
Jemari Gyuri makin dingin kala Yul semakin mendekat padanya dan akhirnya berdiri dihadapannya dengan tatapan dinginnya. Yul mengusap pipi Gyuri lalu mematikan saklar lampu yang tepat berada di kiri Yul, lalu Yul berjalan dan berdiri tepat di sebrang Kasur dihadapan Gyuri. Dia hanya diam dalam kegelapan, ya Yul hanya diam beberapa menit,sinar bulan menyinari pria tampan itu dari belakang hingga pantulan tubuhnya terlihat di Kasur besar yang dia miliki.
Terdengar tarikan nafas berat yang Yul hembuskan. Gyuri hanya melihat tanpa mengomentari apa apa dari sebrang Kasur tempat dia berdiri, rasa takut dan cemas yang dia rasakan belum hilang dan masih menggangu hati dan persaannya, dia ingin mendekati Yul yang hanya diam memperhatikannya di dalam gelap itu, namun Yul melarangnya mendekat. Sampai di titik saat Yul akhirnya membuka suaranya yang terdengar berat dan ragu itu.
“Gyuri…aku ingin memberitau mu tentang semua ini, tentang kita dan tentang aku saat aku menemukan cara yang tepat untuk memeberitau mu tanpa membuat luka yang ada di dada mu itu terbuka dan kembali menjadi luka baru. Namun malam ini, aku akan mencoba memberi tau mu sebisa ku, meski ketika hari berganti kamu akan melupakan semua yang aku ucapkan, tapi aku berharap kamu tidak melupakan apa yang kamu lihat dengan mata mu malam ini. Gunakan mata ke 7 mu gunakan mata alam semesta mu itu untuk melihat ku malam ini, melihat Yul yang sebenarnya sebagai Dewa Kehancuran, Dewa yang kamu cintai beserta segala kekurangan yang ku miliki wahai Dewi ku, Dewi alam semesta sang keseimbangan, Gyuri”
Gyuri diam, mendengarkan semua perkataan Yul yang membuatnya makin bingung dengan semua yang di dengarnya saat ini, namun disaat Yul berkata di akhir kalimatnya, bahwa dirirnya adalah “Dewi Alam Semesta sang Dewi keseimbangan”.
Kepalanya mulai sakit, dadanya sakit seperti ada yang memaksa untuk keluar dan memaksa menekan bagian terdalam dadanya. Gyuri menatap Yul yang berdiri di sebrang Kasur tepat di hadapannya sambil mengernyitkan dahinya.
“apa maksud mu, aku adalah Dewi? Jangan bercanda Yul” ucap Gyuri tidak percaya
“aku tidak bercanda, tutup matamu dan rasakan semua energi mu terkumpul dititik dimana indra pengelihatan mu digunakan”
Gyuri menurut dan menutup matanya, meski dia tidak tau bagaimana mengumpulkan energi yang Yul maksud untuk berada di titik lihatnya. Sakit kepala yang dia rasakan sampai memebuatnya merasa bahwa matanya ingin keluar. Dia mencoba mencerna perkataan Panjang yang Yul katakan sebelumnya. Gyuri merasa bawa ada sesuatu yang tengah dia lupakan, seperti sesuatu yang sangat penting yang harus dia ingat, namun dia sendiri tidak tau sesuatu penting apa itu.
Yul yang berada di sebrang Kasur itu mulai membuka sarung pedangnya perlahan, terlihat cahaya biru yang sebelumnya di lihat Gyuri saat di Rumah Sakit saat itu kembali mengelilingi tubuhnya seperti semburat dan kunang kunang, cahaya itu juga mengelilingi seluruh pedang Panjang yang berada di tangan kanan Yul dangan pergelangan yang terlilit oleh tali jiwa Gyuri. Matanya membiru, Nun kembali menemani dirinya.
Langit yang sebelumnya cerah dan indah dengan cahaya bulan tiba tiba berubah. Langit lambat laun semakin gelap, awan mendung berbondong bondong datang menutupi langit malam yang sebelumnya terlihat baik baik saja. Gemuruh Guntur membersamai awan mendung yang menutupi langit malam itu. Gyuri masih terlihat menutup matanya sambil menjambak rambutnya pelan karena sakit kepala yang dia rasakan.
