
"stop jangan di pegang"
Hendra menghentikan tangannya, dia kaget karena suara Nasya sedikit berteriak kepadanya.
"kamu harus liat ini"
Nasya mengambil map rontgen yang di berikan oleh dokter sebelumnya untuk di tunjukkan kepada Hendra, Hendra masih kebingungan dengan reaksi reflek Nasya kepadanya karena ingin memegang tangan sahabatnya itu. Nasya mengeliarkan beberapa gambat rontgen tubuh Bagas. Mita dan juli ikut serta melihat gambar itu. Hendra yang terlihat tidak paham dan bingung melihat gambar rontgen yang tidak jelas didepan matanya.
"apa ini, kenapa tidak jelas begini" kata Hendra bingung melihat gambar rontgen yang berada ditangannya itu
"ini keadaan dalam Bagas, yang paling parah adalah bagian organ dalam dan tangannya" Nasya menjelaskan apa yang dijelaskan dokter kepadanya
Hendra menjambak pelan rambutnya dan mengusap keningnya, matanya berkaca, terlihat jelas di pelupuk matanya air mata yang dia tahan untuk mengalir keluar. Juli dan Mita hanya terdiam, Nasya sangat mengerti arti dari ekspresi teman temannya itu melihat kemungkinan hidup Bagas yang begitu kecil dan hampir tidak mungkin.
"sebenarnya apa yang terjadi Sya, apa yang terjadi sama kalian"
"aku bakal jelasin, tapi sekarang aku mau tanya sama kalian, apa kalian bakal percaya kalau aku cerita semuanya?" tanya Nasya mencoba mendapatkan tanggapan dari teman temannya
"ceritakan semuanya Sya, aku ingin tau" Hendra memegang pundak Nasya untuk segera meyakinkan temannya itu
"meskipun di luar nalar"
Mereka semua terdiam dan saling pandang satu sama lain lalu melihat Nasya kembali, mereka mengangguk hampir bersamaan dan memasang wajah serius untuk mendengarkan penjelasan Nasya.
"aku dan dia" melihat Bagas lalu memandang teman temannya kembali
"mempunyai indra keenam percaya atau tidak itu keputusan kalian" Nasya memulai semua ceritanya dari awal kejadian sampai detik ini.
Teman temannya kaget bukan main dengan apa yang mereka dengar dari mulut Nasya, mereka semua melongo dengan ekspresi wajah yang kaget serta bingung. Nasya tidak menceritakan siluet biru pada tubuh bagas yang dilihatnya karena menurutnya itu hal yang harus tetap di rahasiakan.
"kamu, ini beneran Sya, kamu nggak habis baca Novelkan Sya" tanya Hendra dengan wajah bingung, alisnya hampir menyatu karena kerutan di dahinya
"hei bukankah dia sebelumnya memastikan kepada kita, percaya atau tidak itu kita masing masing yang memutuskannya" kata Mita yang mengingatkan kembali tentang peringatan yang Nasya beri tau sebelumnya
"tapi aku percaya sama Nasya, aku pernah mendengar ilmu tentang membuat dinding penghalang pasangan dan itu adalah ilmu terlarang yang sangat terkenal di korea dikalangan hindu kuno dan mereka yang percaya dengan dewa, aku nggak tau banyak sih, oh kamu kan orang korea Sya, kamu nggak tau tentang ini" Juli mejelaskan apa yang dia tau lalu bertanya kepada Nasya tentang hal yang baru daja dia jelaskan, Nasya hanya menggeleng tidak tau tentang hal yang baru saja di jelaskan oleh Juli tapi dia merasa bahwa cerita Juli sangat mirip dengan apa yang dia alami.
