Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 6 MENDADAK ROMANTIS


__ADS_3

Bagas melajukan mobilnya meninggalkan apotek tempat Nasya membeli obat, namun rute yang bagas ambil semakin jauh dari kos Nasya yang membuat Nasya mengerutkan keningnya


"Bagas mau kemanasih" tanya Nasya bingung sambil mengerutkan keningnya


"menjalankan apa yang aku bilang tadi pas selesai kelas" kata Bagas tersenyum kepada Nasya


"HAH jalan jalan, ya minimal ganti kostum dulu lah yank masa pake baju ini" gerutu Nasya pada Bagas yang tengah senyum senyum sambil menyetir mobil


"terus kita mau kemana nih?" tanya Nasya lagi


"ke rumah aku, kita ganti kendaraan dulu" jelas Bagas kepada Nasya


"ya ampun, pake mobil aja kenapa sih"


"nggak seru yank"


"huft ya udah temenin belanja ya nanti, masa aku pakai baju dari kampus sih"


"Siap sayang"


Bagas melajukan mobilnya menyusuri jalan yang cukup ramai kendaraan, jam sudah menunjjukkan pukul 03.00 saat itu. Tidak lama kemudian pantai terlihat pantai yang begitu luas terlihat di kanan jalan yang menandakan tidak lama lagi mereka akan sampai. Mereka berdua menuju baseman untuk memarkirkan mobil yang mereka naiki dan segera menuju lantai satu.


"ayo sayang katanya mau belanja" Bagas menggandeng tangan Nasya dan segera menuju ke mall kecil dengan berbagai brand mewah yang ada di apartement Bagas.


Nasya memasuki toko tempat dia membeli piama waktu itu, Nasya mulai memilih baju tas dan satu lipstik karena dia lupa membawa lipstrik yang biasa dia kenakan.


"sayang kamu suka brand ini" tanya Bagas kepada Nasya yang tengah memilih baju yang nantinya akan dia kenakan


"yap aku suka, mereka mengeluarkan karya baru setiap tahun dan tidak pernah mengecewakan" kata Nasya dengan pandangannya yang masih memilah milah baju yang ada di hadapannya


"apa aku harus memberikan Dior untuk mu" kata Bagas dengan senyum jailnya


"bercanda mu tidak lucu, oh iya mau jalan kemana sih Gas" tanya Nasya


"rahasia sayang" kata Bagas menggoda Nasya, Nasya yang tidak kehabisan akal kembali bertanya kepada Bagas untuk mendapatkan sedikit bocoran


"haaah kalau begitu indor atau outdoor"


"emmm outdoor" kata Bagas memberikan petunjuk kepada Nasya


"oke"


Nasya mengambil sepasang baju, tas dan sebauh lipstik. Saat Bagas tidak menyadarinya Nasya mengambil sebuah kemeja untuk Bagas. Kalau di pikir pikir Nasya belum pernah memberikan hadiah untuk Bagas selama mereka sudah menjalin hubungan.


Nasya membawa barang barang yang dia pilih sebelumnya menuju ke kasir. Nasya merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan dompet namun Bagas menahan tangan Nasya yang ingin mengeluarkan uang dari dompetnya itu.


"hey hey, biar aku saja, simpan uang mu untuk di tabung" kata Bagas sembari mengeluarkan dompet yang berada di kantongnya


"hey hey, aku punya uang, ngapain aku masuk ke Dior kalo nggak ada duit yank" Nasya mengeluarkan black cardnya dengan senyum bangganya dan memberikannya kepada kesir yang sedang berjaga di kasir


"oho, kenapa kau bekerja keras kalau punya itu sayang" Bagas menepuk jidatnya dan memandang Nasya lagi, bingung dengan kelakuan pacarnya itu.


