Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 4 BALASAN


__ADS_3

jam sudah menunjukkan pukul 14.30, pekerjaan perencanaan 2 bulan ke depan syukurnya sudah selesai dan sudah aku serakahkan pada kak Arkan melalu email, cara ini adalah cara paling efektif untuk mengumpulkan pekerjaan ku ketimbang harus berjalan melewati jalan terkutuk itu. Aku mematikan laptop ku dan memasukkannya kedalam tas, aku melihat Bagas dan Hendra yang masih asik dengan buku komik yang mereka baca. Aku mendekati mereka dan mengajak mereka pulang.


"pulang yuk, udah hampir sore nih" ajak ku kepada Bgas dan Hendra


"memamg sudah jam berapa Sya" Hendra mencari cari jam yang menempel di dinding cafe untuk memastikan saat ini sudah jam berapa


"mampus gue, guys gue duluan ya aku ada kerja part time soalnya, oh iya gas makanan kamu bayarin dulu ya nanti aku ganti uangnya oke" kata Hendra tergopoh gopoh sambil membereskan barang dan memakai sepatunya


"iya iya, udah sana keburu telat beneran" jawab Bagas dengan mata masih tertuju ke komik bacaannya


"bye Sya bye Gas aku duluan ya" pamit Hendra pada kami berdua


"emmm.."jawab Bagas datar


"bye Hen" jawab ku sambil melambaikan tangan


Bagas bahkan tidak melihat ku dan masih fokus pada bacaannya, aku duduk bersandar di sampingnya dan mengajaknya pulang karena hati semakin sore.


"gas pulang yuk, kita udah lama banget disini"


"bentar yank lagi seru banget nih"


Aku mengambil tangan Bagas dan membanding bandingkan ukurannya mana yang lebih besar, padahal sudah jelas. Saat membandingkan tangan ku aku menyadari sesuatu telah hilang dari tangan ku, ya garis biru, gatis biru yang melingkar di tangan ku telah hilang. Aku mengerutkan kening ku dan mencoba memperhatikan tangan ku sekali lagi dan betul, aku tidak menemukan garis itu di pergelangan tangan ku. Aku melepaskan tangan Bagas dan menggosok lengan ku pelan mungkin tertutup foundation meski aku tak pernah memakainya tapi aku memunculkan pikiran itu dalam kepala ku. Aku melirik Bagas yang masih membaca buku disamping ku. (sebenarnya apa yang terjadi antara kita) batin ku bertanya tanya.


Bagas yang sadar aku melihatinya melihat ku balik sambil tersenyum dan menutup buku yang sedang dia pegang.


"ayo pulang, kau jenuh kan"


"enggak kok, baca aja lagi hanya tinggal beberapa lembar lagi selesai tuh kayanya"


"sungguh oke baik lah sayang terimakasih"


Aku melihat cewek cewek sedari tadi melewati Bagas dengan senyum senyum dan berbisik bisik, aku memperhatikan apa yang salah pada dirinya dan ya tuhan. Dia ternyata membuka jaket levisnya dari tadi dan kaos putihnya menunjukkan ada perban yang membungkus kedua putingnya. Aku menarik jaket yang di geletakkan di sampingnya lalu menutupi badan Bagas dan menutupi kaos putih laknat yang tidak bisa menutupi Badan pacar ku itu dengan jaket levis yang dia anggurin di sampingnya.


"kenapa sayang" tanya Bagas yang tengah bingung kenapa dia di bungkus pakai jaket pdahal lagi gerah


"kelihatan Bagas"


"apanya"


"ini" aku mencolek perban di dadanya itu dan Bagas meringis kesakitan


"aw aw aw, sayang sakit"


"udah tau pake baju putih jaketnya malah di buka, ketat lagi kaosnya, mau pamer roti sobek kamu"


"astaga maaf yank aku lupa kalo pakai kaos putih😭"


"allah alasan bilang aja mau pamer sama cewe cewe di cafe kan" kata ku menjaili Bagas sambil senyum senyum

__ADS_1


"ya ampun Nasya ini punya kamu bukan punya siapa siapa kok"


"hahahah bercanda"


"iiiih kamu ya" kata Bagas gemes sambil mencubiti pipi ku.


"aaaaaw" kata ku mengaduh karna pipi ku di cubit Bagas


"udah gih cepet bacanya baru pulang"


"iya 3 lembar lagi"


Aku membuka Hp ku melihat apa Putri sudah membalas pesan ku atau belum, tapi nihil tidak ada balasan. Aku sangat bingung sebenarnya apa penyebab Putri bisa semarah itu pada ku. Dari awal aku mengungkapkan semuanya wajahnya mulai berubah. Padahal pada awal Bagas mendekati ku dia terlihat baik baik saja. Aku sedikit kasihan pada Rey, bagaimana bisa Putri bersikap seperti itu didepan Rey seolah olah Putri sedang menyukai Bagas.


