Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 5 BAGAS


__ADS_3

Aku yang tengah tertidur tapi tidak lelap itu merasakan pergerakan di kasur ku dan ternyata Nasya sudah bangun, aku memastikan dan menanyakan keadaannya dan dia berkata baik baik saja. Nasya duduk perlahan dan melihat sprei yang dia tiduri yang semula putih berubah menjafi merah karna noda darahnya. Dia mengusap jidatnya dan meminta maaf pada ku. Aku menyuruhnya mandi dan membersihkan dirinya yang penuh dengan darahnya itu, aku masih takut untuk melihat matanya hingga aku berbicara melihat ke arah lain.


Aku mengganti seprei kasur ku dengan yang baru agar nyaman untuk ditiduri malam nanti. Aku memasukkan seperei ku yang terkena darah Nasya ke dalam mesin cuci, aku berjongkok di ruang laundry sambil menjambak rambut ku hingga beberapa helay jatuh kelantai.


(dewa... Kenapa kau tidak bunuh saja aku hari itu, kenapa kau siksa aku dengan rasa sakit tidak berujung ini, dia adalah dunia ku, bagaimana aku bisa melihatnya menderita sedangkan aku tidak tau harus berbuat apa untuk menghentikan semua ini) aku berjongkok di depan mesin cuci yang berputar dengan air yang berwarna merah darah, aku ingin membunuh diri ku saat itu juga, tapi tidak akan pernah berhasil karna kutukan dewa yang diberikan kepada ku. Aku hanya dapat melihatnya terluka lagi disaat dia melihat sepenggal ingatan tentang kita dimasa lalu.


Aku menyudahi berfikir ku dan keluar dari ruang laundry, saat melewati dapur aku melihat Nasya tengah mengambil minum dengan rambut yang di balut handuk dan masih menggunakan handuk mandi.


"hya gwencana (hey kamu tidak apa apa)"


Aku membuka handuk mendinya tepat dumana luka itu berada, luka itu menutup sempurna seperti tidak terjadi apa apa, amarah yang muncul untuk diri ku sendiri tidak terbendung lagi aku menggebrak meja makan sangat keras, amarah ku sudah di ujung ubun ubun, aku marah pada diri ku sendiri, aku benci pada diri ku sendiri. Bagaimana caranya aku menghilang dari dunia ini dan membiarkan dia bahagia bersama orang lain saja, karna jika dia terus berada di dekat ku dia akan menderita.


Tangan dingin Nasya mengambil tangan ku yang merah setelah memukul meja tidak bersalah itu, dia meniup dan mengelus tangan ku. Dia menenangkan ku yang tengah terpuruk itu dengan energi positifnya yang membuat tubuh ku lama kelamaan melupakan semua pikiran sadis itu.


Aku memeluknya dalam dalam, aku hanya mencoba mengingat kenangan indah saat pertama kali dia menyeret ku ke kehidupan baiknya dan membuat ku menjadi Yul yang bahagia, Yul yang akhirnya bisa tersenyum, Yul yang hanya akan berada disisinya untuk mencintainya, jalan yang diberikan dia untuk ku sangat indah, hingga aku sejenak melupakan bahwa aku adalah dewa kehancuran yang hidupnya tidak pernah berwarna. Bagaimana aku tidak hancur disaat dia hampir mati karna aku, bagaimana aku bisa bahagia sementara Gyuri dunia ku tidak baik baik saja dan aku harus terus menyaksikan dia terluka saat mengingat kenangan kenangan yang sudah kita jalani bersama.


Aku mengambil obat yang sudah di resepkan dokter untuk Nasya sebelumnya. Aku membuka bungkusannya dan memberikan pada Nasya untuk meminumnya.


"minum obat sayang, lalu istirahatlah"


Nasya memasukkan obat itu kedalam mulutnya lalu meminum beberapa tegak air. Dia berjalan menuju ruang tamu dan mengambil tas belanjaannya tadi. Aku mengistirahatkan badan ku di sofa depan dan memandangi pedang yang terpajang di ruang tamu itu


"aah... Apa Nasya sudah melihat pedang ini, aku yakin dia pasti akan mengingat sesuatu lagi" gumam ku pelan.


Aku berjalan mendekati kamar ku dan mengetuk pintu kamar memastika Nasya sudah memakai pakaian.


"sayang apa sudah selesai"


Nasya membuka pintunya dan menyuruh ku masuk, Nasya memeluk ku dan menyuruh ku untuk mandi karna hari semakin malam. Aku melihat diri ku di depan kaca, setengah baju ku berwarna merah terkena darah Nasya sebelumnya. Aku segera menyelesaikan mandi ku dan mengenakana baju ku lalu keluar kamar mandi. Aku benar benar tidak berani untuk melihat Nasya dengan mata ku, aku takut akan terjadi sesuatu lagi.


Aku melihat Nasya berbaring sambil memainkan Hpnya di atas kasur.


"kamu bahkan pakai baju di kamar mandi, maaf membuat mu tidak nyaman bahkan di rumah mu sendiri"


"aniyeo gwencana (tidak, tidak apa apa)"


Aku berjalan medekati kasur dan memposisikan tidur ku, lalu aku memeluk Nasya aku tau dia akan mengantuk karena habis minum obat. Aku mencari cari selimut dengan kaki ku tanpa tau Nasya terus memperhatikan ku. Nasya mencubit pipi ku hingga aku membuka mata ku dan meliat wajah pucatnya yang sedang menatap ku.

