
Aku mengubur semua pertanyaan besar ku pada Bagas lalu bergegas mencuci piring bekas sarapan kita berdua dan Bagas membersihkan dapurnya yang tadi dia gunakan untuk memasak. Entah angin apa Bagas memeluk ku dari belakang seperti anak kecil yang lagi rindu ibunya.
"Aku rindu" kata Bagas sedikit berbisik
"Rindu siapa, mama kamu?"
"Kamu" katanya sambil mengusel ngusel wajahnya di leher ku
"Bagas geli ih, aku dari tadi disini juga"
"Sayang jangan marah marah dong"
"TV kamu ada netflixnya nggak nonton yuk"
"Ada kok yuk nonton"
"Lets goooo wuh"
Bagas berjalan di depan ku dan mengajak ku masuk ke ruangan TV, Bagas mematikan lampunya agar lebih nyaman menonton. Kami duduk di sofa yang ada diruangan itu. Bagas mulai menyalakan TVnya dan memilih film.
"Kamu mau nonton apa" tanya Bagas masih dengan memilih milih film
"Pinjam remotnya" aku menutup netflix yang Bagas buka tadi dan membuka yutub
"Lah nggak jadi nonton film"
"Boleh liat BTS dulu nggak mereka baru konser aku penasaran katanya bagus yah plisss yah" kata ku memohon pada Bagas
"Iya iya sayang"
"Yess"
Aku mencari konser terbaru para oppa ku dan menontonnya aku heboh sendiri sementara aku lihat wajah Bagas yang datar datar saja. Aku sangat penasaran dengan konser ini karena ku lihat abang V keliatan ABS nya dan part yang ku tunggu tunggu pun muncul. Aku teriak histeris tanpa mempedulikan Bagas yang duduk di samping ku.
"Ooh ini yang mau di lihat, punya aku lebih bagus" kata Bagas dengan ekspresi wajah kesal
"Kenapa siih"
"Aku bilang punya aku lebih bagus"
"Ih jangan marah marah lah"
Bagas dengan ekspresi kesalnya menarik tangan ku dan memasukkan ke dalam kaosnya, Bagas meletakkan tangan ku di perutnya dengan wajah kesalnya yang membuat ku tertawa beli.
__ADS_1
"Iiih apa sih, aku maunya punya taehyung tau hahahahha" tawa
"Jadi ini PR ku, aku harus ambil hati kamu dari si V V itu"
"Hahahhaha, enggak kok cuma bercanda loh itu aku sayang kok"
"Hah apa ulangi nggak denger"
"Aku sayang kamu kooook"Bagas mendudukkan ku di pahanya dan menyuruh ku mengulangi apa yang aku bilang tadi
"Lagi sayang aku nggak dengar"
Sebenarnya aku sudah tertarik pada Bagas sejak saat awal semester, entah kenapa dia mengalihkan perhatian ku dan meruntuhkan tembok yang kubangun sejak dulu. Dia sangat dingin pada semua wanita dan entah kenapa aku menyukainya. Aku tidak pernah menceritakan perasaan ku ini pada siapapun, aku hanya memendamnya sendiri. Aku bersaing layaknya pesaing baginya, aku berdebat layaknya musuh banginya dan aku tidak menyangka kita ada di titik ini bersama dan akhirnya tembok di hati ku runtuh seutuhnya saat ini. Jantung ku rasanya ingin meledak jika dekat dengannya entah kenapa aku sangat menyukainya saat dia berada di dekat ku sungguh energi ku seperti full carge.
Aku masih duduk di pangkuannya dan masih menelusuri wajah tampannya, aku tidak menyangka dia sehangat ini karena yang aku tau dia manusia salju yang di beri nyawa. Aku mendekati telinga Bagas dan berbisik disana
"I LOVE YOU"
"Sungguh"
"Yes sayang"aku malu sendiri memanggilnya seperti itu, aku menutup wajah ku yang merah seperti orang sedang kepanasan
"Kiyowo, lepaskan tangan mu hey"
Bagas berusaha membuka tangan ku yang menutupi wajah ku yang sedang merah padam karena malu. Aku memeluknya perlahan.
