Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 3


__ADS_3

Pada malam itu aku memutuskan untuk tidur di apartemen Bagas karena jam malam kos ku yang sanagat ketat, selain itu aku terlalu takut untuk ke tempat lain karena kejadian malam ini. Badan ku rasanya sangat tidak nyaman karena belum bebersih seharian ini.


Aku mencari Bagas yang tidak kelihatan setelah melihat keindahan blood moon tadi, aku memanggil manggil Bagas dan memeriksa seluruh ruangan di rumahnya dan aku tidak menemukannya


"Aahhhhh" aku melemparkan badan ku ke atas kasur Bagas karna lelah mencarinya dari tadi


"Capek aku besar banget ni rumah, nggak enak banget badan aku pengen mandi"


Aku mengistirahatkan tubuh ku di kasut besar itu dan mengambil tas ku yang di taruh Bagas kamar itu. Aku duduk dan memainkan ponsel ku menunggu Bagas kembali. Tidak lama setelah aku bermain ponsel aku mendengar suara kunci pintu di buka, aku terkejut dan langsung berdiri dari atas kasur memsang mode waspada. Aku berjingkat jingkat menuju pintu kamar mandi dan menutupnya pelan.


"Aduuuhh siapa ya, takut banget aku" kata ku dengan nada berbisik.


Aku ingin mengunci pintu kamar mandi agar aku aman, tapi mungkin akan berisik.


"Duh siapa sih itu, Bagas juga mana siiih"


Aku ingin mematikan lampu kamar mandi itu agar tidak terlihat sedang ada orang didalamnya. Namun saat aku membalikkan badan ku aku sangat terkejut karena melihat Bagas yang sedang berdiri hanya membelitkan handuk untuk menutupi tubuhnya.


"Aaah Bagas kok kamu disini" aku reflek menutup mata ku karena pemandangan vulgar itu.


"Lah Nasya kok kamu masuk masuk kesini sih aku kan lagi mandi"


"Ya kan aku nggak tau, ada orang yang buka pintu kamu makanya aku sembunyi"


"Siap mana" Bagas menarik ku untuk berdiri di belakangnya tapi.


"Iiih Bagas, pake baju duluuuu" omel ku karena tidak nyaman dengan pemandangan ini


"Eh... tapi kan rumah ku pake sidik jari ya, kok bisa ada yang masuk, pasti ribut dan memakan waktu juga kalo mau bobol masuk, kamu dengarnya gimana tadi suaranya"


"Kaya kunci di buka gitu, makanya aku sembunyi"


"Heeeh Nasyaaaa itu kunci pintu kamar mandi"


"Yah mana ku tau, ya udah maaf aku keluar dulu deh" kata ku masih dengan menutup mata


Aku berlari ke sofa depan dengan wajah panas karena malu. Bisa bisanya aku membuka pintu orang yang tengah mandi, aku duduk di sofa sambil mengipas ngipasi wajah ku yang panas karna malu.


Bagas keluar sambil menggosok gosok rambutnya dan menuju balkon untuk menjemur handuk yang baru saja dia pakai.


"Bagas maaf ya aku nggak sopan"


"Nggak apa apa kok nggak sengaja juga"


"Gas.... punya baju yang agak kecil nggak aku mau mandi tapi nggak ada baju ganti udah ngantuk banget aku"

__ADS_1


"Nggak tau sih...bongkar lemari yuk"


"Nggak apa apa"


"Nggak apa apa lah"


Bagas mengqjak ku ke kamar dan membua lemarinya yabg panjang itu. Dia mulai memilah milah bajunya yang tergantung dan yang berada di laci bawah.


"Nih..paling kecil nih"


"Masih gede banget, ya udah lah urgent, tapi celananyaaaa, aku pake celana ini aja deh"


"Ooh iya Gas, ada handuk bersih nggak"


"Nih"


"Oke thanks"


Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri ku hang sudah bau jeruk🤢. Ditengah membersihkan badan ku, aku berdiri di depan cermin dan iseng melihat dada ku yang seperti tertusuk tadi dan aku sangat kaget sakit yang ku rasakan tadi membekas menjadi bekas luka di dada ku, aku mencoba memperhatikan lagi bekas luka itu


"Seperti luka yang sudah lama, aku tidak ingat memiliki luka disini" kata ku


Aku segera menyelesaikan mandi ku dan mengeringkan badan ku. Aku mengenakan baju yang di pinjamkan oleh Bagas tadi dan kebesaran sampai lutut😩, aku kembali menggunakan celana jeans ku yang ku pakai sebelumnya dan tidak nyaman untuk tidur😑.


"Pake ini masih baru kok, nggak nyaman pakai itu"


"Aaah thankyou" aku kembali masuk kedalam kamar mandi dan mengenakan celana yang diberikan oleh Bagas dan ternyata tenggelam di telan baju yang ku pakai😩. Aku keluar dan hendak menyisir rambut ku lalu tidur.


"Bagas kamu punya sisir nggak"


"Tuh di meja"


Aku duduk di depan kaca sambil menyisir rambut ku yang panjang, tapi sisir ku di ambil oleh Bagas dan dia menggantikan ku menyisir rambut ku. Aku hanya diam dan melihat dari kaca. Dia menyisiribku dengan hati hati seperti tidak membiarkan sehelai rambut ku jatuh.


Aku merasa seperti dejavu, aku merasa ada yang pernah menyisir rambut ku sehati hati ini. Aku mencoba memecah sepi di kamar Bagas, karna terlalu canggung


"Bagas"


"Emmm"


"Aku sepertinya bisa melihat masa lalu deh Gas, kamu tau makhluk yang mengganggu ku tadi"


"Dia apain kamu, kamu nggak ada yang luka kan"


"Enggak kok, aku rasa aku melihat masa lalunya saat bertatapan dengannya kalo aku ingat ingat kasian juga om itu di gorok terus di buang ke jurang"

__ADS_1


"Gas kamu denger nggak sih"


"Iyaaa aku denger, tapi jangan sekali kali di bantuin nanti mereka kebiasaan"


"Okey"


Bagas masih menyisir rambut ku pelan sambil mendengar cerita random ku malam itu. Aku mengambil bantal dari kamar Bagas dan menuju sofa di ruang tengah.


"Mau kemana kamu"


"Mau tidur di sofa"


Bagas mengambil selimut di kasurnya dan dan membelitnya di badan ku, aku heran dengan apa yang di lakukan bagas dipikur aku lontong di bungkus kaya gitu😑.


"Iih apa sih Gas kok digulung gini"


"Pakaian mu seperti itu dan kamu mau tidur di sofa"


Bagas mendorong ku ke atas kasur dan dia juga ikut berbaring disamping ku.


"Haruskah kita pacaran"kata Bagas tiba tiba sambil menatap langit langit kamarnya


"Aahhh kamu suka aku"


"Kau tidak pernah menyangkal jika orang menyebut ku pacar mu"


"Aku hanya malas menjelaskankan kepada mereka"


"Apa kau tidak pernah berdebar melihat ku"


"Emmm ku rasa tidak"


"Sungguh"


"Emm"


Bagas beralih ka atas badan ku yang masih terbungkus selimut. Dia menatap ku diam begitu juga dengan ku


"Apa kau tidak merasakan sesuatu jika kita sedekat ini" kata Bagas sambil menatap mata ku


"Tidak"


"Sungguh, bahkan jika aku mencium mu" dia mendekatkan wajah pada ku


"Lakukan lah dan aku akan membenci mu"

__ADS_1


__ADS_2