
"siap sayang" tanya Bagas kepada Nasya
"siap" jawab Nasya semangat
Bagas mengajak Nasya ke basemen untuk mengambi kendaraan yang akan di gunakannya dan betapa terkejutnya Nasya kendaraan yang akan di gunakan bagas ada motor dan bentuknya seperti motor balap, Nasya hanya geleng geleng kepala sedangkan Bagas senyum senyum tanpa rasa bersalah.
"Bagas awas aja ya sampe ngebut ngebut" kata Nasya dengan wajah cemberutnya
"iya sayang" Bagas menarik tangan Nasya agar bisa segera pergi namun Nasy menahan tangannya hingga Bagas mengehntikan langkahnya
"jauh nggak tempatnya" tanya Nasya dengan wajah khawatir
"deket sini kok nggak terlalu jauh, jangan takut kita pakai helm keselamatan kok" kata Bagas menenangkan Nasya dan membantu Nasya mengaitkan helmnya
"janji nggak ngebut ya awas aja, ya udah ayo basemennya serem soalnya" Nasya mendekati bagas dan memegang bajunya
Terlihat banyak sosok menyeramkan di baseman apartemen tempat Bagas menaruh beberapa kendaraanya, rata rata dari semua sosok itu seperti basah seperti terguyur air. Tidak heran juga kenapa mayoritas hantu di tempat Bagas basah karena tepat di depan apartemen Bagas adalah laut, semua sosok yang ada di baseman itu membentuk lingkaran seperti sedang mengepung mereka berdua agar tidak kemana mana, bau anyir darah bercampur air laut tercium sangat menyengat di baseman itu. Entah angin dari mana mata Nasya tertuju kepada salah satu sosok yang tidak asing dimatanya dan benar salah satu dari mereka adalah sosok yang pernah mengganggu Nasya saat pertama kali datang ke rumah Bagas.
Sosok itu menatap nanar Nasya dagan kedua matanya masih dengan bentuk kepala seperti sebelumnya. Badan Nasya kaku, kakinya bergetar hebat, tangannya basah dengan keringat. Bagas tidak menyadari apa yang di lihat kekasihnya karena helm yang dia gunakan berkaca gelap serta cahaya Basemen yang temaram.
__ADS_1
Bagas yang sudah siap di atas motornya kebingungan kenapa Nasya tidak segera naik ke atas motor dan beta yerkejitnya Bagas saat dia membuka kaca helamnya, ada ratusan sosok yang sedang melingkar mengepung mereka Berdua, dan salah satu sosok yang ada di barisan lingkaran itu mendekat ke arah mereka, Bagas seperti tidak asing kepada sosok yang mendekat kepada mereka dan ternyata itu adalah sosok yang berada di lift yang mengajak Nasya mati saat itu.
Sosok itu mendekat sambil berkata "aku bagas akau abagas aku abagas aku abagas" ucal sosok itu dengan celat dN dengan langkah terpatah patah mendekatai meraka.
Bagas sontak melirik Nasya yang berada di belakangnya, wajah Nasya sudah pucat keringat keluar dari keningnya dia hanya diam saja, diam tanpa sepatah kata pun. Bagas langsung menstandar motornya dan memeluk Nasya.
"tidak tutup mata mu, kita akan bersenang senang jangan sampai hati mu buruk" kata Bagas kepada Nasya yang ada di pelukannya itu
"dowajuseyo, museowoyo (tolong aku, aku takut)" kata Nasya pelan di dekat telinga Bagas dengan suata genetarnya
"gwaenchanha na yeogi isseo jagiya (tidak apa apa, aku disini sayang)"
"paran geom"ucap Bagas pelan sambil menarik sesesuatu di tangan kirinya layaknya seseorang yang tengah membuka sarung pedangnya, cahaya api kebiruan berkumpul membentuk sebuah pedang di tangan Bagas tempat dia menarik nyawa pedang yang telah ribuan tahun menemaninya, pedang dewa kehancuran.
