
Staf buru buru membukakan pintu akses untuk kami dan tidak lama kemudian ambulance datang, mereka segera menaikkan badan Bagas ke mobil dan dengan cepat menuju rumah sakit. Perawat yang ada di belakang bersama ku tengah melakukan pertolongan pertama untuk Bagas dengan sigap dan memberikan oksigen kepada Bagas yang tidak sadarkan diri itu.
Perawat mengarahkan Nasya untuk terus memanggil nama Bagas agar kesadaran Bagas kembali. Tangan Bagas terus mengeluarkan darah hingga ujung jarinnya mulai memutih. Nasya dengan wajah pucat dan berlinang air mata terus memanggil nama Bagas sambil membantu Bagas mengepalkan kain kasa di tangannya untuk menghambat darah yang terus mengalir keluar.
"Bagas.. Ayo sadar katanya kita mau jalan jalan Bagas ku mohon buka mata mu sayang" Nasya terus memanggil Bagas dengan suara gematar, dia yang takut dengan darah sangat memberanikan diri membantu Bagas agar tetap mengepalkan tangannya, tangan Nasya yang semula bersih menjadi penuh dengan darah yang berasal dari tangan Bagas.
Tidak lama kemudian ambulance yang mengantar mereka sampai di rumah sakit, para perawat segera membawa Bagas ke ruang oprasi untuk di tangani medis, Nasya dengan segera menyelesaikan administrasinya dan ingin segera menyusul Bagas ke ruang oprasi. Namun langkah Nasya terhenti kedua mata Nasya melihat dangan sangat jelas para arwah di rumah sakit itu sudah menutup jalan akses utama keruang oprasi seakan menghalangi Nasya untuk mendekati ruangan itu.
(kenapa setan setan ini berkumpul seperti sedang menghalangi ku , kurasa selama ini mereka tidak akan mengetahui aku bisa melihat mereka kalau kita tidak melakukan kontak mata, tapi sekarang kenapa seperti ini) batin Nasya yang heran dengan apa yang terjadi di depan matanya, namun Nasya tidak ingin menyerah dengan setan setan jelek yang ada di hadapannya itu.
"persetan dengan kalian, minggir aku mau lewat" kata Nasya dalam hatinya, dia sangat tau derajat manusia lebih tinggi dari semua setan yang ada di hadapannya. Nasya segera mengambil ancang ancang dan berlari dengan kencangnya namun dia terpental hingga jatuh tersungkur. Semua orang yang berada di ruang tunggu melihat Nasya dengan tatapan bingung lalu perlahan mereka berbisik membicarakan Nasya. Nasya tetunduk dengan tangis pelan yang tertahan, dia sangat marah kepada dirinya karena tidak bisa melakukan apapun.
****
Di ruang oprasi tempat Bagas di rawat, terlihat seorang dokter dan beberapa perawat yang tengah menjait luka Bagas dengan alis yang terus mengerut seperti orang yang tengah kebingungan.
"bagaimana luka sayatan yang begitu dalam ini tiba tiba menyempit dengan sendirinya" kata seorang dokter dengan suara bingung antara harus melanjutkan menjahir tangan pasien atau tidak
"tapi dok, saya rasa itu tidak di perlukan lagi, bahkan sekarang lukanya semakin menyempit" kata salah sorang perawat dengan nada bingung seperti dokter sebelumnya.
Dokter yang tengah menangani Bagas akhirnya batal menjait tangan Bagas dan hanya mengobati tangan pasiennya itu seperti menangani luka biasa.
"ini sangat aneh dokter, bahkan suhu tubuhnya saat pertama datang adalah suhu mayat yang sudah didinginkan beberapa hari tapi bagaimana bisa masih hidup" kata perawat itu sambil mengerutkan keningnya dan terus mengobati luka yanv terus beranjak tertutup itu
"saya juga belum pernah menghadapi hal seperti ini, kejadian ini seperti yang ada di film loh" dokter itu makin bingung
Kesadaran Bagas perlahan mulai kembali, jari tangannya bergerak perlahan, dokter dan perawat itu masih terus kebingungan dan ribut tanpa menyadari Bagas perlahan membuka matanya.