__ADS_1


"kamu sudah liat selimutnya" kata Nasya datar menatap ku


"kita dudukin" jawab ku sambul menundukkan kepala ku


Nasya mengangguk dan membenarkan selimut untuk kita pakai, dia menyuruhku untuk bersikap biasa saja seperti sebelumnya. Aku hanya menatapnya putus asa, karna dia terus menenangkan ku yang bahkan tidak bisa tenang sekali pun.


"mwoga duryeobni, jagiya (apa yang kau takutkan, sayang)" tanya Nasya sambil mengelus pipi ku pelan


"neolaseo, museowo (aku takut, karna itu dirimu)"


"jinjeonghae jagiya, ujuneun uriga heeojiji anhdolog hamkke deryeowasseul georago hwagsinhae (tenang lah sayang, aku yakin semesta mempertemukan kita bukan untuk berpisah)"


Aku memeluknya dan membiarkan dia istirahat di pelukan ku. (museun iri isseossneunji andamyeon, nal miwohagesseo? "seandainya kamu tau yang terjadi, apa kau akan membenci ku?") batin ku. Aku ikut tertidur saat itu, mata hari mulai tenggelam dan berganti menjadi bulan, langit menjadi gelap gulita dihiasi bintang.


Aku terbangun dan melihat jam di samping tempat tidur ku, waktu sudah menunjjukkan pukul 22.30. Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil air minum.


"aah aku ingin minum"


Aku membuka lemari anggur ku dan mengambil yang paling kuat kadar alkoholnya. Aku mengambil sembarang gelas untuk meminumnya dan pergi balkon kamar mencari udara segar sambil menikmati wine ku. Aku menuangkannya pada gelas minum biasa dan dan langsung menghabiskan setengahnya.


"kkhh aahh, terlalu manis" kata ku sambil mendesis karna tenggorokan ku yang panas menenggak anggur yang kuhabiskan setengah gelas itu.


"geuge eottaeyo, seonsaengnim? (ada apa dengan kejadian tadi tuan)" tanya pria joseon pada ku


"na ttaemune (karna aku)"


"seonsaengnim, momi tongjehal su eobsdago haji anhassseubnikka? (tuan, bukan kah kau bilang itu di luar kendali tubuh mu)


Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan pria joseon itu, dia terlihat berpikir dan bertanya sesuatu yang tidak pernah aku fikirkan selama ini.


"nuga neol geureohge hage haessneunji saenggaghajima? (tidak kah kau memikirkan siapa yang membuat mu melakukan hal itu tuan)" tanya pria joseon itu membantu ku mencari jalan keluar


"naneun geugeose daehae saenggaghaessjiman geugeose daehae gieogi eobseossseubnida (aku sudah memikirkannya, tapi aku tidak memiliki ingatan tentang itu)"


Aku sudah memikirkan hal itu dari ratusan tahun lalu bahkan sebelum aku di turunkan ke bumi untuk mencari reinkarnasi Gyuri, namun entah bagaimana aku sama sekali tidak mempunyai ingatan tentang kejadian sebelum tragedi itu terjadi, yang ku ingat hanyalah aku mengumpulkan bunga untuk rangkaian bunga yang di buat Gyuri untuk pernikahan kita. Namun anehnya, saat aku tersadar aku sudah menusuk Kang dan Gyuri dengan pedang ku.


Aku kembali menghisap rokok ku yang ku pegang sedari tadi, tapi tiba tiba Nasya merebutnya dan mematikannya rokok yang masih menyala itu.

__ADS_1


"nggak baik buat jantung, ngapain di luar malam malam"


Dia menjelaskan kalau dia terbangun karna tidak ada aku di sampingnya, aku menyuruhnya duduk di samping ku sambil melihat pemandangan indah di depan kita.


"wah istananya bagus sekali"


"itu kerajaan jin sayang"


"aku tau"


"kamu nggak takut?"


"energinya negatif sih, tapi selama bentuknya masih enak di pandang aku nggak apa apa, lagian ada kamu yang nolongin aku kalo aku takut"


"hahahha seratus, ada aku yang nolongin kamu kalo lagi takut, makanya kamu tinggal sama aku aja"


"nggak boleh, papa ku pasti bakal nggak setuju, mana kamu cowok lagi"


"yah" kata ku kecewa


Kita banyak berbincang dan akhirnya Nasya melihat minuman yang sebelumnya ku minum. Tanpa ba bi bu dia langsung meminum semuanya yang ada di gelas, aku merebut gelasnya tapi sudah habis di tenggaknya


"ya ampuun sayang itu anggur, kamu itu nggak nanya nanya dulu" omel ku


(mampus gue, mana kadar alkoholnya tinggi banget lagi) batin ku cemas.


"kamu nggak apa apa Sya, nggak pusing" tanya ku sambil membolak balikkan wajahnya dan memgang jidatnya


"enggak kok cuma wajah ku panas aja"


"kamu sih lagian ah" olem ku sambil menempelkan tangan dingin ku ke wajahnya


Aku menyuruhnya meminum air lagi agar mabuknya hilang. Dia bersender di pundak ku dengan pipi merahnya karna mabuk sambil memeluk tangan ku. Dua berkata lirih pada ku dengan mata sendunya


"jagiya, ulji ma nan neoui geuleon moseubi neomu seulpeo (sayang, jangan menangis aku sangat sedih melihat mu seperti itu)"


Aku hanya tersenyum sambil mengelus rambutnya, aku menempelkan tangan ku lagi karna wajahnya sangat panas.

__ADS_1


"joesonghabnida (maaf)" kata ku sambil memgecup ujung rambut di keningnya dan membiarkannya memeluk tangan ku sesukanya


__ADS_2