“Gyuriya, nuneul tteo neoui nunero narel bwa (Gyuri, buka matamu dan lihat aku dengan mata mu)”
Gyuri membuka matanya perlahan, dia melihat sosok Yul yang berbeda dimatanya. Seluruh tubuhnya di kelilingi dengan siluet cahaya biru yang begitu indah dimata Gyuri.
Didalam lubuk hati Gyuri mencul perasaan rindu yang mendalam, rasa sayangnya pada Yul semakin menjadi jadi hingga hingga menimbulkan rasangilu dititik hati terdalamnya. Namun disela perasaan perasaan itu muncul, lambat laun timbul rasa sakit dihatinya, bukan benci kepada Yul, bukan. Entah perasaan ini muncul untuk siapa, namun rasanya sangat menyakitkan seperti rasa sakit hati yang teramat sangat.
__ADS_1
Namun dibalik terpananya dia dengan cahaya yang mengelilingi Yul dan berbagai perasaan yang menddadak muncul itu, dia sungguh kaget dengan benang indah yang terbelit di tangan Yul, itu sangat banyak dan terbelit di tangan kanannya, Gyuri menelusuri arah benang itu berasal dan dia berhenti pada ujung jari telunjuknya tempat benang indah itu berkahir. Gyuri mencoba menarik benang itu untuk kembali ke tubuhnya namun tidak bisa, benang itu lambat laun makin memenajang keluar saat dia menariknya.
Gyuri menyalakan lampu yang tengah padam itu, terlihat Yul yang berdiri memandanginya dengan tatapan sedih yang sangat dalam itu dengan mata biru indah yang dia suguhkan pada pandangan mata Gyuri. Dia tengah menitikkan air mata yang bahkan Gyuri melihatnya dengan jelas dari sebrang ranjang besar yang tengah menghalangi mereka berdua.
Gyuri menaiki ranjang besar itu dan berjalan di atasnya, dia mendekati Yul yang masih berdiri bagaikan patung yang diukir dengan ekspresi paling sedih di dunia ini. Semakin Gyuri mendekat pada Yul semakin sakit bekas luka yang ada di dada Gyuri.
“aaahhh….” Gyuri mengaduh kala jaraknya berdiri semakin dekat dengan Yul, dadanya sangat sakit hingga rasanya hampir mati. Yul melangkah mundur mengetahui wanitanya yang sedang mencoba mendekatinya tengah kesakitan
“nega issneun gose isseo, nan nolyeoghago isseo (tetap di temppat mu, aku sedang berusaha)” ucap Gyuri denga suara tertatih menahan sakit
“geumanhe, dachilgeoya (hentikan, kamu akan terluka)”
“apeun geon sanggawaneobseo, geuriumi deo neomu apa Yul, geugo ara? (aku tidak peduli tentang sakit, rindu ini lebih menyakitkan Yul, apa kau tau itu?”)
Yul yang mendengar perkataan Gyuri itu kembali terdiam, pedang yang senbelumnya dia genggam erat ditangannya itu terlepas dari tangannya. Ujung dan badan pedang yang terjatuh dan terbentur oleh lantai itu mengeluarkan suara nyaring yang menusuk telinga kedua insan yang saling bertukar pandang itu.
“dangsinui nunen neomu yeppeuda (mata mu sangat cantik)” ucap Gyuri sambil mengusapn ujung mata Yul
“neoui pi (darah mu)” Yul mecoba menutupi luka Gyuri yang terus mengeluarkan darah dari bekas luka di dadanya yang tembus hingga bagian belakang
“singgyeongssujima, neoui gwageoreul bogo namyeon sangcheoga amulgessji (sudahlah, luka itu akan menutup jika aku sudah selesai melihat masa lalu mu”
Gyuri menatap mata biru Yul yang sedang dikuasai oleh energi nun, dia menggigit bibir Yul dan menatap mata biru itu lekat lekat. Dirinya kembali ditarik masuk kedalam masa lalu Yul. Dia melihat semua masalalu yang sudah pernah dia lihat sebelumnya dan selalu berakhir dengan seorang lelaki yang ditusuk oleh Yul karena tengah melindungi Wanita yang akan di bunuh oleh Dewa kehancuran itu.
