan mulai memakan makanannya, para gadis yang berada dibelakang Bagas semakin heboh bergosip dan mengira ngira siapa yang dipanggil sayang. Bagas yang makan sambil membaca komik dan tidak memperhatikan mulutnya yang belepotan karena makanannya, aku mengambil tisu dan melap ujung bibir yang terkena bumbu makanan yang Bagas makan.
"aigooo pelan pelan sayang belepotan nih" kata ku sambil membersihkan mulut Bagas, sontak cewek cewek yang berkumpul dibelakang Bagas bubar seketika, aku tertawa kecil karna menurutku itu lucu
"hehe makasih sayang"
"anjir obat nyamuk gue disini"
Aku tertawa sebentar dan memgambil komik yang mereka baca sambil makan itu.
"makan makan membaca membaca" omel ku sambil menutup komik yang mereka baca
"lah kena sapu omelan juga gue"
"itu korupsi waktu namanya brodi"
"tuh hen denger" kata Bagas menimpali ucapan ku
Cafe ini sangat nyaman bukan hanya wifi yang cepat tapi hantu hantunya tidak semenyeramkan mereka yang di jalan, hantu hantu di cafe ini seperti layaknya manusia yang lagi asik dengan bukunya masing masing namun dengan wajah pucat. Aku kembali mengerjakan proyek dari kak Arkan tempo hari.
Bagas menyodorkan kertas dan menatuhnya di samping laptop ku, aku membukanya dan itu bertulisakan [sayang, mulut aku pait nih]. Aku mengeluarkan satau permen tusuk dan memberikannya pada Bagas
__ADS_1
"emmm apa ini" kata Bagas Aku mengeluarkan satu lagi agar dia tidak ribut, tapi tetap saja, jadi aku mengeluarkan satu pak permen tusuk dan Bagas menertawakan ku dan mulai menghisap permen yang ku kasih.
"nomu kiyowo" kata Bagas mencubit pipi ku pelan, Bagas menyusul Hendra yang lebih dulu menyelesaikan makannya, lalu mereka melanjutkan membaca komik yang di baca tadi.