"Ha sungguh? Selama apa, sejak kapan"
"Emmm awal semester"
"Sungguh, maaf tidak menyadarinya lebih cepat maafkan aku"
"Nggak papa, Oh iya aku mau balas dendam"
"Ke siapa sayang"
"Ke kamu lah, kamu nggak liat nih leher aku sampe biru kaya gini gimana aku nutupinnya"
"Aah maaf"
"Ssst jangan bicara, jakun mu bergerak"
Aku mengelus jakun Bagas lalu menurunkan wajah ku dan membuat tanda di jakun Bagas yang terus bergerak, aku membuat tanda cukup lama di sana lalu Bagas berbisik pelan
__ADS_1
"Sayang, ini berbahaya"
Aku melepaskan mulutku untuk melihat hasil balas dendam ku di leher Bagas dan berhasil. Aku ingin membalas ciuman pertama ku pada Bagas tapi sayang aku tidak mengerti caranya. Aku berhenti di depan wajahnya yang sudah merah padam dan mengelus bibirnya.
"Ah aku tidak tau cara melakukannya, aku akan memulainya dan kamu yang melanjutkan"
Aku menempelkan bibirku pada Bagas dan tanpa ba bi bu Bagas langsung memulainya. Dia mengelum bibirku lembut dan bermain dengan lidahnya aku hanya mengikuti permainan lidahnya yang pelan menuntun ku. Aku membalas kulumannya perlahan, lalu bagas turun ke leher ku, dia menyibakkan rambut ku dan mulai menjelajahi leher ku.
"Aah Sayang jangan buat tanda lagih" kata ku memberi peringatan pada Bagas
Ruangan inipenuh dengan senggama yang diiringi lagu BTS yang sebelumnya ku putar. Tangan Bagas mulai menjelajahi tubuh ku yang ku baluti tangtop dalam kaos Bagas. Mengerti hal itu dia membuka kaos yang ku gunakan aku kaget dan langsung menghetikan hal ini.
"Stop sayang tidak lebih dari ini"
"Ya ampun sayang sungguh, ayo kita pakai pengaman"
"No"
Bagas merengek seperti anak kecil yang permintaannya tidak di turuti. Namun tiba tiba Bagas menghentikan pandangannya pada dada ku dan menyentuh bekas luka tusuk yang ada di tengah sana.
"Sejak kapan luka ini ada disini" tanya Bagas dengan wajah kaget
"Sepertinya sejak aku pingsan kemarin"
"Bahkan saat kau mengingat sepotong ingatan itu akan melukai diri mu"
"Hah ingatan"
Bagas tidak berbicara lagi dan meneteskan air mata lalu berteriak sangat kencang hingga membuat ku kaget.
"KENAPA DEWA BEGITU KEJAM PADA KU"
"Sayang kenapa" kata ku kaget karena Bagas berteriak kencang seperti itu
Bagas memeluk ku erat sambil menangis sesenggukan. Aku sangat bingung dengan apa yang terjadi Bagas hanya menangis sambil memeluk kubtanpa menjelaskan apa yang terjadi.
"Kenapa kau harus tetap terluka" kata Bagas di sela tangisnya
"Luka apa Bagas, aku nggak punya luka kok"
Bagas mengangkat wajahnya dan menatap ku dengan tatapan sedih sambil memegang pundak ku, dia hanya mentap ku seperti itu dalam diamnya, lalu dia kembali membuka suara.
"Mulai sekarang, jangan lihata apa yang seharusnya ridak kamu lihat, jangan lihat mata ku terlalu dalam lagi aku takut melukai diri mu"
__ADS_1
"Nggak kok kemarin yang tetakhir, aku tidak melihatnya lagi bahkan aku begitu dekat dengan mu saat ini, jadi apa yang kau khawatirkan"
"Aku hanya takut kehilangan mu lagi"