Gyuri tidak bisa melihat lebih jauh lagi tidak ada petunjuk baru yang dia dapatkan dari melihat masalalu Yul, namun setelah megulangi masalalu yang dia lihat itu, dia jadi mengetahui sesuatu. Sesuatu tentang bunga Blue Bell yang berada di kamar rooftop Yul. Tentang seorang lelaki yang tiba tiba datang untuk melindungi Wanita yang akhirnya akan terbunuh juga. Yang pernah dia sebut Namanya dari alam bawah sadarnya, ya dia Kang.
__ADS_1
Sahabat dari Wanita yang tengah mempersiapkan pernikahannya dengan Yul, sahabat yang membantunya mencarikan bunga Blue Bell di hutan agar rangakaian dekorasi pernikahan sahabatnya terlihat makin sempurna dan indah itu. Ya, dia adalah Kim Kang, sahabat Gyuri dan Yul saat di atas sana, dia adalah Dewa kehidupan.
Jika Yul yang mengurus bencana dan kerusakan yang terjadi dibumi hingga banyak korban jiwa berjatuhan, namun Kang adalah sebaliknya, dia adalah Dewa bagi semua ibu yang ada di dunia dan Dewa yang mengatur jangka hidup seseorang, tentang kelahiran bayi bayi yang ada di bumi, tentang batas waktu hidup seseorang, dialah yang melakukannya, sahabat karib kang selain Gyuri dan Yul adalah sang Dewa Kematian atau yang biasa kita sebut Malaikat pencabut nyawa.
Malam itu akhirnya di hiasi dengan hujan yang sangat deras, petir petir menyambar menyapa penduduk bumi yang hampir terlelap. Namun tidak bagia Yul dan Gyuri. Gyuri menjatuhkan kepalanya kepundak Yul seperti akan hilang kesadaran, rasanya energinya terasa terkuras habis yang darah yang terus mengalir dari luka Gyuri kini berhenti sesui ucapannya.
Baju yang Gyuri kenakan bersimbah darah begitupun dengan Yul. Lantai yang sebelumnya berwarna putih gading kini tercemarkan oleh kubangan darah yang cukup banyak seperti telah terjadi pembunuhan, namun bukan. Gyuri berbisik pelan di telinga Yul.
“Yul… lepaskan tali yang ada di tangan mu”
“im sorry”
“emm tidak apa apa,tangan mu pasti sakit selama ini, duduk lah dan lepas perlahan” ucap Gyuri pelan
Yul duduk di lantai beserta Gyuri yang tengah ada di gendongannya seperti koala, Gyuri duduk di pangkuam Yul dengan fisik yang sangat lemah karena kehilangan banyak darah.
Yul membuka belitan yang sudah membelit tangannya selama beberapa minggu , saat dia pertama bertemu dengan Gyuri. Gyuri yang bersandar lemas di pelukan Yul mencoba melirik pedang yang tergeletak di lantai kamar itu. Ada darah di pedang itu dari ujung hingga pangkalnya. Sebenarnya dia sungguh penasaran dengan Wanita yang Yul bunuh itu. Kenapa bisa lukanya persis seperti yang dia miliki di dadanya.
“Yul, apakah Wanita yang kau bunuh dengan pedang mu ituadalah aku?” tanya Gyuri dengan suara lemahnya
Yul berhenti memutar pergelangan tangannya, dia mengepalkan tangannya yang sedang memegang benang jiwa milik Gyuri itu. Dia tidak menjawab pertanyaan itu dan memilih untuk diam dan melanjutkan melepas benang jiwa yang terbelit di pergelangan tangannya itu.
“Yul… bagaimana dengan Kang, apa dia baik baik saja?”
Tangan Yul berhenti untuk kedua kalinya saat mendengar pertnyaan Gyuri, rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya, begitu sakit menusuk hingga dapat dia rasakan seperti menembus ke kulit bagian luarnya.
__ADS_1
Pelupuk matanya penuh dengan air mata yang jatuh mengenai tangannya sendiri, dia menangis bukan hanya mengeluarkan air mata tanpa suara. Dia menangis tersedu sedu, begitu pertanyaan itu selesai keluar dari mulut Gyuri. Dia memeluk kekasihnya erat, Gyuri ikut menitikkan air mata seakan tau semua jawaban dari Yul. Malam itu terasa sangat Panjang dan begitu menyakitkan bagi mereka berdua. Hujan makin deras menutupi isak tangis mereka malam ini.