"Nasya, ayo pulang" kata Bagas membuyarkan lamunan ku yang tidak tidak itu


"ayo, sebentar aku ambil barang ku di meja dulu" aku memasukkan documen ku ke dalam map dan menyusul Bagas di kasir


"bentar gas aku bayar dulu"


"sudah, yuk pulang"


"sudah dibayar pacarnya mbak"jelas kasir ramah itu dengan senyum


"ah iya makasih"


Bagas mengambil barang ku dan memasukkan ke mobilnya. Aku duduk di kursi penumpang disebelah Bagas, Bagas menjalankan mobilnya perlahan melintasi ramainya lalu lintas, entah dia mengajak ku berputar kemana yang ku tau kita makin jauh dari kos ku.


"jalan jalan, kos kamu deket banget cepet sampenya jadi aku jalan jalan dulu deh"


"ya udah kita mampir apotek yuk"


"kamu sakit"


"enggak, aku mau beli obat aja"


"beneran yank"


"iyaaah"


Bagas berhenti di salah satu apotik, Bagas memarkir mobilnya dan aku masuk ke dalam membeli beberapa obat, salep dan perban. Setelah selesai aku kembali ke mobil Bagas dan duduk di kursi belakang.


"lah Sya kok duduk di belakang"


"kamu duduk sini"


"aku"


"ya kamu lah, masa aku panggil mbak kunti yang lagi nangkiring di pager itu"

__ADS_1


Bagas menurut dan akhirnya dia pindah ke kursi belakang.


"kamu kenapa" tanya Bagas bingung karena aku menyuruhnya untuk pindah ke belakang padahal dia yang menyetir mobil


"kaca mobil kamu gelap kan"


"iya gelap, kenapa memangnya"


"gelap banget kan"


"iya Nasya sayang kenapansih"


"yaudah gih buka baju"


"haaa kamu mau ngapain"


"udah buka aja bawel banget deh"


"iya iya sabar dong"


Bagas membuka baju kaosnya dan terlihat perban di putingnya yang amburadul dan sanagt tebal itu, aku tertawa kecil melihat perban yang dikenakan Bagas pada lukanya, tawa ku makin keras saat mulai menutupi perbannya dengan tangannya.


"seneng kamu"


"hahahah ya ampun Bagas, kok berantakan banget sih masangnya sayang mana tebel banget lagi hahaha" tawa ku sambil membuka perban Bagas yang tebal dan berantakan itu.


"ya kan aku nggak tau yank" jawab Bagas dengan wajah merahnya, aku tau dia sangat malu saat itu


Aku membukakan permen untuknya dan memasukkan ke mulut Bagas. Setelah selesai membuka perban itu aku membersihkan luka dibalik perban Bagas. Dia hanya nyengir nyengir karna luka lecetnya masih perih saat ku beri obat. Banyak bekas biru biru di perut Bagas yang hanya melihatnya saja aku merasa bersalah. Aku telah selesai memperbaiki lukanya dan Bagas telah berpakaian kembali.


"tenang sayang, besok pasti lukanya sembuh kok tanoa bekas" kata ku basa basi pada Bagas meskipun itu hal mustahil bahwa besok luka lecetnya sembuh. Aku membuka bungkus permen kopi kembalian dari apotek tadi karena nggak ada uang seribu jadi aku dapat 4 permen.


"yang kamu makan peremen apa yank"


"permen kopi, kamu mau"


"mau"


"bentar" aku mencari permen yang belum ku buka di saku celana ku itu, namun tiba tiba Bagas mendongak kan kepala ku dengan tangannya dan merebut permen yang ada di mulut ku dengan lidahnya. Aku terdiam dan Bagas hanya tersenyum jail melihat aku dengan mulut ku yang masih sedikit terbuka.


"Bagaaas, aaaah permen aku"


"hahaha emmmm enak sayang, tukeran sayang hahah"


Bagas memberiku permen cola yang di emutnya dari tadi dan tinggal bulatan kecil saja. Bagas tertawa karna dia mencurangi ku.


"hahah mianhe" kata Bagas sambil menciumi pipi kanan kiri ku


"curang ah"

__ADS_1


"mianhe chagi" Bagas mencium bibir ku sambil tertawa puas, aku memukul lukanya hingga dia memohon ampun. Dasar orang licik itu😑.


__ADS_2