Bagas mengerjapkan matanya dan perlahan mulai membuka matanya lebar lebar. Terlihat dua orang yang tengah berbincang membicarakan dirinya, Bagas menarik tangannya yang sedang di obati dokter itu, kedua orang sangat terkejut karna Bagas tiba tiba menarik tangannya.
"HAH ASTAGA TUHAN" kata dokter dan perawat itu bersamaan dengan mata melotot dan wajah kaget yang bisa di lihat di balaik maskernya.
__ADS_1
"dok dia sadar, suhu tubuhnya kembali normal" kata dokter itu dengan memegang termometer di tangannya. Dokter itu segera memeriksa tanda vital Bagas dan semua kembali normal dalam sekejab. Bagas melihat sekitarnya dangan wajah bingung, dia mencoba melihat dan memeriksa sekitarnya lagi tapi itu terlalu aneh untuk sebuah rumah sakit. (kenapa rumah sakit ini bersih sekali, tidak ada satupun arwah disini) batin Bagas yabg tengah terheran heran dengan suasana di ruang oprasi itu. Dokter masih sibuk memeriksa badan bagas karena sebelumnya benar benar keadaan darurat namun Bagas menepis alat alat itu.
"maaf dok, tapi saya sudah tidak apa apa terimakasih" kata Bagas menarik tangannya, semua pertanyaan dokter dan perawat yang mengurusnya Bagas abaikan, dia hanya celingak celinguk seprti mencari sesuatu.
"dok, cewek yang nemenin saya mana ya kok saya tidak lihat" tanya Bagas bingung
"ini ruang oprasi, tidak ada yang boleh masuk kecuali pasien, dokter dan perawat.
"geuneun mueoseul hal su (apa mungki dia)"
Bagas tidak melanjutka kalimatnya dan dengan segera menuruni kasurnya lalu membuka pintu ruangan itu dengan segera dan betapa terkejutnya Bagas, ketika melihat semua arwah yang berkeliaran ternyata berkumpul tanpa celah membelakangi ruangan Bagas.
"ige mwoya (apa ini)"
...****...
"akh.." Nasya berkali kali mencoba melewati penghalang itu namun hasilnya nihil, tidak ada celah sedikitpun bahkan Nasya pun tidak bisa menyentuh arwah arwah itu satu pun, arwah arwah itu seperti di halangi dinding kaca yang sangat tebal yang bahkan tidak bisa pecah sekali pun.
"sus saya boleh minta tolong, boleh tolong gandeng tangan saya buat ngelewatin jalan itu" kata Nasya dengan suara serak, baju lengan pendek yang Nasya kenakan tidak bisa melindung tangannya yang biru biru karena terus mencoba melewati pembatas itu. Sudah beberapa kali Nasya mencoba untuk menggandeng tangan orang lain dan memintanya untuk menariknya namun hasilnya nihil, namun dia mau mencoba cara ini untuk terakhir kali.
"tinggal lewat aja kak, kenapa takut ya kak ya udah saya temani" kata suster itu dengan senyum ramahnya tanpa tau apa yang akan dia kewati di lorong itu
"bukan nggak berani, kakaknya beneran nggak bisa lewat, aku sudah coba bantuin tadi tapi cuma aku yang bisa lewat" jelas staf yang sedang menjaga administrasi itu.
"hahaha ada ada aja kamu mana ada yang kaya gitu ah, mari kak saya antar" kata suster itu tidak percaya karena tidak pernah terpikir di luar nalar manusia biasa
Suster itu menggandeng tangan Nasya dan mengajak Nasya mengobrol bertanya kenapa Nasya penuh darah. Suster itu melewati penghalang itu dengan mudah namun semakin dekat tangan Nasya dengan barisan arwah itu dinding penghalang itu semakin menolak tubuh Nasya, suster itu menghentikan langkahnya dan mencoba menarik tangan Nasya dengan kuat.
