Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 5 BAGAS


__ADS_3

Pintu lift terbuka dan menyuguhkan pintu rumah ku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari lift, aku segera membuka pintu dan mendudukkan Nasya di sofa ruang tengah agar bisa beristirahat. Aku ke dapur dan membuatkan 2 gelas teh hangat untuk kita berdua.


Kami banyak mengobrol dan aku mencoba menjelaskan tentang fenomena blood moon yang terjadi hari ini kepada Nasya agar dia bisa lebih hati hati, dia hanya mengangguk mengerti dan pergi melihat blood moon yang masih menyuguhkan sinar merahnya dari jendela rumah ku. Aku menyusul Nasya, terlihat wajah cantiknya yang terkena sinar bulan berwarna merah, sangat indah. Dia tersenyum ke arah ku dan menjelaskan bahwa dia merindukan langit yang di lihatnya saat ini. Aku hanya diam dan berfikir, (apa ingatannya kembali dan tidak di terhapus saat bereinkarnasi) pikir ku tampa menerespon cerita yang Nasya ceritakan.


"kamu ingat pernah tinggal disana" tanya ku pada Nasya memastikan apa yang ku fikirkan benar atau tidak


"hahaha Bagaas mana ada orang bisa tinggal di atas sana, ada ada aja"


(aaah dugaan ku ternyata salah, tidak mungkin dewa membiarkan ingatan itu bersarang di kepalanya) batin ku. Aku meninggalkan Nasya yang tengah asik menikmati blood moon. Aku sangat lelah dan memutuskan untuk mandi, aku membasuh wajah ku dan melihat pantulan diri ku di kaca kamar mandi ku yang berembun.


"apa aku mampu mengantarnya kembali pada dewa, dan melupakan rasa cinta ku padanya selama ini"


Aku menarik nafas berat dan membuangnya. Aku membersihkan badan ku lalu berendam di bathtub menenangkan fikiran ku. Aku banyak berfikir saat berendam, aku berfikir bagaimana aku harus bersikap pada Nasya selanjutnya, (apa aku harus menjaganya dari jauh saja dengan ini) batin ku sambil melihat tali jiwa Nasya yang membelit di pergelangan tangan ku. Entah kenapa tali jiwa Nasya saat ini tidak mengikat ku kuat, mereka berbelit rapi layaknya aku memakai puluhan gelang dari tali senar indah. (apa aku harus mencoba memberanikan diri) batin ku dengan senyum tipis sambil melihat tali indah yang melingkar di peegelangan tangan ku.


Aku beranjak dari bathtub dan memakai handuk ku. Aku membuka kunci pintu kamar mandi tapi aku lupa untuk mengeringkan rambut ku. Aku kembali ke depan cermin dan mengeringkan rambut ku dengan handuk. Saat sedang fokus mengeringkan rambut ku aku melihat gagang pintu kamar mandi di putar dan terlihat Nasya masuk sambil jingkat jingkat, aku bingung melihatnya, dia menutup pintu perlahan nyaris tidak mengeluarkan suara dia juga hendak mengunci pintunya tapi dia mengurungkan niatnya kemudian dia berbalik badan dan melihat ku yang tengah bertelanjang dada dengan tangan yang sedang memegang handuk. Nasya berteriak histeris yang juga mengagetkan ku yang spontan melempar handuk ku ke lantai dan menutup badan ku dengan kedua tangan ku.


"Nasya kamu kok masuk kesini sih aku kan lagi mandi"

__ADS_1


"ya kan aku nggak tau, tadi aku dengar ada yang buka pintu kamu makanya aku sembunyi"


Aku kaget dan langsung memeriksa di balik pintu, tapi kalo di ingat ingat lagi pintu apartemen ku pakai sidik jari, pasti butuh waktu intuk orang luar membukanya dengan paksa. Aku menanyakan suara seperti apa yang di dengar Nasya. Tapi dia hanya salah faham, suara yang di dengarnya adalah suara kunci pintu kamar mandi yang ku buka dari dalam. Nasya akhirnya keluar sambil menutup matanya, terlihat pipinya sangat merah dan akhirnya dia berlari keluar.