"kan aku bilang, yang kaya papa aku, kalo aku tuh miskin uang aku aja nggak sebnayak papa aku, jadi aku bekerja itu buat bayar uang kuliah, kos dan makan aku yang bertanggung jawab jadi papa aku bertanggung jawab dengan fashion ku gitu yank ceritanya, makasih kak. Yaudah yuk let's go keburu sore" Nasya berjalan duluan meninggalkan Bagas yang masih berdiri sambil memgang dompetnya.

__ADS_1


"waw hebat banget ya kak pacar aku, Nasya tunggu" kata Bagas kepada kasir yang tengah menjaga, kasir itu hanya senyum mengangguk mengiyakan pertanyaan Bagas, Bagas segera memasukkan dompetnya lalu menyusul Nasya yang berjalan lebih dulu meninggalkannya.


Mereka berdua segera menuju ke apartemen Bagas dan berganti pakaian yang baru saja Nasya beli.


"eits, tunggu di sofa" kata Nasya tersenyum sambil mendorong Bagas dengan satu jarinya


"hahaha iyaa"


Bagas menunggu di sofa sambil memeriksa Hp miliknya, Bagas melihat ada pesan masuk disana dan mencoba untuk membukanya. Bagas mengangkat alisnya dan tersenyum, ternyata itu adalh pesan dari detektif kepercayaannya.


📱seonsaengnim, chajassseubnida (tuan, saya sudah menemukannya)


📱johayo. geudeure daehan modeun jeongboleul bonaejuseyo. god jeon segye nyuseue naol su issdorog irijeongeul jojeonghagessseubnida. (bagus, kirimkan aku semua tentang mereka, aku akan mengatur jadwal untuk segera disiarkan di berita seluruh dunia)


📱algessseubnida (baik tuan)


📱jeongkeureul chajneun de iljuildo geolliji anhassseubnida, sugohasyeossseubnida (bahkan tidak membutuhkan waktu satu minggu untuk menemukan sampah itu, kerja yang bagus)


"deudieo sseuregireul chajassda (akhirnya aku menemukan sampah itu)" gumam Bagas drngan senyim smirknya.


Bagas membuka file yang diberikan oleh detektif itu dan mulai membaca isinya. Bagas mengerutkan keningnya saat membaca semua yang tertulis di Hpnya, namun tiba tiba Bagas tertawa masih dengan mimik wajah meremehkan dengan tatapan serius.


"wah dia bahkan membuat anak seseorang bunuh diri karna ulahnya dasar sampah, korbannya bahkan lebih dari 5 orang, wah dasar sampah gila"


Bagas masih terus membaca sembari mengeluarkan hujatan kepada pembuli pembuli itu. Saat membaca kelanjutan informasi di Hpnya Bagas membulatkan matanya, dia menutup matanya dengan tangan kirinya sambil tertawa terpatah patah.


"wah dia bahkan anak seorang jaksa, sampah ini bahkan dilindungi oleh hukum ha ha haha, lihat saja aku akan membrantas mereka hingga ke akarnya" ucap Bagas dengan mimik wajah seriusnya.


Bagas terus menggeser layar ponselnya dan menemukan file vidio disalah satu informasi yang di berikan. Bagas membuka file itu dan melihatnya dengan saksama. Namun tiba tiba, Bagas membulatkan matanya yang kemerahan, wajahnya yang semula biasa saja menunjjukkan ekspresi marah, warna diawajahnya berganti merah padam. Dia menghentikan vidio itu dan menelfon detektif kepercayaannya lagi.


"algessseubnida (baik tuan)"


Saat sedang sibuk bertelfon dengan detektif itu gagang pintu kamar berputar dan terlihat Nasya keluar di baliknya.


"urineun najunge nonuihal geosibnida (nanti kita bahas lagi)" Bagas menutup telfon dan menyambut Nasya yang berjalan ke arahnya dengan senyuman.


" wau nae yeoja neomu yeppeuda(waah wanita ku begitu cantik)"


Bagas memeluk Nasya dan mencium ujung rambutnya, tercium aroma shampo milik Bagas di rambut Nasya


"apa kamu mandi?" tanya Bagas yang tengah menatap Nasya yang berada di pelukannya itu


"iya apa aku begitu lama?"