"tapi yang aku tau penghalang itu tidak mudah untuk dia hilangkan, dia hanya akan hilang ketika pasangan tersebut mulai putus asa dan menyerah tentang cinta yang mereka alami dan saling meninggalkan satau sama lain, lalu penghalang itu akan hilang"
"bukan kah mereka bisa menjalin hubungan lagi setelah dinding itu menghilang" tanya Hendra yang menanggapi cerita Juli
"enggak, itu adalah efek dari pengahalang itu, mereka tidak akan punya ketertarikan lagi dan lebih memilih mencari orang lain, mungkin kalo di indonesia dibilangnya pelet kali ya"
"wah Jul, tumben lu berwawasan luas , biasanya lola gitu" canda Mita kepada temannya yang mendadak menjadi ahli sejarah itu, mereka tertawa kecil dan kembali serius lagi
"jadi Sya, siapa yang menemukan siapa?" tanya Juli kepada Nasya lagi
"dia, yang menemukan ku. Terdengar suara seperti ribuan kaca pecah saat itu dan Bagas menemukan ku" jelas Nasya dengan singkat, dia sebenarnya tidak mau mengingat lagi kejadian itu, karena dia sangat takut akan Bagas saat itu, dia terlihat seperti mayat hidup di tambah badannya yang sangat dingin
"Sya, kayanya kalian udah di takdirin bersama deh, aku yakin kamu masih bucin sama dia dan aku yakin pas bangun nanti dia juga masih bucin sama kamu, sabar ya Sya"
"thanks Jul" kata Nasya tersenyum kepada kawan kosnya itu
Hari semakin larut, Nasya menyuruh teman temannya untuk pulang sebelum Mita dan juli di kunciin gerbang sama ibuk kos dan sebelum Hendra di cari orang tuanya juga.
Malam setelah mendengarkan cerita Nasya, teman temannya pamit pulang karna jam hampir menunjukkan pukul 10 malam. Mita kawan kosnya bersi keras untuk menemaninya di rumah sakit namun Nasya menolak karena pasti tidaknyaman berada di rumah sakit terlalu lama. Dia kembali menemani Bagas yang masih berbaring tidak sadarkan diri.
Nasya melihat ruangan tempat dia berada sekarang, mata Nasya masih tidak melihat keberadaan satu sosokpun di ruangan itu (dia memusnahkannya, semuanya, sendirian huft) batin Nasya dengan nafas berat yang menyertainya
"kau dengar teman teman mu datang melihat mu jadi cepatlah bangun" ambil mengelus rambutnya pelan Nasya berbisik ditelinga Bagas diharapnya Bagas akan mendengar semuanya
"yul saranghae, ppalli kkaedalaseo (yul aku mencintai mu, karna itu cepatlah sadar)" Nasya mencium pipi Bagas pelan dan menaruh kepalanya di kasur tempat Bagas terbaring, karena sudah mulai mengantuk peelahana matanya tertutup dan akhirnya Nasya tertidur
...****...
matahari belum memunculkan sinarnya namun Nasya sudah mulai membuka matanya, dia merasa ada yang mengelus rambutnya dan mencubit pelan pipinya. Sebenarnya Nasya sangat takut untuk mebuka matanya, takut itu adalah sosok menyeramkan sampai bisa mencubit pipinya, namun dia mencoba memberanikan diri dan akhirnya dia membuka matanya perlahan.
__ADS_1
Terlihat orang yang sangat di nantinya untuk kesadarannya kembali telah membuka matanya dan tersenyum kepadanya sambil mengelus rambutnya dengan pelan
"maaf membuat khawatir"
Nasya tidak menjawab apa apa, dia hanya terdiam, pelupuk matanya penuh dengan air mata yang akhirnya terjun bebas juga. Nasya tersenyum dengan wajah sangat bahagianya memandang orang terkasihnya telah kembali dari komanya
"annyeong na yeogiisseo, kkumi aniya (hai, aku disini, ini bukan mimpi)"
"aniyeo jagia (tidak sayang)"
"haneunim gamsahabnida, jeoege dollyeojusyeoseo gamsahabnida , haaa huuu huuuu gamsahabnida (terimakasih tuhan, terimakasih sudah mengembalikannya kepada ku haaaa huuu huuuuu terimakasih)"
"uljima jagiya na yeogiisseo (jangan menangis sayang aku disini)"
"dangsini geoui jugeosseul ttae naega eotteohge ulji anheul su issseubnikka? (bagaimana aku tidak menangis kalau kau hampir mati)"
Tangis Nasya pecah sampai dia lupa memanggil dokter kalau Bagas sudah sadarkan diri, Bagas memeluk kekasihnya itu seperti badannya tidak terjadi apa apa. Nasya yang mengingat keadaan tulang tulang Bagas yang sangat memperihatinkan mencoba melepas pelukannya pelan pelan dan menyuruhnya berbaring lagi dengan sangat hati hati.