"aaaw sakit sus hiks, sus bisa tunjjukan aku jalan lain selain jalan utama ini dan jalan samping" tanya Nasya dengan nada hampir putus asa
"ada kak tapi itu ruang staf, mari kak saya antar, tidak apa kalau keadaannya seperti ini" kata suster itu dengan wajah yang terlihat sangat bingung
__ADS_1
Suster itu dengan cepat mengajak Nasya keluar dari pintu utama dan menuju tempat masuk staf. Suster itu membuka pintu ruang staf dan mengajak Nasya masuk melewati ruangan yang terdapat banyak loker. Suster itu membuka pintu akses untuk masuk ke dalam lorong rumah sakit, namun hasilnya sama tidak ada perubahan. Suster itu mencoba menarik sekuat tenaga namun itu hanya menyakiti Nasya. Suster itu melepaskan tarikannya dan menghampiri Nasya lagi dan wajahnya terlihat bingung suster itu bertanya kepada Nasya.
"kak apa yang sudah terjadi disini, apa yang menghalangi kakak" tanya suster itu penasaran
"ratusan, ah bukan, ribuan arwah di rumah sakit ini menghlangi jalan ku tapi anehnya aku tidak bisa menembus mereka sus, seperti ada dinding yang aku juga tidak bisa lihat, aku tidak bisa lewat" jelas Nasya, dia tidak perduli mau suster itu percaya atau tidak
"mbak serius?" tanya suster itu memastikan, terlihat mimik takut di wajah suster itu
Nasya hanya mengangguk menjawab pertanyaan suster itu, dia sangat khawatir pada Bagas sampai mau gila. Nasya berlari kembali ke tempat sebelumnya dan berterimakasih pada suster itu. Nasya sangat bingung cara apa lagi yang harus dia lakukan untuk menembus batas itu.
"igeon eottae (bagaimana ini)" kata Nasya lirih sambil meramas rambutnya pelan, dengan air mata yang masih mengalir, badannya sudah sakit, otaknya panas memikirkan semua ini.
Nasya hanya berdiri dan memegangi pembatas itu, dia sudah tidak peduli lagi dengan arwah yang ada di depan matanya itu yang dia pikirkan hanya Bagas.
(Gas kamu nggak apa apa kan, badan kamu tadi dingin banget sampe aku takut, tangan mu tadi sampe memutih dan semua ini karna aku, Maaf) saat tengah sibuk dengan hati dan otaknya yang ribut tiba tiba angin yang sangat kencang berhembus menerpa wajahnya, menerbangkan semua brosur dan kertas kertas yang ada di meja administrasi, semua arwah yang ada di depan Nasya hilang bagai terbakar api, tangannya yang memegang dinding tidak terlihat itu jatuh seperti tidak ada yang menghalangi lagi. Saat mendongakkan wajahnya terlihat Bagas yang tengah berdiri di ujung lorong utama rumah sakit itu. Dengan jelas mata biru Bagas yang menyala badannya di penuhi siluet cahaya biru dan tangan kanannya yang berdarah memegang pedang yang tembus pandang dan perlahan menghilang.
Nasya memajukan satu kakinya, penghalang itu sudah tidak ada, Nasya yang mengetahui itu langsung berlari menghampiri Bagas, dia tidak peduli dengan pedang yang di pegang Bagas sebelumnya, dia hanya ingin bersama Bagas saat itu. Orang orang yang sedari tadi melihat Nasya sangat berusaha melewati jalan itu kembali ribut dan membicarakan Nasya
"wah akhirnya dia bisa lewat" ribut orang orang dan staf di sana yang sedari tadi melihat Nasya berusaha melewatinya dan akhirnya berhasil.
Nasya berlari menghampiri Bagas yang berdiri di ujung lorong dan memeluknya erat, terlihat siluet biru itu masih mengelilingi tubuh Bagas dan perlahan mulai menghilang.
"panggil nama ku" kata Bagas pelan di telinga Nasya
"Bagas" jawab Nasya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Bagas
"panggil nama ku sayang" kata Bagas meminta lagi pada Nasya, Nasya langsung paham dan memanggilnya lagi
"Yul, Yul ku, Yul milik ku"
"jar haesseo (kerja bagus)"
__ADS_1
Badan Bagas kembali berat dan kembali kehilangan kesadarannya lagi, badan Bagas sangat dingin dan lantai tempat Bagas dan Nasya berdiri penuh dengan darah yang terus menetes dari tangan Bagas, perawat dan dokter yang melihat itu langsung membawa Bagas untuk segera di tangani kembali, Nasya yang tidak ingin kejadian sebelumnya terjadi untuk kedua kalinya terus mengikuti perawat dan dokter yang membawa Bagas.