"tidak sayang, tidak lama" kata Bagas sambil mengelus rambut Nasya pelan


"ya udah kamu mandi sana, keburu sore"


"oke sayang muach, muach muach" Bagas menciumi pipi Nasya lalu pergi mandi.


"iiih Bagas"


Nasya duduk di kasur Bagas sambil memainkan Hpnya, Nasya membuka percakapannya dengan Putri namun masih centang satu. Nasya menghela nafas panjang, dia meletekkan Hpnya di kasur meninggalkannya. Nasya duduk di depan meja skincare Bagas melanjutkan berhias diri lalu memakai lipstik yang di belinya tadi.

__ADS_1


"machimnae kkeutnassda (akhirnya selesai)" Nasya meletakkan lipstik yang di kenakannya di antar skincare Bagas.


Tidak lama kemudian Bagas keluar dari kamar mandi, terlihat putingnya yang masih terbungkus rapi oleh perban yang di pasang Nasya sebelumnya


"kenapa tidak di lepas sayang" kata Nasya sambil melepas perban yang di menempel di dadanya


"jagiya mwoga geureohge apa (sayang apa sangat sakit)"


"Ne aju apayo (iya sangat sakit)" rengek Bagas seperti nak kecil


"ireon mian jagi (astaga maaf sayang)


Nasya memperbaiki perban di luka Bagas dan mengobatinya kembali sebelum memakai baju.


"eung yaeya (yap sudah sayang)"


"gomawo (terimakasih)"


"sekarang pakai ini" Nasya memberikan kemeja santai yang di belinya tadi di lantai satu


"ige mwoya (apa ini)" Bagas mengambil baju itu dengan wajah sumringah


"seonmul (hadiah)"


"eonje sass-eo? (kapan kamu membelinya)"


"uriga syopinghal ttae (tadi saat kita belanja)"


"naega eotteohge nunchichaeji moshagesseo, gomawo jagia (bagaiman bisa aku tidak menyadarinya, terimakasih sayang)" Bagas memeluk Nasya karena terlalu senang mendapatka hadiah, pipinya merona malu ditenggelamkan ke pelukan Nasya


"naege matgyeo (pakaikan pada ku)"


Bagas merentangkan tangannya agar di pakaikan kemeja hadiahnya, Nasya hanya tersenyum melihat tingkah Bagas dan memakaikan kemeja yang di belinya tadi, ukurannya pun sangat pas untuk Bagas


"eotteohge, joha (bagaimana bagaus)"tanya Bagas tenttang pendapat Nasya sambil memiringkan badannya untuk melibat sisi kanan kirinya


"nae namjachinguneun aju jalsaenggyeosseo (pacar ku sangat tampan)"


"ayo nanti kita kesorean"


"ayo ayo sebentar aku pakai skincare dulu sayang"


"oke aku tunggu di sofa sayang muach"


Nasya mencium pipi Bagas lalu pergi keluar kamar, Bagas hanya terdiam, wajahnya merah padam karna salting brutal kepada pacanya sendiri.


"kenapa dia begitu romantis hari ini" kata Bgas dengan pipi merahnya sambil senyum senyum di depan kaca.


Bagas selesai merawat dirinya dan segera keluar dari kamarnya, mengajak Nasya buru buru pergi karena jam sudah menunjjukkan pukul 15.55.


"siap sayang" tanya Bagas kepada Nasya


"siap" jawab Nasya semangat

__ADS_1


Bagas mengajak Nasya ke basemen untuk mengambi kendaraan yang akan di gunakannya dan betapa terkejutnya Nasya kendaraan yang akan di gunakan bagas ada motor dan bentuknya seperti motor balap, Nasya hanya geleng geleng kepala sedangkan Bagas senyum senyum tanpa rasa bersalah.


__ADS_2