"berbaring lah, aku akan memanggil dokter" Nasya berlari kecil dan menuju ruangan dokter yang sebelumnya memeriksa Bagas
Tok tok tok
"permisi dok" dokter itu langsung mengangkat kepalanya yang sedang dia sandarkan dimeja, terlihat wajah bangun tidurnya yang sangat terlihat karena di keninganya terlihat membekas baju yang sudah tertindih lama
"ooh iya ada apa, apa terjadi sesuatu pada pasien"
"pacar saya sudah sadar dari mautnya dok"
"hah, serius mbak" dokter melihat jam yang menempel di tangannya itu, waktu masih menunjukkan pukul 05.45, dia sangat heran kenapa secepat itu pasian yang bahkan perkiraan selamatnya hanya 5% sudah sadarkan diri dalam waktu kurang dari 24 jam
"ayo dok, segera periksa dia"
"oh maaf maaf"
Dokter itu memeriksa keadaan Bagas yang tengah ada di depan matanya itu. Terlihat dia sudah seperti orang yang sehat dan tidak terjadi apa apa kepadanya.
"saya usulkan rontgen ulang, apa pasien setuju" tnya dokter itu kepada Bagas dan Nasya
"silahkan dok silahkan" kata Nasya dengan cepat selama itu untuk Bagas
Dokter menghubungi beberapa perawat dan membawa Bagas keruang radiologi, Nasya di arahkan untuk tetap menunggu di kamar. Tidak lama kemudian rombongan perawat dan dokter yang sebelumnya membawa Bagas kembali membawa amplop putih besar berisi hasil rontgen Bagas. Dokter itu mengeluarkan isinya dan melihatkan hasilnya kepada Nasya.
"kak Nasya, ini hasil rontgen dari saudara Bagas pada jam 06.12 hari ini. Hasilnya sangat baik tidak ada yang salah atau terluka di badan, organ dalam dan tulangnya, semua baik baik saja. Saya pamit kalau keadaan saudari Bagas beberapa hari kedepan sudah tidak apa apa saya akan memberi izin pulang, tapi untuk sementara saudara Bagas harus tetap dalam pengawasan terlebih dahulu" jelas dokter itu kepada Nasya. Lalu meninggalkan mereka berdua
"terimakasih dok" kata Nasya dengan wajah bahaginya dan senyum lebar tersungging di bibirnya
"ke kamar mandi yuk, habis ini aku mau telfon mereka"
"mereka, siapa" tanya Bagas bingung
"sudah lah ayo cepat" Nasya segera berdiri untuk menolong Bagas, namun Bagas lebih dulu berdiri dan mengambil infusnya sebelum Nasya membantunya.
"woah kamu seperti orang yang benar benar sudah sehat, woah" karena masih takut dan ragu, Nasya tetap membantu menopang badan Bagas meski badannya lebih pendek. Bagas hanya menertawakan tingkah pacarnya itu
Nasya menggosok giginya lebih dahulu lalu membantu Bagas menggosok giginya, Nasya mencoba berjinjit jinjit karena Bagas terlalu tinggi
"turun kan lah badan mu sayang, aku tidak sampai" Bagas menurunkan kepalanya sangat dekat dengan wajah kekasihnya, Nasya mulai menggosok gigi Bagas dengan pipi merah karna salting dilihat seperti itu oleh kekasihnya. Saat itu terbukti, perkataan Juli malam itu tidak ada yang salah, mereka tetap bucin seperti biasanya
"oke sudah, ayo kembali ke kasur" Nasya kabur lebih dahulu sambil mengipasi wajahnya yang pink kemerahan karena malu. Bagas hanya tertawa dan membawa kantong infusnya sendiri
Nasya segera mengambil hpnya dan memvidio call teman temannya yang semalam datang ke rumah sakit, terlihat semua panggilannya berdering dan satu persatu mereka mengangkat telfon Nasya, terlihat kamera Mita masih gelap kecuali Hendra dan Juli karena pasti mereka bangun untuk sholat subuh.
"guys, kalian harus lihat apa yang aku lihat" ucap Nasya dengan wajah senang
"heemm apaan" kata Mita dengan nyawanya yang masih belum terkumpul
__ADS_1
"apaan Sya pagi pagi" kata Juli ikut menimpali
"kenapa Sya seneng banget mukanya, Bagas sudah sadar memangnya" kata Hendra mengasal
"hehe kalian harus lihat ya 1 2 3" Nasya memutar kameran depannya menjadi kamera belakang, sontak Juli, Mita dan Hendra berteriak
"HAH" mereka berteriak bersamaan melihat Bagas yang sudah duduk dan memasang gaya chibi chibi.