"ah aku sangat terkejut"


Aku melihat handuk ku yang tergeletak di lantai, lalu menpuk jidat ku sendiri


"aaah kenapa aku tidak menutupi badan ku dengan handuk itu dan malah membuangnya" kata ki pelan


Sebelum keluar kamar mandi aku menyiapkan sikat gigi untuk Nasya lalu aku memakai baju yang sudah ku siapkan sebelumnya dan keluar untuk menjemur handuk ku. Aku melihat Nasya yang tengah duduk di sofa dengan wajah merah padam, aku tau dia sangat malu, aku tersenyum kecil lalu melanjutkan kegiatan ku


Aku kembali kedalam dan membereskan beberapa cucian yang berantakan di ruang laundry ku. Banyak ruang yang ada di rumah ku dan aku memanfaatkan semuanya hingga lupa menyisakan kamar untuk tamu, bahkan aku punya kantor sendiri dirumah agar nyaman untuk bekerja meskipun jarak jauh.


Aku keluar dari ruang laundry dan kembali melewati ruang tengah, terlihat Nasya yang masih duduk disana, aku menghampirinya dan dia meminta maaf pada ku karna tidak sopan dengan wajah merahnya dan matanya tidak berani menatap ke arah ku.


"Gas kamu punya baju yang agak kecil nggak aku mau mandi tapi nggak ada baju ganti aku udah ngantuk banget"

__ADS_1


Aku mengajaknya membongkar lemari ku, (aah setau ku aku mempunya baju hermes yang nelum pernah ku pakai karna kekecilan) batin ku, dan akhirya aku menemukannya di lemari bawah. Aku memberikannya pada Nasya juga handuk bersih untuk dia kenakan. Aku melihatnya berjalan memasuki kamar mandi, (ku rasa celananya tidak nyaman) aku mencari celana ku yang masih baru tapi tidak menemukan, aku mencoba mencari lagi di lemari ku yang ada di samping kamar.


"ku rasa aku mempunyainya, di antara ratusan pakaian ini, nah ini dia, oh aku harus menggunting labelnya"


Aku menunggu di kasur menunggu Nasya keluar dari kamar mandi. Tidak lama setelah aku menunggu terdengar suara kunci pintu yang di buka. Aku berdiri tepat di depan pintu dan aku memberikan celana yang sudah aku temukan tadi kepada Nasya.


Aku merebahkan badan ku di atas kasur ku yang nyaman karna sudah terlalu lelah, jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, malam ini terasa begitu panjang karna semua kejadian hari ini. Nasya akhirnya keluar kamar mandi, aku melihat dia tenggelam dengan baju yang dia kenakan bahkan celana yang dia pakaipun tidak terlihat, aku menelan ludah ku dan mengalihkan pandangan ku. (oh dewa dia terlalu cantik untuk spek manusia biasa) batin ku.


Nasya duduk di depan cermin tempat skincare ku berada dan menyisir rambutnya panjangnya dengan hati hati. Entah ada angin apa aku tiba tiba beranjak dari duduk ku dan merebut sisir yang di pegang Nasya dan menyisir rambut panjangnya pelan. Dia bercerita panjang lebar selama aku menyisir rambutnya, aku hanya mendengarkan dan menyelesaikan kegiatan ku menyisir rambutnya. Aku meletakkan sisir di meja, Nasya berterimakasih lalu berdiri tapi aku menyuruhnya duduk kembali.


"tidak baik tidur dengan rambut yang masih basah" aku mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambut Nasya.


"oke selesai"


"makasih Gas"


Dia berdiri lalu mengambil bantal yang ada di kasur ku dan mulai melangkah ke ruang tamu.

__ADS_1


"mau kemana kamu"


"mau tidur di sofa"


__ADS_2