
"Beneran diet, setelah liat beef teriyaki"
" iya aku nggak gampang tergoda kok tenang"
Setelah basa basi bangsat akhirnya aku makan bersama dengan Bagas setelah semua penolakan yang ku buat. Aku memutuskan untuk diet besok saja, makanan yang Bagas buat terlalu enak untuk di tolakš.
"Gimana sayang enak"
"Hehe enak banget, bintang 5 buat Bagas lopyu"
"Ada ada aja ya ampun, udah nggak usah diet dietan badan kecil gitu pantes nggak tinggi tinggi"
"Kan biar nggak gemukan"
Bagas menarik tangan ku dan menunjukkan pergelangan tangan ku yang tampak kecil dan tampak terlihat jelas tulang tulang ku. Aku menarik tangan ku dan meminum segelas air yang ada di hadapan ku. Aku beranjak meninggalkan Bagas yang masih makan di meja makan sendirian.
"Sayang sudah makannya"
"Iyaaa sudah"
Aku memainkan Hp ku di ruang Tv sambil nonton upin ipin. Bagas menghampiri ku dan ikut nobar bareng aku. Aku tetap fokusĀ dan tertawa karna si duo botak pelontos itu sangat lucu.
"Nasya kamu marah"
"Enggak kok marah kenapa memang"
"Emmm karna yang kita bahas dimeja makan tadi"
"Hahaha aku nggak marah sayang, aku akan selalu menjaga tubuh ku agar tidak direndahkan oleh orang lain, kamu nggak salah kok, aku memang sangat kurus. Dulu aku pernah di bully saat sekolah di korea padahal berat ku saat itu hanya 49 kilo jadi aku berusaha keras untuk menurunkannya karna mungkin mereka tidak suka dengan badan badan yang gemuk dan pipi ku yang chubby juga pengelihatan ku yang aneh"
__ADS_1
"Sayang kamu cuma perlu tau berat badan di angka itu tidak gendut dan chubby itu lucu juga pengelihatan kamu itu adalah kelebihan bukan kekurangan nggak ada yang salah di kamu. Yang salah itu adalah orang orang bangsat tanpa kelebihan dan minim akhlak itu yang bersalah, katakan siapa mereka aku punya banyak koneksi di korea aku akan mengorek dan menghancurkan mereka"
"Dwesseo, nan gwaenchanha (sudahlah aku tidak apa apa)"
Bagas memelukku sambil mengelus punggung ku menenangkan ku
"Kau tidak perlu melakukannya lagi sayang, maafkan aku mengingatkan mu tentang kenangan buruk itu"
Aku tidak membalas Bagas, aku menenggelamkan wajah ku di pelukannya menyembunyikan air mata ku yang tiba tiba keluar tanpa aba aba. Sakit yang masih mereka berikan pada ku masih menjadi luka dalam yang belum bisa ku obati sampai sekarang.
"Maaf bila kamu sangat menderita sayang, maafkan aku, aku sangat bodoh maafkan aku"
Aku menggeleng di pelukan Bagas tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Mulai saat anak anak itu membuli ku, aku kehilangan kepercayaan diri mulai saat itu, dari menyukai seseorang hingga pertemanan. Maka dari itu aku sangat bersyukur mempunyai Bagas dan orang orang baik seperti teman teman ku saat ini.
Aku mengangkat wajah ku dan melihat wajah Bagas. Saat menatap matanya aku melihat warna itu lagi dimatanya warna biru yang perlahan mengajak ku masuk lagi kedalam dunia masalalu Bagas yang diperlihatkan didepan mata ku.
Aku melihat Bagas sangat Bahagia kala itu dengan wanita yang wajahnya tidak jelas terlihat dimata ku. Wajahnya kabur, namun terlihat bahwa wanita sangat Bahagia dengan Bagas, pengelihatan itu di akhiri dengan Bagas yang menghunuskan pedang seperti pengelihatan yang kulihat tempo hari.