Siluet biru pedang itu kini berada di tangan kanan Bagas telah tebentuk sempurna menyeruapai pedang sering dia gunakan saat di langit. Bagas menggenggam kuat oedang itu, tangannya sedikit gemetar mengingat kejadian yang dulu dia lakukan dengan menggunakan pedang itu. Namun Bagas memilih mengumpulkan keberaniannya, mereka tidak akan bisa melewati ratusan sosok yang tengah mengepungnya itu, aura mereka begitu kuat dan gelap bahkan mungkin orang yang lengelihatannya tidak tajam juga bisa melihat wujud mereka karena aura mereka sekiat itu. Dengan tatapan yang sangat marah Bagas mengangkat pedangnya lalu mengayunkannya dalam sekali tebasan melingkar sempurna.
Api biru dari pedang itu menebas semua makhluk yang tengah mengepung mereka tanpa tersisa. Baseman yang sebwlumnya penuh dengan aura negatif kini kembali Normal, tidak ada satu pun makhluk yang masih ada di depannya. Siluet nyawa Pedang yang berada di tangan kanan Bagas perlahan menghilang dan kembali ke tempatnya semula. Tangan kanan Bagas terjatuh lemas akibat kekuatan pedang yang teramat besar itu, dirinya kini hanya manusia setengah dewa bukan dewa seutuhnya seperti dahulu wajar saja apa bila kekuatan itu mempengaruhi tubuh manusianya.
"sudah tidak apa apa sayang" kata Bagas yang mencoba menenangkan Nasya yang sedari tadi tidak berani membuka matanya
__ADS_1
"sosok paman itu masih ada, kamu liat kan" kata Nasya dengan bibir bergetar
"sudah tidak ada sayang, aku sudah melenyapkan mereka tenang lah"
Nasya bingung kenapa Bagas menjawabnya dengan suara yang lebih gemetar dibanding dirinya, Nasya melepas pelukan Bagas dan melihat dan melihat keadaan kekasihnya itu. Betapa terkejutnya Nasya wajah kekasihnya pucat pasi, bibirnya pucat hingga kebiruan dan yang lebih mengagetkan kedua tangan Bagas terdapat luka sayatan panjang yang terus mengeluarkan darah tenpa henti. Baju Nasya yang sebelumnya putih kini memiliki banyak bercak merah karena darah dari tangan Bagas.
"sayang kamu kenapa" tanya Nasya dengan wajah khawatir
Bagas tersenyum pada dirinya dan akhirnya jatuh tidak sadarkan diri di pelukan Nasya. Nasya kaget hingga badannya tidak dapat di gerakkan, Nasya menepuk pelan punggung Bagas dan memanggil manggil namanya namun tidak ada respon dari Bagas.
Nasya panik setengah mati dia mengeluarkan Hpnya dan segera menelfon ambulance, sudah tidak ada ide lain di otaknya tentang keadaan Bagas yang paling penting adalah keselamatan Bagas.
Nasya membawa badan Bagas kedalam lift menuju lantai satu, air mata Nasya tidak berhenti mengalir dan Nasya terus memanggil nama Bagas meski tidak ada respon sama sekali dari kekasihnya.
Lift terbuka di lantai satu, beberapa pegawai diasana sangat terkejut melihat keadaan kami terlebih lagi karena baju ku yang berlumuran darah Bagas.
"ada apa kak, kok bisa seperti ini" tanya salah satu pegawai dengan wajah panik menghampiri Nasya
"cepat buka pintu aksesnya ambulance akan segera datang" tutur Nasya kepada pegawai yang bertanya kepadanya itu
__ADS_1
Staf buru buru membukakan pintu akses untuk kami dan tidak lama kemudian ambulance datang, mereka segera menaikkan badan Bagas ke mobil dan dengan cepat menuju rumah sakit. Perawat yang ada di belakang bersama ku tengah melakukan pertolongan pertama untuk Bagas dengan sigap dan memberikan oksigen kepada Bagas yang tidak sadarkan diri itu.