"Bagas lo nggak apa apa, gue kesana sekarang tut" Hendra mematikan vidcallnya dan tinggal mita dan Juli
"gila, pacar lu super hero ya cepet banget sembuhnya, nanti aku sama Mita kesana ya, oh iya mau titip sarapan nggak" kata Juli menawarkan pada ku, sementara Mita masih menganga dengan tatapan heran kepada Bagas
"hehe boleh deh, aku titip bubur 2 ya"
"oke kita siap siap dulu bye"
Mereka menutup telfonnya, Nasya senyam senyum sangat senang, sambil menunggu teman temannya datang Nasya merapikan dirinya, menyisir rambut dan memakai bedak, dia juga menyisir rambut Bagas yang sudah berantakan tidak karuan dan memakaikan wajahnya bedak bayi komodo,
"iih sayang kok pake bedak juga sih aku, bedak bayi lagi, aku kan sudah dewasa" kata Bagas sambik meratakan bedak bayi yang ada di wajahnya itu
"lah kan nggak apa apa, baunya enak kok"
Nasya memegang bibirnya dan terasa bibirnya sangat kering saat itu karena suhu AC rumah sakit di atur untuk suhu yang paling dingin. Dia memakai lip serum yang baru di belinya agar bibirnya kembali lembab.
"kayanya lip serumnya nggak bagus deh"
"masa iya, sini aku coba" Bagas menarik dagu Nasya dan menempelkan bibirnya yang tidak di polesi apa apa
"enak, plumpy kok" kata Bagas sambil meratakan lip serum yang menempel di bibirnya dengan senyum liciknya , Nasya masih terdiam, kaget dengan apa yang Bagas lakukan. Pipinya memerah sambil tersenyum tipis di bibirnya tanpa mengetahui bahwa Hendra sudah membuka pintu ruangan mereka
"ASEM mata gue pagi pagi udah kena noda aaahhhh romancenya nanti aja kali kalo udah keluar rumah sakit" Hendra masuk dan menutup pintunnya lagi
"nggak tepat lo Hen datengnya, lo dateng pas adegan romance sih" ucap Bagas kepada Hendra. Nasya diam saja dan membereskan barang barangnya yang sebelumnya mereka gunakan, pipinya merah sekali, dia sangat malu dengan kejadian barusan.
"cih, gimana, lo sudah nggak apa apa kan, untung hari ini masuk siang, bisa melipir kesini dulu"
"Udah nggak apa apa kok, sehat gue"
"syukur deh, bikin panik orang aja lu"
"Emang lu panik" tanya Bagas kepada Hendra dengan senyum jailnya
"hampir nangis dia gas" saut Nasya yang berada dibelakang mereka berdua
"ih enggak lah, ngapain juga nangis" tolak Hendra dengan pipinya yang mulai memerah
"sungguh, waah thankyou sudah nangis buat aku" goda Bagas kepada temannya itu
Mereka bercanda tawa cukup lama, hati mereka pasti sudah sangat tenang, keadaan temannya sudah membaik seperti semula, tidak berselang lama setelah kedatangan Hendra. Juli dan Mita datang tidak membawa 5 kotak bubur ayam untuk sarapan mereka pagi itu.
"Disini saja sudah aku sapu" ajak Nasya ke lantai yang cukup luas disamping ranjang Bagas. Mereka mengambil bagian mereka masing masing dan memulai sarapan mereka. Juli memberikan bagian Hendra, karena bingung kok tiba tiba ada makan bersama
"nih" Juli memberikan sekotak bubur ayam jatah Hendra
"aku juga dapat" tanya Hendra bingung karena merasa tidak memesan apa apa
"aku sengaja beli lebih karna tau kamu juga bakal kesini" jelas Julia sambil tersenyum
"makasih" jawab Hendra dengan senyum kecil di bibirnya
Teman temannya berhenti menyendok makanannya dan memandang suasana aneh antara Julia dan Hendra
"ekhem, bakal ada romance nih" dehem Bagas
"emmm cie cie" kompak mereka bertiga kepada dua temannya yang sedang dalam suasana pendekatan itu.
__ADS_1
Pagi itu mereka berlima makan bareng sambil bercanda tawa, kesedihan diwajah mereka sebelumnya hilang dan berganti tawa. Selain itu mereka juga menjadi teman untuk hari hari berikutnya.