"Bagas ini darah apa"
"Nasya kamu berdarah kenapa" aku dan Bagas saling pandang pandangan, dengan wajah bingung
Bagas memeriksa darimana asal darah itu dan terlihat bekas luka misterius yang ada di dadaku sebelumnya tiba tiba mengeluarkan darah yang tidak berhenti. Bagas membulatkan matanya kaget dan berlari mengambil kotak p3k yang dia punya. Sakit yang kurasakan sebelumnya ku rasakam kembali 2 kali lipat lebih sakit dari sebelumnya. Bagas dengan buru buru mengambil kain kasa dan menutupi luka ku yang terus mengeluarkan darah. Sofa yang tadinya berwarna abu abu muda sekarang penuh dengan bercak darah.
"Sayang kalo begini terus kamu bisa kehabisan darah, ayo karumah sakit"
"No ini terlalu aneh untuk di periksa medis, tenang lah aku akan baik baik saja"
Setelah menyelesaikan kalimat ku darah yang mengalir dari luka tusuk di dadaku itu perlahan berhenti dan lukanya perlahan menutup kembali. Bagas yang sedari tadi panik dan menangis, seketika diam menyaksikan luka ku yang menutup dengan sendirinya. Kepala ku sangat berat dan mata ku rasanya sangat mengantuk dan akhirnya aku terpejam.
__ADS_1
Aku membuka mata ku perlahan melihat langit langit kamar Bagas dan melihat Bagas yang sedang berbaring di samping ku. Entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri aku melihat keluar jendela dan langit kuning menyambut mata ku yang menandakan itu sore hari.
"Nasya kamu sudah sadar, kamu nggak apa apa"
"Iya nggak apa apa kok Gas"Aku melihat baju ku yang masih penuh darah yang sudah mengering
"Maaf aku nggak berani gantiin baju kamu"
"Anak baik nggak apa apa kok" kata ku sambil puk pukin kepala Bagas, aku melihat speri putih Bagas yang merah karena darah ku
"Aaah sprei mu jadi seperti ini, maafkan aku sofa mu juga aaah"
"Sudah jangan di pikirkan bersihkan dirimu lalu istirahat, aku akan mengganti spreinya"
Aku mengangguk mengerti, lalu aku masuk ke kamar mandi. Aku membuka baju ku yang penuh dengan darah dan langsung mencucinya. Aku berdiri di depan kaca dan memandangi diri ku, aku sangat bingung dengan apa yang terjadi. Aku sempat berfikir (apa aku ada hubungannya dengan Bagas, kenapa letak lukanya ada persis setelah pengelihatan pertama yang ku lihat di lorong jumat lalu). Aku kembali menepiskan fikiran ku yang aneh aneh itu dan segera mandi.
Aku memakai handuk ku lalu berjalan menuju ruang tamu untuk mengambil belanjaan ku sebelumnya dan singgah untuk minum.
"Hya gwaenchanha"
Aku hanya mengangguk mengiyakan kalau aku baik baik saja. Bagas membuka baju mandi ku sedikit tempat luka itu berada, luka yang tadinya banjir darah sekarang hanya menjadi bekas luka yang terlihat sudah lama sembuh. Bagas menjambak rambutnya seperti orang frustasi dan menggebrak meja makan, Aku sangat kaget dan mencoba menenangkan Bagas.
"Bagas kamu kenapa, jangan marah marah merah deh tangannya" kata ku sambil mengelus tangan Bagas yang memerah setelah menggebrak meja, terlihat lagi di wajahnya rasa bersalah sampai terlihat ingin melukai dirinya sendiri.
"Bagas.... sayang... stop salahkan dirimu kamu nggak salah sungguh"
"Tapi ini semua terjadi setelah kau bertemu dengan ku"
"Tidak sayang... mungkin ini cara semesta untuk memperingatkan ku agar tidak melewati batas" kata ku sambil menyeka air matanya
__ADS_1
"Batas apa?"
"Nanti akan ku beritau, mandilah kah pasti lelah aku akan berpakaian dulu"